“Asha, ayo lewat sini” kata seseorang sambil menggandeng tanganku. Suara itu sepertinya aku kenal karena terdengar familiar di telingaku.
Ternyata itu suara Yennie yang menggandeng tanganku menuju pintu keluar teater yang saat itu suasananya lumayan gelap karena lampu-lampu pentas telah dimatikan. Saat aku berhasil menggandeng tangan Yennie, seketika aku merasakan perasaan yang tak biasa. Rasa aman dan perasaan hangat yang menjalar sampai ke hati. Entah mengapa rasanya saat itu aku jadi sedikit terharu dan menyeka air mata yang sedikit membasahi mataku.
“Akhirnya sampai juga” ucap Yennie saat kami tiba di luar teater.
Aku mengangguk. “Makan yuk. Sudah lapar nih” kataku.
“Sebelah sana ada tempat makan” Kata Yennie sambil menunjuk ke arah tempat makan yang terletak di dalam kawasan Garuda Wisnu Kencana itu sendiri. “Apa mau cari makan di luar aja?” tanyanya.
“Kayaknya makan di sini aja deh. Aku sudah lapar banget” kataku sambil sedikit tersenyum malu.
“Ok kalau gitu. Yuk!” ucap Yennie mengajakku menuju restoran yang kumaksud.
Kami berjalan sambil bergandengan tangan dan berbagi cerita, bagaikan dua pasang sahabat karib yang sudah lama kenal rasanya.
Aku dan Yennie memilih makan malam di restoran yang berada di dalam area Garuda Wisnu Kencana. Restoran bernuansa khas Bali yang mengusung konsep modern - alami. Yang dihiasi dengan ukiran kayu, patung, ornamen khas Bali seperti penjor, dan atap jerami. Bangunannya juga memiliki banyak jendela besar yang menghadirkan pemandangan Bali yang kaya akan budaya dan alamnya.
“Ini kayaknya lebih cocok untuk dinner romantis sama pasangan deh” ucapku saat kami sampai di area outdoor restoran.
Yennie tertawa mendengar ucapanku. “Ayo, pesan. Katanya tadi lapar kan?” ucap Yennie sambil menyodorkan menu padaku.
“Kamu berapa lama di Bali rencananya?” tanya Yennie padaku.
“Belum tau. Kamu?” tanyaku pada Yennie.
“Aku sepertinya akan ditugaskan di sini. Tapi tiga hari lagi aku harus ke Jakarta dulu sekitar satu sampai dua bulan di sana. Untuk membereskan pekerjaan sebelum proses mutasi” Ucap Yennie.
“Semoga lancar ya” Ucapku tulus yang diamini oleh Yennie.
Tak berapa lama makan malam pun datang. Aku dan Yennie langsung menyantapnya diselingi obrolan-obrolan ringan.
“Besok sudah ada rencana?” tanya Yennie disela-sela makan malamnya.
“Aku sudah ada janji dengan temanku besok. Ia bilang mau mengajakku ke suatu tempat yang katanya pasti aku suka. Tapi tempatnya masih rahasia” kataku menjawab pertanyaan Yennie mengenai rencanaku esok hari.
“Teman?” tanyanya sambil menggodaku.
“Iya, teman baru. Kami gak sengaja ketemu di tepi pantai di hari yang sama saat kita ketemu waktu itu” kataku menceritakan tentang pertemuanku dengan Ben.
“Laki-laki?” tanyanya.
Aku mengangguk.
“Tell me, what he’s look like” pinta Yennie yang sepertinya penasaran dengan teman baruku.
“Namanya Ben. Mix Indonesia - Canada. Awalnya aku gak terlalu menghiraukan dia. Tapi dia ngajak ngobrol terus. Dan karena kita sama-sama gak ada teman di sini jadi kita janjian buat jalan-jalan bareng besoknya. As a travel buddy” kataku menjelaskan sedikit lebih detail tentang pertemananku dengan Ben.
“Ganteng gak?” tanya Yennie sambil menggodaku lagi.
“Good looking enough” kataku sambil membayangkan Ben.
“Ih sambil senyum-senyum. Ada apa nih?” tanyanya lagi yang semakin ingin tahu.
“Gak ada apa-apa. Semua orang pasti suka berteman terlebih temannya ganteng. Kamu juga pasti suka” kataku berusaha memberi penjelasan yang rasional agar Yennie tidak semakin menggodaku.
“Suka dong” ucapnya yang membuat kami berdua tertawa.
“Tuh kan!” kataku. “Kapan-kapan aku kenalin deh sama Ben” ucapku lagi.
“No” jawabnya cepat menolak tawaranku. “Buat kamu aja. Aku sudah ada” katanya lagi.
“Oh ya? Siapa? Pacar?” tanyaku cepat karena penasaran.
“Ada lah” katanya semakin membuatku penasaran.
“Oh come on. Cerita dong. Aku kan mau dengar” kataku berusaha membujuknya untuk bercerita tentang pria tambatan hatinya.
“Kita ketemu gak sengaja di Bali. Di salah satu restoran tempatku kerja dulu waktu kuliah. Dia sering makan di sana. Dia kuliah di Australia, sambil nunggu wisuda dia liburan ke sini. Selama di Bali dia selalu makan di tempatku terus. Biasanya pas sarapan dan makan malam. Sampai akhirnya dia berani nyapa aku buat ngajak kenalan” kata Yennie dengan mata menerawang mengingat awal perkenalannya dengan sang pujaan hati.
“So sweet banget. Terus sekarang kalian masih sama-sama kan?” tanyaku memastikan hubungan teman baruku itu.
Yennie mengangguk sambil tersenyum. “Tapi sekarang kita jarang ketemu karena dia masih suka bolak-balik Australia - Jakarta. Di sana dia ada kerja sama juga sama beberapa temannya” ucap Yennie sedikit menceritakan hubungan asmaranya.
Tak terasa waktu beranjak semakin malam dan menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Aku dan Yennie memutuskan untuk pulang. Diperjalanan pulang aku memutuskan untuk menggantikan Yennie mengendarai mobil. Perjalanan pulang memakan waktu hampir satu jam setengah.
“Terima kasih ya udah ajakin aku jalan-jalan dan makan enak” kataku sebelum turun dari mobil yang disewanya hari ini.
“Sama-sama aku juga makasih banget udah mau nemenin jalan-jalan dan dengerin cerita aku” katanya sebelum kami berpisah malam itu.
“Lusa sepulang aku jalan-jalani sama Ben kita dinner bareng mau gak?” tanyaku padanya.
“Aku tau tempat dinner yang bagus. Aku jemput di sini jam empat, gimana?” tanya Yennie padaku.
Aku mengangguk setuju dengan usul Yennie tentang rencana makan malam kami.
“Ok. Jam empat aku jemput di lobby. Dandan yang cantik ya” katanya sebelum kami berpisah malam itu
Setelahnya Yennie pun meninggalkan hotel tempatku menginap selama di Bali. Di perjalanan menuju kamar aku melihat Ben sedang berdiri menghadap laut sambil memegang segelas minuman. Aku pun menghampirinya sebentar untuk sekedar menyapanya sebelum kembali ke kamar hotel.
“Ben” panggilku saat jarak kami sudah cukup dekat.
Ia pun melambaikan tangannya pada ku.
“Lagi apa di sini malam-malam?” tanyaku sambil mengambil posisi berdiri disampingnya.
“Nothing. How was your trip?” tanyanya.
“Seru. Kita ke pasar tradisional,liat pertunjukan sendratari, makan malam enak and also girls talk” kataku menceritakan hariku pada Ben.
“Sepertinya menyenangkan. Ayo, aku antar kamu ke kamar untuk beristirahat” kata Ben sambil menggandeng tanganku.
Kami pun berjalan sambil bergandengan tangan menuju kamarku.
“Besok aku jemput di sini jam delapan. Kita sarapan bareng. Dan selamat beristirahat, Asha” katanya saat sudah berada di depan kamarku.
Ia mendekatkan wajahnya dan mencium keningku.
“Good night” katanya lalu pergi menuju lift.
Aku memasuki kamar hotel dengan jantung berdegup karena perlakuan Ben tadi. Dan memutuskan untuk bersih-bersih dahulu sebelum beranjak tidur. Namun, rasanya aku baru tidur sebentar terdengar suara alarm dari ponselku yang selama aku di Bali selalu diam. Tak terdengar tanda-tanda adanya telepon atau pesan singkat masuk.
Beep… Beep… Beep…
Pukul setengah enam pagi, alarm ku berbunyi. Aku meraih ponsel yang tergeletak di nakas samping kasur untuk mematikannya. Aku berencana berolahraga pagi ini. Namun saat tengah bersiap-siap ponselku berbunyi tanda pesan singkat masuk. Dari papa.
Jangan lupa nanti malam temani papa ke rumah Om Herry. Jam lima papa jemput. Jangan lupa sarapan!
“Ngingetinnya harus sepagi ini ya?” kataku bergumam sendiri. Lalu aku ketik pesan balasan untuk papa.
Iya, Pa.
Send!
Entah mengapa niatku untuk berolahraga menguap begitu saja setelah menerima pesan singkat dari papa barusan. Tak masalah jika makan malam tersebut hanya dihadiri oleh kedua orang tuan Damar saja. Namun jika ia ada juga di sana aku tak bisa membayangkan akan jadi seperti apa makan malamku nanti. Mengingat sikapnya yang menyebalkan dan ucapannya yang pedas.
Akhirnya aku memutuskan untuk tidak melakukan apa-apa hingga sore nanti. Dengan malas aku berjalan menuju lemari es untuk mengambil telur dan alpukat untuk sarapan pagiku hari ini.
Tanpa terasa waktu telah menunjukan pukul setengah dua siang. Aku benar-benar menghabiskan hari dengan bermalas-malasan menonton film di aplikasi berbayar. Aku memutuskan makan siang yang sebelumnya telah dipesan lewat aplikasi. Dan setelahnya bersiap-siap untuk berkunjung ke rumah Om Herry.
Jujur aku masih belum memiliki ide pakaian apa yang akan kukenakan nanti. Dan akhirnya pilihanku jatuh pada denim pants dipadukan dengan blouse putih detail bunga-bunga dan tangan ¾. Kupakai sedikit make up di wajah agar tampak lebih fresh dan untuk urusan rambut kubiarkan tergerai.
Pukul lima lebih sepuluh menit Papa sudah sampai di lobby apartemen dan kami pun langsung menuju ke kediaman Om Herry. Selama perjalanan aku lebih banyak diam dan mendengarkan Papa bercerita tentang masa kuliahnya bersama Om Herry. Dan saat sudah hampir sampai tujuan aku berdoa semoga Damar sedang tak ada di rumah.
Tok… Tok… Tok…
Setelah ketukan ketiga pintu rumah dibuka oleh sang pemilik rumah, Om Herry. Beliau menyambut hangat kedatangan ku dan Papa.
“Ayo masuk” katanya setelah melepas pelukannya pada Papa. “Ma, tamu yang ditunggu-tunggu sudah datang” Ucapnya memberitahu sang istri tentang kedatangan kami.
Tak lama nyonya rumah pun keluar menyambut kedatangan kami.
“Ya ampun… Ternyata kamu anaknya Arya. Pantas kayak pernah liat gitu wajahnya” katanya saat melihatku.
Aku pun tersenyum dan membalas pelukannya sedikit canggung.
“Ini loh yang aku ceritain. Dokter di klinik tempatku periksa kemarin. Wajahnya kayak gak asing. Ternyata anaknya Arya” katanya menjelaskan kebingungan dua lelaki paruh baya dihadapannya. Papa dan Om Herry pun mengangguk-angguk paham.
“Ayo kita ngobrol di halaman belakang. Biar bapak-bapak ngobrol di sini” ajaknya sambil menggandeng tanganku.
“Iya, Tante” jawabku sopan.
“Kok tante? Dulu tuh kamu manggilnya Mama Rita. Lupa ya?” protesnya mengingatku tentang caraku memanggilnya dulu.
Aku pun mengangguk lalu saat mengikutinya menuju halaman belakang aku berpapasan dengan Damar.
“Damar! Sini dulu. Kamu masih inget Asha gak?” tanya Bu Rita pada anaknya.
“Inget. Beberapa kali ketemu kok. Tapi kayaknya dia yang gak inget Damar. Karena pas ketemu dia gak ngenalin Damar sama sekali” ucap laki-laki bermulut pedas itu.
Aku tersenyum canggung pada Bu Rita menanggapi ucapan anaknya itu. Merasa tak enak hati padanya karena ucapan kelewat jujur Damar tadi.
Setelah mengatakan hal tadi ia pun berlalu meninggalkan aku dan ibunya.
“Damar, jangan kemana-mana. Ikut makan malam di rumah sama Om Arya dan Asha” kata Bu Rita dan mendapat acungan jempol dari anaknya tanda setuju.
Sepertinya aku akan terjebak bersama orang yang sangat menyebalkan selama makan malam nanti, batinku.