Pagi ini, semua siswa SMA Alamanda beebondong-bondong masuk sekolah dengan membawa peralatan kebersihan. Mulai dari sapu korek, pacul kecil, ember, kain lap, celurit, dan sebagainnya yang memang telah diperintahkan oleh pihak sekolah. Dikarenakan SMA Alamanda akan mengikuti lomba Adiwiyata se-kota Malang.
Revita dan Novi serempak membawa sapu korek. Kemudian ia letakkan di dalam kelas. Pukul tujuh lewat lima belas menit, seluruh siswa dikumpulkan di lapangan Indoor untuk diberikan arahan. Mereka semua bersorak senang saat kepala sekolah mengumumkan akan ditiadakan pelajaran untuk hari ini. Dan diganti dengan bersih-bersih di seluruh wilayah sekolah sampai jam dua belas.
"Baiklah, kalau begitu saya akhiri. Kalian semua silakan bagi tugas. Ada yang membersihkan kelas, dan halaman sekolah. Sebelumnya, setiap ketua kelas silakan melakukan absensi untuk anggota kelasnya. Dan lembar absen silakan dikumpulkan di meja Pak Romi."
Setelah itu, semua siswa langsung membubarkan diri menuju kelasnya masing-masing. Bella, selaku ketua kelas langsung mengabsen anggota kelasnya untuk pembagian tugas.
"Anam, lo bawa apa?" tanya Bella sembari men-ceklis daftar hadir.
Anam merogoh sakunya. Mengeluarkan keresek merah besar yang ia lipat kecil. Semuanya sontak menatap Anam dengan mata melotot.
"Bawa itu aja?! Lo yang bener?!" bentak Bella terlihat geregetan. Termasuk yang lainnya juga.
"Iya," jawab Anam dengan entengnya. Lantas membuka lipatan kreseknya, mengibaskan kresek itu di udara agar membesar.
"Keresek gak ada di daftar peralatan yang dibawa!" balas Bella masih terlihat emosi. Yang benar saja, dirinya tadi sedikit kerepotan membawa ember dan dua sapu. Sedangkan Anam dengan enaknya hanya membawa satu kresek.
"Gue gak ada lagi! Lagian gue kemarin tanya Pak Romi boleh-boleh aja!" balas Anam membela diri. "Kresek itu berguna, tahu! Contohnya aja bisa buat bungkus pala lo!"
Bella mendengus. Melanjutkan mengabsen teman-temannya. Karena jika ia terus menanggapi Anam, bisa-bisa sampai besok pagi ia terus berdebat.
Setelah selesai mengabsen, Bella langsung membagi tugas. Yang membawa kain lap, ember, sapu ijuk, Bella tugaskan untuk membersihkan kelas. Sementara yang membawa sapu korek, celurit, pacul kecil dan keresek Bella perintahkan untuk membersihkan halaman sekolah. Semuanya pun setuju dan langsung menjalankan tugasnya masing-masing.
Revita, Novi dan beberapa temannya yang lain langsung menyapu halaman sekolah. Sementara Anam mulai mencabuti rumput dengan bernyanyi riang. Dan hal itu membuat mereka terusik karena suara cempreng Anam yang semakin menjadi-jadi.
"Nam! Lo bisa diem gak, sih?! Sakit kuping gue denger suara, lo!" bentak Novi mewakili rekannya yang lain.
"Gak bisa!" balas Anam dan semakin mengeraskan nyanyiannya.
Mendapat jawaban menyebalkan itu, Revita dan yang lain langsung sedikit menjauh dari Anam yang mulai berjoget mengikuti nyanyian mulutnya. Semuanya mencoba mengabaikan Anam walaupun suara anak itu masih terdengar jelas.
"Berisik banget, sih! Lama-lama gue kepruk palanya sama sapu gue!" keluh Novi emosi. Sedangkan Revita mengembuskan napas panjang.
Revita berdecak. Menegapkan punggungnya saat merasa lelah. Kepalanya terangkat ke depan. Pandangannya tidak sengaja terjatuh pada sosok Vano yang tinggi menjulang tengah menyapu halaman di seberang sana. Revita sedikit mengerutkan keningnya saat melihat sebagian wajah Vano yang lebam-lebam dan bewarna biru keunguan. Luka seperti hasil pukulan itu, terlihat baru tercetak di wajahnya. Revita langsung bergidik ngeri seolah merasakan denyutan dari luka itu. Pasti rasanya sakit sekali.
Fokus Revita teralih saat Anam datang dengan nyanyian sumbangnya. Revita sedikit menutup kupingnya dengan melihat Anam yang tengah meliuk-liukkan tubuhnya. Anak itu memang tidak tahu malu, walaupun banyak pasang mata yang menatap aneh ke arahnya.
"Perlahan engkau pun, menjauh dariku, tarak dungtak, jos!" teriak Anam terus bernyanyi dan berjoget tidak jelas. Novi yang sangat terganggu dengan kedatangan Anam itu langsung merapatkan bibirnya. Sapu di tangannya ia remas sekuat tenaga. Sisi-sisi gerahamnya pun saling menindih dengan sepasang matanya yang menatap berang.
Detik berikutnya, baik Novi dan yang lain langsung terdiam di tempatnya, saat rumput di dalam keresek Anam tumpah begitu saja dan langsung mengotori halaman yang baru saja Novi bersihkan. Jelas saja, sepasang mata Novi melotot tidak terima.
"ANAAAMM...!!!! teriak Novi super duper kencang. Membuat sebagian orang langsung menutup telinga mereka yang terasa pengang.
Novi melemparkan sapu di tangannya kencang-kencang. Berharap sapu lidi itu menabrak kepala Anam. Namun sial, Anam dengan lihai menghindari lemparan maut itu, membuat sapu Novi terlempar jauh dan sangat sia-sia.
"Lo gila?!" bentak Novi dengan dadanya yang terlihat naik-turun. Anak itu terlihat mati-matian menahan bibirnya yang ingin sekali mengumpat kasar.
"Gak sengaja gue!" jujur Anam yang juga sedikit kaget di tempatnya.
"Lo sih banyak tingkah!" sahut Revita yang berdiri di sebelah Novi.
"Pokoknya gue gak mau tahu! Lo beresin sekarang juga!" teriak Novi menyala-nyala.
"Ada apaan sih, ribut-ribut?" Vano datang dengan membawa sapu Novi yang terlempar tidak jauh dari tempatnya.
"Tanya sendiri sama temen gila, lo!" sahut Novi membentak. Kemudian, kedua matanya langsung membulat kala kepalanya menoleh dan mendapati luka lebam di wajah Vano.
"Eh, Van! Kenapa muka lo bonyok gitu? Abis nyungsep?" celetuk Novi dengan bergidik ngeri. Sangat mewakili rasa penasaran Revita tadi.
"Oh, ini." Vano menyentuh pipinya yang terasa berdenyut. Anak itu terlihat sedikit kesakitan."Biasa lah, berantem sama Abang gue rebutan stick PS."
Revita tanpa sadar mendongak. Menatap Vano dengan kening yang berkerut dalam. Bahkan matanya yang bulat sedikit menyipit.
"Eh? Seriusan lo berantem sama Kak Rey cuma masalah rebutan stick PS?" Novi berujar tidak percaya. Pasalnya, saat dirinya numpang berteduh di rumahnya, Kak Rey terlihat kakak yang baik. Apa iya Kak Rey tega memukul adiknya sampai segitunya hanya karena stick PS?
"Mph ... ya, gitu, deh. Namanya aja laki. Dikit-dikit pakai otot." Vano nyengir dengan menggaruk tengkuknya. Ia memaksakan sudut bibirnya agar tertarik ke atas walaupun bibirnya terasa sedikit perih.
"Masa? Kok gue agak ragu ya Kak Rey setega itu mukulin elo?" Novi masih menatap lurus-lurus wajah Vano. Menelaah wajah anak itu saksama.
"Lo tuh kepo banget, sih! Udah dijawab masih aja gak percaya!" Anam yang menyahut dengan tampang kesal. Sedangkan Novi langsung melotot dan membalas, "Gue ngomongnya sama Vano, bukan sama kaleng rombeng!"
Anam terlihat tidak peduli. Anak itu menatap Vano dan menepuk pundak temannya pelan, "Yaudah, lo sono balik ke habitat lo. Daripada tanggepin orang sok kepo ini. Gak akan ada kelarnya sampai di Indonesia turun salju juga." Anam melirik Novi yang kini menatapnya murka. Vano mengangguk dan balas menepuk pundak Anam sebanyak tiga kali. Seolah berucap terima kasih.
Pandangan Revita tak lepas dari punggung jangkung Vano yang terus melangkah menjauh. Entah mengapa dirinya menangkap ketidak jujuran dari arah bicara Vano tadi. Revita seolah merasakan kesakitan yang berusaha Vano kubur dalam-dalam. Karena Revita tahu betul rasanya pura-pura kuat di hadapan orang lain. Sangat menyakitkan dan mengiris hati.
"Napa lo lihat-lihat dia! Kalau suka Vano bilang aja!" Suara super duper menjengkelkan itu memecahkan fokus Revita. Revita mendongak, menatap Anam dengan seribu kekesalan. Revita membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi. Dirinya tidak ingin berdebat untuk saat ini. Apalagi berdebat dengan Anam, itu hanya akan membuang tenaganya dengan sia-sia
°°°
Setelah menjalankan salat zuhur bersama-sama, kepala sekolah mengizinkan semua muridnya untuk pulang. Semuanya pun bersorak senang. Karena SMA Alamanda jarang sekali dipulangkan secepat ini.
Kepala Revita mendongak menatap langit. Awan hitam mulai berkumpul di segala sisi. Suara gemuruh ringan pun mulai terdengar. Dan Revita sangat yakin bahwa sebentar lagi akan turun hujan. Novi yang hendak mengeluarkan motor dicegah paksa oleh Revita. Membuat Novi bertanya heran. "Kenapa?"
"Perasaan gue bilang kalau bentar lagi hujan deras. Gue gak mau basah kuyup karena gak bawa jas hujan. Mending kita neduh di kantin sebelum—"
Kalimat Revita menggantung saat tetesan hujan turun dengan cepat dan deras. Revita, Novi dan beberapa siswa lain saling berlari tunggang-langgang ke arah kantin yang sepi, karena ibu-ibu penjual sudah pulang setengah jam yang lalu. Rambut, tas, sepatu, dan sebagian seragamnya basah begitu saja. Sepertinya semesta memang sedang bersedih hati.
Revita dan Novi duduk di bangku panjang yang tersedia di kantin. Kedua anak itu saling mengusap-usap tubuhnya untuk memberikan kehangatan. Sesekali kedua anak itu saling menutup rapat telinganya karena bunyi petir yang terdengar menggelegar.
"HUWAAAA ...!!!"
Seluruh pasang mata yang ada di kantin menolehkan kepalanya, melihat tiga orang pria bercelana abu-abu sedang berlari tunggang langgang dari arah parkiran dengan tas yang mereka jadikan penutup kepala.
"HUWAAA ...!" BRUKKK!!!
"Auww ...." Semua orang yang ada di kantin langsung meringis melihat seorang pemuda terjatuh dengan b****g yang mendarat terlebih dahulu. Mereka seolah merasakan ngilu yang di derita anak itu. Dan dalam beberapa detik kemudian ....
"... BUAHAHAHAHAH!" Tawa keras langsung menggelegar di tengah derasnya hujan. Seluruh orang yang menyaksikan kejadian memalukan itu langsung tertawa kencang. Tanpa ada seorang pun di antara mereka yang berinisiatif menolong anak malang yang kini merintih dengan memegangi bokongnya.
"Gimana sih, lu! Jatoh gak bilang-bilang!" Vano mulai berlagak sok marah di hadapan Anam yang menjadi korban. Kedua tangan Vano berkacak pinggang dengan mata yang menghunus tajam.
"Ayo coba sekarang lo bangun! Replay ulang! Mau gue bikin boomerang, kan mayan kalau bisa trending di awreceh!" lanjut Vano dengan muka sok serius.
"Bukan awreceh, tapi awweencok! Hahahah," timpal Dhika diakhiri tawa keras.
"BANGKE KALIAN! SAKIT g****k!" Anam bersungut-sungut dengan muka yang masih menampilkan ringisan.
"Tolongin gue!" Anam menjulurkan sebelah tangannya dengan wajah sok melas. Namun dengan sadis Vano menghempaskan uluran tangan itu begitu saja.
"Bangun sendiri, gak usah manja!" tikam Vano tanpa belas kasih.
"TEMEN b*****t, LO" Dengan susah payah akhirnya Anam bangkit sendiri. Mukanya telah tebal dengan kata malu. Mengabaikan semua pandangan yang sedari tadi menjadikan dirinya sebagai tontonan.
Vano, Anam dan Dhika menempatkan diri untuk ikut duduk bergabung bersama Novi dan Revita. Karena hanya di sana yang masih terisisa tempat untuk duduk. Anam duduk di sebelah Novi. Sedangkan Vano dan Dhika duduk di hadapannya.
"Enak, Nam?" Novi masih saja memancing emosi Anam dengan pertanyaan laknat itu.
Anam membalikkan tubuhnya. Menghadap Novi dengan mata yang menyala-nyala. "Enak banget! Sampai gue mau makan lo hidup-hidup!"
Bukannya marah, Novi justru tertawa senang. "Mampus!" ledek Novi dengan puas.
Anam mendengus. Masih dengan mengusap-usap bokongnya yang terasa nyeri. Akhirnya, mereka semua saling berdiam diri. Sibuk dengan pikirannya masing-masing sembari mendengarkan derasnya hujan di luar sana. Entah sampai kapan langit akan menangis seperti ini. Sesekali, Revita mengusap-usap lengannya. Napasnya mulai terasa sesak. Revita menunduk. Kedua tangannya saling bergesekan untuk mencari kehangatan.
Novi yang berada persis di sebelah Revita mulai merasakan perubahan aneh pada temannya yang satu itu.
"Rev! Kenapa, lo?" Novi menepuk pundak Revita yang sedikit bergetar. Sontak, semua orang di meja itu langsung memfokuskan pandang ke arah Revita yang tengah menunduk dalam.
Revita menggeleng kecil sebagai jawaban. Membuat Novi langsung terlihat cemas. Sebelah tangan Novi terjulur untuk menyentuh wajah Revita dari samping. Hal itu membuat kedua matanya membulat cepat.
"Astaga! Pipi lo dingin banget Rev!" Novi sedikit berteriak dengan mengangkat wajah Revita. Seketika kedua mata Novi terbelalak mendapati wajah pucat pasi serta bibir kebiruan yang bergetar.
"ASTAGA! REVITA!" Novi kini benar-benar berteriak histeris. Mengabaikan seluruh tatapan yang langsung memfokuskan dirinya sebagai pusat perhatian.
"JAKET! SIAPA YANG BAWA JAKET!" Novi panik bukan main dengan mengarahkan pandang pada ketiga laki-laki di mejanya.
Seperti orang yang baru bangun dari tidur, dengan nyawa yang belum terkumpul sempurna, ketiga cowok itu justru menatap Novi dengan kebingungan.
"WOY! JAKET!!!" Novi menggebrak meja dengan amat keras. Membuat semua orang yang ada di sana langsung berjingkat kaget. Terutama ketiga temannya yang langsung tersadarkan.
"Oh, jaket! Bentar gue ambilin." Vano yang memang membawa jaket langsung mengeluarkan benda itu dari dalam tasnya. Dia memberikan jaket bewarna hitam polos ke arah Revita. Revita menerimanya dengan tangan yang gemetar hebat.
"Astaga, Rev! Kalau ada apa-apa itu ngomong, ih!" Novi terlihat kesal dengan membantu Revita memakai jaketnya.
Revita hanya tersenyum tipis melihat raut penuh kecemasan itu dalam wajah teman baiknya. Kedua tangannya yang dingin ia masukkan ke dalam saku jaket.
"Dia kenapa?" Vano bertanya pada Novi yang mulai bisa bernapas dengan tenang.
"Revita alergi dingin," jawab Novi dengan mendesah berat. "Bodohnya gue lupa."
Vano manggut-manggut dengan kepala yang kembali menatap Revita. Ia juga bisa bernapas lega melihat wajah Revita yang sedikit kembali normal.
"Ah, elo bikin kaget aja! Gue kira tadi lo mau mati." celatuk Anam tanpa perasaan. "Percuma gue udah seneng kepikiran nasi rawon sama soto."
"Gila lo, nyumpahin temen sendiri cepet mati!" Revita bersungut dengan mata yang melotot. Namun tak urung, anak itu kini terkekeh karenanya. Jaket milik Vano ternyata membawa pengaruh besar untuk menghangatkan tubuhnya.
Hampir tiga puluh menit mereka menunggu, namun hujan tak kunjung reda. Hal itu membuat mereka semua mulai bosan dan terkantuk-kantuk di tempatnya. Anam mulai berisik dengan memainkan kelima jemarinya yang menari di atas meja. Sebelah kakinya pun seolah sedang memainkan sebuah drum. Tatapan anak itu sedari tadi tak luput dari hujan yang terus saja berjatuhan tanpa henti.
"Dih! Lama bener dah hujannya! Ginjal gue sampai berotot, nih!" Anam mulai meracau tidak jelas. Namun berhasil membuat ketiga temannya cekikikan mendengar kata ngelanturnya tadi.
"Widihh! Ginjal, lo kekar ya, Bro!" Dhika yang sedari tadi membungkam akhirnya melontarkan kalimatnya dengan kekehan.
"Gym di mana lo?" Revita juga ikut berkomentar geli.
"Ginjal lo udah salto-salto atau gak push up gitu ya biar six pack!" Novi akhirnya tidak bisa menahan tawanya lagi.
Vano menggebrak meja lantas berdiri dari duduknya. "Yok, panco ginjal!"
Anam balas menggebrak meja dengan semangat menggebu. "Yok! Siapa takut!"
Kini mereka berdua saling hadap dengan ancang-ancang menyelingkap seragamnya. Memamerkan perut mereka yang memang six pack untuk adu panco ginjal. Revita, Novi dan Dhika yang melihat kelakuan gila itu hanya bisa geleng-geleng kepala. Tidak bisa berkata apapun lagi jika dua makhluk kurang waras itu dipersatukan seperti ini.
Dhika langsung melebarkan matanya saat melihat kedua temannya itu benar-benar ingin mendekatkan perutnya seolah memang mengadakan lomba panco ginjal. Ia pun segera melerai dua temanya yang memalukan itu.
"Udah-udah ... kalian kalau mau homo lihat tempat dong!" kata Dhika melotot.
"Kita belum selesai!" Anam bersungut dengan menatap Vano penuh penekanan.
Vano balas menatap sengit dengan menurunkan kembali kaus seragamnya. Keduanya pun kembali duduk dengan membenarkan seragamanya yang berantakan.
Sepertinya kegilaan yang dilakukan Anam dan Vano tadi berhasil menghibur semesta. Lima menit selanjutnya, hujan tiba-tiba mereda. Hanya menyisakan gerimis tipis di udara. Awan hitam pun mulai pergi dan tergantikan langit sore yang hangat. Seolah langit ikut tersenyum dengan kelakuan mereka.
Siswa yang berteduh di kantin mulai melangkah meninggalkan tempat itu dengan penuh kelegaan. Begitupun dengan Anam yang langsung ceria. Keempatnya berjalan beriringan menuju parkiran, menjemput kuda besi mereka yang basah.
Revita melangkah dengan pikiran kalut. Jaket milik Vano masih melekat di tubuhnya. Rasanya sangat hangat dan Revita enggan melepaskannya. Dan entah keberanian dari mana, Revita memanggil nama si pemilik jaket itu.
"Vano!"
Vano yang berjalan di depan Revita sontak menghentikan langkahnya. Tubuhnya berbalik cepat dengan kedua alis terangkat naik.
"Lo ... panggil gue?" tanya Vano sedikit tidak yakin.
Revita mengangguk seperti bocah. Lidahnya memilin bibir yang tiba-tiba terasa kering. Kedua tangannya tak urung meremas kuat saku jaket. Revita mendongak sekilas menatap wajah Vano yang menyakitkan untuk dilihat. Tidak lama, Netra cokelat madu gadis itu bergerak tidak tenang dan berkelana entah ke mana. Dirinya benar-benar tidak bisa bicara jika harus menatap kontak mata lawan bicaranya. Tidak sedikit yang menegurnya karena menganggapnya tidak sopan. Namun, Inilah salah satu kekurangan dalam diri Revita
"Gu-gue ... pinjem jaket lo, boleh?" Revita menggigit bibir bawahnya kuat. Selalu saja mendadak menjadi wanita gagap saat berbicara dengan lawan jenis.
Di lain sisi, Vano justru merapatkan bibirnya agar tidak tertawa. Revita benar-benar tidak bisa menyembunyikan ekspresi wajahnya. Dua jempol tangan Vano terangkat. Dia menjawab ringan.
"Sip-sip! Simpan baik-baik, ya ...!"
Revita mendongak. Lantas tersenyum tipis sekali dengan anggukan kecil.
"Lain kali kalau butuh apa-apa bilang. Jangan sungkan." Vano menepuk puncak kepala Revita sebanyak tiga kali, lantas membalikan tubuhnya dengan senyum tipis yang mengembang di bibirnya.
Revita terdiam. Tubuhnya seperti membeku setelah Vano menepuk kepalanya. Revita bahkan seperti kehilangan akal dalam beberapa detik. Dia mengerjap kebingungan melihat punggung Vano yang berada di depan sana.
"Reviii ... ayoo!" Seruan Novi yang melengking membuat senyumnya semakin mengembang saja. Revita sedikit berlari kecil menysul Novi yang sudah naik ke atas motornya. Mereka pun mulai meninggalkan sekolah. Revita yang berada di jok belakang memeluk erat tubuhnya yang terbungkus jaket hitam itu. Revita bahkan sedikit menciumi benda itu. Hidungnya cukup tergelitik dengan aroma wangi yang menarik penuh perhatiannya. Aroma yang sama sekali belum pernah mampir di hidungnya. Revita menyukainya. Rasanya sangat menenangkan. Revita akan menyimpan jaket itu baik-baik. Dan mungkin, tidak akan mencucinya.
°°°