“Asha.. Asha…”
Terdengar suara seseorang familiar memanggil namaku. Aku sedikit kesusahan mencari sumber suara itu karena terhalang sinar yang cukup menyilaukan. Aku sedikit mengernyitkan mataku untuk menghalau silau yang menerpa.
Seseorang menepuk pundakku.
Ben.
“The sun is so bright here. Let’s move somewhere more shady” ajak Ben sambil menggandeng tanganku menuju tempat yang lebih tertutup di area restoran.
Aku pun mengikuti Ben dari belakang. Dan kami memilih meja yang berada agak ke dalam restoran agar lebih teduh namun masih bisa menikmati sinar matahari dan hembusan angin pantai.
“You look pretty in that dress” kata Ben sambil masih menggenggam tanganku.
“Thank you” kataku atas pujiannya.
Aku memperhatikan diri dari pantulan cermin yang berada tak jauh dari tempat kami duduk. Pagi itu aku mengenakan yellow floral midi dress dan sepatu sandal warna putih. Dipadukan dengan straw tote bag beige serta sunglasses.
“Kamu mau sarapan apa?” tanya Ben sambil melihat ke sekeliling restoran hotel yang banyak menyadiakan berbagai macam sarapan.
“Masih belum tau” jawabku sambil berjalan mengikuti Ben dari belakang yang terlihat sedang mengambil beberapa makanan untuk sarapan.
“What’s your plan today?” tanya Ben padaku saat kami sudah duduk di meja makan.
“Beberapa hari yang lalu aku gak sengaja bertemu dengan salah satu pasienku waktu lagi jalan-jalan dipantai. Kami janjian untuk bertemu lagi di lain hari dan jalan-jalan bersama. Kamu ada rencana apa hari ini?” tanyaku yang juga ingin tau apa saja kegiatannya hari ini karena kami akan berkegiatan masing-masing sehabis sarapan.
“Aku berencana untuk berkunjung ke museum dan sanggar tari. Dan mungkin setelahnya akan lanjut surfing” katanya sambil menyesap kopi paginya.
“Sepertinya akan menyenangkan kegiatanmu hari ini ya” kataku sambil menatapnya di sela-sela sarapanku.
“Mau ikut bergabung?” katanya menawarkanku untuk bergabung dengannya.
Aku menggelengkan kepala “Aku sudah janji dengan temanku untuk pergi bersamanya. Maybe next time” kataku menolaknya.
“Ok. Bagaimana jika besok kita pergi bersama?” tanyanya padaku dengan antusias.
Aku pun mengangguk setuju.
“Good! Besok kita bertemu disini untuk sarapan bersama lalu berangkat. Oya jangan lupa untuk bawa beberapa baju ganti karena kita akan bermain air dan menginap satu malam disana” ucapnya bersemangat saat aku menerima ajakannya.
“Kamu sudah punya rencana besok kita akan kemana?” tanyaku.
Ben menghentikan suapanya sebentar. “Aku masih belum begitu yakin. Tapi pasti aku akan mengajakmu ke tempat yang tak kalah seru besok. Tunggu saja” jawabnya yakin.
“Ok” kataku sambil tersenyum.
“You know what, Asha? Aku nyaman banget ngobrol sama kamu walaupun kita baru kenal beberapa hari yang lalu” ucapnya sambil menatap ke arahku.
Aku tak tau harus menanggapi bagaimana ucapannya barusan tadi. Jadi aku hanya tersenyum malu-malu.
Aku merasa senang berbincang dengan Ben. Pembawaannya ceria dan menyenangkan. Tidak seperti kebanyakan orang bule yang pernah aku temui. Mereka biasanya menjaga batasan dengan orang yang tidak terlalu dekat apalagi dengan orang asing yang baru dikenal.
“Ben, sepertinya aku harus pergi sekarang” kataku setelah melihat jam sudah menunjukan hampir pukul sepuluh pagi.
“Yeah, sure” jawabnya mempersilahkan ku pergi. Ia pun ikut bangun dari kursinya dan mencium pipiku.
Aku cukup kaget dengan tindakannya.
“I’m sorry” ucapnya merasa tak enak karena reaksiku yang sedikit kaget dengan tindakannya barusan.
“It’s ok” jawabku setelah bisa menguasai diriku kembali.
“Enjoy your trip” kata Ben lagi.
“Kamu juga ya, Ben” kataku sebelum benar-benar pergi menuju lobby hotel. Tempatku berjanji bertemu dengan Yennie hari ini.
Aku pun berjalan menuju lobby tempat aku dan Yennie berjanji untuk bertemu hari ini. Saat sampai disana aku melihatnya sedang mengobrol dengan salah seorang staff hotel. Aku pun segera menghampirinya.
“Hai…” sapaku padanya.
“Hai, Asha. Sudah siap jalan-jalan hari ini?” tanyanya sambil menoleh ke arahku.
Aku sedikit terkesima dengan senyumnya yang mirip dengan almarhumah Mamaku. Cara ia tertawa juga mirip.
“Asha, are you ok?” tanya Yennie karena melihatku diam saja saat melihatnya.
“Yah, sure!” jawabku. “Mau kemana kita hari ini?” kataku bertanya padanya.
“Kita ke pasar Kumbasari, terus kita ke Garuda Wisnu Kencana di sana kita bisa liat pertunjukan seni dan malamnya aku akan ajak kamu ke salah satu tempat makan yang pasti kamu bakalan suka” katanya dengan semangat menjelaskan apa saja kegiatan yang akan kami lakukan bersama.
“Ok. Kita jalan sekarang?” tanyaku tak kalah semangatnya dengan Yennie.
Aku dan Yennie berangkat menuju destinasi pertama kami, yaitu Pasar Seni Kumbasari yang terletak di Denpasar. Disana banyak menjual berbagai macam hasil kerajinan tangan, pernak-pernik dan oleh-oleh.
“Kamu ada yang mau di beli gak, Sha?” tanya Yennie saat kami sampai di sana.
“Kita liat-liat dulu gimana?” kataku memberi usul pada Yennie dan dia pun menyetujuinya.
Setelah berkeliling pasar Yennie mengajakku makan di salah satu rumah makan lokal yang menjual hidangan khas Bali. sambil menunggu makanan datang aku dan Yennie berbincang ringan.
“Oya, tadi kamu kelihatan akrab sama salah satu staff hotel. Seperti sudah kenal sebelumnya” kataku sambil menunggu makan siang kami datang.
“Aku dulu pernah tinggal beberapa tahun di sini. Dan staff hotel tadi salah satu teman kos ku waktu kuliah di sini” katanya menceritakan sedikit potongan kisah hidupnya.
“Pantes aja kamu kayak banyak tau tempat-tempat bagus dan yang menjual makanan enak di sini” kataku setelah mengetahui alasan ia sangat familiar dengan daerah sini.
Selama santap siang Yeniie banyak bercerita tentang kehidupannya semasa ia kuliah. Ia bercerita kalau ia berasal dari keluarga kurang mampu dan bisa berkuliah di sini karena beasiswa. Kedua orang tuanya hanya sanggup untuk memberikan uang bulanan yang cukup untuk membayar kos dan makan saja. Selebihnya ia harus mencari tambahan dengan bekerja untuk menutupi kekurangannya selama berkuliah di sini. Untungnya ia bisa lulus tepat waktu dan langsung bekerja di salah satu perusahaan tempatnya bekerja saat ini.
“Sudah siap lanjut lagi?” tanya Yennie padaku setelah kami menyelesaikan santap siang kami.
Dengan mantap aku menganggukkan kepalaku “Let’s go!!” kataku sambil menggandeng tangannya menuju mobil yang ia sewa.
Kami pun melanjutkan perjalanan menuju destinasi kedua kami, Garuda Wisnu Kencana. Kami sampai sana saat menjelang sore dan berencana menonton pentas seni tari yang sering diadakan disana. Kebetulan waktunya bertepatan saat kami sampai sana.
Senja itu kami disuguhi tontonan sendra tari yang memukau. Walaupun aku sudah melihatnya beberapa kali saat berkunjung ke sini tapi tetap saja pertunjukan tari kecak tetap membuatku terpukau.
Tempat pertunjukan yang awalnya disinari cahaya bulan saat pentas tari berlangsung berubah menjadi gelap saat pertunjukan berakhir. Dan aku mendengar suara seseorang memanggil namaku. Namun suara itu bukan berasal dari Yennie.
‘Asha… Bangun. Kita sudah sampai” ucap seseorang padaku.
Dan saat aku membuka mata aku melihat Damar duduk di sampingku dengan kedua tangan yang memegang setir mobilnya.
“Dimana nih?” tanyaku sedikit bingung karena terbangun di tempat yang tak kukenal.
“Kantor saya” jawab Damar singkat.
Aku terdiam sebentar untuk menyadarkan diriku sepenuhnya dari alam mimpi.
“Asha…” panggil Damar bertepatan dengan suara ponselku yang berdering. Ia pun terdiam menunggu aku selesai menerima panggilan telepon untuk melanjutkan perkataannya.
My Papa Calling…
“Sssttt… Jangan berisik” kataku sambil menunjukan siapa yang menghubungiku. Damar pun sepertinya mengerti dan tak mengeluarkan suara sedikitpun.
“Halo, Pa” kataku saat panggilan telepon tersambung.
“Lagi dimana, Nak?” tanya papa
“Jalan pulang. Kenapa?” tanyaku.
“Sabtu kamu gak ada acara kan?” kata papa menanyakan jadwalku di hari Sabtu.
“Enggak. Kenapa emangnya?” tanyaku lagi penasaran.
“Barusan Papa dihubungi Om Herry, kita diundang buat makan malam di rumahnya. Temani Papa kerumah Om Herry ya, Sha” kata papa.
Aku terdiam dan melirik ke arah Damar. Ada rasa enggan dan kesal yang masih bersarang di dadaku karena kelakuannya hari ini. Sedangkan orang yang membuatku kesal malah asik memainkan ponselnya.
“Sha, Halo…” kata papaku dari seberang sana karena aku tak merespon ucapannya tadi.
Kenapa harus ketemu orang ini lagi di weekend gue yang damai? Kataku dalam hati.
*****