Rasa senang dan nyaman tiap kali aku bertemu Yennie cukup membuatku penasaran. Aku juga merasa kalau kami sudah saling mengenal dalam waktu yang lama. Padahal kami baru akrab saja akrab dan bertemu secara tidak sengaja saat sama-sama berlibur di Bali.
“Aduh, kenapa bisa lupa lagi minta nomor ponsel Yennie…” kataku saat sadar kalau aku belum memiliki nomor ponsel sahabat baruku, Yennie.
Aku mengecek ponselku sambil berjalan dan merasa selama aku berada di sini tidak pernah ada suara pesan atau telepon masuk.
Brukk… Brukk…
Dan semua menjadi gelap.
Beep… Beep… Beep…
Aku terbangun sambil mengusap-usap kepalaku yang terbentur meja nakas disamping kasur. Aku terjatuh saat tidur dan sekarang sedang merasakan nyeri juga di tangan kananku karena tertimpa badanku sendiri.
“Sakit” kataku sambil bangun dari lantai dan memegangi tangan kananku.
“Kenapa akhir-akhir ini mimpinya hampir sama terus ya?” kataku bertanya pada diri sendiri.
Karena hari ini aku praktek sore, jadi aku berencana untuk berolahraga dulu paginya. Dan saat tengah asyik berolahraga ponselku berbunyi. Saat aku check ternyata dari nomor yang tak terdaftar di kontak ponselku. Awalnya ku biarkan ia berbunyi hingga berhenti sendiri. Namun nomor itu kembali menghubungiku.
“Halo…” sapaku sesaat setelah menggeser layar di ponsel.
“Asha, ini Mama Rita. Hari ini kamu kerjanya sampai jam berapa?” tanya ibunda Damar setelah ia memperkenalkan dirinya.
“Maaf, Ma. Aku gak tau nomor Mama makanya panggilan pertama gak diangkat. Aku praktek sore, Ma. mulai jam empat sore sampai jam sebelas malam. Ada apa, Ma?” tanyaku setelah menjelaskan alasanku yang lama mengangkat panggilan teleponnya.
“Gak apa-apa, Sha. Habis ini nomor Mama di simpan ya” katanya sambil tertawa. “Tadinya Mama mau ajak kamu makan malam. Damar sama Papanya sibuk terus. Jadinya Mama sering makan sendirian dan kesepian karena gak ada temennya. Tapi kamu praktek sore. Takutnya capek kalau kita makan di luar dulu sebelum kamu kerja” lanjutnya sambil menjelaskan maksud dan tujuannya menghubungiku pagi-pagi.
Sejujurnya agak agak bingung harus merespon apa ajakan Mama Rita tadi. Dan tak sampai hati jika harus menolak ajakannya. “Kalau pas weekend aja gimana, Ma?” kataku memberi solusi.
“Minggu ini gimana? Kamu bisa gak?” tanya Mama Rita cepat.
“Bisa kok, Ma. Nanti aku jemput Mama ya” kataku mengiyakan ajakannya.
“Gak usah. Mama aja yang jemput kamu. Jam sebelas Mama jemput ya. Gimana?” tanya mama Rita lagi menunggu persetujuanku.
“Gak apa-apa aku aja yang jemput Mama” kataku meyakinkan kalau aku tak keberatan jika harus menjemputnya.
“Mama aja yang ke tempat kamu. Sekalian main ke rumah anak perempuan Mama” ucapnya membuat hatiku menjadi hangat. Aku tersenyum mendengarnya.
“Ya udah kalau Mama mau sekalian main ke rumah” kataku menyetujuinya.
Tak lama sambungan telepon pun berakhir.
Aku melanjutkan kegiatan berolahraga yang tadi sempat terhenti karena telepon dari Bu Rita. Namun tak lama aku memutuskan untuk menyelesaikan olahragaku pagi ini.
Saat berada di unit apartemenku, aku kembali teringat lagi akan mimpiku semalam.
“Kenapa mimpi itu terus berulang ya? Seperti cerita bersambung” tanyaku pada diriku sendiri.
Aku terus memikirkannya hingga suara ketukan pintu mengembalikan aku ke dunia nyata. Aku berjalan menuju pintu dan mengintip siapa yang datang. Ternyata papa.
“Kenapa gak bilang mau ke ini, Pa?” tanyaku saat pintu sudah terbuka.
“Emangnya kalau mau mengunjungi anak sendiri, Papa harus kasih kabar dulu ya? Gak boleh dadakan kayak gini” kata papa bertanya balik padaku ketika memasuki unit apartemenku.
Aku cuma nyengir mendengar pertanyaan papa barusan.
“Bawa apa, Pa?” tanyaku sambil mengikuti papa menuju dapur.
“Sarapan. Ayo sini!” jawab papa sambil membuka bungkusan yang dibawanya satu persatu.
Dengan semangat aku menghampiri papa dan memakan makanan yang dibawanya bersama-sama.
“Sya, Papa mau ke rumah Mama weekend ini. Kamu mau ikut gak?” tanya Pak Arya pada putri satu-satunya itu.
“Mamanya Damar barusan telpon aku, ngajak makan siang bareng Minggu ini. Katanya kesepian di rumahnya pada sibuk. Jadi sering makan sendirian” kata menjawab pertanyaan papa.
Pak Arya cuma manggut-manggut karena mulutnya penuh makanan.
“Papa mau ikut? Pulangnya kita ke Mama” tanyaku sambil memberi solusi.
Pak Arya menggelengkan kepalanya.
“Enggak ah. Nanti Papa bengong aja dengerin kalian pada gosip karena gak ngerti topik pembicaraannya” jawab Pak Arya.
Aku tertawa mendengar jawaban papaku.
“Pa, aku boleh nanya gak?” ucapku pada papa yang langsung menarik perhatiannya.
“Apa?” tanya papa cepat karena penasaran.
“Mama tuh orangnya gimana sih?” tanyaku yang membuat papa menoleh padaku.
“Kenapa memangnya? Tumben nanyain Mama” jawab Pak Arya.
“Aku gak terlalu banyak tau tentang Mama selama ini. Karena keadaan Mama yang dari dulu gak banyak interaksi sama aku dari kecil. Aku pengen isi memori tentang Mama dengan hal-hal positif. Biar kalau ada temen aku yang cerita tentang Mamanya aku juga bisa ikut cerita tentang Mama. Jadi, sekarang Papa ceritain semua hal baik tentang Mama sama aku ya” pintaku pada papa yang langsung membuatnya meletakkan sendoknya dan menatapku.
Papa tersenyum sambil matanya menerawang seakan-akan dirinya kembali ke masa saat ia dan mama masih bersama.
“Mama kamu itu perempuan yang pandai dan pekerja keras” kata papa saat mulai menceritakan mama.
“Dia juga bukan perempuan yang gampang menyerah” tambahnya dengan senyum yang masih menghiasi wajahnya.
Aku menyimaknya dan ikut tersenyum mendengar papaku bercerita tentang sifat mama semasa ia masih hidup.
“Tapi sayang, Mama kamu itu kurang pintar memasak. Dulu papa pernah dikirimi sup ayam karena sedang gak enak badan. Dari penampilannya menggoda sekali untuk cepat-cepat dimakan. Dan pas Papa makan sayurnya asin sekali” ucap papa sambil tertawa saat menceritakan kenangan itu.
Aku pun ikut tertawa mendengarnya.
“Terus gimana?” tanyaku penasaran dengan kelanjutan ceritanya.
“Papa habisin lah. Sampai kuahnya juga Papa minum” jawabnya masih dengan senyum yang mengembang diwajah.
“Mama nanya gak masakannya enak atau enggak?” tanyaku yang semakin penasaran.
“Pasti lah. Papa bilang masakannya enak banget. Dan kamu tau apa reaksi Mama waktu Papa bilang gitu?” tanya papa.
“Apa?” jawabku cepat.
“Mama bilang besok mau masakin Papa sup ayam lagi biar Papa cepat sembuh. Papa langsung nolak. Papa bilang ‘gak usah, makan masakan kamu satu kali langsung bikin aku sehat’” jawab papa sambil tersenyum melirik ke arahku.
“Kenapa gitu?” tanyaku heran.
“Sup ayam buatan Mama kamu asin sekali, Sha. Langsung bikin sakit kepala Papa hilang. Lagian kalau terus-terusan Mama kamu bikinin Papa sup ayam bisa-bisa Papa hipertensi” kata papa yang membuat aku ikut tertawa juga.
“Berarti Papa gak jujur dong waktu bilang sup ayam buatan Mama enak?” tanyaku di sela-sela tawa.
“Demi kebaikan” jawabnya yang berhasil membuatku tertawa lagi.
Papa memandang langit-langit ruangan tempat kami sarapan bersama.
“Tapi sekarang Papa kangen sup ayam keasinan buatan Mama kamu” katanya sambil menerawang.
Aku pun memeluk papa untuk saling menguatkan. Meskipun aku tidak memiliki banyak kenangan manis dengan mama, aku tetap merindukan kehadirannya di tengah-tengah keluarga kami.
“Papa sering benerin masakannya tanpa sepengetahuan Mama kamu. Kalau pas Mama kamu bawain masakannya sering Papa panasin lagi dengan alasan pengen makan hangat-hangat. Disitulah kesempatan Papa untuk benerin masakannya. Papa tambahin bumbu, air dan bahan-bahan lainnya biar rasanya lebih baik” kata papa lagi.
“Pernah suatu hari pas Mama kamu datang ke apartemen, Papa lagi dikamar mandi jadi Mama langsung panasin di dapur. Setelah hangat dia nyobain sendiri masakannya dari situ dia tau kalau masakannya keasinan. Dan pas Papa keluar kamar mandi Mama kamu cemberut karena Papa gak jujur sama dia tentang rasa masakannya” ucap Papa melanjutkan ceritanya.
“Mama marah?” tanyaku penasaran.
Papa tertawa membuatku heran.
“Sedikit. Tapi dia lebih kasian sama Papa karena makan masakan yang keasinan terus. Setelah itu Mama gak mau masak lagi. Karena takut Papa bohong tentang rasa masakannya. Tapi sebagai gantinya Papa yang masakin Mama. Papa sering kirim makanan ke kantor dan kosannya. Kayak kamu gini” kata papa sambil menatapku.
“Kenapa Papa gak jujur aja tentang rasanya?” tanyaku yang semakin penasaran dengan alasan papa.
“Papa akan selalu makan apa yang dimasak Mama kamu. Apapun rasanya. Karena Mama kamu masaknya pakai cinta dan kasih sayang” jawab papa yang membuatku tertawa.
“Secinta itu ya Papa sama Mama? Kalau kata anak jaman sekarang tuh bucin. b***k cinta” kataku masih sambil tertawa.
“Tentu! Mama kamu yang saranin Papa buat bikin rumah makan. Karena dia bilang masakan Papa enak. Dia yang support Papa moril dan materi disaat hampir semua orang pergi ninggalin Papa” ucap papa yang selalu tersenyum selama ia bercerita tentang kisahnya dengan mama.
Aku memeluk erat papa setelah ia selesai bercerita.
“Semoga suatu saat nanti Tuhan kasih aku jodoh kayak Papa. Yang sangat bucin ke pasangannya dan setia” doaku yang diamini oleh papa.
“Calonnya sudah ada?” tanya papa yang menyadarkanku bahwa aku belum ada pasangan saat ini.
Aku menggeleng.
“Damar sepertinya anak yang baik. Kalian sudah kenal dari kecil dan orang tuanya juga Papa kenal baik” kata papa tiba-tiba yang membuatku melotot ke arahnya.
Ia tertawa dengan reaksiku.
“Kenapa? Papa cuma mengutarakan pendapat Papa tentang Damar” ucap papa setelah selesai tertawa.
Aku hanya geleng-geleng meres[on ucapan papa barusan lalu membereskan bekas sarapan kami. Papa membantuku memasukan beberapa lauk yang ia masak sendiri ke dalam kulkas untuk persediaan selama satu minggu kedepan.
“Siapapun pasangan kamu nanti selama dia menyayangi kamu dengan tulus Papa akan merestui. Apalagi kalau orangnya Damar” kata papa lagi sambil mengedipkan sebelah matanya meledekku.
“Akan aku usahakan pasanganku nanti bukan Damar” jawabku sedikit kesal karena papa terus menerus meledekku.
Papa tertawa mendengar jawabanku.
“Ya sudah Papa mau balik lagi ke ruko. Mau liat progresnya” kata papa sambil berpamitan. Aku pun mengantarnya sampai ke lobby.
“Semua orang suka Damar. Apa mereka gak sadar kalau dia tuh nyebelin banget sikapnya?” kataku sambil tidur-tiduran di kasur setelah mengantar papa pulang.
*****