Chapter 7

1608 Words
“Iya, halo, Pa. Nanti aku ushain ya, Pa” jawabku enggan. “Papa sudah bilang kalau kita mau ke sana waktu Om Herry telpon tadi. Kalau Papa datang sendiri gak enak sama dia karena sudah janji mau datang sama kamu juga” Ucap Papa mencari alasan. “Iya, iya” kataku akhirnya mengalah pada dan setuju untuk menemani Papa berkunjung ke rumah Om Herry, ayahnya Damar. “Nah! Gitu dong. Ya udah kamu hati-hati dijalan ya. Sabtu nanti Papa jemput” ucap Pak Arya pada sang anak semata wayang. “Iya , Pa” jawabku sebelum mengakhiri sambungan telepon. “Terima kasih udah anterin saya balik ke kantor. Next time jangan ceroboh lagi. Biar gak nyusahin orang” Kata Damar sambil turun dari mobilku. Sedangkan aku yang mendengar ucapannya hanya bisa melongo. “Hah?? Gak salah denger ini gue? Yang minta traktir makan dan dianterin balik ke kantornya kan dia. Kenapa jadi gue yang dibilang nyusahin orang?” Kataku karena merasa tidak terima dengan kalimat Damar barusan. Sebenarnya aku ingin membalas ucapannya, namun aku kalah cepat karena ia sudah keburu turun dari mobil. Dengan hati sedikit kesal, aku pun melanjutkan perjalanan kembali ke rumah untuk beristirahat. Jarak dari kantor Damar menuju apartemenku sebenarnya tidak terlalu jauh. Namun karena ini sudah masuk jam pulang kerja perjalanan jadi lebih lama dan aku harus bermacet-macetan untuk sampai ke apartemenku. Dan setelah menempuh perjalanan hampir satu jam setengah, aku akhirnya sampai di apartemen. “Akhirnyaa…” kataku sambil duduk di sofa. Saat akan bangun dan menuju kamar ponselku berdering. Rayyan Calling… “Kenapa, Yan?” tanyaku saat panggilan tersambung. “Lagi dirumah gak?” tanya Rayyan tanpa basa-basi. “Ada. Mau ngapain emang?” kataku bertanya pada sahabatku ditelpon. “Gue sama Sophie mau mampir. Lo mau kita bawain apa?” tanyanya lagi. “Apa aja buat makan malam. Sama cemilannya jangan lupa ya” ucapku tanpa malu menambah titipan makanan pada sahabatku Rayyan. “Iya. Makanan aja lo cepet. Ya udah gue samperin Sophie dulu” kata Rayyan memprotes pesananku yang bertambah. “Ok. Take care both of you,bestie” kataku senang karena akan kedatangan dua sahabatku yang ajaib. Setelah mengakhiri panggilan telepon, aku bergegas mandi karena aku berencana untuk membeli beberapa buah dan cemilan lainnya untuk mengisi kulkas di supermarket yang berjarak dua puluh menit tempatku tinggal. Saat dirasa cukup aku pun langsung menuju tempat pembayaran dan segera memesan ojek online untuk kembali ke apartemen. Di tengah perjalanan, ponselku berbunyi dan saat ku lihat ternyata itu dari Sophie. “Kenapa? Gue lagi dijalan abis dari supermarket” tanyaku pada Sophie tanpa basa-basi terlebih dahulu. “Masih lama gak? Kita udah di parkiran” tanya Sophie. “Sebentar lagi. Tunggu lobby aja” kataku menyarankan mereka menunggu di dalam gedung apartemenku. “Ok” jawab Sophie singkat lalu mematikan panggilannya. Sepuluh menit kemudian aku sudah sampai di lobby dan melihat kedua sahabatku, Rayyan dan Sophie sedang duduk-duduk disana menungguku. Aku pun segera menghampiri mereka. “Nih” kataku sambil memberikan dua kantong belanjaanku tadi. “Apaan nih?” tanya Rayyan. “Tolong bawain. Lo kan yang paling jantan diantara kita bertiga” ucap Sophie mewakiliku. “Giliran nyuruh bawa-bawa barang aja bilang gue jantan lo” ucap Rayyan kesal. Begitu sampai, mereka meletakkan semua kantong berisi makanan di area dapur. Sophie membantuku menyiapkan makan malam dengan mengeluarkan beberapa alat makan. Sedangkan Rayyan memilih duduk di sofa dan menyalahkan TV. “Nih. punya lo ayam bakar sama rendang kan?” tanya Sophie pada Rayyan yang dijawab dengan anggukan kepala. “Sha, punya lo di sini ya” kata Sophie lagi memberitahuku kalau makan malamku sudah dibawa ke depan TV supaya bisa makan bersama. Setelah selesai menaruh beberapa belanjaan ke dalam kulkas aku pun ikut bergabung dengan kedua sahabatku. “Asik sate ayam pakai lontong” kataku sambil mengambil makan malamku. Kami menyantap makan malam yang sesekali diisi dengan menceritakan kegiatan masing-masing dan membahas beberapa kasus pasien yang jarang ditemui. “Merasa bersalah banget gue jam segini makan nasi padang lauknya ayam bakar sama rendang. Tapi gimana ya…” ucap Rayyan setelah menghabiskan seporsi nasi padang. “Tapi nikmat kan?” ucapku menggoda Rayyan. “Betul!” ucap Rayyan cepat. Dan kami bertiga tertawa setelahnya. “Cemilan yang tadi mana, Soph?” tanya Rayyan. “Ah lo, bilang berdosa-berdosa habis ngabisin nasi padang seporsi pakai ayam bakar dan rendang sekarang udah minta cemilan aja” ucap Sophie yang menganggap ucapan Rayyan tidak sesuai dengan perbuatannya. “Gak ada yang bisa nolak dimsum mentai. Ya kan, Sha?” tanya Rayyan mencari dukungan padaku. “Hmm…” Jawabku sambil menganggukkan kepala tanda setuju. “Ham hem aja lo, Sha. Telen dulu itu makanan lo dimulut” kata Sophie kesal karena tidak ada yang mendukungnya. Aku mengangkat ibu sebagai jari tanda setuju dengan ucapan Sophie. Dan setelah menyelesaikan makan malamku, tiba-tiba saja aku teringat dengan Damar. “Eh Soph, itu si Damar bener sepupuan sama Gerry?” tanyaku pada Sophie. Entah kenapa setelah aku bertanya tentang Damar, Sophie dan Rayyan langsung tatap-tatapan membuatku curiga. ‘Eh kenapa lo berdua tatap-tatapan begitu? Ada apaan? Bilang gak!” kataku yang semakin curiga dengan tingkah kedua sahabatku itu. “Kita cuma pengen ngenalin lo sama Damar aja sih sebenernya. Karena menurut gue dan Gerry, dia bukan tipe laki-laki yang suka macem-macem dan orangnya baik juga. Tapi taunya lo udah kenal duluan sama dia” jawab Sophie sambil cengar-cengir. “Kalau mau ngenalin ke gue tuh laki yang normal. Jangan laki gak normal lo kenalin ke gue” ucapku setelah mendengar ucapan Sophie. “Emang dia beneran gak suka cewek, Soph?” tanya Rayyan yang juga penasaran dengan ucapanku. “Huss… sembarangan lo kalau ngomong” kata Sophie pada Rayyan. “Normal dia. Waktu awal kenal Damar gak kayak sekarang. Dia lumayan ramah. Malahan dulu ceweknya cantik banget. Gue sama Gerry pernah double date sama mereka. Tapi gak lama mereka putus, gak tau putusnya gara-gara apa. Dan setelah putus Damar berubah jadi Damar kayak yang lo kenal sekarang” Kata Sophie coba memberitahu sedikit informasi mengenai Damar. Aku dan Rayyan meninyak ucapan Sophie tentang Damar, mencoba menerka-nerka apa yang membuatnya jadi seperti sekarang. “Gerry gak cerita mereka putus gara-gara apa?” tanya Rayyan yang ikut penasaran juga dengan cerita masa lalu Damar. Sophie menggeleng “Damar yang sekarang ngomongnya irit banget, to the point dan sekalinya ngomong itu pedes. Ditambah sikapnya jadi nyebelin banget apalagi kalau baru kenal.” ucap Sophie lagi. Aku mengangguk setuju dengan ucapan Sophie barusan. “Kenapa lo ngangguk-ngangguk?” tanya Rayyan padaku. “Awalnya gue gak enak yang pas salah sangka itu. Tapi makin kesini gue setuju sama Sophie kalau Damar tuh nyebelin banget” kataku sambil mengingat-ingat kelakuan Damar yang membuatku kesal tiap kali bertemu dengannya. “Kesel kali dia sama lo gara-gara disangka yang enggak-enggak. Gue juga kalau jadi Damar kesel belum kenal udah ada orang yg judge kaya gitu” ucap Rayyan sambil tertawa mengingat kejadian malam itu. “Ya kan gue udah minta maaf” kataku mencoba membela diri. “Lo gak diturunin di jalan kan sama dia?” tanya Rayyan coba menebak. Aku menggeleng. “Dia gak bakalan setega itu sama perempuan, Yan. Apalagi udah malam dan sendirian kayak kemaren. Dia ngapain emang?” kali ini gantian Sophie yang bertanya. “Banyak” ucapku sambil memasukkan sepotong besar dimsum mentai ke dalam mulutku. “Ya apa?” tanya Sophie lagi. Aku memberikan petunjuk dengan tanganku untuk sabar karena mulutku penuh dengan makanan. Dan setelah berhasil menelannya aku melanjutkan ceritaku. “Pas awal mau nganterin pulang tau-tau dia deketin gue. Muka kita tuh deket banget sampai gue kira dia mau ngapa-ngapain gue. Taunya mau pakein gue seatbelt. Mana gue udah merem-merem manja lagi. Kan gue malu ya” kataku masih sedikit kesal karena malu jika mengingat kejadian itu. Sophie dan Rayyan tertawa mendengar ceritaku. “Lagian lo udah kegeeran” Ucap Rayyan. “Ya kan dia bisa bilang ke gue buat pakai seatbelt dulu sebelum mobil jalan. Gak perlu kayak gitu.” Kataku membela diri. “Terus tadi juga dia ke rumah sakit buat nganter dompet gue yang gak sengaja jatuh di mobilnya. Masa gue disuruh bayarin makan siang dia dan nganter dia balik ke kantornya. Katanya ucapan terima kasih karena udah nganterin dompet dan disuruh nunggu sampai jam praktek gue selesai. Padahal udah gue tawarin biar gue aja yang ambil atau titip di receptionist tapi dia tetap mau nunggu” kataku dengan berapi-api karena masih terbawa kesal jika mengingat kejadian hari ini. Mereka tertawa kembali mendengar ceritaku barusan. “Jadi lo gak ikhlas bayarin si Damar makan siang?” tanya Sophie disela tawanya. “Ikhlas gue. Udah masuk ke perutnya juga. Cuman gue kesel aja disuruh juga nganterin dia balik. Padahal gue gak minta dia buat nganterin dompet gue. Mana pakai bilang gue teledor lagi” kataku lagi masih dengan nada bicara kesal. “Jangan sebel-sebel nanti suka aja lo sama Damar” kata Rayyan dan disetujui oleh Sophie. Aku melotot ke arah Rayan setelah mendengar ucapannya barusan. Tak terasa waktu menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Sophie dan Rayyan pun pamit pulang. Aku membereskan bekas kami makan malam dan cemilan saat mengobrol tadi. Lalu mencari sesuatu di kulkas. “Apa gak jadi dibeli ya tadi?” tanyaku pada diri sendiri karena tidak menemukan mangkuk es krim yang tadi rencananya ku beli. Lalu aku menuju tas kerjaku dan menemukan Dream Candy di dalamnya dan memasukkannya satu ke dalam mulut. Sambil memakan permen coklat aku melihat-lihat acara di TV. lalu aku melihat sebuah cahaya terang yang menyilaukan mata. “Asha, ayo lewat sini” Kata seseorang sambil menggandeng tanganku. Suara itu sepertinya aku kenal karena terdengar familiar di telingaku. *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD