Chapter 10

1639 Words
“Saya berasa kayak ojek online lagi nganter penumpang kalau kamu pegangan kayak gitu” protesnya saat tau aku berpegangan pada besi belakang jok motor. Aku pun melepas peganganku. Namun secara tiba-tiba Damar menarik gas motornya dan membuatku memeluk pinggangnya karena kaget dan takut jatuh. “Gak usah malu kalau mau peluk” ucapnya membuatku malu dan kesal. Aku pun segera melepas peganganku pada pinggangnya. “Pegangan” katanya setelah membuatku kesal. Dengan enggan aku memegang jaket hitamnya. Agar tidak disangka modus ingin memeluknya lagi. Sebenarnya aku penasaran kemana tujuan kami sebenarnya. Namun karena masih kesal dengan ulahnya tadi, aku memilih diam saja selama perjalanan. Dan tak lama kami pun tiba di suatu tempat yang banyak menjajakan berbagai macam makanan, minuman dan beberapa mainan anak-anak. Banyak orang juga yang mengunjungi tempat tersebut untuk sekedar menikmati jajanan sambil berkumpul dengan teman dan keluarga. Aku mengikuti Damar dari belakang. Hingga sampai di salah satu kedai minuman yang bertuliskan Es Cream Cincau “Mau gak?” tanyanya padaku. Aku pun mengangguk setuju. Karena penasaran dengan rasa es cream cincau seperti apa. Setelah mendapatkan dua buah es cream cincau aku kembali mengikuti Damar dan ternyata ia kembali berhenti di depan stand penjual Siomay. Ia kembali menawariku. Namun berhubung perutku masih kenyang jadi aku menolak tawarannya. “A, satu ya kayak biasa” ujarnya pada si penjual Siomay. “Siap, A. Baru ke sini lagi sih, A?” tanya penjual Siomay yang sepertinya mengenal Damar. “Kemarin-kemarin lagi banyak kerjaan. Makanya baru sempat ke sini lagi” jawab Damar dan tampaknya mereka sudah cukup akrab. “Makan sini kan, A?” tanya Si penjual. Damar mengangguk. “Nanti tolong antar ke sebelah sana ya” ucap Damar sambil menunjuk ke salah satu tempat yang kosong. Si Penjual pun mengangguk tanda ia mengerti akan permintaan Damar sambil menyiapkan pesanannya. Lalu kami duduk tak jauh dari stand Siomay sambil menunggu pesanan Damar selesai dibuatkan. “Sering ke sini?” tanyaku mencoba membuka pembicaraan agar tidak canggung. “Iya…” jawabnya singkat. “Yang enak di sini apa?” tanyaku lagi pada Damar. “Semua enak” jawabnya sambil menikmati segelas es Cream cincaunya “Yang paling enak menurut lo” ucapku lagi. Ia mengacungkan segelas es cincaunya sebagai jawaban dari pertanyaanku. Aku pun mengangguk mengerti kenapa Damar bilang es cream cincau menjadi jajanan favoritnya di sini. Karena rasanya yang enak, manis dan menyegarkan. “Lo kalau ke sini biasanya sama siapa?” tanyaku lagi. “Sendiri” jawabnya lagi dengan singkat. Tak lama pesanannya pun datang. “Pacarnya A Damar ya? Cantik pisan. Cocok sama si Aa” ujar penjual siomay penasaran. “Bukan” jawab Damar cepat. “Biasanya A Damar kalau ke sini sendirian, Teh. Keliling beli jajanan banyak. Terus makannya di sini sambil nemenin saya jualan” ucap penjual siomay yang sepertinya cukup akrab dengan Damar. “Pantesan waktu aku tanya ‘jajanan yang enak apa?’ Damar bingung jawabnya” ucapku mengerti akan jawaban Damar tadi. “Betul, Teh. Tapi yang paling enak tetep Siomay saya” kata Si Penjual Siomay dengan bangga. “Udah sana. Yang beli pada nyariin noh!” kata Damar mengusir penjual Siomay yang akrab dengannya. “Kalau kesini lagi cobain Siomay saya ya, Teh” ucapnya sebelum pergi meninggalkan aku dan Damar. “Lo karab ya sama yang jual?” tanyaku penasaran. “Lumayan” jawabnya sambil menyuap sesendok Siomay ke dalam mulutnya. “Kirain orang kayak lo gak suka makanan kayak gini apalagi mau akrab sama penjual-penjualnya kayak tadi” ucapku santai. Damar menghentikan sejenak kegiatan makannya dan menatap ke arahku. “Apa?” tanyaku bingung. “Di mata kamu saya orang seperti apa memangnya?” tanyanya sedikit ketus sambil melihat ke arahku. Salah ngomong lagi nih gue. Batinku. “Maksud gue kan lo lama di luar negri. Kirain gak suka jajan-jajanan kayak gini. Sukanya makanan Western. Dan gak semua orang juga bisa akrab sama penjual di pinggir jalan. Interaksinya selayaknya penjual dan pembeli aja. Setelah selesai belanja ya langsung pergi gitu aja.” ucapku berusaha meluruskan perkataanku tadi agar Damar tidak salah paham lagi. Damar hanya diam mendengar penjelasan dariku sambil menikmati sepiring Siomay di tangannya. “Mereka apa adanya. Tidak memakai topeng untuk menarik perhatian sekitar atau sekedar membuat orang lain terkesan. Saya banyak belajar tentang kehidupan dari mereka yang sudah mengenal kata berjuang sejak kecil. Pengalaman kehidupan mereka lebih banyak dari pada saya” kata Damar. Aku terdiam mendengarkan perkataannya. “Kenapa?” tanyanya padaku yang sedang menatap ke arahnya. “Baru kali ini gue denger lo ngomong banyak. Biasanya irit. Gak sampai sepuluh kata” kataku yang cukup terkejut dengan ucapan Damar saat menjelaskan alasannya akrab dengan beberapa pedang di sini. Sedangkan Damar sepertinya ia tak menghiraukan ucapanku barusan. “Mar, gue mau main itu. Lo sudah selesai belum makannya?” tanyaku sambil menunjuk ke arah arena permainan. Dan seperti biasa Damar tidak menjawab pertanyaanku. Namun ia segera bangun untuk membayar seporsi Siomay yang ia makan tadi lalu berjalan mengikutiku menuju area wahana permainan. Di area permainan ada beberapa permainan yang bisa dimainkan seperti lempar gelang, panah balon, mesin capit, komidi putar, bianglala, rumah hantu dan kereta mini anak-anak. Namun permainan lempar gelang menjadi yang pertama ingin kucoba. Karena aku ingin mendapatkan boneka pinguin abu-abu yang menjadi pilihan hadiah di sana. Percobaan pertama sampai kelima gagal. Karena aku masih penasaran jadi aku membeli tiga tiket permainan sekaligus. Namun sayangnya tak ada satupun yang berhasil. Saat aku membeli satu tiket permainan lagi Damar mengambil satu-satunya tiket itu dan dalam sekali percobaan ia berhasil memasukan semua gelang ke leher botol. Aku pun bersorak gembira karena keberhasilannya dan Damar memintaku memilih hadiah yang aku inginkan itu. “Makasih ya” ucapku sambil memeluk hadiah boneka yang baru saja kudapatkan. “Mar, mau coba yang itu” kataku lagi sambil menunjuk ke arah permainan mesin capit. Tanpa banyak bicara Damar mengikutiku dari belakang. Aku membeli dua tiket permainan sekaligus dan menuju permainan mesin capit dengan sedikit berlari karena sudah tak sabar ingin memainkannya. Setelah berada di depan mesin capit aku memilih hadiah apa yang ingin aku dapatkan dan pilihanku jatuh pada boneka gantungan kunci berbentuk bebek. Dengan sangat antusias aku menggerakkan tuas mesin capit tersebut. Namun sayang setelah tiket dua kali pembelian tiket, aku masih belum bisa mendapatkan gantungan kunci yang aku inginkan itu. “Mar, ambilin gantungan yang itu dong” pintaku pada Damar. Dan seperti biasa tanpa banyak bersuara Damar menuju tempat pembelian tiket permainan dan membeli tiga buah tiket. “Kalau tiketnya habis kita pulang” ucapnya tegas padaku. Aku pun mengangguk tanda setuju. Sepertinya kali ini keberuntungan sedang tidak berpihak padaku. Setelah menghabiskan ketiga tiket yang dibelinya, Damar masih belum bisa mendapatkan gantungan kunci boneka bebek yang aku inginkan. “Mar, coba sekaliiii… lagi. Ya, please” ucapku pada Damar. Namun sepertinya ia tidak setuju denganku dan tetap ingin pulang. Akhirnya dengan berat hati aku mengikuti dari belakang menuju parkiran motor untuk kembali ke rumahnya. “Mar, nanti kalau lo ke sana lagi tolong ambilin gantungan kunci tadi ya” ucapku saat kami sampai di rumahnya. “Pengen banget emangnya?” tanyanya sambil memarkir motornya. “Gantungannya lucu. Tolong ya, Mar” pintaku sambil berjalan mendahuluinya memasuki rumah. Saat aku memasukin rumah Damar, aku hanya mendapati om Herry dan mama Rita sedang mengobrol di ruang tamu mereka. “Papa kemana ya, Om?” tanyaku pada Om Herry. “Papa kamu habis terima telpon tadi pamit pulang , Sha. Katanya ada urusan tadi sama pemilik rumah yang mau disewa itu” jawab Om Herry. Aku mengangguk-angguk mengerti. “Ya sudah Om, aku pamit pulang juga ya” kataku sambil bersiap untuk pamit pada kedua orang tua Damar. “Diantar Damar saja ya. Kamu tadi kan gak bawa kendaraan tadi pas ke sini” usul om Herry lagi yang disetujui oleh ibunda Damar. “Iya. biar aman. Sudah malam” ucap Bu Rita. “Mar, tolong antar Asha pulang ya” katanya lagi. “Minta tolong Pak Yono aja, Ma” kata Damar mengusulkan agar aku diantar oleh supir keluarga mereka. “Kasian Pak Yono besok pagi kan harus antar Papa kamu ke kantor. Ada meeting pagi-pagi. Takut kesiangan” kata Bu Rita. “Damar juga besok pagi kan ke kantor, Ma. mama gak takut Damar kesiangan?” kata Damar yang sepertinya keberatan mengantarku pulang. “Gak apa-apa, Ma. Aku pesan taksi online aja pulangnya” kataku tak enak jika harus diantar Damar. “Sama Damar aja ya” ucap bu Rita lagi sambil menghampiriku lalu melihat dengan mata sedikit melotot ke arah Damar. Damar pun kelihatannya tak bisa menolak keinginan ibunya saat itu. Ia segera berjalan menuju kamarnya untuk mengambil kunci mobil. “Ma, gak apa-apa kok aku pulang sendiri. Kasian Damar takut besok kesiangan kerjanya” kataku berusaha membujuk Bu Rita agar mengijinkan aku pulang menggunakan taksi online. Namun sepertinya tak berhasil. Aku pun mengikuti Damar menuju mobilnya. Dan sebelum berangkat Bu Rita berpesan agar Damar berhati-hati mengendarai mobil. Selama perjalanan kami hanya diam. Hingga aku menguap berkali-kali menahan ngantuk. “Jangan tidur” ucap Damar. Aku meliriknya “Kenapa emang?” tanyaku heran. “Kamu susah dibanguninnya. Saya gak mau tidur di parkiran apartemen kamu lagi kayak waktu itu” katanya mengingatkanku pada peristiwa kala itu. “Iya” jawabku singkat bercampur kesal. Di sisa perjalanan yang masih lumayan jauh aku benar-benar berusaha untuk tidak tertidur di mobilnya. “Akhirnya…” kataku saat kami sampai. “Makasih ya” ucapku tulus berterima kasih pada Damar. Ia hanya mengangguk. “Di cek lagi barang-barang kamu jangan sampai ada yang tertinggal. Saya gak mau nganterin barang kamu yang ketinggalan lagi” katanya. Aku meliriknya kesal dan setelah memastikan tak ada yang tertinggal aku segera turun dari mobilnya. “Damar…” panggilku, Damar pun menoleh. “Kurang-kurangin nyebelinnya” ucapku lagi sebelum menutup pintu mobil dan berjalan menuju lift tanpa menengok lagi ke arahnya. *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD