Selama perjalanan pulang dari klinik tempat praktek menuju apartement aku memikirkan laki-laki tadi. Damar, anak dari salah satu pasienku hari ini yang secara misterius mengenalku dan Papaku.
Sepertinya usianya tidak jauh dariku. Mungkin sekitar awal tiga puluhan. Laki-laki berbadan tegap dan berkulit bersih itu menyebutkan nama lengkapku dan nama Papaku saat sesi pemeriksaan ibunya selesai. Dan tersenyum sinis saat aku menjawab bahwa aku tidak mengenalinya. Lalu pergi begitu saja tanpa menjelaskan siapa dirinya dan dari mana ia mengenalku serta Papaku.
Aku memikirkannya terus sampai tidak terasa aku sudah sampai di apartemen, setelah selesai bersih-bersih aku segera mengirimi pesan pada papaku.
Pa, aku udah dapet beberapa pilihan untuk Papa tinggal sementara. Ada apartemen dan rumah. Sabtu nanti kita survey sama-sama ya, Pa.
Send!
Tiba -tiba aku teringat sebuah permen coklat yang aku temukan secara tak sengaja dari laci meja kerja papa saat ia memintaku membantunya membereskan kamarnya beberapa hari yang lalu. Aku pun mengambil satu permen coklat itu dan memasukkannya ke dalam mulut.
Toplesnya berbentuk tabung yang terbuat dari kaca dengan tutup bulat berwarna emas dengan tulisan Dream Candy di tengah-tengah toples tersebut. Dan ada tulisan kecil di bawah nama permen tersebut yang berbunyi The Sweetness Defeating Your Sweet Dreams. Semua tulisanya berwarna emas dengan background hitam yang terlihat kontras dan sangat simple untuk sebuat permen yang rasanya cukup enak.
Kuperhatikan bungkus permen berwarna merah itu satu persatu. Tidak ada informasi lain yang tertulis di sana selain nama permen dan tagline nya. Tanggal expired nya pun tak ada. Jadi kupikir Papa membelinya saat ia sedang berlibur ke luar negeri beberapa waktu lalu.
Sambil menunggu pesan balasan dari beliau aku melihat-lihat media sosialku dan menemukan postingan salah satu sahabatku Sophie yang saat sedang berlibur di salah satu pantai yang berada di Thailand. Ku ketik sebuah komentar di laman media sosialnya.
Enjoy the trip, bestie!
Terbesit keinginan untuk merencanakan liburan juga setelah melihat unggahan dari sahabatku Sophie tadi. Kulihat-lihat tiket ke beberapa destinasi dalam dan luar negeri yang memiliki destinasi pantai yang indah.
Aku membayangkan diriku tengah duduk-duduk santai menikmati hembusan angin pantai yang menerpa rambutku. Membiarkan kakiku terselimuti butiran pasir pantai yang hangat.
“Hai, kosong?” tanya seorang laki-laki padaku sambil menunjuk ke arah kursi santai yang ada di sebelahku.
Aku mengangguk.
“Aku Ben” katanya memperkenalkan diri sesaat setelah duduk.
“Asha” jawabku singkat.
Aku meliriknya sebentar dari balik kacamata hitamku. Laki-laki dengan kulit eksotis dengan wajah yang sepertinya berdarah campuran. Ia mengenakan celana santai berwarna khaki dan kaus putih. Tak lupa kacamata hitam bertengger manis di hidung mancungnya. Sepertinya ia sedang berlibur.
“I’m not a bad guy. Jadi jangan takut” katanya membuatku malu.
Aku pun segera mengalihkan pandanganku ke arah lain. Ternyata ia sadar kalau aku sedang memperhatikannya tadi.
“Liburan?” tanyanya sambil matanya menatap ke arah pantai.
“Iya” jawabku.
“Sendiri?” tanyanya lagi.
Aku mengangguk.
“Kamu gak lagi kabur dari sesuatu kan?” tanya Ben lagi yang membuatku menatap kesal ke arahnya.
Aku menghela nafas panjang dan membereskan beberapa barang yang tergeletak di atas kursi santai tepi pantai.
“Hei, easy. I just wanna talk with you. Tapi kalau kamu gak nyaman akan pergi” katanya begitu tau aku merasa tak nyaman dengan pertanyaannya.
Aku meliriknya lagi dan meletakkan barang-barangku yang sempat kurapikan tadi ke tempat semula.
“Aku kesini mau cari keluarga ibuku. Dia berasal dari Yogyakarta. But I don’t know where to start. Karena aku hanya memiliki sebuah foto lama ibuku dengan keluarganya yang ia bawa saat pindah mengikuti ayahku ke Canada” kata Ben menceritakan alasan kedatangannya.
Awalnya aku tak tertarik dengannya. Namun setelah mendengar ceritanya aku menjadi iba.
“Kamu tau alamat ibumu saat ia tinggal di sini?” tanyaku.
“She didn’t get a chance to tell me. My mom passed away when I was fifteen. Dan ayahku juga tidak ingat dimana ibuku dulu tinggal. Ia hanya ingat nama restoran tempat dulu ibuku bekerja. Mereka bertemu di sana. He fell in love when the first time he saw her” kata Ben sambil tersenyum mengingat cerita tentang ayah dan ibunya.
“Kamu sudah coba cari di Kota asal ibumu tentang restoran itu?” tanyaku penasaran tentang pencariannya.
“Ya, tapi sepertinya tempat itu sudah lama tutup. Karena tak ada satu orang pun yang tau mengenai tempat tersebut” jawabnya. “So aku putuskan untuk datang ke pantai ini untuk mengobati rasa kecewaku karena tidak dapat menemui keluarga mendiang ibuku di sana” katanya lagi melanjutkan.
“Kenapa ke sini?” tanyaku penasaran.
“Entahlah. Beberapa temanku merekomendasikan tempat ini sebelum aku berangkat ke Indonesia” jawabnya sambil menatap lurus ke arah pantai.
“Kamu berasal dari sini?” tanyanya padaku.
“No. I’m from Jakarta” jawabku.
Ben mengangguk-angguk “I’ve been there” katanya.
“Bahasa Indonesia kamu bagus. Pernah tinggal di sini sebelumnya?” tanyaku sedikit penasaran dengan kemampuan berbahasanya.
“My mom teaches me. Aku juga pernah tinggal di Jakarta selama dua tahun” katanya menjawab rasa penasaranku.
Aku mengangguk-angguk mengerti sekarang kenapa Ben cukup fasih dalam berbicara bahasa Indonesia.
“What are you doing’ here? I mean sitting here. Alone” tanyanya menjelaskan maksud dari pertanyaannya.
“Nothing. Just enjoy the view and take a break from my daily routine" jawabku sambil melihat ke arah pantai.
Akhirnya aku dan Ben jadi bertukar cerita tentang kehidupan kami masing-masing. Ben juga bercerita tentang pekerjaannya sebagai pengajar yang juga memiliki hobi berselancar. Meskipun ia belum menemukan keluarga mendiang ibunya, ia cukup terhibur karena negara kelahiran sang bunda sangat cantik.
“Asha, can we meet again tomorrow? I have no friends here” tanyanya sebelum kami berpisah.
“Sure” jawabku.
“Good. I wanna show you good places here. Tomorrow at 10am. We met here. See you!” katanya sambil berlari dan melambaikan tangannya.
Aku mengangguk tanda setuju dan membalas lambaian tangannya.
Kami pun berpisah sore itu. Aku berjalan sendiri menyusuri bibir pantai menikmati matahari yang perlahan mulai tenggelam. Sayup-sayup terdengar suara seseorang memanggilku dari kejauhan. Aku menajamkan indera penglihatanku untuk mengetahui lebih jelas siapa yang memanggilku karena suasana pantai mulai agak temaram.
“Asha… Asha… ” kata seseorang yang memanggilku dari kejauhan sambil melambaikan tangan ke arahku.
Aku cukup terkejut siapa yang kutemui saat itu di tepi pantai.
Seorang wanita muda yang wajahnya sangat mirip dengan mendiang ibuku saat muda dulu.
“Gak nyangka ya kita bisa ketemu di sini” katanya saat kami sudah berhadap-hadapan di tepi pantai sore itu.
*****