Chapter 7

1625 Words
“Iya, halo, Pa. Nanti aku usahain ya, Pa” jawabku tak bisa menyembunyikan rasa enggan dalam suaraku. “Papa sudah bilang kalau kita mau ke sana waktu Om Herry telpon tadi. Kalau Papa datang sendiri gak enak sama dia karena sudah janji mau datang sama kamu juga” Ucap Papa mencari alasan. “Iya, iya” kataku akhirnya mengalah. “Nah! Gitu dong. Ya udah kamu hati-hati dijalan ya. Sabtu nanti Papa jemput” ucap Pak Arya pada sang anak semata wayang. “Iya , Pa” jawabku sebelum mengakhiri sambungan telepon. “Terima kasih udah anterin saya balik ke kantor. Next time jangan ceroboh lagi. Biar gak nyusahin orang” Kata Damar sambil turun dari mobilku. Sedangkan aku yang mendengar ucapannya hanya bisa melongo. “Hah?? Gak salah denger ini gue? Yang minta traktir makan dan diantar balik ke kantornya kan dia. Kenapa jadi gue yang dibilang nyusahin orang?” Kataku karena merasa tidak terima dengan kalimat Damar barusan. Belum sempat aku membalas perkataannya, ia sudah berjalan masuk ke dalam kantornya tanpa menoleh sedikitpun. Dengan perasaan campur aduk, aku melanjutkan perjalanan pulang. Jarak yang sebenarnya tak jauh, menjadi lebih lama karena kondisi jalan yang padat merayap saat memasuki jam pulang kantor. Jarak dari kantor Damar menuju apartemenku sebenarnya tidak terlalu jauh. Namun karena ini sudah masuk jam pulang kerja perjalanan jadi lebih lama dan aku harus bermacet-macetan untuk sampai ke apartemenku. Dan setelah menempuh perjalanan hampir satu jam setengah, aku akhirnya sampai di apartemen. “Akhirnyaa…” kataku sambil menjatuhkan diri di sofa. Baru saja bersantai, ponselku berdering. Dari Rayyan. “Kenapa, Yan?” tanyaku saat panggilan tersambung. “Lagi apartement gak?” tanya Rayyan tanpa basa-basi. “Iya. Kenapa?” kataku bertanya pada sahabatku ditelpon. “Gue sama Sophie mau mampir. Lo mau kita bawain apa?” tanyanya lagi. “Apa aja buat makan malam. Sama cemilannya jangan lupa ya” ucapku tanpa malu menambah titipan makanan pada sahabatku Rayyan. “Iya. Makanan aja lo cepet. Ya udah gue samperin Sophie dulu” kata Rayyan memprotes pesananku yang bertambah. “Ok. Take care both of you, bestie” kataku senang karena akan kedatangan dua sahabatku yang ajaib. Setelah mengakhiri panggilan telepon, aku segera mandi dan bergegas ke supermarket yang jaraknya tak jauh dari tempat tinggalku. Saat dirasa cukup aku pun langsung menuju tempat pembayaran dan segera memesan ojek online untuk kembali ke apartemen. Di tengah perjalanan, ponselku berbunyi dan saat ku lihat ternyata itu dari Sophie. “Kenapa? Gue lagi dijalan abis dari supermarket” tanyaku pada Sophie tanpa basa-basi terlebih dahulu. “Masih lama gak? Kita udah di parkiran” tanya Sophie. “Sebentar lagi. Tunggu lobby aja” kataku menyarankan mereka menunggu di dalam gedung apartemenku. “Ok” jawab Sophie singkat lalu mematikan panggilannya. Sepuluh menit kemudian aku melihat mereka sedang duduk di lobby. Aku menghampiri mereka dan menyodorkan barang belanjaanku pada Rayyan. “Nih” kataku sambil memberikan dua kantong belanjaanku tadi. “Apaan nih?” tanya Rayyan. “Tolong bawain. Lo kan yang paling jantan diantara kita bertiga. Masa gitu aja gak ngerti” ucap Sophie mewakiliku. “Giliran nyuruh bawa-bawa barang aja bilang gue jantan” ucap Rayyan kesal. Begitu sampai, aku langsung menata piring di meja makan, sementara Sophie yang membuka bungkusan makanan. Sedangkan Rayyan, ia sibuk memindahkan channel TV. Malam yang sederhana namun hangat. Ternyata ditemani sahabat adalah obat yang paling ampuh setelah melewati hari yang melelahkan. “Nih. punya lo ayam bakar sama rendang kan?” tanya Sophie pada Rayyan yang dijawab dengan anggukan kepala. “Sha, punya lo di sini ya” kata Sophie lagi memberitahuku kalau makan malamku sudah dibawa ke depan TV supaya bisa makan bersama. Setelah selesai menaruh beberapa belanjaan ke dalam kulkas aku pun ikut bergabung dengan kedua sahabatku. “Asik sate ayam pakai lontong” kataku sambil mengambil makan malamku. Kami menyantap makan malam dengan sesekali diisi dengan menceritakan kegiatan masing-masing dan membahas beberapa kasus pasien yang jarang ditemui. “Merasa bersalah banget gue jam segini makan nasi padang lauknya ayam bakar sama rendang. Tapi gimana ya…” ucap Rayyan setelah menghabiskan seporsi nasi padang. “Tapi nikmat kan?” ucapku menggoda Rayyan. “Betul!” ucap Rayyan cepat. Dan kami bertiga tertawa setelahnya. “Cemilan yang tadi mana, Soph?” tanya Rayyan tak lama kemudian. “Ah lo, bilang berdosa-berdosa habis ngabisin nasi padang seporsi pakai ayam bakar dan rendang sekarang udah minta cemilan aja” ucap Sophie yang menganggap ucapan Rayyan tidak sesuai dengan perbuatannya. “Gak ada yang bisa nolak dimsum mentai. Ya kan, Sha?” tanya Rayyan mencari dukungan padaku. “Hmm…” Jawabku sambil menganggukkan kepala tanda setuju. “Ham hem aja lo, Sha. Telen dulu itu makanan lo dimulut” kata Sophie kesal karena tidak ada yang mendukungnya. Aku mengangkat ibu sebagai jari tanda setuju dengan ucapan Sophie. Dan setelah menyelesaikan makan malamku, tiba-tiba saja aku teringat dengan Damar. “Eh Soph, itu si Damar bener sepupuan sama Gerry?” tanyaku pada Sophie. Pertanyaan sederhana itu seketika membuat kedua sahabatku itu saling bertatapan. Diam sejenak. “Eh kenapa lo berdua liat-liatan begitu? Ada apaan? Bilang gak!” kataku yang semakin curiga dengan tingkah mereka. “Awalnya kita cuma pengen ngenalin lo sama Damar aja sih sebenernya. Karena menurut gue dan Gerry, dia bukan tipe laki-laki yang suka macem-macem dan orangnya baik juga. Tapi taunya lo udah kenal duluan sama dia” jawab Sophie sambil cengar-cengir. “Kalau mau ngenalin ke gue tuh laki yang normal. Jangan laki gak normal lo kenalin ke gue” ucapku setelah mendengar ucapan Sophie. “Emang dia beneran gak suka cewek, Soph?” tanya Rayyan yang juga penasaran dengan ucapanku. “Huss… sembarangan lo kalau ngomong” kata Sophie pada Rayyan. “Suka cewek dia. Waktu awal kenal Damar gak kayak sekarang. Dia lumayan ramah. Malahan dulu ceweknya cantik banget. Gue sama Gerry pernah double date sama mereka. Tapi gak lama setelah itu mereka putus, gak tau putusnya gara-gara apa. Dan setelah putus Damar berubah jadi Damar yang kayak sekarang lo kenal” Kata Sophie coba memberitahu sedikit informasi mengenai Damar. Aku dan Rayyan meninyak ucapan Sophie tentang Damar, mencoba menerka-nerka apa yang membuatnya jadi seperti sekarang. “Gerry gak cerita mereka putus gara-gara apa?” tanya Rayyan yang ikut penasaran juga dengan cerita masa lalu Damar. Sophie menggeleng “Gerry gak cerita banyak. Tapi sepertinya perpisahannya cukup menyakitkan buat Damar. Mungkin karena itu dia kayak yang kita kenal sekarang ngomongnya irit banget, to the point dan sekalinya ngomong itu pedes. Ditambah sikapnya jadi nyebelin banget apalagi kalau baru kenal.” ucap Sophie lagi. Aku mengangguk setuju dengan ucapan Sophie barusan. “Kenapa lo ngangguk-ngangguk?” tanya Rayyan padaku. “Awalnya gue gak enak yang pas salah sangka itu. Tapi makin kesini gue setuju sama Sophie kalau Damar tuh nyebelin banget” kataku sambil mengingat-ingat kelakuan Damar yang membuatku kesal tiap kali bertemu dengannya. “Kesel kali dia sama lo gara-gara disangka yang enggak-enggak. Gue juga kalau jadi Damar kesel belum kenal udah ada orang yg judge kaya gitu” ucap Rayyan sambil tertawa mengingat kejadian malam itu. “Ya kan gue udah minta maaf” kataku mencoba membela diri. “Lo gak diturunin di jalan kan sama dia?” tanya Rayyan coba menebak. Aku menggeleng. “Dia gak bakalan setega itu sama perempuan, Yan. Apalagi udah malam dan sendirian kayak kemaren. Dia ngapain lo emangnya?” kali ini gantian Sophie yang bertanya. “Banyak” ucapku sambil memasukkan sepotong besar dimsum mentai ke dalam mulutku. “Ya apa?” tanya Sophie lagi. Aku memberikan petunjuk dengan tanganku untuk sabar karena mulutku penuh dengan makanan. Dan setelah berhasil menelannya aku melanjutkan ceritaku. “Pas nganterin pulang tau-tau dia deketin gue. Muka kita tuh deket banget sampai gue kira dia mau ngapa-ngapain gue. Taunya mau pakein gue seatbelt. Mana gue udah merem-merem manja lagi. Kan gue malu” kataku masih sedikit kesal karena malu jika mengingat kejadian itu. Sophie dan Rayyan tertawa mendengar ceritaku. “Lagian lo udah kegeeran” Ucap Rayyan. “Ya kan dia bisa bilang ke gue buat pakai seatbelt dulu sebelum mobil jalan. Gak perlu kayak gitu.” Kataku membela diri. “Terus tadi juga dia ke rumah sakit buat nganter dompet gue yang gak sengaja jatuh di mobilnya. Masa gue disuruh bayarin makan siang dia dan nganter dia balik ke kantornya. Katanya ucapan terima kasih karena udah nganterin dompet dan disuruh nunggu sampai jam praktek gue selesai. Padahal udah gue tawarin biar gue aja yang ambil atau titip di receptionist tapi dia tetap mau nunggu” kataku dengan berapi-api karena masih terbawa kesal jika mengingat kejadian hari ini. Mereka tertawa kembali mendengar ceritaku barusan. “Jadi lo gak ikhlas bayarin si Damar makan siang?” tanya Sophie disela tawanya. “Ikhlas gue. Udah masuk ke perutnya juga. Cuman gue kesel aja disuruh juga nganterin dia balik. Padahal gue gak minta dia buat nganterin dompet gue. Mana pakai bilang gue teledor lagi” kataku lagi masih dengan nada bicara kesal. “Jangan sebel-sebel nanti suka aja lo sama Damar” kata Rayyan dan disetujui oleh Sophie. Aku melotot ke arah Rayan setelah mendengar ucapannya barusan. Pukul sepuluh malam, Sophie dan Rayyan pamt pulang. Setelah mereka pergi, aku membereskan sisa makanan kamu lalu menuju kulkas. Ternyata es krim yang kubeli tadi tertinggal di supermarket saat menunggu ojek online. Sebagai gantinya, aku mengambil toples kecil dari dalam tas. Dream Candy. Aku membuka bungkusnya dan memasukkan sebutir permen coklat itu ke dalam mulut sambil menonton TV dan bersandar di sofa. Perlahan pandanganku terasa kabur. Cahaya di TV semakin menyilaukan mata. Dan suara yang keluar dari TV perlahan tergantikan oleh suara lembut yang memanggil namaku. Juga sebuah tangan yang menggenggam tanganku erat. “Asha, ayo ikuti aku! Lewat sini” kata suara lembut yang terdengar familiar itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD