“Damar…” panggilku. “Kurang-kurangin nyebelinnya” ucapku lagi sebelum menutup pintu mobil dan berjalan menuju lift tanpa menengok lagi ke arahnya.
Sementara Damar, ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saat dibilang menyebalkan. dan tak lama suara mesin mobil terdengar. Mobil Damar melaju meninggalkan apartemenku perlahan.
“Energi gue rasanya selalu habis kalau habis ketemu Damar. Ada aja kelakuannya yang bikin menguras energi” ucapku saat memasuki unit apartemen.
Aku berjalan menuju lemari es dan mengambil sebuah permen coklat lalu memasukkannya ke mulut.
Entah mengapa aku jadi sangat menyukai permen Dream Candy ini. Rasanya tidak seperti permen coklat kebanyakan yang terkadang membuatku eneg jika berada terlalu lama di dalam mulutku karena rasanya yang terlalu manis. Aku memakannya sambil bersantai di depan TV. Dan setelah permen tersebut habis aku segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan beranjak tidur.
“Asha…” panggil seseorang dari arah belakangku. Saat aku menoleh aku mendapati Ben sedang berjalan ke arahku. Dan saat jarak kami sudah sangat dekat, ia mengambil tas yang aku bawa.
“Biar aku aja” katanya sambil mengambil tasku lalu menggandeng tanganku.
Kami pun sarapan bersama sebelum mengunjungi tempat-tempat yang sudah dijanjikan Ben.
“Gimana kemarin?” tanya Ben disela-sela sarapan kami.
“Seru. aku dan temanku pergi mengunjungi ke beberapa tempat bagus. Kami juga melihat pertunjukan sendratari dan ditutup makan malam bersama. Ah, hampir lupa. Gilrs talk. Itu yang paling seru dari semua kegiatan kami kemarin” kataku pada Ben.
“Apa saja yang kalian bicarakan?” tanyanya terlihat penasaran.
“Banyak. Tapi aku gak bisa kasih tahu kamu. Girl’s secret” ujarku sambil menunjukan gestur rahasia dengan telunjuk yang menempel di bibir.
Ben tertawa mendengarnya.
“Ok. hari ini aku juga akan mengajak kamu ke tempat yang tak kalah seru dengan temanmu kemarin. Tapi habiskan dulu sarapanmu. Aku gak mau kamu sakit karena tidak sarapan dengan baik” ujarnya sambil menyentuh ujung hidungku.
Perlakuan manis dan perhatiannya membuatku merasa nyaman saat berada di dekatnya. Dan juga penampilannya yang selalu tampak serasi dengan apa yang dipakainya.
“Aku ke toilet dulu ya. Kamu jangan kemana-mana” pesannya padaku.
Aku pun mengangguk setuju sambil memperhatikan keadaan sekitar restoran hotel. Saat Ben lewat beberapa mata menatap ke arahnya.
“Bukan gue aja berarti. Yang lain juga sama” ucapku pada diri sendiri yang sependapat dengan beberapa wanita di sekitar restoran yang terpesona dengan Ben.
Aku pun melanjutkan menyantap sarapan sambil menunggu Ben kembali dari toilet.
“Sudah?” tanyanya sesaat setelah ia kembali.
Aku mengangguk. “Mau berangkat sekarang?” tanyaku.
“Yup! Biar aku yang bawa tas kamu” katanya lalu mengambil alih tote bag yang berisi beberapa helai bajuku.
Kami berjalan beriringan sambil bergandengan tangan menuju lobby hotel.
Ben selalu memakaikan helm di kepalaku sebelum kami pergi menuju destinasi pertama. Selama perjalanan Ben sama sekali tidak memberi tahu kemana tujuan pertama kami.
“Gimana? Suka gak?” tanya Ben saat kami tiba di salah satu tempat yang penuh dengan hamparan bunga.
Aku mengangguk antusias memandang hamparan bunga Marigold yang terhampar luas di depan mataku. Sepanjang mata memandang aku melihat hamparan bunga berwarna kuning. Cantik sekali.
Ben memintaku untuk berpose di tengah ladang bunga tersebut menggunakan kamera yang dibawanya. Kamera Ben sangat vintage khas kamera digital jaman dahulu ia juga mengajakku untuk berfoto bersama.
“Kamu tau tempat ini dari mana?” tanyaku pada Ben.
“Seseorang merekomendasikan tempat ini kemarin. Dia bilang tempat ini cocok untuk ngedate” ucapnya sambil tersipu malu.
“Jadi sekarang kita lagi ngedate?” tanyaku menggodanya.
“Anggap saja begitu” jawabnya sambil menggandeng tanganku menuju destinasi kami selanjutnya.
“Ayo, kita cari makan siang sekitar sini lalu melanjutkan perjalanan ke tujuan berikutnya” ajaknya.
“Kamu masih belum mau kasih tau aku kemana tujuan kita selanjutnya?” tanyaku penasaran.
Ben menggeleng “Kamu pasti akan suka tempatnya nanti” ucapnya sangat yakin. Dan aku pun percaya pada Ben.
Kami menaiki motor untuk mencari makan siang dan melanjutkan perjalanan ke tempat selanjutnya.
Kami menyusuri pinggir pantai yang cantik. Dan firasatku bilang kalau tujuan kami selanjutnya adalah pantai. Tak lama motor yang dikendarai Ben berhenti di sebuah warung tepi pantai.
“Mau ikut snorkeling?” tanya Ben padaku yang sedang menikmati keindahan pantai berpasir hitam itu.
Aku mengangguk tanda setuju dan mengikuti Ben mengambil beberapa peralatan. Setelah selesai bersiap-siap kami pun segera menuju perahu yang akan mengantar kami ke lokasi snorkeling.
Aku cukup takjub dengan keindahan bawah laut yang banyak ditumbuhi terumbu karang berwarna-warni dengan berbagai bentuk dan ukuran. Setelah tiga puluh menit menikmati keindahan taman bawah laut aku memilih untuk beristirahat di kapal sambil menunggu Ben selesai.
Tak berselang lama Ben pun naik ke permukaan dan meminta pengemudi kapal untuk mengantarkan kami kembali ke bibir pantai.
Kamu gak keberatan kan kalau kita bermalam di sini?” tanya Ben saat kami tiba di salah satu penginapan yang letaknya tak jauh dari pantai.
Aku menggeleng. Ben pun memesan dua kamar yang bersebelahan untuk kami menginap. Dan setelah membersihkan diri, kami janjian untuk makan malam bersama.
“Ben, berapa lama rencananya kamu akan di sini?” tanyaku sambil menunggu makan malam kami tiba.
“Entahlah. Aku sangat suka berada di sini. Orang-orangnya, cuacanya, pantainya, makanannya semua hal yang ada di sini membuatku betah. Seakan menjadi rumah keduaku. Terlebih ada kamu, Asha” ucapnya sambil menatap mataku dan tentu saja kata-katanya barusan sukses membuatku tersipu malu.
Aku menyelipkan rambut di belakang kuping agar tak terlalu terlihat malu.
“Jadi kamu berencana untuk menetap di sini atau memperpanjang masa liburan kamu?” tanyaku lagi penasaran dengan apa yang akan dilakukannya.
“Entahlah. Aku belum ada rencana tentang itu. Kalau kamu bagaimana?” tanyanya padaku.
“Aku akan kembali ke Jakarta karena keluarga, sahabat dan pekerjaanku ada di sana. Mungkin aku masih akan disini selama beberapa hari kedepan” jawabku.
“Berapa lama lagi kira-kira kamu berada disini?” tanyanya lagi.
“Entahlah. Mungkin tiga atau empat hari lagi” kataku memberikan jawaban yang masih belum pasti pada Ben.
“Terlalu cepat. Bagaimana kalau sebulan?” kata Ben memberiku usul yang terdengar mustahil bagiku.
Aku tertawa mendengar perkataan Ben barusan.
“Aku cuma dokter yang bekerja di sana, Ben. Bukan pemilik klinik apalagi rumah sakit tempatku bekerja. Kalau aku liburan selama satu bulan, aku bisa dipecat saat kembali ke Jakarta nanti” kataku sambil memberikan alasan yang logis pada Ben.
“Bagaimana kalau kamu aja yang pindah ke Jakarta. Sebelumnya kamu sudah pernah tinggal di sana kan? Di Jakarta ada banyak jenis pekerjaan yang mungkin akan cocok dengan background pendidikan kamu” ucapku yang sebenarnya lebih terdengar sebagai saran agar Ben mau pindah ke Jakarta agar kami bisa terus bertemu seperti di sini. Dan entah mengapa aku seperti enggan untuk berpisah dengannya.
Ben tampak memikirkan ucapanku sejenak. “Akan aku pertimbangkannya nanti. Sekarang kita makan dulu. Aku sudah lapar” katanya lalu memberikanku seporsi nasi campur khas Bali.
Kami pun menyantap makan malam kami sambil berbagi cerita tentang rencana apa yang akan kami lakukan setelah liburan berakhir. Namun jika liburan ini berakhir aku akan merindukan sosok Ben yang selalu penuh dengan kejutan, ceria dan perhatian. Setidaknya ia sangat perhatian padaku selama kami liburan bersama.
*****