Berita DBL

2125 Words
Pagi ini terasa cukup dingin, dikarenakan hujan yang tak kunjung reda dari kemarin malam. Beberapa kali Vano terus menguap sembari mengancingkan seragamnya. Melapisi tubuhnya lagi dengan jaket hitam kesukaannya. Anak itu terlihat tidak semangat sama sekali untuk pergi ke sekolah. Bahkan semalam ia telah bertekad bulat untuk bolos sekolah, dan tidur sepanjang hari di bawah selimut tebalnya. Namun, abangnya yang menyebalkan itu tiba-tiba saja masuk ke dalam kamar dan memaksanya pergi ke sekolah. Vano sempat melawan dengan sepenuh tenaga, namun entah dari mana datangnya air yang begitu dingin mengguyur kepalanya. Sontak saja Vano langsung terjingkat kaget dan harus merelakan mimpi indahnya. Mau tidak mau, Vano akhirnya berangkat ke sekolah hari ini. Vano melangkah ringan menuruni anak tangga walaupun dengan hati yang setengah ikhlas. Tangan kanannya menyambar roti yang berada di piring abangnya tanpa permisi. "Itu roti gua! Balikin, gak?!" Reyhan melotot dan berusaha mengambil kembali rotinya. Namun ia kalah cepat dengan Vano yang terlanjur melahap rotinya tanpa sisa. "Sialan lu, Van!" Reyhan mengembuskan napas kasar. Sementara Vano memasang raut datar, tidak merasa bersalah sedikitpun. "Mama mana, Bang? Kok yang bangunin gue tadi, elo?" tanya Vano selepas menelan rotinya "Lo amnesia? Kan dari kemarin nginep di rumah Oma sama Papa!" jawab Reyhan sedikit emosi. "Jawabnya biasa aja kali, Bang. Gua kan cuma tanya," kata Vano sembari memerhatikan abangnya yang tengah mengolesi roti tawar dengan selai cokelat. Bibir Reyhan tampak mengerucut sebal. Anak itu menggerutu dengan tidak jelas. Vano memilin bibirnya yang kering. Terus memerhatikan abangnya yang mengolesi roti itu dengan sepenuh hati. Saat Reyhan hendak memasukkan roti ke dalam mulutnya, Vano dengan secepat kilat merebut roti itu untuk kedua kalinya. Vano tertawa dan langsung berlari cepat kala Reyhan berteriak kesal dan langsung mengejarnya. "VANOO...!!" Vano segera naik ke atas motor hitamnya yang berada di teras rumah. Ia segera menancap gas dan pergi meninggalkan rumah. Vano semakin terbahak saat timpukan sandal sempat mengenai bahu kirinya. Dapat Vano lihat dari kaca spion, jika Reyhan tengah menyumpah serapahi dirinya. Vano tertawa, dan semakin mengencangkan laju motornya. °°° Vano memberhentikan kuda hitamnya dengan mulus pada parkiran sekolah. Ia lantas melepas helm, mengaitkan pada kaca spion. Kedua tangannya sibuk merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Beruntungnya hujan sudah berhenti, hanya saja hawa dinginnya masih sangat terasa, walaupun ia sudah menggunakan jaket sebagai penghangat. Vano melangkah sembari memutar kunci motor pada jari telunjuknya yang panjang. Baru beberapa saat melangkah, Vano terhenti saat kedua matanya menangkap motor yang tak asing di bagian ujung. Ia kemudian tersenyum simpul dengan menggelengkan kepala. "Udah tahu gak bisa keluarin motor, malah pilih tempat yang susah keluarnya," kata Vano lirih, lantas kembali melangkah menuju kelasnya. Vano melempar tas dengan asal di atas meja duduknya. Dengan cepat ia mengeluarkan buku dengan garis kotak. kepalanya menoleh ke arah Dhika yang duduk di sebelahnya. Dhika yang mengerti gerak-gerik Vano langsung mendekap tasnya di depan d**a. "Gausah pelit! Orang pelit kuburannya sempit!" sinis Vano memaksa. "Tergantung yang gali kuburan gue, lah!" balas Dhika. "Udahlah, Dhik, gak usah drama. Gue pinjem buku lo sebentar. Lo jadi orang baik dikit napa!" Dhika mengembuskan napas malas. Dengan sedikit berat hati, ia mengeluarkan buku tugas matematikanya, dan memberikannya pada Vano. "Dari tadi kek!" Vano meraih cepat buku itu. Tangannya sangat lihai menyalin jawaban penuh angka yang membuat matanya sepat. "Dasar pemalas. Kapan lo maju kalau gini terus!" desis Dhika lalu mulai mengeluarkan ponsel yang berada du dalam tasnya. "Jangan sok pinter, lo. Jawaban lo aja nyontek di internet!" "Tapi kan gue ada usaha! Dari pada lo gak ada effortnya sama sekali!" protes Dhika dengan melotot. Vano menulikan telinya. Dan dalam waktu kurang dari tiga menit, Vano telah selesai menyalin jawaban Dhika. Tubuh Vano kini sedikit mencondong, melihat Dhika yang terlihat serius menatap layar ponsel, dengan kedua jarinya yang mencubit layar itu untuk membesar kecilkan gambar di sana. "Masih lo stalk-in aja tuh si Shella. Udah mantan kali," kata Vano melihat layar ponsel Dhika. "Serah gue lah!" jawab Dhika sinis tanpa menoleh ke arah Vano. "Gila ya, kalau udah jadi mantan, makin cakep aja nih si Shella. Pas ama gue kek gak secakep ini!" lanjutnya dengan jempol yang terus bergulir kepo. "Iyalah! Lo kan jarang mandi. Pantesan Shella buluk pas jadian sama lo!" "Sembarangan lo kalau ngomong! Gue rajin mandi, ya! Emangnya elu!" jawab Dhika kesal tanpa mengalihkan perhatiannya. Vano mengedikkan bahunya acuh, lantas menyandarkan punggungnya. "Oh iya, Van! Gue kemarin pas lagi ngopi ketemu Tara! Gila banget penampilannya. Makin bohay!" seru Dhika heboh. "Terus?" "Ya gak terus. Gue cuma kasih info itu aja." "Gue gak peduli." Vano menatap Dhika dengan tatapan tidak suka. Bahkan wajahnya langsung terlihat dingin. "Dan lo, gak usah bahas Tara lagi di depan gue!" Dhika mengedikkan bahunya. Mengalihkan perhatiannya saat guru pengajar jam pertama memasuki kelas. °°° Di kelas lain, Novi terlihat begitu serius dengan pulpen dan buku tugas yang sedang ia tekuni. Berbanding terbalik dengan Revita yang malah asyik bermain ponsel di sebelahnya. Keadaan kelas yang terlampau bising seakan tak mengusik keseriusan Novi. Revita meletakkan ponselnya di atas meja. Lalu sedikit menyerongkan tubuh. Menatap Novi dengan intens. "Nov! Denger-denger, orang yang terlalu serius itu cepet matinya," celatuk Revita begitu saja hingga membuat Novi menghentikan gerakan menulisnya. "Astaghfirullah! Serius lo?!" sahut Novi dengan mata yang membulat. Revita mengangguk polos. "Jangan sembarangan ih kalau ngomong! Gue belum nikah, masa keburu mati!" kata Novi dengan guratan takut di wajahnya. Ia bahkan langsung menutup buku tugasnya. "Seriusan, tahu! Orang yang terlalu serius dan gak ada piknik itu bisa stress, terus tekanan batin, dan bisa berujung kematian loh," jawab Revita sok tahu. Novi bergidik ngeri. "Amit-amit dah!" ucap Novi dengan mengetuk meja dan kepalanya tiga kali. "Gue mau nikah dulu sebelum mati. Kasian entar jodoh gue kalau gue mati duluan. Bisa jadi perjaka tua entar dia," lanjut Novi yang termakan omongan Revita. Revita menepuk pundak Novi prihatin. "Kalau gitu, kantin, yuk! Kasian cacing di perut gue udah pada cacingan," kata Revita kemudian berdiri dari duduknya. Novi mengangguk cepat kemudian ikut beranjak dari duduknya. Revita kini bisa bernapas lega melihat kantin yang masih sepi melompong karena bel istirahat masih kurang sepuluh menit. Keduanya langsung memesan makanan dan minuman sebelum ramai. Beberapa saat kemudian, bel tanda istirahat mulai terdengar nyaring. Sayup-sayup keramaian para siswa berseragam mulai mendatangi kantin. Revita dan Novi pun masih setia berada di tempatnya, walaupun makanan mereka telah habis tak bersisa. "Assalamualaikum. Ya, Ukhti." Seseorang tanpa permisi langsung duduk di hadapan Novi. "Waalaikumsalam. Ya ahli kubur!" Pletak Jitakan mulus mendarat tepat di pelipis Novi. "Apaansih lo, Nam! Sakit tahu!" protes Novi dengan mengusap-usap pelipisnya. Menatap Anam dengan kesal. "Orang salam itu dijawab yang bener! Ingat mati! Ingat azab!" Novi lantas memutar bola matanya malas. Sebelah tangannya masih mengusap pelipisnya. Jitakan Anam memang tidak main-main. "Terus ngapain lo di sini? Gaada temen? Sono lo jauh-jauh!" bentak Novi dengan sebelah tangan yang mengibas di udara. Sementara Revita mengembuskan napas lelah melihat pertengkaran kedua temannya. Ah iya, sekedar informasi, Anam lah satu-satunya cowok di kelas yang tidak Revita anggap sebagai monster. Pasalnya, Anam sering mengajaknya berbicara. Ralat, lebih tepatnya sering memancing emosinya. Sehingga Revita sudah terbiasa beradu mulut dengan anak itu. "Siapa bilang gue ke sini sendirian? Emang gue jomlo kek elu?" sinis Anam telak yang membuat Novi justru berdecak kesal. "Nih, ongol-ongol pesanan lo!" Tegar tiba-tiba datang, lantas menempatkan diri di sebelah Anam. "Ini yang lo bilang gak sendirian?" Novi menatap ke arah Tegar. "Dasar hombreng!" Anam mengabaikan celotehan Novi, lantas membuka makananya. Menikmati ongol-ongol dengan tenang. "Nam, noh si Vano!" Bagaikan seekor anjing yang mendapat mangsa, kepala Anam langsung menegak. Kedua matanya yang tajam menatap dua rekan temannya yang terlihat tengah melahap jajanan ringan. Kedua orang itu terlihat berdiri di pojokan, karena semua meja kantin telah penuh. "WOY, VAN, DHIK!" Anam berseru kencang-kencang sembari melambaikan sebelah tangannya tinggi-tinggi. Sontak saja, banyak pasang mata yang langsung menoleh ke sumber suara. Namun mereka langsung mengalihkan pandang untuk kembali melanjutkan aktivitasnya. Vano dan Dhika yang mendengar jelas suara Anam memanggil namanya langsung berjalan mendekat. Pandangan Revita dan Vano saling bertumbuk dalam beberapa detik, kemudian Revita segera mengalihkan perhatiannya.Vano dan Dhika menempatkan diri duduk di sebelah Revita yang masih tersisa ruang. Otomatis, Revita langsung menggeser duduknya hingga bahunya menempel dengan bahu Novi. "Gimana besok? Udah beres?" tanya Anam kepada kedua rekannya. "Beress. Udah disiapin semua sama Pak Romi." Dhika yang menjawab. Anam mengangkat jempolnya. Kepalanya kembali menoleh, menatap Novi yang terlihat sudah membaik. "Lo besok dateng, gih. Lihat sekolah kita DBL." Kedua mata Novi terlihat membulat. Bahkan kedua sudut bibirnya terangkat naik. "Ah iya! Gue sampai kelupaan!" "Nah, sip! Lo dateng sono jadi rame-ramean!" "Sipp! Gue pasti dateng! Lumayan bisa lihat cogan dari sekolah lain." Anam mendengus malas. Lantas menimpali, "Lihat gue aja yang gantengnya udah subhanallah!" "Jijik!" pungkas Novi menyadarkan Anam. Lagi-lagi Anam hanya mendengus malas. Sepasang matanya kini menatap Revita yang tengah sibuk dengan ponselnya. "Lo dateng juga, Rev!" kata Anam yang terdengar justru memerintah. "Hah?" Revita sedikit tersentak dengan mengangkat kepalanya. "Sekolah kita besok DBL lagi. Lo datang sana!" kata Anam sedikit penuh penekanan. Dahi Revita seketika terlipat. Anak itu terlihat berpikir dan tidak mengerti maksud perkataan Anam. "Emang, DBL itu apa?" tanya Revita dengan polosnya. Seketika itu, Novi, Anam, Tegar, Vano dan Dhika langsung tersentak mendengar pertanyaan Revita. Kelimanya menatap Revita dengan mata yang membulat kaget. Padahal berita tentang DBL selalu terpampang nyata pada mading sekolah dan di semua sosial media sekolah. Berita DBL ini pun selalu menjadi bahan perbincangan hangat, dan dinanti-nantikan warga sekolah. "Lo gak tahu DBL?!" tanya Novi sedikit membentak. "Em ... pertandingan bola basket gak, sih?" jawab Revita mengingat pembahasan kemarin. Novi dan Anam mengangguk. "Kok tapi gue rasa, kayak enggak ada spesial-spesialnya di mata lo!" kata Anam dengan memicingkan matanya. "Lah, emang apa yang spesial? Cuma tanding basket, kan?" "b******n!" Anam menyeloroh kesal. Begitupun dengan penghuni meja itu. "Heh! Lo pikir cuma pertandingan biasa?" Anam menggebrak meja dengan keras. Mengagetkan Revita yang langsung melototkan kedua matanya. "DBL itu kompetisi liga bola basket pelajar SMP dan SMA terbesar di Indonesia. Jangan-jangan lo gak pernah datang buat dukung kita, ya?!" tebak Anam tepat sasaran. Revita menggeleng cepat. "Gak." "Kampret!" "Pantesan!" kata Vano di dalam hatinya. "Besok lo dateng gih biar tau DBL itu apa. Kebangetan lo, Rev!" imbuh Anam masih uring-uringan. "Terus ... gue sama Novi di sana ngapain?" tanya Revita lagi. "Numpang makan!" bentak Anam kembali tersulut emosi mendengar pertanyaan super polos itu. Revita mencebikkan bibirnya kesal kala menerima sahutan Anam yang selalu seperti itu. "Ya elo jadi supporter sekolah kita lah tolool. Yang bagian teriak-teriak buat nyemangatin kita-kita," jelas Anam semakin emosi dan menggerakkan giginya. "Ah ...." Kepala Revita mengangguk-angguk mengerti. Gadis itu menatap Anam dengan sangat tidak suka. "Terus, apa cuma gue sama Novi gitu yang teriak-teriak gak jelas?" tanya Revita lagi, membuat Novi otomatis menjambak rambut Revita frustrasi. Mengabaikan sang empu yang kontan mengaduh kesakitan. "MASYA ALLAH. ALLAHU LAA ILAAHA ILLA HUWAL HAYYUL QAYYUM! gue rukiah lama-lama lo, Rev! Kesel gue!" teriak Anam penuh emosi. Sebelah tangannya sudah sangat gemas untuk menonjok muka Revita. Sampai-sampai anak itu berdiri dari duduknya. Revita menggembungkan pipinya kesal. Mengusap-usap kepala belakangnya akibat jambakan Novi yang sedikit keras. "Gini ya, Rev. Sini biar gue jelasin!" sahut Vano menahan kesabaran. Akhirnya laki-laki itu membuka suaranya. Revita otomatis sedikit menyerongkan tubuhnya, menatap Vano yang ada di sebelahnya. "Jadi, besok Lo sama teman lo datang ke Bimasakti buat jadi supporter kita. Yang datang ke sana bukan lo berdua aja. Tapi, anak-anak sekolah kita juga dateng. Jadinya di sana itu rame. Begitu, paham?" kata Vano panjang lebar dengan senyuman manis di penghujung ucapannya. Senyuman yang menyembunyikan kedongkolan di benaknya. Revita mengangguk kecil. Lalu bertanya lagi. "Acaranya jam berapa? Di mana?" "Sepulang sekolah, di Bimasakti. Berangkatnya bareng-bareng sama yang lain aja." "Jadi gimana? Bisa datang?" tanya Vano lagi. "Emangnya, Bimasakti itu di mana?" "ALLAHU AKBAR!" jerit Novi. "DI ATAS TANAH DI BAWAH LANGIT. PADA BUMI INDONESIA TERCINTAH!" timpal Dhika berteriak geregetan. Dia benar-benar gemas dengan gadis super polos di seberangnya itu. "BAYGON MANA BAYGON!!!" sanggah Anam dengan tubuh yang kejang-kejang seolah keracunan. "Ih, kan gue cuma nanya!" kesal Revita dengan menghentak-hentakkan kakinya. Lihat, se-betapa anak rumahan gadis itu. Selama tujuh belas tahun hidup, hanya rumah ke sekolah yang dia tahu. Pernah mengunjungi beberapa tempat, tapi sudah lupa jalan mana yang harus dilalui. "Pokoknya, besok lo dateng aja sama Novi. Duduk manis di atas motor. Oke? Jelas?" ucap Dhika penuh sabar dengan pertanyaan-pertanyaan Revita. "Hmm," jawab Revita dengan gumaman. Sejujurnya dirinya sedikit malas menerima tawaran itu. Beberapa menit kemudian, bel masuk pelajaran selanjutnya berdering, membuat seluruh siswa dan siswi yang berada di kantin mendesah berat. Keenam anak itu serentak berdiri dan berjalan bersama-sama meninggalkan kantin. Dhika dan Vano memisahkan diri terlebih dahulu untuk masuk ke dalam kelasnya yang tak jauh dari kantin. "Semoga gue selalu dalam perlindungan Tuhan, biar gak kena ayan kalau ngomong sama Revita!" gumam Anam, lantas mendapat sebuah tinjuan di bahunya. °°°
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD