Chapter 2

1645 Words
Aku sangat terkejut mendapati seorang wanita muda yang perawakannya hingga wajahnya sangat mirip dengan mendiang ibuku saat muda. “Ya ampun, gak nyangka loh kita bisa ketemu di sini” katanya saat kami sudah berhadapan. Aku tersenyum setelah bisa mengendalikan diriku dari rasa terkejut. “Hai…” sapaku. Walaupun aku masih bingung siapa gerangan sosok wanita muda di depanku ini. “Aku Yennie, Dok. Waktu itu pernah datang ke klinik Dokter Asha. Yennie Ramadhanti” katanya lagi memperkenalkan dirinya dan menjelaskan dari mana ia mengenalku. Lagi-lagi aku dibuatnya terkejut untuk kedua kalinya. Karena selain perawakan dan wajahnya yang mirip dengan mendiang Mamaku, nama mereka pun sama. Hanya usia mera saja yang berbeda. “Lagi apa di sini?” tanyaku ramah sambil mengingat-ingat momen aku bertemu dengannya di klinik. “Aku lagi kerja sambil liburan, Dok. Dokter sendiri?” katanya lalu berganti ia yang menanyaiku. “Aku lagi liburan aja” kataku sambil tersenyum. “Dokter sama siapa?” tanyanya lagi. “Aku sendiri. Mbak Yennie sama siapa disini?” kataku bertanya balik. “Aku juga sendiri, Dok. Panggil Yennie aja” pintanya. Aku pun mengiyakan. “Kalau gitu panggil aku juga nama aja. Gak usah pakai Dok” kataku sambil tersenyum. “Ok” jawab Yennie. ”Kalau abis ini gak ada acara, mau makan malem bareng gak?” Tanyanya padaku. “Boleh. Yuk” kataku menyetujui ajakannya. Karena kebetulan aku sedang lapar dan masih belum tahu akan makan malam dimana. Kami pun berjalan menyusuri pinggir pantai sambil menikmati pemandangan matahari tenggelam sore itu. Sambil menyusuri pantai kami mendiskusikan hendak makan malam dimana. Ada banyak pilihan tempat makan pinggir pantai yang menghadap langsung ke laut lepas. Dihiasi lampu-lampu yang menambah cantik suasana. Dan kami memilih salah satu restoran di sana untuk makan malam. “Asha, kamu tinggal dimana selama di sini?” tanya Yennie sambil menunggu hidangan kami disajikan. “Aku tinggal di Sunset Hotel. Kamu?” kataku bertanya balik pada Yennie. “Aku tinggal tidak jauh dari tempat kamu menginap. Besok kamu mau kemana?” katanya menanyakan tentang kegiatanku esok hari. “Aku ada janji sama teman. Dia mau mengajakku berkeliling. Kalau kamu belum ada acara kita bisa pergi sama-sama” jawabku sambil mengajaknya untuk ikut. “Kebetulan aku sudah ada acara besok. Aku mau ngajak kamu sarapan bareng. Ada local food enak di gak jauh sini. Kamu mau coba?” tanyanya lagi padaku. “Sure. Jam berapa?” tanyaku bersemangat. “Jam tujuh tiga puluh. Kita ketemu di Warung Yuk Djum. Makanan yang dijual halal semua” katanya menjelaskan. Karena cukup sulit mencari makanan halal di sini. “Kamu udah kemana aja selama di sini?” tanya Yennie lagi. “Belum kemana-mana. Baru ke pantai aja hari ini” Jawabku. “Kamu tau tempat yang bagus di sini selain pantai?” tanyaku. “Ya. Berhubung besok kamu sudah ada janji dengan temanmu. Bagaimana kalau lusa? Kita ketemu di lobby hotel tempat kamu menginap. Jam sepuluh pagi. Aku akan mengajakmu ke tempat yang pasti akan kamu suka” katanya memberi usul padaku. Aku pun langsung setuju dengannya. Kami makan malam sambil mengobrol tentang pekerjaan Yennie yang bisa dibilang lumayan mirip dengan mendiang ibuku waktu muda dulu. Ia bekerja di perusahaan nasional yang bergerak dibidang pangan. Pekerjaanya sebagai staf pemasaran yang harus merancang strategi untuk menarik minat pelanggan dan meningkatkan hasil penjualan dari produk yang dijual. Hingga tak jarang membuat Yennie begitu sibuk dan lupa makan. Setelah selesai makan malam, kami pun berjalan bersama hingga ke penginapan tempat aku tinggal. “Besok pagi jangan lupa ya. Kita sarapan bareng di Warung Yuk Djum. Jam setengah delapan. Jangan telat” katanya sebelum berlalu pergi dan melambaikan tangan. Aku pun membalas lambaian tangannya sebelum masuk ke dalam hotel. “Aduh, aku lupa minta nomor ponselnya” kataku saat teringat bahwa kami belum saling bertukar nomor ponsel. Begitupun dengan Ben. Sayup-sayup aku mendengar suara ponsel berbunyi. Aku terbangun dan meraih ponsel yang tergeletak tak jauh dariku. My Papa Segera ku geser layar di ponsel. “Halo, Pa” Kataku begitu sambungan terhubung. “Halo, Nak. Kamu baru bangun?” tanya papa saat mendengar suara khas banguntidurku. “Papa sudah di depan pintu apartemen kamu” katanya lagi lalu memutus sambungan telepon. Dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya aku berjalan untuk membukakan pintu untuk papa. “Ambil piring. Papa masakin kamu bubur buat sarapan. Sama ini dimasukin kulkas buat kamu makan” kata papa sambil menyerahkan tiga bungkusan yang berisi dua buah bubur untuk kami sarapan bersama dan dua bungkusan lainnya berisi lauk pauk yang papa masak sendiri untuk di simpan di lemari es dan bisa dihangatkan sewaktu-waktu saat aku ingin memakannya. Aku memasukkan semua itu ke dalam freezer dan biasanya akan kuhangatkan terlebih dahulu di microwave sebelum memakannya saat pulang kerja nanti. “Ayo sarapan. Kita ke makam mama dulu ya sebelum survey. Papa udah kangen” Katanya sambil menuntunku untuk duduk di hadapannya. Setelah selesai sarapan aku bersiap-siap untuk pergi ke makam mama lalu menemani papa mencari tempat tinggal sementara selama ruko kami direnovasi. Diperjalanan kami mampir ke toko bunga untuk membeli mawar putih. Bunga favorit mama semasa hidupnya. Setelah dari makam mama kami, aku dan papa melanjutkan perjalanan kami mencari tempat tinggal sementara untuk papa selama ruko direnovasi. Ada tiga tempat yang akan kami lihat hari ini. Yang pertama sebuah apartemen yang letaknya cukup dekat dengan makan mama. Kami mendatangi tempat itu terlebih dahulu. Apartemen itu tipe studio biaya sewanya cukup terjangkau dan sudah full furnished. Tempat tinggal kedua apartemen dengan satu kamar dan sudah full furnish. Namun harganya lebih mahal dari yang pertama. Sedangkan yang ketiga sebuah rumah dengan tiga kamar yang ternyata letaknya tidak jauh dari ruko kami yang akan direnovasi. “Diantara ketiganya ada yang Papa suka gak?” Tanyaku saat kami dalam perjalanan menuju ruko. “Papa suka apartemen yang pertama karena dekat dengan Mama kamu. Jadi Papa bisa sering-sering ke sana kalau bosan. Tapi ruangannya kecil. Sedangkan apartemen yang kedua lebih besar dan ada kamarnya tapi biaya sewanya mahal dan jauh dari ruko” jawab papaku. “Kalau rumah tiga kamar kebesaran ya, Pa?” tanyaku lagi. Papa mengangguk “Sebenarnya Papa juga suka rumah ketiga karena dekat dengan ruko jadi bisa sering-sering lihat progres renovasinya. Oya, Sha abis ini kamu ada acara gak?” Tanya Papa tiba-tiba. “Gak ada. Kenapa?” Kataku menjawab pertanyaannya. “Temenin Papa ketemu orang kontraktor yang ngerjain ruko ya. Sebentar aja. Habis itu kita makan malam bareng” kata papa sambil mengetik pesan singkat pada seseorang. “Boleh. Ketemu dimana sama kontraktornya?” tanyaku. “Di kantornya dia. Gak jauh dari sini kok. Sebentar Papa share locationnya ke ponsel kamu” katanya lalu tak lama pesan singkat masuk ke ponselku. Setelah menempuh perjalanan selama empat puluh lima menit kami sampai di sebuah bangunan empat lantai. Kami masuk ke lobby yang dibelakangnya terpampang nama perusahaan itu yaitu RumahIde. “Sore Bu, saya Arya mau bertemu dengan Damar. Sudah buat janji sebelumnya” “Baik Pak Arya, sebentar saya hubungi beliau dulu ya, Pak” kata seorang resepsionis dari balik mejanya. Kami duduk di sofa yang telah disediakan di ruang tunggu. “Sha, yang punya ini anaknya temen Papa. Om Herry. Temen kuliah Papa waktu di Australia dulu” kata Papa menjelaskan siapa pemilik perusahaan konstruksi yang akan merenovasi ruko kami. Setelah beberapa saat menunggu resepsionis tersebut pun menghampiri kami lalu mengantarkan aku dan Papa menuju ruangan si pemilik perusahaan yang berada di lantai empat. Dan setelah sampai papa membuka pintu dan masuk keruangan itu duluan. “Sore, Nak Damar” kata papa berjalan menghampiri Damar dan menyalaminya. “Sha, kamu masih inget Damar gak?” tanya papa sambil melihatku. Aku pun memperhatikan laki-laki di depanku yang saat ini mengenakan atasan kemeja putih lengan panjang yang digulung sampai siku dipadukan dengan celana bahan warna coklat. Aku mengenalinya saat ia mengantar ibunya berobat ke klinik tempatku praktek waktu itu. “Mungkin Asha gak inget. Gimana, Om? Ada yang bisa saya bantu?” kata Damar yang sepertinya sudah bisa menebak jawabanku. Papa pun menjelaskan kalau ada beberapa bagian dari denah yang kemarin untuk diperbaharui di bagian lantai dua. Tempat beberapa karyawan yang akan tinggal disana menemani papa. Mereka juga membicarakan tentang desain interior yang akan diterapkan di ruko nanti setelah renovasi selesai. Agar suasananya menjadi lebih segar dan kekinian. Saat papa sedang berdiskusi dengan Damar, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Dan ia berjalan keluar ruangan untuk menerima panggilan telepon tersebut. “Saya tidak menyangka kalau kamu masih menyimpan mainan rumah-rumahan yang saya kasih sebelum saya pindah dulu” ujar Damar sambil berdiri menatap keluar jendela. “Kenapa gak disimpan? Kan kenang-kenangan sebelum kita pisah dulu. Apa jangan-jangan boneka beruang yang aku kasih dulu sudah hilang ya?” kataku berusaha menebaknya. “Iya. Sepertinya ketinggalan di pesawat waktu pindahan dulu” katanya tanpa rasa bersalah. “Secepat itu?” tanyaku sedikit tak percaya dengan ucapannya. “Ya” Jawabnya cepat sambil melihat ke arahku. Aku melirik kesal ke arah Damar saat mendengarnya. Kenang-kenangan yang ia beri untukku masih kusimpan dan ku jaga dengan baik. Namun boneka beruang kesayanganku hilang tertinggal di pesawat. Sesaat tak lama setelah aku memberikannya sebelum kami berpisah. “Lagi ngobrolin apa? Serius banget kayaknya” tanya papaku saat ia memasuki ruang kerja Damar kembali. “Ngobrol yang santai-santai aja, Om” kata Damar menjawab pertanyaan papaku. Aku melirik sebal ke arahnya. Bisa-bisanya ia bersikap tidak merasa bersalah seperti itu setelah mengaku menghilangkan boneka kesayanganku yang kuberikan untuknya sesaat sebelum kami berpisah dulu. “Ya sudah Damar, Om dan Asha pamit dulu. Nanti kita bahas lagi lewat telpon ya detailnya” ucap Pak Arya sebelum pamit. “Baik Om. Mari saya antar ke depan” kata Damar dengan sopan pada papaku. Damar mengantar kami hingga ke mobil. Dan setelah mobil berjalan beberapa meter aku masih bisa melihat melihat Damar yang tersenyum ke arah kami melalui kaca spion mobil. Apa yang membuatnya tersenyum seperti itu? Kataku dalam hati. *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD