Penasaran

1991 Words
Vano yang baru saja memarkirkan motornya, melangkah ringan menapaki koridor sekolah dengan leluasa. Sepasang matanya tak sangaja menangkap dua gadis yang baru saja ia kenali. Revita dan Novi. Langkah Vano sedikit tergesa menghampiri keduanya. "Revita!" Kepala Novi dan Revita serempak menoleh, mendapati Vano yang berlari kecil ke arahnya. Dan ya, Revita langsung menundukkan kepalanya. Berusaha keras untuk menghindar dari tatapan Vano. "Lo kemarin baek-baek aja kan? Gak nyusruk, kan?" tanya Vano dengan raut wajah yang menampakkan sedikit kekhawatiran. "Hah? Emang kenapa kemarin?" tanya Novi menatap Vano penuh tanya. "Temen lo ini kemarin bawa motor kebut-kebutan di jalan. Kayak dikejar maling. Gue aja ngeri lihatnya," jelas Vano. "Serius Rev? Serius lo kemarin kebut-kebutan?" tanya Novi dengan sepasang matanya yang melotot sempurna. "Iy-iyaa," jawab Revita lalu menggigit bibir bawahnya. "Bego!" semprot Novi dengan memukul kepala belakang Revita lumayan keras. Membuat Revita langsung mengaduh kesakitan dengan mengusap-usap kepala belakangnya. "Sejak kapan lo berani kebut-kebutan di jalan? Bosen hidup lo?! Kalau lo kemarin beneran nyusruk, terus mati gimana? Lo mau mati duluan sebelum nikah?!" bentak Novi berapi-api. Kini giliran Revita yang melotot. Tapi harus bagaimana lagi, harus diakui bahwa kemarin dirinya benar-benar gila. Bahkan, Revita dibuat merinding sendiri saat mengingat kejadian semalam. "Iya-iya, maaf. Gue juga kapok kebut-kebutan. Jantung sama nyawa gue kayak mau copot rasanya!" jawab Revita mencoba meredamkan kemarahan Novi. Novi menghela napasnya kasar. "Yaudah, ayo masuk kelas. Udah mau bel masuk!" Revita langsung menyeret lengan Novi tanpa permisi. Membuat Novi langsung terseret dengan menatap Vano tidak enak. "Duluan, Van!" teriak Novi yang mendapat anggukan dari Vano. Bibir Vano tersenyum simpul. Dalam benaknya ada rasa penasaran setelah mendengar penuturan Novi kemarin, "Revita itu takut ama cowok!" Memang ada ya orang seperti itu? Seumur hidup Vano baru mendengar hal semacam ini. Vano kembali melangkahkan kakinya. Kepalanya menoleh sebentar untuk melihat Revita yang baru saja memasuki kelas. Revita dan Novi menghempaskan diri di bangkunya. Baru saja keduanya duduk tenang, seseorang dengan tidak ada akhlaknya menggebrak mejanya sangat keras, membuat keduanya serempak berteriak kaget. Brakkk! "Lo apa-apaan, sih?! Dateng-dateng bikin orang jantungan!" semprot Revita dengan mengatur napasnya sedikit tersengal. Sedangkan Anam, si pelaku malah nyengir tanpa dosa. "Lo mau gue suntik rabies biar waras?!" gertak Novi yang ikut tersungut emosi. "Heh! Lo pikir gue Anjing?!" balas Anam tak mau kalah. "Woy! Ngomong anjingnya jangan ke gue, Njing!" protes Bella dengan mata melotot. "Lo itu gak ada kerjaan apa gimana, sih! Pagi-pagi udah ngerusuh!" semprot Novi benar-benar kesal. Anam mengibaskan tangannya di udara dengan angkuh. Menghiraukan protesan dari Revita, Novi dan Bella. Ia kini memilih pergi dari meja Revita menuju meja temannya yang lain. Anam melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan beberapa menit yang lalu. Yaitu menggebrak meja dengan begitu kencangnya, membuat orang terkaget dan langsung mengumpati dirinya dengan segala nama hewan di kebun binatang. Revita dan Novi langsung melengos tidak peduli. Bersamaan dengan itu, bel pelajaran pertama berdering nyaring. Selang beberapa menit, Pak Ramsis, guru mata pelajaran bahasa Inggris yang terkenal garang melangkah tegap memasuki kelas. Pak Ramsis mulai menjelaskan materi dengan menggunakan full bahasa Inggris. Jelas saja, bagi mereka yang kurang menguasai kosa kata terlihat sangat kebingungan dan tidak mengerti sama sekali apa yang disampaikan oleh Pak Ramsis. Anam sedari tadi terlihat menggaruk-garuk kepalanya yang tiba-tiba terasa gatal. Bibirnya sedikit terbuka dengan tampang wajah yang sangat kebingungan. Karena kosa kata bahasa Inggris yang ia tahu hanya seputar, yes, no thank you, and i love you, serta beberapa kata sederhana lainnya. Selebihnya Anam benar-benar tidak mengerti. Seberusaha apapun dia mendengar dan memahami ucapan Pak Ramsis, tidak akan membuat dia mengangguk paham. Tidak hanya Anam sebenarnya yang mengalami kondisi seperti itu sekarang, bahkan hampir setengah siswa di kelas itu merasakan hal yang sama. Hanya saja mereka sedikit lebih unggul daripada Anam dalam menguasai kosa kata. Ya walaupun mereka juga tidak sepenuhnya paham. Akhirnya Anam memutuskan untuk tidur saja. Menenggelamkan kepalanya di atas kedua tangannya. Kepalanya terasa pusing jika terus memaksakan diri mencermati bahasa asing itu. Bahkan perutnya terasa sedikit mual. Tempat duduknya yang berada di bagian paling belakang, ditambah dengan tegar yang berbadan lebar di depannya, membuat keberuntungan sendiri bagi Anam. Sehingga Anak itu bisa leluasa untuk tidur. Waktu berjalan sepuluh menit. Beberapa orang di kelas itu sedikit menoleh ke kanan dan kiri saat mendengar dengkuran yang cukup keras. Mereka semua langsung menahan napas saat Pak Ramsis berjalan tegap menuju asal suara. Langkah tegap yang menggema di lantai kelas menuai atensi semua orang untuk menatap guru bahasa Inggris itu dengan sorot tegang. BRAKK!!! "AYAM!" Anam berteriak kencang sekali saat seseorang tiba-tiba menggebrak mejanya dengan sangat keras. Bukan hanya Anam yang terkejut. Hampir semua isi kelas itu pun ikut terperanjat. Anam langsung terlihat ngos-ngosan dengan menatap Pak Ramsis dengan mata yang memburu. Sedangkan bibir Revita langsung menggumam kata, "Mampus" dengan tersenyum picik. Ternyata karma hari ini datang dengan sangat cepat. "Siapa suruh kamu tidur di kelas saya?!" bentak Pak Ramsis dengan melotot. Kumis tebal di atas bibirnya itu menambah kesan angker bagi siapa saja yang menatapnya. Banyak siswa langsung menundukkan kepalanya. Seolah merasa ikut dimarahi. Bibir Anam memberengut kesal. Menatap gurunya itu dengan tidak suka. "Maju kamu ke depan! Baca dan jawab soal halaman lima puluh sembilan!" perintah Pak Ramsis dan kembali ke mejanya. Sedangkan Aman langsung mengeluh dengan menjambak rambutnya frustrasi. Anam mau tidak mau harus menuruti gurunya itu. Ia mengambil buku paket di mejanya tegar dan membukanya pada halaman lima puluh sembilan. "Kamu baca dan jawab pertanyaan sampai halaman enam puluh tiga." Anam kontan melotot. Bola matanya seperti ingin keluar dari tempatnya. Ia langsung membuka lembaran demi lembaran pada halaman selanjutnya. Bibir Anam seketika melongo saat melihat jumlah soal sebanyak lima puluh butir. Dan dia harus menjawab semuanya? Yang benar saja! Bukan hanya Anam yang terkejut akan hal itu. Beberapa dari yang lain juga terikut kaget mendengarnya. Sehingga mereka hanya bisa memberikan tatapan iba pada temannya itu. Anam mengambil napas panjang sebelum membacakan soal yang pertama. "The following tittle is the example of narrative text...." Anam mulai membacakan soal pertama dengan lambat dan terbata-bata. Bahkan pengucapannya sangat medok, sehingga terdengar tidak ada unsur inggris-inggrinya. "A, Malin Kun--" "Not, A! Ei!" potong Pak Ramsis sedikit membentak. "Ei! Malin Kundang," balas Anam dengan cepat menirukan pelafalan dari Pak Ramsis. "B, How to--" "Bi!" potong Pak Ramsis lagi. "Bi! Sangkuriang. "Ci, the pro--" "Not, ci! Si!" Kini Pak Ramsis memotong ucapan Anam dengan menggebrak mejanya. Membuat yang lain kembali terkejut untuk kedua kalinya. Sedangkan Anam terlihat memegang buku paket dengan sangat erat. Sisi-sisi gerahamnya saling menindih kesal. Bahkan wajah nya kini terasa sangat panas. Dan rasanya anak itu ingin sekali melempar buku di tangannya ke wajah Pak Ramsis. Sehingga dia tidak mungkin melakukan hal segila itu. Anam menarik napasnya dalam-dalam. Ia kemudian melanjutkan kembali kalimatnya. Walaupun Pak Ramsis sebentar-sebentar memotong ucapannya. Anam menyeka keringat yang mulai membasahi wajahnya. Kedua kakinya yang terasa pegal mulai bergerak tak tenang. Bahkan napas anak itu sedikit ngos-ngosan. Cukup lama sekali akhirnya bel istirahat yang ia tunggu-tunggu terdengar juga. Hal itu membuat Anam dan lainnya langsung bernapas lega. Anam menghentikan membaca soal yang masih berada di nomor dua puluh satu. Pak Ramsis ternyata cukup kasihan melihat Anam, sehingga beliau menyuruh Anam kembali ke tempat duduknya, dan mengizinkan semuanya untuk beristirahat. °°° "Woy! Bro!" Vano menyembul dari kerumunan kantin. Anak itu langsung menepuk punggung Anam yang terduduk lesu di sudut meja kantin dengan memegangi kepalanya. "Napa, lo? Tuh muka kusut amat kayak orang telat gajian!" oceh Vano lantas duduk di sebelah Anam dengan menyeruput es teh yang baru saja ia beli. "Kesel gue!" Anam mengacak rambutnya frustrasi. Lantas merebut es teh milik Vano seenak jidat. "Kesel napa sih?" tanya Vano yang merelakan es teh miliknya diminum Anam. "Abis kena Pak Ramsis gue! Suruh jawab soal Bahasa Inggris banyak banget! Mana guenya kagak ngerti. Kena semprot mulu! Kepala gue ini rasanya mau meletus!" jelas Anam berapi-api. Bahkan rasa kekesalannya menjadi berkali-kali lipat. Sementara Vano langsung tertawa keras melihat kekesalan pada diri Anam. Anam sendiri sudah tidak peduli dan memilih menenggak kembali es teh di tangannya. Pandangan Vano tiba-tiba terjatuh pada gadis di seberang sana. Kedua sudut bibirnya tertarik ke atas, menampilkan senyum jahil yang menyebalkan. Vano menoleh ke arah Anam yang tengah mengaduk-aduk es teh dengan sedotan. Wajah anak itu masih saja terlihat suntuk dengan rambut yang acak-acakan. Sepertinya mood Anam sedang di ambang jurang kegelapan. "Nam!" celetuk Vano menusuk bahu Anam dengan jari telunjuknya. Anam tidak menggubris panggilan Vano. Dirinya masih sibuk dengan sedotan di tangannya. Vano berdecak kesal kala dirinya terabaikan seperti ini. "Nam, lo sekelas sama dia, kan?" ujar Vano menatap Revita lebih tajam. Ditanya seperti itu membuat Anam mau tidak mau mengangkat kepalanya. Menoleh sekilas ke arah Vano, lantas mengalihkan pandang menuju objek yang ditatap Vano. "Dia siapa!" geram Anam yang terlihat tidak tertarik dengan arah bicara Vano. "Revita!" kata Vano semangat. Anam langsung menoleh ke arah temannya itu. Dahinya sedikit berlipat, Anam memberikan anggukan kecil. Dan Vano tanpa sadar tersenyum simpul. "Gue denger-denger, dia takut cowok. Emang, iya?" tanya Vano penasaran. Anam mengedikkan bahunya acuh. Teh dingin yang tersisa sedikit, ia minum kembali hingga habis. Menyisakan bongkahan es batu di dalam gelas yang berkeringat. Anam merenggangkan otot-otot tangannya. Menarik napas dalam-dalam, lantas mengembuskannya. Pandangannya terjatuh pada sosok Revita yang tengah ketawa-ketiwi bersama Novi. "Bisa dibilang gitu. Anak aneh dia," ucap Anam mulai menanggapi pertanyaan Vano. "Aneh? Aneh gimana?" tanya Vano menggebu, ia terlihat sangat tertarik dengan pembahasan ini. "Lo tahu?" "Enggak." Anam berdecak. "Asal lo tahu! Gue pernah dikeplak Revita sampai nyungsep dari kursi, gara-gara gue tanya dia lesbian apa bukan!" jujur Anam mengingat-ingat kejadian pahit satu tahun yang lalu. Kedua mata Vano langsung membulat seketika. Bahkan tenggorokannya seakan tercekat oleh benda tajam. Dirinya langsung teringat kejadian tadi malam, di mana dirinya mengalami hal yang sama. "Se ... serius?" Terbata Vano megucapkan perkataannya. "Sejutarius!" balas Anam dengan mantap. "Kelihatannya aja cungkring, tapi tenaganya barbar juga!" Vano manggut-manggut membenarkan. Kepalanya kembali ia arahkan untuk melihat Revita. Sedetik berikutnya, kepala Revita terangkat, tak sengaja keduanya kini saling bertatapan. Hanya beberapa detik pandangan mereka saling beradu, dan terputus oleh Revita yang memalingkan pandangannya ke arah lain. "Tapi ya, Nam. Revita kalau dilihat-lihat anaknya kalem," kata Vano. Jemarinya bergemelatuk di atas meja. "Kelihatannya aja kalem!" sahut Anam seakan tidak setuju ucapan Vano. "Dulu aja pas awal masuk dia ketakutan banget. Gue ajak ngomong, eh malah nyelonong kabur. Kayak gue yang ganteng ini setan di matanya! ungkap Anam mengeluarkan unek-uneknya. "Tapi, kalau lo udah kenal dia, wusss ...." Anam mendobrak meja lumayan keras, membuat gelasnya ikut bergetar. "Revita tuh aslinya songong, judes, barbar, kepala batu! Jadi pen nunjek-nunjek palanya!" "Widihhh!" heboh Vano menatap Anam tidak percaya. "Makanya banyak cowok yang segan deketin dia. Bukan segan sih, dianya aja yang ketakutan lihat cowok." Vano menganggukkan kepalanya mengerti. Fokusnya beralih lagi pada Revita dan Novi yang melangkah meninggalkan kantin. "Van," panggil Anam. Vano menoleh ke arah temannya itu dengan raut datar. Melayangkan pertanyaan tersirat 'apa'? "Lo ... kenapa tiba-tiba bahas Revita? Suka?" tanya Anam to the point. Mendengar pertanyaan seperti itu, membuat bibir Vano mengembang. Menampilkan seulas senyum yang tidak bisa diartikan. Melihat senyuman itu membuat Anam semakin memicingkan matanya. Vano menarik napasnya dalam, lantas mengembuskannya secara perlahan. Kedua matanya menatap langit-langit kantin. Memperhatikan beberapa cicak yang menempel di sana. Dia berbeda dari kebanyakan gadis di sekolah. Di mana semua gadis akan memuji parasnya secara terang-terangan. Sementara Revita? menatap dirinya aja seolah enggan. Enggan atau ... takut? "Entahlah, gue tertarik aja sama dia. Gue pingin kenal dia lebih dalam," ucap Vano dengan jujur. Anam menaikkan sebelah alisnya. Sedetik kemudian, ia tertawa terbahak-bahak. Membuat Vano langsung menoleh ke arah temannya itu dengan tampang bego penuh tanya. "Napa lo ketawa!" tanya Vano sangat ketus. Alih-alih menjawab pertanyaan Vano, Anam justru menepuk-nepuk punggung Vano cukup keras dengan terus tertawa. "Kesurupan lo?!" cecar Vano dengan Sepasang matanya yang melotot. Dia menggeser tubuhnya yang terasa sakit akibat pukulan Anam. "Semangat, Bro!" Anam menepuk kepala Vano prihatin. "Semangat apaan?!" bingung Vano kian terlihat kesal dengan menyingkirkan tangan Anam. "Semangat buat deketin cewek yang sering dikira lesbian, HAHAHAHA!" "Sialan!" °°°
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD