Setelah menyelesaikan makan malam, aku dan Ben menyempatkan berjalan-jalan sebentar di tepi pantai sambil bergandengan tangan layaknya sepasang kekasih yang sedang kasmaran sebelum kami kembali ke penginapan.
“Jangan lupa besok jam lima pagi aku jemput di sini” kata Ben saat kami sudah berada di depan kamarku.
“Kita mau kemana sih, Ben? Kenapa berangkatnya pagi-pagi banget?” tanyaku beruntun pada Ben karena penasaran.
“Kamu pasti suka dan akan jadi salah satu pengalaman yang tak terlupakan. Sekarang istirahat dan tidur yang nyenyak” ucap Ben lagi yang masih tidak mau memberi tahu kemana tujuan kami esok hari.
“Ok, kamu juga istirahat ya” kataku. Dan tepat sebelum aku berbalik Ben memelukku.
“Aku nyaman banget dengan kebersamaan kita, Asha” katanya.
Tindakannya yang tiba-tiba itu membuatku bingung harus merespon apa. Aku hanya tersenyum.
“Aku masuk ke kamar dulu ya” kataku sebelum benar-benar menghilang di balik pintu kamar penginapan.
Tok… Tok… Tok…
Terdengar suara ketukan pintu dari luar kamarku.
“Good morning…” sapa Ben ketika pintu kamarku terbuka.
“Pagi… mau sarapan dulu gak?” tanyaku saat kami berjalan menyusuri koridor penginapan.
“Sure! Kita sarapan di sini aja ya. Menghemat waktu. Karena kapal yang akan kita tumpangi berangkat jam setengah enam pagi” ucap Ben.
Kami sepakat untuk sarapan pagi dengan roti dan s**u. Sedangkan Ben lebih memilih kopi ketimbang s**u.
“Ayo!” ajak Ben saat kami selesai sarapan kilat. Sambil setengah berlari Ben menggenggam tanganku.
Aku sedikit terengah saat kami sampai di pantai Lovina dan sudah ada beberapa orang yang akan berangkat bersama kami untuk naik perahu.
“Kita mau ngapain pagi-pagi gini naik perahu?” tanyaku bingung.
“Kita mau lihat lumba-lumba di sana” jawab Ben sambil menunjuk ke lokasi tempat kami melihat lumba-lumba nanti.
“Ayo!” kata Ben sambil mengulurkan tangannya agar aku bisa naik ke dalam perahu dengan selamat.
Aku pun menyambut uluran tangan itu lalu melompat masuk ke dalam perahu. Dan setelahnya Ben juga masuk ke dalamnya.
Kami menyusuri lautan luas untuk dapat melihat kawanan lumba-lumba yang melompat-lompat di tengah laut.
“Suka?” tanya Ben.
"Of course I do. Terima kasih ya sudah ajak aku ke tempat-tempat bagus selama aku di sini” kataku tulus pada Ben.
“My pleasure” jawab Ben sambil memeluk pinggangku.
Kami pun menikmati pertunjukan dari kawanan lumba-lumba yang melompat-lompat riang di lautan luas.
Setelah sekitar dua jam lamanya kami menyaksikan pemandangan yang jarang kami lihat. Perahu tradisional yang membawa kami ke tengah lautan tadi pun bersandar di bibir pantai. Dan para penumpang pun turun satu per satu dengan membawa pengalaman baru di hidup mereka. Termasuk aku.
“Mau kemana lagi habis ini?” tanyakunpada Ben. mengingat sore ini aku berjanji pada Yennie untuk mengantarkannya ke bandara.
“Kamu ada tempat yang mau dikunjungi gak?” kata Ben balik bertanya padaku.
Aku menggeleng. “Kita duduk-duduk di pinggir pantai aja kalau gitu. Sambil menunggu makan siang” kataku mencoba memberi saran di waktu kami yang kosong.
Ben pun setuju. Jadi kami memilih salah satu restoran tepi pantai dan memesan minuman untuk menemani kami mengobrol.
“Ben, apa rencana kamu selanjutnya? Kamu belum berhasil bertemu dengan keluarga dari mendiang ibumu. Kamu mau melanjutkan mencarinya atau kembali ke Kanada?” kataku bertanya tentang rencana Ben selanjutnya.
Ben tampak berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaanku.
“Aku masih ingin mencari mereka dan mengabarkan kalau ibuku telah berpulang belasan tahun yang lalu. Aku juga ingin mengenal mereka. Tapi aku gak tau harus memulai dari mana karena seluruh petunjuk seakan hilang karena ibuku telah meninggalkan kampung halamannya puluhan tahun yang lalu” kata Ben sambil mengungkapkan keresahan hatinya.
Aku mengerti akan kebingungan yang Ben alami saat ini. Di negara yang ia tak mengenal siapa pun, ia harus mencari keluarga yang abru sekali ia temui seumur hidupnya. Itu pun sudah puluhan tahun yang lalu. Dan sekarang petunjuk-petunjuk yang ia miliki tertutup hilang tanpa jejak termakan usia.
Aku ingin membantunya tapi aku juga tak tau bagaimana mencari keberadaan keluarga dari mendiang ibunda Ben.
“Ben, kamu sudah pernah tanya sama orang-orang yang tinggal di sekitar restoran tempat ibu kamu kerja dulu? Mungkin diantara mereka ada yang kenal dengan mendiang ibu kamu dan tau dimana keberadaan keluarga dari ibumu itu. Rekan kerjanya dulu mungkin masih ada yang tinggal di sekitar sana. Kamu punya fotonya kan?” kataku tiba-tiba mendapatkan ide untuk membantu Ben.
“Aku punya. Namun aku gak terpikir sampai kesana. Kemarin aku hanya bertanya tentang restoran itu. Tapi tidak menunjukkan foto ibuku. Terima kasih, Asha. Kamu memberikan aku ide dan semangat untuk mencari keluargaku lagi” ucap Ben gembira dan langsung memelukku erat.
“sama-sama , Ben. aku senang bisa membantu kamu. Mudah-mudahan usaha kamu kali ini membuahkan hasil dan dapat berkumpul dengan keluarga dari ibumu lagi” ucapku tulus dan ikut bergembira melihat Ben bersemangat lagi untuk mencari kembali keluarganya.
“Asha, kamu mau temani aku ke Yogyakarta untuk mencari keluargaku?” tanya Ben tiba-tiba padaku.
Aku menimbang-nimbang tawaran Ben. “kasih aku waktu buat berpikir ya. Karena aku sudah cukup lama di sini. Dan aku tidak bisa menambah cutiku” jawabku membuat Ben sedikit kecewa.
“Tapi aku bisa mempercepat liburanku di sini dan temani kamu cari keluargamu di Yogyakarta” ucapku lagi yang lagi-lagi langsung disambut pelukan hangat Ben.
“Beneran?” tanya Ben padaku.
Aku mengangguk.
“Tapi hari ini kita bisa pulang cepatkan? Karena aku sudah janjian dengan temanku. Kami mau dinner sebelum ia kembali ke Jakarta karena” kataku pada Ben.
“Mau aku antar?” tanyanya.
“Girls only. No, boy allowed” ucapku pada Ben yang segera disetujuinya.
“Ok, kalau kamu mau quality time dengan temanmu. Sebaiknya kita pesan makan siang sekarang lalu segera kembali ke hotel supaya kamu bisa bersiap-siap sebelum dinner dengan temanmu” kata Ben sambil memilih menu makan siang.
“Oya kalian janjian ketemu dimana? Kalau jauh aku bisa antar kamu ke sana” tanya ben lagi.
“Kami janjian bertemu di lobby hotel jam empat sore.” jawabku.
Ben mengangguk-angguk mengerti.
“Jangan dandan terlalu cantik. Aku gak mau ada banyak mata yang menatapmu” kata Ben menggodaku dengan mengedipkan sebelah matanya.
Aku pun tertawa dengan tingkahnya yang sangat senang menggoda dan membuatku tersipu malu.
Dan sesuai rencana setelah makan siang aku dan Ben kembali ke hotel tempat kami menginap. Ben mengantarkan aku sampai depan kamar. Dan sebelum berpisah ia memelukku sekali lagi.
“Thank you to make me happy, Asha” ucapnya sebelum ia menghilang dibalik pintu lift yang akan membawanya ke kamarnya.
Aku mempersiapkan diri sebelum makan malam Yennie nanti. Dan tepat pukul empat aku turun menuju lobby tempat kami janjian untuk bertemu sebelum mengantarnya ke bandara.
“Asha!” panggil yenni sambil melambaikan tangannya padaku.
Aku pun memeluknya. “Sudah lama?” tanyaku sesaat setelah melepas pelukkan.
“Cantik banget sih” goda Yennie padaku yang saat itu menggunakan mini wrap dress berwarna navy dengan high heels.
Sedangkan Yennie sore itu menggunakan black cocktail dress dipadukan dengan denim jacket dan high heels.
“Kamu juga makin cantik kalau dandan kayak gini” kataku memujinya balik. “Jalan sekarang?” tanyaku pada Yennie.
“Ayo!” kata Yenni dengan semangat sambil menggandeng tanganku menuju sebuah mobil berwarna hitam yang terparkir tak jauh dari lobby hotel tempatku menginap.
“Kamu tau gak? Aku seneng banget loh bisa ketemu kamu di sini. Rasanya aku seperti sudah kenal lama sama kamu. Aku nyaman banget cerita sama kamu. Padahal awal kenal kita hanya sebagai pasien dan dokter” kata Yennie memulai percakapan saat kami berkendara menuju restoran yang masih dirahasiakan olehnya.
“Aku kira aku aja yang merasa begitu” ucapku sambil menoleh ke arahnya.
“Nanti kalau sudah sama-sama di Jakarta kita ketemu lagi ya” pinta Yennie padaku.
“Pasti!” jawabku tanpa ragu akan ajakan Yennie tadi.
“Tadi kemana aja sama Ben? Carita dong” pinta Yennie lagi padaku.
“Aku akan cerita, tapi kamu juga harus cerita tentang kamu dan pacarmu itu. Aku masih penasaran” kataku mencoba bernegosiasi dengan teman baruku.
“Ok. Kalau gitu” jawab Yennie yang menyetujui usulku tadi.
“Yess! Deal ya…” kataku lagi kegirangan.
*****