Pertandingan pertama

3736 Words
Sesuai kesepakatan kemarin, Revita dan Novi telah sampai di halaman Bimasakti bersama rombongan sekolah. Suasana yang begitu ramai sempat membuat kepala Revita sedikit pusing. "Kalian berdua langsung gabung sama yang lain aja. Gue mau sipa-siap dulu," kata Anam dengan membuka jaketnya. "Oke! Good luck!" seru Novi bersemangat, kemudian menggandeng tangan Revita menuju barisan tribun sekolahnya. "Buset! Rame bener dah!" kata Revita yang bahkan dirinya tidak bisa mendengar suaranya sendiri. Pandangan Revita menyapu ke seluruh tribun. Berbagai atribut serta wajah-wajah semangat 45 sangat terlihat jelas di sana. Jujur, Revita tidak menyukai tempat yang begitu ramai seperti saat ini. Namun apa boleh buat, dirinya sudah masuk di dalam ruangan ini yang tidak memungkinkan untuk kembali ke luar. "Mau, Rev?" Novi menyodorkan jajanan ringan berupa kacang berbalut telor yang ia beli di kantin tadi. Jawaban dari Revita hanya sebuah gelengan kecil. Kondisi ruangan yang tadinya ramai sekarang berubah menjadi tambah ramai, saat diumumkannya pertandingan ronde satu akan segera dimulai. Teriakan-teriakan heboh, ditambah suara nyaring dari tiupan terompet dan pukulan drum membuat Revita kontan menutup kedua telinganya rapat-rapat. Sebelum pertandingan dimulai, ada beberapa tim cheers yang menampilkan kehebatan sekolahnya masing-masing. Sorakan kian ricuh saat tim cheers sekolahnya tampil. Berbagai yel-yel serta kibaran bendera dari masing masing sekolah saling beradu memeriahkan acara. Pertandingan pertama yaitu SMA Alamanda melawan SMA Asoka. Jelas saja, barisan tribun Revita semakin memanas dengan menyanyikan yel-yel sekolah teramat keras. Terutama Novi yang berada tepat di sebelahnya. Anak itu terlihat semangat mengeluarkan suara cemprengnya. Revita diam saja di tempatnya tanpa berteriak sedikitpun. Kedua matanya kini fokus melihat jalannya pertandingan. Ia dapat melihat Vano yang sangat lincah mendribble bola orange itu ke sana ke mari. Revita juga melihat Anam yang menerima operan bola dari Vano. Tanpa Revita sadari, sesekali ia menahan napas saat bola itu hendak masuk ke dalam ring. Dan meluruh sedih saat bola itu hanya memantul di atas ring. Rasanya gemas sendiri saat bola itu sok jual mahal untuk memasuki ring. Sorakan ricuh kembali menggelegar pada barisan tribun SMA Alamanda karena tim basket mereka memenangkan pertandingan pertama dengan satu skor lebih unggul dari SMA Asoka. Revita tanpa sadar ikut tersenyum dan memberikan tepukan tangan. Dirinya turut merasa bangga. Dan tanpa sadar, pelipis serta kedua telapak tangan Revita telah basah akibat keringat. Menonton pertandingan seperti ini nyatanya sangat menegangkan. "Nop! Sekolah kita udah kelar, kan?" Revita bertanya pada Novi yang asyik mengobrol dengan anak perempuan berkucir kuda di sebelahnya. Entah dia kelas berapa karena Revita tidak mengenalinya. "Nop!" Revita menepuk lengan Novi kesal karena dirinya merasa diabaikan. Sontak, Novi menoleh ke arah Revita dengan sisa tawanya. "Apaan?" kata Novi. "Itu sekolah kita dah kelar kan mainnya?" tanya Revita mengulang pertanyaannya dengan bersungut sebal. "Belum lah, nanti tanding lagi," sahut Novi. "Nanti kapan? Cabut, yuk! Gue laper." "Hah? Laper?" Novi membeo. "Tapi sekolah kita masih maen nanti. Gak bisa lah kita cabut dulu. Gak enak sama yang laen." "Tapi gue laper, Nov. Badan gue lemes. Lo mau gue pingsan di sini?" rengek Revita. Sejujurnya, Revita sendiri tidak begitu lapar. Hanya saja ia sudah tidak betah berada di tempat yang super ramai ini. Novi mengembuskan napas kesal. Novi pun mengiakan saja kemauan Revita. Dia tidak mau direpotkan jika Revita sampai pingsan di tempat ini. Dan Novi juga tidak mau mengganggu yang lainnya. Akhirnya Novi beranjak dari duduknya. Namun, sebelum pergi ia menyempatkan diri untuk berpamitan dengan yang lain, beralaskan bahwa Revita mendadak sakit dan harus segera pulang. Novi bernapas lega karena mereka semua memberi anggukan ramah. Keduanya keluar dari Bimasakti. Revita langsung bernapas lega. Namun, tiba-tiba saja perutnya terasa sangat mual. Dan tanpa aba-aba, Revita memuntahkan semua isi perutnya di parkiran yang sepi. "Astaga, Rev!" Novi membelalakkan matanya. Menepuk-nepuk punggung Revita dengan cemas. Bagaimana dia tidak cemas? Wajah berserta bibir Revita terlihat sangat pucat. "Minum, Nov." kata Revita berucap pelan. Novi mengangguk. Lantas mengambil botol minuman di dalam tasnya. Memberikan botol itu pada Revita. Revita pun meminum isinya sampai habis, lantas ia kembalikan pada Novi. "Udah enakan?" tanya Novi khawatir. "Udah," jawab Revita sedikit lemas. "Beneran? Astaga muka lo pucat! Kenapa gak bilang makan dulu tadi? Kalau gitu, gue aja yang bonceng, mana sini kunci motornya." Revita merogoh saku rok seragamnya. Memberikan kunci motor itu kepada Novi. Bibirnya yang sedikit pucat itu menyahut, "Gue gak mau pulang." "Terus? Lo mau nginep di sini? Jangan aneh-aneh, deh!" "Gue kepingin ramen di jalan Dahlia. Udah lama lama kita gak makna ramen di situ?" Novi mengembuskan napas panjang. Tetapi jika diingat-ingat, lama juga dirinya tidak menikmati mi pedas gurih itu. Tiba-tiba saja air liurnya naik, ingin menyantap hidangan panas itu. "Oke." "Yess!" Revita bersorak senang. "Jangan yas, yes, yas, yes aja! Tolongin gue nih keluarin motor!" semprot Novi. Sementara Revita justru terkekeh dan langsung membantu Novi menarik motornya. °°° Novi memberhentikan laju motornya ketika mereka telah sampai di tempat tujuan. Revita turun terlebih dahulu lantas melepas helm. Sebelah tangannya merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Mereka berdua beriringan masuk ke dalam rumah makan itu. Revita pun langsung memesan dua porsi mi ramen dan dua gelas es jeruk peras. Revita memilih tempat di dalam saja, karena awan-awan kelabu memenuhi cakrawala. Beberapa kali juga mengeluarkan bunyi gemuruh. Revita mengusap lengannya yang tak tertutupi kain seragam karena embusan angin terasa dingin menusuk kulitnya. Setelah memesan, mereka berdua duduk berhadapan. Menunggu dengan sabar pesannya datang. "Eh, Rev. Lo tahu gak kalau tim basket SMA Asoka tadi itu musuh rivalnya SMA kita." Revita menegapkan tubuhnya. Menatap Novi dengan sedikit terkejut. Jelas saja kepalanya menggeleng tidak tahu. "Tahun kemarin aja pas babak final, kedua tim ricuh. Hampir saja ada baku hantam. Tapi untungnya semua panitia langsung mengamankan mereka," jelas Novi. "Serius?" Sepasang mata Revita membulat. "Iya! Pas itu heboh sekolah kita. Rame banget beritanya." "Emang, kenapa mereka bisa jadi musuh rival?" "Entahlah, gue juga gak tahu kenapa. Yang jelas, setiap kali mereka tanding, ada aja keributan yang terjadi. Gue yakin, hari ini juga pasti ada ribut." Tatapan Revita terlihat ngeri. Untung saja dia pulang lebih cepat. Bibirnya kembali ingin bertanya, namun tertahan saat pesanan mereka datang. Keduanya pun langsung melahap makanan panas di hadapannya. Novi dan Revita mendadak sangat lapar melihat hidangan lezat itu. Keduanya pun langsung menikmati makanan masing-masing tanpa ada yang bersuara lagi. Selesai makan, keduanya tidak memutuskan untuk pulang. Karena mereka dapat mendengar hujan di luar sana yang jatuh sangat deras dari satu jam yang lalu. dan sialnya lagi, baik Revita maupun Novi tidak ada yang membawa jas hujan. Revita melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. Sudah pukul tujuh malam. Revita berdecak. Begitupun dengan Novi yang mulai bosan di tempatnya. "Gimana ini Nov? Lama-lama bisa nginep di sini kalau kita gak pulang-pulang," luruh Revita. "Bener juga. Yaudah keluar yuk, kalau gak deres banget, terobos aja." Revita mengangguk. Merekapun berjalan keluar dari sana. Dan, keduanya kompak mengembuskan napas berat melihat hujan masih sangat deras. Novi mulai mencak-mencak di tempatnya. Menggaruk kepalanya dengan kasar. Sangat memperlihatkan kebosanannya. Mau tidak mau, keduanya pun harus menunggu. Tidak mungkin jika nekat menerobos hujan sederas itu. Baik Revita maupun Novi sama-sama menerawang lesu derasan hujan. Tidak mau ambil risiko. Terutama Revita yang bisa mampus jika nekat hujan-hujanan. Di tengah-tengah lamunannya, sepasang mata Novi mendadak menyalang bagai elang yang melihat seekor tikus! Netra Novi terpaku pada seorang pemuda yang baru saja turun dari motornya. "Eh, itu Vano, kan?" seru Novi sedikit berteriak, menunjuk ke arah Vano berada. Dahi Revita mengerut, sepaang matanya menyipit mengikuti arah tunjuk Novi. Tatapan Revita jatuh pada rumah minimalis yang tak jauh dari rumah makan ramen ini. Dan benar saja ucapan Novi bahwa orang itu adalah Vano. Dia tahu saat Vano baru melepas helmnya. Tanpa menunggu jawaban Revita, Novi mulai berteriak heboh. "VAN ... VANO ...!!!" Revita kontan terkaget dan melotot melihat reaksi Novi yang tiba-tiba seperti itu. Mendengar ada yang memanggil namanya, Vano lantas menoleh ke sumber suara. Kedua matanya sedikit menyipit untuk menembus derasnya hujan. Pandangan Vano langsung jatuh pada Novi yang terlihat loncat-loncat dengan melambaikan tangannya. Vano terikut melambaikan tangannya dengan kaku untuk membalas panggilan Novi. Novi dengan cepat mengeluarkan Hoodie merah mudanya di dalam tas. Lantas Hoodie itu ia berikan pada Revita. "Lo pakai ini!" perintah Novi. "Buat ap--NOVI! LO GILA?!" Revita berteriak keras sekali. Sepasang matanya langsung melotot. Tanpa menunggunya bersuara, Novi sudah terlebih dahulu berlari menuju rumah Vano. Novi terlihat nekat menerobos derasnya hujan dengan tas sekolah yang ia jadikan pelindung kepala. Jelas saja Revita langsung melongo dengan mata yang kian melotot. Revita dengan cepat memakai Hoodie itu. Menutup kepalanya dengan kupluk Hoodie, serta ia juga mengorbankan tas ranselnya untuk melindungi kepalanya. Revita pun berlari cepat mengikuti langkah Novi. "Huh, hah, huh, hah." Napas Novi dan Revita terlihat kembang kempis. Sepatu, tas, dan sebagian pakaiannya telah basah karena hujan. Sementara Vano dibuat terkejut pada dua orang yang tiba-tiba berlarian tunggang langgang ke rumahnya. "Kita numpang neduh di rumah lo boleh, kan?" ucap Novi tanpa tahu malu menjawab kebingungan yang tertera di wajah itu. "Iya boleh! Masuk aja!" seru Vano merasa kasihan. Sementara Revita dan Novi langsung mengembuskan napas lega. Kediaman rumah Vano terlihat sangat sepi dari luarnya. Revita mengedarkan kepalanya. Rumah ini terlihat sederhana. ada banyak pot bunga dan tanaman anggrek yang menghiasi halaman rumah. Revita memilih bibirnya, sepertinya, Vano tidak sendirian di rumah itu, karena ada dia motor besar yang terparkir di sana. Mereka bertiga pun melangkah masuk ke dalam rumah seusai melepas sepatu masing-masing. Revita dan Novi meletakkan tasnya yang basah pada teras. Aroma lemon yang segar langsung menyeruak masuk ke dalam lubang hidung mereka. Revita dan Novi duduk pada sofa empuk yang berada di ruang tamu. Sedangkan Vano melangkah masuk lebih dalam. "Cepat mandi. Udah gue masakin sup," perintah Reyhan. Sementara Vano mengangguk dan menjawab, "Ada temen gue di ruang tamu." "Siapa?" tanya Reyhan. Namun tidak ada jawaban dari Vano karena anak itu telah melangkah naik ke dalam kamarnya. Reyhan mendesis. Lantas melangkahkan kakinya untuk menemui teman Vano. Revita dan Novi terlihat bisik-bisik saat mendengar percakapan Vano dengan seseorang di dalam sana. Mereka berdua kompak menoleh saat seseorang menyembul dari bilik gorden. "Lah, cewek!" seru Reyhan cukup terkejut. Novi dan Revita saling tersenyum ramah melihat seorang pria bertubuh jangkung dengan tubuh yang sedikit kurus menghampiri mereka. Pria itu kini duduk pada satu sofa yang berseberangan dengan keduanya. "Temennya, Vano?" tanya Reyhan berbasa-basi. Padahal jelas, Vano sudah mengatakannya. "Iya, Kak." Novi yang menjawab. Sedangkan Revita mulai bergerak tak tenang. Kedua tangannya pun sibuk meremas-remas Hoodie milik Novi yang cukup basah. "Ohh, kenalin, gue Reyhan. Kakaknya Vano," ucap Reyhan memperkenalkan diri dan mengulurkan tangan kanannya. Novi balas menjabat tangan Reyhan. "Salam kenal juga, Kak. Saya Novi, dan ini Revita." Reyhan mengangguk, lantas melepaskan tangannya dan kini terulur pada Revita. Sementara Revita terus menunduk. Sepasang netranya bergerak tidak tenang. Jantungnya seperti dipompa lebih cepat. Revita melirik sedikit uluran itu. Dia bahkan terlalu takut untuk menjabatnya. Novi yang merasa tak enak langsung menyenggol bahu Revita. Membuat Revita mau tidak mau menjabat tangan Reyhan. "Revita," kata Revita langsung menarik tangannya kembali. Sementara Reyhan dibuat sedikit bingung dengan sikap Revita. Namun dengan cepat Reyhan mengganti mimik wajahnya menjadi netral. "Kalian teman satu basket, Vano?" tanya Reyhan dengan ramah. "Bukan, Kak. Kami supporter aja," sahut Novi. "Kebetulan tadi kita makan di rumah makan ramen depan sana, terus kejebak hujan. Kita gak bawa jas hujan jadi gak bisa pulang. Terus, gak sengaja lihat Vano. Kita berniat untuk menumpang sebentar di sini sampai hujan reda, hehe, gak apa-apa kan, Kak?" tanya Novi memasang muka melasnya. "Oh, gapapa-gapapa. Hujannya deres banget memang. Bahaya kalau kalian nekat nerobos," ujar Reyhan mengerti. di "Terima kasih, Kak!" sahut Novi senang. "Oke, santai." Novi bernapas lega. Ternyata, kakaknya Vano ini termasuk ke dalam golongan orang yang humble dan ramah. Reyhan pun mulai membuka suara lagi, ditanggapi dengan Novi yang sepertinya nyaman berbicara dengan Reyhan. Bahkan keduanya saling melempar tawa. Revita pun sama. Meskipun dia hanya diam saja, Revita dibuat cukup terhibur dengan perbincangan Novi dan Reyhan yang terlihat sangat akrab. Ketiganya langsung menoleh saat Vano datang dengan membawa sebuah nampan di tangannya yang berisikan teh hangat. Revita dan Novi menatap anak itu dengan lekat. Napas mereka seperti tertahan melihat rambut Vano yang basah, serta wajah yang segar dipandang. Sepertinya ... Vano baru selesai mandi saat aroma wangi sabun itu masih melekat di tubuhnya. "Nih, minum biar gak masuk angin." Vano meletakkan dua gelas teh hangat di atas meja. Lantas menggabungkan diri untuk duduk di antara mereka. "Makasih, Van!" ucap Novi sok kenal dengan langsung memanggil namanya. lantas mengambil gelas itu dan menyeruputnya. "Oke," jawab Vano. Kemudian fokus Vano teralih pada Revita yang hanya diam di tempat, tengah memainkan jari kukunya. "Gak suka tehnya, Rev?" tanya Vano akhirnya. Mendapat pertanyaan mendadak seperti itu, membuat Revita langsung mengangkat kepalanya. Wajahnya terasa sangat dingin saat Vano menatapnya. "Eh, suka-suka, kok." Revita dengan cepat mengambil gelas itu dan menyeruputnya sedikit. Rasanya tidak manis dan tidak tawar. Sangat pas pada lidah Revita. Dan dalam sekejap, teh hangat di gelasnya langsung lenyap. "Buset! Lo kalau minum yang ada anggun-anggunnya, dong!" bisik Novi tepat di sebelah telinga Revita. Revita bertindak acuh dan meletakkan kembali gelas kosong itu ke atas meja. Vano sedikit menahan tawanya saat melihat gelas teh milih Revita telah kosong. Sangat bisa ditebak kalau Revita aslinya tadi ingin minum, tapi malu. "Revita kenapa? Dari tadi kok diem mulu? Puasa ngomong?" tanya Reyhan dengan sedikit menggoda. Novi melirik ke arah Revita yang kian menundukkan kepalanya. "Dia memang gitu anaknya. Kurang bisa beradaptasi sama orang baru. Tapi kalau udah kenal dia banget, anak ini aslinya gila, hahahaha." Mendengar itu, Revita reflek mencubit lengan Novi. Alih-alih meringis kesakitan, Novi justru tertawa puas dengan nada yang menyebalkan di kuping Revita. "Dan satu lagi fakta yang super menarik dari Revita, loh! Fakta yang akan membuat siapapun tercengang mendengarnya!" seru Novi semangat dan sedikit berteriak, membuat Reyhan dan Vano mengernyit penasaran. Mereka bahkan sedikit mencondongkan tubuhnya menatap Novi dengan saksama. "Apaan?!" sergah Revita yang kini melotot dengan pandangan berapi-api. Novi tersenyum kecil sebelum bersuara. "Revita itu ...." Novi sengaja menggantungkan kalimatnya. Membuat Revita kian panik di tempatnya. "Revita itu takut ama cowok!" kata Novi dengan keras. "Heh?!" Vano dan Reyhan langsung terlonjak kaget dengan penuturan yang baru saja mereka dengar. Reflek, kedua mata meraka membulat dan langsung menatap Revita tidak percaya. Dan benar saja, keduanya langsung tercengang mendengarnya. "Takut sama cowok? Lo ... lesbian?" tembak Vano to the point. "PALA LO!" Revita berteriak kencang dan berdiri dari tempatnya. Dan tanpa sadar, Revita langsung menggampar kepala Vano keras sekali, karena kebetulan Vano duduk di sofa yang bersebelahan dengan dirinya. Semua orang yang berada di sana langsung berdiri dengan mulut ternganga kala Vano jatuh tersungkur dengan bunyi 'PLAKK' dan 'Gedebukk' yang cukup keras. "Astaga! Van!" pekik Revita histeris yang langsung mundur beberapa langkah. Alih-alih menolong Vano yang terjatuh, anak itu hanya menutup mulutnya yang ternganga. Reyhan dan Novi terlihat sangat terkejut untuk beberapa saat. Namun, beberapa detik setelahnya, mereka berdua justru tertawa keras saat Vano berusaha berdiri dengan ringisan kecil yang keluar dari mulutnya. "Sorry, Van. Gue bener-bener gak sengaja ...." "Lo ternyata cewek barbar juga, ya! Sakit nih kuping gue lo gampar!" cerocos Vano kesal sekali. Baru kali ini juga ada seorang perempuan yang secara terang-terangan menampar dirinya. "Maaf," lirih Revita tidak enak hati. Bahkan kedua mata Revita langsung memanas. "Wah, parah! Bisa dilabrak cewek satu sekolah lo gampar ketua basket the most wanted sekolah kita! Parah, parah!" Novi mengompori. Dia menggelengkan Kepalanya. Membuat wajah Revita seketika langsung pucat pasi. Seluruh tubuhnya menegang dan seperti sedang diguyur oleh air es. Sepasang mata Revita pun terasa panas dan berkaca-kaca. "Hahaha, santai aja! Gak usah takut, Rev. Tuh anak meskipun lo gebuk ribuan kali juga masih tetep napas, kok!" seru Reyhan memecahkan ketakutan Revita.Dia dapat melihat dengan jelas kedua tangan Revita yang bergetar. Bahan tahu kalau Revita ingin menangis di tempatnya. "Dia ngepet?!" kaget Novi dramatis dengan menatap Vano tidak percaya. "Sembarangan! Lo pikir gue babi?!" semprot Vano semakin kesal dengan mengusap-usap sisi kepalanya yang terasa panas. "Hahaha!" Suara tawa Reyhan dan Novi memekak membuat Vano kian melotot. Sementara Revita masih terlihat tidak enak di tempatnya. Dia menatap Vano dengan sorot mata yang menunjukkan penyesalan. "Sorry, Vano. Gue bener-bener gak sengaja." Revita menundukkan kepalanya dalam-dalam. Vano menghela napasnya dan menjawab, "Oke." Ya, Vano sadar jika pertanyaannya tadi cukup tidak pantas untuk dipertanyakan. Setelah drama kecil itu terjadi, Reyhan langsung memecahkan suasana. Reyhan bahkan berhasil membuat Revita tertawa lagi. Setelah hampir dua jam bercengkrama, telinga Revita tidak mendengar suara hujan lagi. "Nov, kayaknya udah gak hujan, deh. Ayo pulang daripada kemalaman." "Ah, iya! Gila! Udah jam setengah sepuluh. Gak kerasa banget!" kata Novi sambil melihat arah jam dinding di depan sana. Reyhan berjalan keluar. Melihat apakah hujan telah berhenti. Dan benar saja, hujan telah reda. Hanya ada gerimis kecil dan tipis sekali yang tersisa. "Kalau gitu, Kak Reyhan, Vano, gue sama Revita pamit pulang ya. Terima kasih udah izinin kita buat neduh di sini," pamit Novi. Reyhan dan Vano serempak mengangguk, "iya, sama-sama." Vano dan Reyhan mengantar mereka sampai ke teras rumah. Revita meletakkan sepatunya dan sepatu Novi di dalam jok motornya yang luas. Tak lupa dengan menggendong tas yang masih sangat basah. "Van, lo kawal mereka, gih. Udah malem gak baik perempuan pulang sendiri. Jalan sepi juga bahaya," saran Reyhan. Tanpa disuruh pun, Vano sebenarnya sudah memikirkan itu. "Gak usah, Kak, Van. Arah rumah kita gak jauh kok dari sini," tolak Novi tidak enak. "Emang rumah kalian di mana? Kalau jauh gapapa biar dikawal Vano." "Kos gue di Jalan Kemuning. Kalau rumah Revita masuk sedikit di gang Melati. Dan jalan raya jam segini juga masih ramai kok, Kak. Jadi kita pulang sendiri aja gapapa," jelas Novi. Dan itu membuat Revita langsung mengembuskan napas lega. Sepertinya Novi bisa membaca pikirannya. "Lah, lumayan dong! Jalan Anggrek sampai Anyelir sepi loh. Apalagi kalian lewat jembatan Aster. Bahaya di situ. Udah biar dikawal Vano," papar Reyhan yang membuat Revita langsung melotot. "Iya, gue kawal aja. Daripada kalian kenapa-napa. Udah jam segini juga," timpal Vano. "Gue ambil kunci motor dulu." Revita menelan salivanya dengan susah payah. Dirinya tidak bisa menolak lagi. Revita pun menyalakan mesin motornya. Diikuti dengan Novi yang berada di balik punggungnya. Revita dapat melihat Vano yang juga tengah menghidupkan motornya dari kaca spion. "Kami pamit pulang dulu ya, Kak. Sekali lagi terima kasih!" ucap Novi yang mendapat anggukan dari Reyhan. "Iya, hati-hati." Revita pun menjankan motornya. Diikuti dengan Vano di belakangnya. Dan entah mengapa dirinya dibuat tegang. Bahkan sudut matanya berkali-kali melirik ke spion. Dan benar saja perkataan dari Kak Reyhan. Saat motornya melewati Jalan Anggrek, kondisi jalan sudah sangat sepi. Jantung Revita kian berdetak kencang saat hendak melewati jembatan Aster. Karena Revita dapat melihat dengan jelas segerombolan pria tengah bermain kartu sembari minum-minum. Tubuh Revita menegang merasakat keringat dingin yang merembes di pelipis dan telapak tangannya. Tanpa pikir panjang, Revita langsung menancap gas dalam-dalam, membuat punggung Novi tersentak ke belakang dan nyaris saja terpental dari atas motor. Revita harus merelakan kupingnya saat Novi ngomel-ngomel memarahi dirinya. Revita menghentikan motornya di depan Kos Novi. Revita mengembuskan napas lega, walaupun napasnya terasa sedikit ngos-ngosan. Begitupun dengan Novi yang melompat turun. Napas anak itu pun tak jauh beda dengan yang dialami Revita. Revita dapat melihat Vano yang baru sampai di belakangnya. "Terima kasih Rev," ucap Novi. Revita mengangguk sebagai jawaban. Novi pun berjalan ke arah Vano dan tersenyum. "Terima kasih, Van, udah mau kawal kita. Untung aja ada elo. Takut banget gue tadi di jembatan." Vano tersenyum di balik helm full face hitamnya, kemudian mengangguk. "Kalau gitu, gue masuk dulu. Rev, hati-hati!" seru Novi. Revita pun mengangguk kecil. Dan saat Novi menutup pagar kosnya, hanya tertinggal Revita dan Vano di sana. Hal itu membuat tubuh Revita kembali tremor. Jantungnya kembali berdetak kencang. Keringat dingin kembali keluar deras. Revita menelan salivanya. Ia menghidupkan mesin motornya lagi dan langsung menancap gas. Revita berkali-kali menatap waswas pada kaca spion. Vano ternyata masih setia di belakangnya. Dan entah mengapa, Revita justru menarik gas dalam. Kini motornya melaju kencang dan hampir berada di kecepatan tinggi. Melihat Revita yang menambah kecepatannya, Vano pun melakukan hal yang sama agar tidak kehilangan jejak Revita. Revita kian dibuat panik di tempatnya. Ia berkali-kali menatap kaca spion, seolah dirinya ini tengah dikejar-kejar preman pasar. Revita menggigit bibir bawahnya, tangan kanannya menambah kecepatan gas motornya. Dan kini motornya benar-benar di atas rata-rata. Sampai-sampai membuat helm Revita hampir saja terbang dari kepalanya. Melihat laju motor Revita yang semakin cepat, Vano dengan perlahan memelankan motornya. Dia sepertinya mengerti jika Revita tidak nyaman diikuti seperti ini. Ia pun memutuskan tidak mengejar Revita lagi. Karena kalau dirinya nekat, bisa-bisa Revita hilang kendali dan hal yang tak diinginkan bisa terjadi. Vano mengembuskan napas panjang, lantas memutar motornya. Lagi pula, jalan yang Revita tempuh kini telah ramai oleh pengendara motor lain. Membuat Vano tidak perlu merasa khawatir. Vano pun melajukan motornya lagi dan kembali ke rumah. Di sisi lain, Revita yang tidak lagi melihat motor Vano di belakangnya, langsung mengurangi kecepatan motornya. Ia sontak mengembuskan napas lega. Ini adalah kali pertamanya ia membawa motor dengan kecepatan di atas rata-rata. Dan hal itu langsung membuat tubuhnya terasa lemas tak bertulang. Revita pun melanjutkan perjalanan dengan kecepatan sedang, hingga sampai di rumahnya dengan selamat. °°° "Dari mana aja?" Suara interupsi dingin itu menyambut kedatangan Revita. Rambutnya yang lepek, serta Hoodie yang masih cukup basah dan dingin itu membuat sepasang mata Oma menghunus tajam. "Tadi Revita numpang neduh di rumah temen, Oma. Soalnya hujannya gak berhenti-berhenti. Revita lupa bawa jas hujan," jujur Revita. Oma mendesah berat, tatapannya mulai melunak. "Yasudah, sekarang kamu mandi, dan jangan lupa keramas," perintah Oma lembut. "Kamu udah makan?" "Iya, sudah Oma." "Lain kali kasih kabar kalau pulang terlambat!" tegas Oma memberikan peringatan kesekian kalinya. "Iya, Oma, maaf." "Yasudah, cepat kamu mandi terus istirahat." Revita mengangguk, lantas berlalu pergi dari hadapan Oma. Mengambil handuk dan segera membersihkan badannya. °°° Revita merebahkan tubuhnya di atas kasur kamarnya. Sepasang matanya melirik sebuah bingkai yang terletak di atas meja belajar. Revita mengembuskan napas panjang. Dirinya tergerak untuk mengambil bingkai foto itu. Jempol Revita mulai mengusap kaca yang memperlihatkan sepasang suami istri di sana. Kedua mata Revita langsung memanas dengan dadanya yang terasa sesak. "Ma ..., Pa ..., Apa kabar ...." Kepala Revita menunduk. Perlahan, buliran air mata membasahi permukaan kaca. Kedua bahunya terguncang. Bibirnya bergetar kelu. Revita menatap lekat-lekat orang di foto itu. Menciumnya, lantas membekap erat bingkai itu di depan d**a. Isakan kecil mulai menerobos bibirnya. Revita meletakkan kembali bingkai foto itu dengan hati-hati. Seulas senyum pahit terukir di bibirnya yang pucat. Revita menatap sendu foto itu dengan berbisik lirih, "Semoga Papa dan Mama sehat-sehat, ya. Revita kangen ...." °°°
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD