prolog

1212 Words
Dua puluh satu tahun yang lalu. “Asha, kamu kenapa menangis?” tanya seorang laki-laki berusia sepuluh tahun itu kepadaku. “Mereka gak mau temenan sama aku” kataku di sela-sela tangisanku kala itu. “Kenapa mereka gak mau main sama kamu?” tanyanya lagi. “Mereka bilang aku gak punya ibu” kataku kembali menangis. Namun kali ini tangisanku lebih kencang. Buatku tidak memiliki ibu bukanlah keinginanku dan hal tersebut sudah membuatku sangat sedih. Apalagi ditambah saat teman-teman sebayaku memilih untuk tidak bermain denganku dengan alasan aku tidak memiliki ibu. Hal itu menambah luka dihati untuk seorang anak kecil berusia tujuh tahun. Anak laki-laki berusia sepuluh tahun itu memelukku erat. Layaknya seorang kakak pada adiknya. “Tenang, aku mau kok main sama kamu” katanya mencoba menghiburku yang sedang sedih. “Beneran?” tanyaku. Ia menganggukkan kepalanya dengan mantap. “Iya, aku janji akan selalu ada buat kamu dan kita akan main sama-sama terus” katanya berjanji padaku. “Janji ya…” kataku sambil mengacungkan jari kelingking sebagai tanda pinky promise. “Janji” jawabnya dengan yakin dan menyambut jari kelingking untuk membuat pinky promise bersamaku. Aku sangat senang karena akhirnya memiliki teman yang mau bermain denganku. Dan mulai dari hari itu kami selalu bermain bersama. Hal tersebut berlangsung selama beberapa tahun kedepan dan menjadikan kami menjadi lebih dekat layaknya seperti kakak-adik daripada teman bermain. Hingga pada suatu hari, aku mendapatkan kabar menyedihkan dari teman bermain laki-lakiku waktu itu. “Asha, mulai minggu depan kita sudah gak bisa main sama-sama lagi” katanya membuatku terdiam ditengah permainan kami sore itu. “Kenapa?” tanyaku. “Kata Mamaku hari Sabtu nanti kami sekeluarga mau pindah” jawabnya. “Kemana?” tanyaku mulai sedih. “Australia” jawabnya sambil menundukkan kepalanya. “Itu kan jauh banget. Kalau kamu pindah nanti aku mainnya sama siapa?” tanyaku lagi dengan air mata yang mulai menetes di pipi. Anak laki-laki berumur sepuluh tahun itu juga terlihat sedih terlebih setelah melihatku menangis setelah mendengar kabar kepindahannya. Karena merasa sangat sedih, akhirnya aku pun berlari pulang dan menceritakan kejadian tadi pada papa. Beliau satu-satunya tempatku bercerita. Karena ibuku telah berpulang saat aku berusia enam tahun. Dan hari yang ku harap tak pernah datang itu pun tiba. Hari dimana aku harus berpisah dengan teman baikku satu-satunya. Aku memberikannya sebuah boneka beruang kesayanganku dan ia memberikan sebuah mainan berbentuk rumah-rumahan kepadaku sebagai kenang-kenangan. “Disimpan ya. Suatu hari nanti aku akan buatkan kamu rumah yang lebih bagus dari ini” katanya sebelum kami benar-benar berpisah. Setelah hari itu aku tak pernah mendengar kabarnya lagi. Sesekali aku mendengar kabarnya dari Papaku yang kadang bertukar kabar dengan ayahnya. Karena mereka teman akrab semasa kuliah dulu di Australia. Dan sekarang, setelah dua puluh satu tahun kisah itu berlalu, terkadang aku masih suka teringat dengannya setiap aku melihat mainan rumah-rumahan yang diberikannya sewaktu kami berpisah dulu. Dua puluh satu tahun setelahnya… Kini aku sudah menjadi Asha Hannah Mulyadi yang baru. Yang telah memiliki dua orang sahabat setia bernama Sophie dan Rayyan. Sahabatku dari SMA. Dan saat aku sedang bernostalgia pada masa kecilku ponselku berdering. Dari Papa. Segera kuangkat telpon dari beliau. “Halo, Nak. Lagi gak sibuk ya?” tanya papa saat menerima panggilan dariku. “Lagi belum ada pasien lagi, Pa. Kenapa?” Tanyaku kali ini. “Kamu kapan libur? Antar Papa cari tempat tinggal sementara sampai ruko selesai renov ya. Atau kamu ada rekomendasi tempat tinggal yang gak terlalu jauh dari ruko atau apartemen kamu?” kata papa. “Nanti aku coba liat-liat dulu ya, Pa. Kalau udah nemu nanti aku kabari Papa” jawabku. “Kalau bisa jangan lama-lama ya, Nak. Karena bulan depan ruko udah harus kosong” pinta papa. “Iya, Pa. Papa udah makan belum?” tanyaku lagi. Kami mengobrol lewat telepon selama sepuluh menit lamanya. Membahas keseharianku dan Papa selama kami tidak tinggal bersama hampir dua tahun terakhir. Hingga suster Maia mengetuk pintu untuk memberitahu bahwa ada seorang pasien yang harus diperiksa. Aku pun menyudahi panggilan tersebut dan mempersilahkan pasien selanjutnya untuk masuk. Pasien yang baru masuk itu yang bernama Ibu Rita. Wanita paruh baya berumur 58 tahun. Ia mengeluh pusing dari dua hari yang lalu. Sudah minum obat tetapi sakit kepalanya tak kunjung hilang. Dan setelah di tensi ternyata tekanan darahnya terbilang tinggi yaitu diatas 173/100. “Ibu kesini sama siapa?” tanyaku setelah memeriksa. Karena aku melihatnya memasuki ruangan praktek seorang diri. “Sama anak. Dia nunggu di depan” katanya sambil tangannya menunjuk ke arah pintu. “Bisa tolong dipanggil anaknya sebentar, Bu” pintaku pada Bu Rita. Ia pun melangkah ke arah pintu dan melambaikan tangannya ke arah sang anak. Tak lama sesosok lelaki sekitar tiga puluh tahunan masuk ke ruang periksa. Setelah ibu dan anak itu duduk aku pun segera menjelaskan keadaan Bu Rita pada sang anak. “Sore Pak, perkenalkan saya Dokter Asha izin menjelaskan kondisi Bu Rita ya. Ibu menderita hipertensi tekanan darahnya 173/100. Untuk usia Ibu sekarang seharusnya tidak boleh di atas 145/90” kataku menjelaskan kondisi ibunya. Aku juga menganjurkan untuk mengkonsumsi makanan yang lebih sehat dan rutin berolahraga ringan. “Baik, Dok terima kasih sarannya. Mama saya kadang suka susah dibilangin. Dia masih seneng makan goreng-gorengan dan lebih banyak nonton TV di rumah. Kalau pun keluar rumah biasanya ke mall atau kumpul-kumpul di restoran sama teman-teman arisannya” kata anak Bu Rita mengadukan kelakuan ibunya di rumah padaku. Sedangkan sang ibu terlihat malu mendengar aduan sang anak padaku. Aku pun tersenyum melihat kelakuan ibu dan anak tersebut. “Ibu, mulai sekarang harus dikurangi ya makan gorengannya. Bisa diganti sama buah atau sayur. Sama jangan lupa olahraga. Yang ringan-ringan aja seperti jalan kaki supaya peredaran darahnya lebih lancar dan memperbaiki fungsi jantung” ucapku pada Bu Rita. “Iya, Dok. Dokter baru ya? Saya baru liat dokter” tanyanya padaku. “Sudah satu tahun saya praktek di klinik ini, Bu. Kebetulan jadwal praktek saya disini satu minggu sekali setiap hari Rabu dari jam empat sore sampai jam sebelas malam. Mungkin pas Ibu kesini saya lagi gak ada jadwal praktek. Makanya baru ketemu saya sekarang” jawabku sambil menjelaskan jadwal praktek di Klinik Sehat. Ia pun mengangguk-angguk sepertinya sependapat denganku. “Baik, ada yang mau ditanyakan lagi Bu Rita dan Bapak…” tanyaku pada ibu dan anak yang saat ini sedang duduk di depanku. “Damar, Dok” kata Bu Rita memberitahu nama anaknya. “Sudah cukup, Dok” jawab sang anak mewakili ibunya. “Baik. obatnya sudah saya resepkan. Nanti silahkan diambil di depan ya, Bu, pak. Sama jangan lupa bulan depan kembali lagi buat cek rutin. Semoga lekas sehat ya, Bu Rita” ucapku sebelum mengakhiri sesi periksa Bu Rita. “Terima kasih Dokter” ucap Bu Rita tak lama meninggalkan ruang periksa. Namun anak dari Bu Rita tetap berdiri sambil menatapku. Karena merasa canggung dengan keadaan tersebut akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya padanya. “Ada yang mau ditanyakan lagi, Pak?” tanyaku sekali lagi pada laki-laki berbadan tegap di depanku itu. “Asha Hannah Mulyadi. Anaknya Om Arya kan? Kamu gak inget sama saya?” tanyanya sambil menyebutkan nama lengkapku. Aku terdiam karena kaget ia mengetahui nama lengkapku beserta nama ayahku. Aku menggelengkan kepala. Laki-laki itu tersenyum sinis setelahnya. Lalu tanpa sepatah kata ia pergi meninggalkan ruangan praktek dengan aku yang kebingungan di dalamnya. *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD