Kami sampai di salah satu resto and bar yang terletak di tepi pantai. Sebelumnya Yennie sudah memesan tempat untuk dua orang yang menghadap ke arah pantai. Jadi kami bisa menikmati makan malam dan mengobrol sambil menikmati pemandangan matahari tenggelam.
“Kemarin kami pergi ke ladang bunga Marigold. Aku baru tau kalau di sini juga ada tempat kaya gitu. Karena tiap ke Bali aku lebih banyak mengunjungi pantai” kataku pada Yennie. Memulai percakapan kami sore itu sambil menunggu makan malam datang.
“Terus kalian ngapain lagi dan jalan-jalan ke mana aja?” tanya Yennie yang terlihat penasaran dengan ceritaku selanjutnya.
“Kami beberapa kali foto di sana terus makan siang. Habis itu lanjut ke Pantai Lovina” kataku melanjutkan bercerita.
“Kalian nginep di sana?” tanya Yennie yang semakin penasaran.
Aku mengangguk dan hal itu membuatnya sedikit histeris.
“Ngapain aja?” tanyanya usil.
“Kita makan malam sambil liat sunset di pinggir pantai. Paginya lanjut liat lumba-lumba di laut lepas” jawabku yang menceritakan hanya sebagian besar kegiatanku dan Ben saat bersama.
“Itu aja?” tanya Yennie yang tidak bisa menutupi rasa penasarannya.
Aku mengangguk.
“Gak seru ah” ucapnya sedikit kecewa dengan jawabanku yang tak sesuai dengan ekspektasinya.
“Emangnya mau ngapain?” tanyaku pura-pura tak tau maksud dari pernyataan Yennie barusan.
“Ya apa gitu yang bikin adrenalin berpacu” jawabnya asal sambil tertawa. “Eh, Ben udah nyatain perasaannya ke kamu belum?” tanyanya lagi.
Aku sempat menimbang-nimbang sebentar sebelum menceritakannya pada Yennie.
“Dia bilang nyaman kalau lagi sama aku. Dan dia juga sempat peluk aku waktu aku bilang mau nemenin dia untuk cari keluarganya dari mendiang ibunya di Yogyakarta” kataku menjawab rasa penasaran Yennie.
“Kapan kalian berangkat ke Yogyakarta?” tanyanya lagi.
“Masih belum tau. Tapi sepertinya secepatnya karena aku sudah beberapa hari liburan di sini. Aku gak bisa cuti lama-lama” jawabku menjelaskan situasiku saat ini.
Yennie pun mengangguk-angguk seakan mengerti.
“Jadi kalian akan mulai dari mana untuk mencari keberadaan keluarganya Ben?” tanyanya lagi yang terlihat penasaran juga dengan cerita lengkapnya.
“Tadi aku usul untuk kembali lagi ke restoran tempat ibunya bekerja dan bertanya ke orang-orang sekitar sambil nunjukin foto mendiang ibunya selagi muda. Ada orang yang tau atau kenal sama mendiang ibunya Ben dan bisa kasih kita alamat tempat keluarganya tinggal. Atau paling tidak kita bisa dapat titik terang untuk langkah selanjutnya” kataku mencoba menjelaskan tentang rencanaku dalam mencari keberadaan keluarga Ben di Indonesia.
“Mudah-mudahan usaha kalian membuahkan hasil ya” ucap Yennie mendoakan dengan tulus. “Kenapa kamu mau repot-repot bantu Ben?” tanyanya lagi.
“Aku kasian sama dia. Sendiri di negara kelahiran ibunya tanpa kenal siapapun di sini. Niatnya juga bagus buat silaturahmi dan kasih kabar kalau ibunya sudah pergi belasan tahun silam” kataku memberikan alasan.
“Kenapa Ben baru cari sekarang?” tanya Yennie lagi yang terlihat semakin penasaran.
Aku mengangkat bahuku sebagai tanda tidak tau. “Aku belum pernah tanya hal itu sama Ben” jawabku.
“Kamu gimana sama pacarmu? Hubungan kalian lancarkan?” tanyaku pada Yennie.
“Hubungan kami baik. Cuma seperti yang aku bilang kemarin. Kami jarang bertemu semenjak dia kembali ke Australia. Sesekali kami berhubungan lewat email. Kadang ia menghubungiku lewat telepon. Tapi gak bisa lama-lama. Karena mahal” katanya sambil tertawa. Aku pun ikut tertawa.
“Kayaknya ‘cintaku terhalang bill telepon’ cocok buat jadi judul percintaan kamu sekarang” ucapku yang disambut tawa Yennie.
Sejenak aku terdiam memperhatikan cara Yenie tertawa. Mengingatkanku pada seseorang yang sangat aku rindukan.
“Asha, ada apa?” tanyanya melihatku terdiam menatapnya.
“Gak papa. Cara kamu tertawa mirip sama seseorang yang aku kangen banget” jawabku.
“Siapa?” tanyanya penasaran dengan pernyataanku barusan.
“Mendiang mamaku. Dia mirip kamu waktu ia masih muda. Dan banyak kesamaan yang kalian miliki” jawabku.
“Oya? Apa aja?” tanya Yennie.
“Selain cara terawa, pekerjaan kalian juga sama. Kalian juga berkuliah di kampus yang sama. Tapi aku kurang tau mamaku dulu ambil fakultas apa. Papa cuma cerita mamaku salah satu lulusan terbaik di kampusnya” kataku memberi tahu kesamaan mereka.
“Ada satu lagi kesamaan yang lupa kamu sebut” ucap Yennie.
Aku menunggunya melanjutkan kata-katanya yang menggantung.
“Kami sama-sama cantik. Iya kan?” tanyanya lagi membuatku tertawa dan setuju dengan ucapannya barusan.
“Keluarga kalian sudah saling kenal? Secara kalian sudah lama pacaran kan” kataku bertanya hal yang lebih mendalam tanpa aku sadari.
Yennie menggelengkan kepalanya.
“Aku takut keluarganya gak setuju sama hubungan kami. Karena aku bukan berasal dari keluarga terpandang. Ayahku hanya petani biasa di desa. Ibuku hanya penjual nasi uduk. Sedangkan dia berasal dari keluarga yang sangat berkecukupan. Orang tuanya memiliki beberapa usaha salah satunya di bidang kuliner dan ayahnya salah satu pemegang saham terbesar di tempatku bekerja sekarang” kata Yennie mencerita kegundahan hatinya padaku sore itu.
“Kamu bisa masuk sana bukan karena pacarmu anak pemegang saham kan?” kataku menggodanya. Karena ia terlihat sedikit murung saat menceritakan hal yang mengganjal di hatinya.
Yennie tertawa mendengar pertanyaanku. “Enggak lah. Aku ikut seleksi juga kok. Dan aku murni masuk sana dengan usahaku sendiri” kata Yennie menjelaskan.
“Good! Kamu sayang banget ya sama pacarmu itu?” tanyaku lagi.
Ia mengangguk.
“Awalnya aku gak tau kalau dia anak pemegang saham. Aku taunya pas kami bertemu secara tak sengaja di kantorku. Dan aku kenal sama ayahnya waktu ada acara di kantor. Sedangkan dia sepertinya sudah tau karena aku sempat bercerita kalau aku ada panggilan interview dan tes di sana. Cuma dia gak bilang. Aku bingung harus gimana” katanya lagi.
“Bingung kenapa?” tanyaku penasaran.
“Latar belakang keluarga kami beda jauh, Asha. Aku takut kalau keluarganya gak merestui hubungan kami. Sedangkan hubungan kami sudah berjalan cukup lama. Aku juga sangat menyayanginya” kata Yennie bimbang.
“Kamu sudah pernah bahas hal ini sama pacar kamu?” tanyaku prihatin.
Yennie menggeleng.
“Nanti kalau dia pulang ke Indonesia coba kalian bahas. Jangan terlalu menakutkan hal yang belum tentu terjadi. Kamu juga kan gak tau respon keluarganya gimana karena pacar kamu belum pernah mengenalkan kamu ke keluarganya sebagai pacarnya kan?” tanyaku lagi.
Yennie mengangguk. Sepertinya ia menyetujui saranku tadi.
“Kamu sayang banget sama pacar kamu itu ya?” tanyaku lagi pada Yennie.
Yennie mengangguk lagi.
“Dia seorang pekerja keras dan gak memanfaatkan kekayaan orang tuanya. Dia juga gak memandang orang lain dari hartanya. Kamu inget kan aku pernah cerita kalau dia sedang mengembangkan bisnisnya di Australia bersama teman-temannya?” tanya Yennie padaku.
Aku menganggukkan kepala.
“Mereka buka rumah toko khas Indonesia di sana. Sesekali toko itu juga menyediakan beberapa menu yang bisa dimakan di tempat atau dibawa pulang. Porsi yang di jual gak banyak. Sekitar tiga puluh sampai lima puluh porsi. Walaupun gak tiap hari ada makanan siap saji, tapi setiap toko itu menyediakan makanan jadi, makanan tersebut selalu habis. Dan semua itu pacarku loh yang masak. Dia juga meminjam uang ayahnya untuk modal bikin usaha di sana. Dengan bunganya walaupun gak besar. Dia juga orang yang lembut tutur katanya dan penyayang” cerita Yennie tentang sang kekasih padaku.
Aku pun ikut senang karena sepertinya Yennie telah bertemu dengan orang yang tepat. Yang menerimanya tanpa memandang latar belakang keluarga.
“Kamu sudah punya rencana kedepannya akan seperti apa hubungan kamu dengan pacar kamu?” tanyaku penasaran karena sepertinya mereka sama-sama saling mencintai.
Yennie mengangguk.
“Kami memang berencana untuk menikah. Tapi sebelumnya aku ingin kenal keluarganya dulu. Kami sedang cari waktu yang pas untuk itu” katanya dengan wajah gembira saat menceritakannya.
Aku pun ikut senang dengan kabar itu.
Tak terasa waktu sudah semakin malam. Kami pun memutuskan untuk segera kembali.
“Nanti kalau kita sudah di Jakarta, kita harus ketemuan dan cerita-cerita kayak gini lagi ya. Aku penasaran sama kelanjutan hubungan kamu dan Ben” ucapnya sebelum aku turun di lobby hotel.
Aku tertawa mendengar ucapannya.
“Iya. Kamu hati-hati ya” kataku saat turun dari mobil dan melambaikan tangan sebelum berpisah.
Entah mengapa setiap bersama Yennie aku merasakan perasaan nyaman. Seolah-olah seperti sudah lama mengenalnya padahal kami belum lama bertemu dan menjadi akrab.
*****