Aku merasakan sentuhan lembut di tangan kananku.
“Kenapa? Kok melamun?” tanya seseorang padaku dengan suaranya yang lembut.
Dan saat aku menoleh aku melihat Yennie sedang memperhatikanku dengan raut wajah bingung.
“Ada yang kamu pikirin ya?” tanyanya padaku sekali lagi.
Aku menggelengkan kepala.
“Baru juga aku tinggal ke kamar mandi sebetar udah bengong aja. Mikirin apa sih? Cerita dong” pinta Yennie padaku.
Aku menggelengkan kepalaku sekali lagi.
“Aku happy banget loh kita bisa jadi teman dekat kayak gini. Karena jujur semasa aku sekolah dan kuliah aku gak punya banyak teman. Waktu SMA aku bantu Ibuku nyiapin jualan dan bantu jualan juga. Apalagi pas kuliah. Aku hampir gak punya waktu untuk ikut kumpul bareng teman-temanku karena harus bekerja part time dan kalau libur aku lebih memilih untuk istirahat atau ngerjain tugas-tugas kuliah” kata Yennie sedikit menceritakan tentang pertemanannya semasa sekolah dan kuliah.
“Oya?” kataku yang mulai penasaran dengan kisah lengkapnya.
Ia menyesap minumannya sebelum lanjut bercerita.
“Iya, waktu SMA sebelum berangkat sekolah aku selalu bantu Ibu buat nyiapin dagangannya. Karena teman-temanku tahu kalau ibuku berjualan nasi uduk di depan rumah setiap pagi. Banyak dari mereka yang pesan untuk sarapan di sekolah. Tiap berangkat sekolah aku diantar Bapak pakai motor bututnya sambil bawa plastik besar yang isinya nasi uduk, gorengan dan lontong isi” cerita Yennie sambil mengenang masa-masa sekolahnya.
Ia pun melanjutkan kalau untung jualannya akan dibagi dua dengan sang ibu yang akan digunakan untuk biaya sekolah dan membantu membeli kebutuhan sekolahnya juga. Sedangkan separuh keuntungan yang menjadi miliknya ia gunakan sebagai tabungan untuk melanjutkan sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi.
Yennie juga bercerita kalau semasa ia sekolah ia jarang sekali jajan. Katanya sayang uangnya, mending ditabung atau digunakan untuk membeli kebutuhan sekolahnya.
“Orang tuaku gak pernah memintaku untuk bantu mereka. Tapi aku merasa tak enak hati kalau harus membiarkan mereka bekerja melebihi batas kemampuan mereka untuk biaya sekolahku” ucapnya di akhir cerita.
“Kamu memang anak yang berbakti dan pekerja keras ya. Bangga deh aku jadi temanmu” kataku setelah mendengar cerita Yennie semasa sekolahnya dulu.
“Karena keadaan juga” ucap Yennie sambil tersenyum.
“Tapi gak banyak anak yang mau bantu orang tuanya jualan di sekolah” kataku lagi.
“Oya, ada satu makanan yang pengen banget aku makan sewaktu SMA” katanya sambil matanya menerawang.
“Apa?” tanyaku penasaran.
“Aku pengen banget makan pizza. Dulu salah satu teman sekelasku ulang tahun. Acaranya dirayakan sepulang sekolah di salah satu restoran pizza. Semua teman satu kelas diundang. Karena aku gak punya uang untuk beli kado, jadi aku mutusin buat gak datang ke acaranya. Padahal aku pengen banget nyobain pizza” ucapnya sambil tertawa.
Aku tampak sedih mendengar ceritanya. Walaupun Yennie bercerita tak sambil menangis. Namun aku membayangkan perasaannya saat itu pasti rasanya sangat sedih. Aku pun memeluknya.
“Hey, it’s ok” katanya sambil mengusap lembut punggungku.
“Sekarang aku udah bisa makan pizza sampai puas. Bapak dan Ibuku juga udah nyobain. Tapi mereka gak doyan. Katanya lebih enak martabak” ucapnya melanjutkan kata-katanya sambil tertawa.
“Pacarku juga beberapa kali membuatkan aku pizza dan rasanya tak kalah enak dengan buatan restoran” ucapnya bangga pada sang pacar.
“Ahh.. sweet ya pacar kamu. Gimana hubungan kalian sekarang?” tanyaku jadi penasaran setelah Yennie menyebutkan tentang pacarnya.
“Baik. Minggu depan dia mau pulang dari Australia dan sepertinya akan menetap di sini” jawab Yennie dengan mata berbinar.
“Senangnya… bisa ketemu terus dong?” kataku menggodanya.
“Iya, tapi sepertinya dia akan bekerja juga di kantorku” ucap yennie. Namun wajahnya sedikit murung saat mengatakan hal itu.
“Kenapa? Bukannya enak bisa bertemu terus setiap hari?” kataku sambil menyentuh tangannya.
“Bukan itu. Aku masih belum siap kalau hubungan kami diketahui orang kantor. Terlebih ayahnya. Aku masih belum siap dengan respon orang-orang di kantor nanti kalau tau aku berpacaran dengan anak salah satu pemegang saham di sana” kata Yennie menjelaskan kekhawatirannya padaku.
Aku pun mencoba mengerti kekhawatiran yang dirasakan Yennie. “Kita memang gak bisa mengatur pikiran atau komentar orang lain. Tapi kamu bisa buktikan kalau kamu mampu berada di posisi kamu sekarang” ucapku mencoba menghibur dan memberikan semangat pada Yennie.
Yennie membelai tanganku lembut sambil tersenyum. Meski tak mengucapkan apa-apa tapi tatapan matanya mengucapkan rasa terima kasih dengan tulus karena sudah mendukungnya dan memberinya semangat lewat ucapanku tadi.
“Mudah-mudahan apa yang kamu takutkan itu gak pernah kejadian ya. Dan hubungan kamu dan pacarmu tetap berjalan baik” kataku mendoakan hubungan teman baruku dengan tulus.
“Terima kasih banget, Asha” ucapnya tulus sambil memelukku.
Aku membalas pelukannya dan ikut senang setelah mendengar cerita Yennie yang berakhir bahagia karena bisa memenuhi salah satu keinginannya yang belum sempat terwujud dan bertemu dengan seseorang yang sangat menyayanginya.
“Asha, kamu kenapa mau jadi dokter? Apa orang tua kamu dokter juga?” tanya Yennie yang sepertinya sedikit penasaran dengan alasanku menjadi dokter.
“Enggak. Papaku hobi masak. Karena hobinya itu Papa buka rumah makan. Awalnya itu ide Mamaku karena setelah resign Papa bingung mau ngapain sambil nunggu panggilan kerja beliau akhirnya setuju untuk buka resto kecil-kecilan. Dan keterusan sampai sekarang” Jawabku menceritakan sedikit kisah tentang awal mula papa merintis usahanya.
“Wah, hebat banget. Jarang loh ada laki-laki yang pinter masak. Papa kamu chef?” tanya Yennie lagi yang penasaran dengan latar belakang papaku.
Aku tertawa mendengar pertanyaannya. Karena latar belakang Papaku jauh sekali dari bidang kuliner.
“Bukan. Papaku dulu kuliah bisnis. Dia juga kuliah di Australia kayak pacar kamu. Cuma selama di sana Papa sering masak sendiri karena malas cari makan diluar. Lebih irit juga katanya.” kataku menceritakan sedikit tentang latar belakang papaku.
Yennie mengangguk-angguk mendengar ceritaku.
“Kalau Ibu kamu?” tanyanya padaku.
Aku menarik napas panjang sebelum bercerita. Aku bingung harus mulai cerita dari mana. Karena aku hanya memiliki sedikit memori tentang kebersamaanku dengan mama.
“Mama sudah meninggal dunia saat aku umur enam tahun. Aku gak punya banyak memori sama Mama. karena saat itu aku masih kecil banget. Jadi lupa-lupa ingat. Cuma kata Papa mata dan senyum kami mirip” kataku sambil tersenyum ke arah Yennie.
“Maaf ya aku gak bermaksud membuat kamu sedih” kata Yennie setelah tau kalau aku seorang piatu.
“Aku sudah baik-baik saja sekarang. Awalnya aku selalu iri kalau liat ibu dan anak menghabiskan waktu bersama. Terlebih waktu masih kecil. Saat teman-temanku cerita tentang ibu mereka yang sangat memanjakan mereka. Aku pernah minta hadiah ulang tahun Mama baru dari Papa. saking pengennya punyamama kayak teman-temanku. Dan Papa cuma ketawa dengar permintaanku saat itu” kataku sambil tertawa mengingat cerita papa.
Yennie yang mendengar ceritaku tadi juga ikut tertawa. “Terus dikabulin?” tanyanya.
“Sampai sekarang Papa gak mengabulkan permintaanku yang satu itu” jawabku.
“Papaku sayang banget sama Mama. papa bilang Mamaku itu cinta terakhirnya. Udah mentok” ucapku sambil tersenyum saat menirukan ucapan papa sambil membayangkan wajahnya.
“Lagian kamu ada-ada aja mintanya. Tapi Papa kamu sweet dan setia ya orangnya. Gak banyak laki-laki yang seperti Papa kamu” katanya setelah mendengar sedikit cerita tentang kedua orang tuaku.
Aku mengangguk tanda setuju dengan ucapan Yennie barusan.
“Kamu kapan berangkat ke Yogyakarta?” tanya Yennie mengingatkan aku kembali pada rencanaku dengan Ben.
“Sepertinya secepatnya. Tapi aku masih tunggu kabar lagi dari Ben” jawabku.
“Sepertinya kita akan lama gak bertemu ya. Kamu akan ke Yogyakarta sama Ben, sedangkan aku lusa akan kembali ke Jakarta” ucap Yennie mengingatkan aku kalau sebentar lagi kami akan segera berpisah.
Ada perasaan sedih terselip di hati mengingat kebersamaan kami sebentar lagi akan berakhir dan aku tak bisa sering-sering bertemu dengan teman baruku, Yennie.
“Yennie, aku boleh minta nomor telepon kamu gak? Biar bisa terus berhubungan dan janjian buat bertemu lagi di Jakarta” tanyaku pada Yennie.
Yennie tersenyum sambil menatapku.
Namun saat ia menyebutkan nomor teleponnya tiba-tiba pendengaranku berdengung sangat hebat dan pandanganku memudar. Lalu semuanya menjadi gelap.
*****