Chapter 3

1204 Words
Dalam perjalanan pulang papa menanyakan kapan aku libur karena ia hendak mengajakku untuk berkunjung ke rumah keluarga Damar. Sebenarnya aku tidak keberatan kalau hanya mengantarnya, tapi ia memintaku untuk ikut serta kesana dengan alasan aku sudah lama tak bertemu dengan orang tua Damar. “Ya udah nanti Asha kabarin Papa lagi kapan bisanya” kataku akhirnya mengalah. “Nah gitu dong” kata Papa terlihat senang. “Papa masih mau cari rumah lagi? Kalau mau nanti aku coba cari-cari lagi di internet” tanyaku mengenai tempat tinggal Papa sementara. Karena sepertinya ia masih belum menemukan yang cocok. “Gak usah. Kayaknya Papa mau ambil rumah yang tiga kamar aja. Nanti bisa sekalian tinggal sama Budi dan Bayu. Lokasinya juga gak jauh dari ruko. Jadi Papa bisa sering-sering nengokin ruko buat pantau progresnya” ucap Papa setelah menentukan dimana ia akan tinggal sementara nanti. “Nanti kabarin aja kapan mau pindahnya, Pa” kataku sebelum Papa turun dari mobilku. “Iya. Nanti biar dibantu sama karyawan yang lain. Kamu gak mau mampir dulu?” tanya Papa. “Lain kali aja, Pa.” jawabku. “Ya sudah hati-hati. Kabarin kalau sudah sampai rumah ya” kata papa. Aku mencium tangannya sebagai tanda hormat dan Papa mencium pipiku sebelum turun dari mobil. Setelahnya aku langsung menuju apartemen. Ditengah perjalanan ponselku berdering. Terlihat nama salah satu sahabatku di layar. Segera ku geser layar ponsel dan menyalahkan loudspeaker karena aku sedang mengendarai mobil. Sophie Calling… “Halo, Soph.. gue lagi nyetir nih. Kenapa?” kataku agak sedikit berteriak agar sahabatku mendengarnya. “Gue sama Rayyan mau dinner bareng besok malam? Mau ikut gak?” tanyanya dari seberang sana. “Boleh. Kirimin aja alamatnya” jawabku. “Ok gue kirim alamatnya ya. Hati-hati lo. See ya” kata Sophie mengakhiri sambungan teleponnya. Sophie Call End… Tak lama setelah telepon ditutup terdengar bunyi beberapa bunyi pesan masuk berturut-turut. Ku biarkan dulu pesan masuk itu dan akan k*****a saat sampai di rumah. Dan setelah menempuh hampir satu jam perjalanan akhirnya aku sampai di apartemen. Aku segera mandi setelah sampai karena hampir seharian aku beraktifitas di luar. Setelah mandi aku merasa lebih segar. Lalu lanjut untuk membereskan beberapa barang belanjaan yang tadi sempat aku beli sebelum kembali ke rumah. Setelah selesai aku mengirimi Papa pesan yang isinya memberitahu kalau aku sudah sampai rumah. Dan melanjutkan mengecek pesan singkat yang tadi dikirim oleh Sophie. Triangle Bar and Lounge. Jam tujuh malam. Rayyan mau ngenalin seseorang sama kita. Kelihatannya mereka lagi dekat. If you don’t mind, I’ll ask Gerry to come. Kabarin gue kalau lo udah sampai rumah ya. Segera ku ketik pesan balasan untuk Sophie: Of course he can come. Santai aja. Kitakan biasanya juga suka gantian. Kali ini giliran gue yang jadi obat nyamuk. Hohoho.. Send! Setelah membalas pesan singkat tadi aku segera tidur. Karena hari ini aku merasa cukup lelah setelah mendatangi beberapa tempat sekaligus dalam satu hari. Ditambah pertemuan dengan Damar tadi yang cukup menguras emosiku. Hampir satu minggu berlalu dan Papa sudah mulai memindahkan hampir semua barang-barangnya ke rumah kontrakan tiga kamar dibantu oleh beberapa pegawai kami yang akan tinggal bersama Papa selama beberapa bulan kedepan. Lokasi rumah kontrakannya tak jauh dari ruko kami. Beep.. Beep.. Beep.. Alarmku berbunyi tepat pukul lima tiga puluh pagi. Aku pun segera bersiap-siap untuk berangkat ke rumah sakit untuk bekerjalah. Sesampainya di parkiran rumah sakit, aku segera bergegas menuju ruangan tempat peraktekku. Saat berjalan melewati ruang tunggu, aku melihat beberapa pasien sedang menunggu di sana. Aku pun mempercepat langkahku agar bisa segera menangani pasien yang sudah menunggu untuk ditangani. Aku melihat jam yang terpasang di pergelangan tanganku sudah menunjukkan pukul dua siang. Tandanya jam praktek hari ini telah selesai. Sebelum pulang aku menyempatkan makan siang dulu di kantin rumah sakit. Setelahnya aku bergegas pulang karena harus bersiap-siap untuk makan malam bersama kedua sahabatku semasa kuliah dulu. Selesai mandi, aku sedikit kebingungan dalam memilih pakaian untuk dikenakan saat makan malam. Namun pada akhirnya pilihanku jatuh pada atasan ruffled blouse putih yang dipadukan dengan blue jeans serta heels berwarna hitam dan tas tangan yang berwarna senada dengan sepatu. Laku aku memakai make up tipis agar tak terlihat pucat dan membiarkan rambutku tergerai. Pukul tujuh lewat dua puluh menit akhirnya aku sampai di Triangle Bar and Lounge. Setelah menemukan tempat parkir aku pun segera masuk mencari kedua sahabatku, Sophie dan Rayyan. “Ger, Sophie mana?” kataku menyapa Gerry pacar Sophie yang sepertinya hendak ke toilet. “Di sana” kata Gerry sambil menunjuk ke arah Sophie duduk. Aku pun melihat ke arah Gerry menunjuk dan terlihat Sophie sedang melambaikan tangannya ke arahku. Sophie terlihat sedang duduk bersama seorang pria. Tapi dari belakang itu tidak terlihat seperti Rayyan, sahabat kami. Dan Sophie juga bilang kalau Rayyan ingin mengenalkan seseorang yang saat ini tengah dekat dengannya. Jangan-jangan… Segera ku buang pikiran macam-macam tentang Rayyan sahabat kami. Aku pun semakin mempercepat langkahku. Penasaran siapa laki-laki yang tengah asik berbincang dengan Sophie itu. “Astagfirullah” kataku kaget saat seseorang menepuk pundakku dari belakang. “Ih, bikin kaget aja” kataku sambil membalas tepukkan Rayyan di tangannya. “Sha, ngebut banget jalan lo. Udah laper banget apa?” tanya Rayyan menghampiriku dari belakang. “Sophie bilang lo mau ngenalin orang yang lagi deket sama lo. Mana?” kataku malah bertanya balik tanpa menjawab pertanyaan Rayyan terlebih dahulu. “Itu lagi duduk sama Sophie” katanya sambil menunjuk ke arah sahabat kami Sophie duduk. Namun ia terlihat seperti sedang mencari seseorang. Aku menarik tangannya ke sudut ruangan setelah mendengar jawabannya tentang seseorang yang tengah dekat dengannya. “Eh, lo gak salah?” tanyaku. “Apaan sih, Sha?” tanya Rayyan bingung. “Orang yang mau lo kenalin sama kita. Lo gak salah pacarin dia? Lo masih waras kan?” tanyaku lagi meyakinkannya. “Lo kalau ngomong yang jelas. Gak ngerti gue” kata Rayyan lagi. Saat aku dan Rayyan sedang mengobrol, Gerry mendatangi kami. “Pada ngapain sih?” tanya Gerry penasaran. “Tau tuh temen lo gak jelas” kata Rayyan kesal karena tak mengerti maksudku. “Ayo” Kata Gerry lalu berjalan meningalkanku dan Rayyan di belakang. Aku pun berjalan di belakang mengikuti mereka menuju meja tempat kami akan makan malam. “Ngapain lo pada bertigaan di pojokkan?” tanya Sophie saat aku, Rayyan dan Gerry sampai. “Tau tuh temen lo gak jelas” jawab Rayyan masih kesal. “Sha, Kenalin dulu nih. Damar” kata Rayyan lagi sambil memperkenalkan seseorang yang sejak tadi mengobrol dengan Sophie. Laki-laki itu menengok ke arahku lalu bangun untuk menjabat tanganku. Aku pun terkejut ternyata seseorang yang dimaksud sedang dekat dengan Rayyan itu adalah Damar. Ya, Damar yang mengerjakan project renovasi ruko papaku dan merupakan anak dari sahabat Papa Om Herry. Padahal dia ganteng dan sukses di usia muda. Sayang banget kalau harus sama Rayyan. Rayyan juga kenapa jadi begini sih? Padahal dulu dia normal. Please,someone tell me this is not real.. Kataku dalam hati sambil menatap tak percaya ke arah Damar. “Asha. Itu” panggil Sophie membuyarkan lamunanku sambil dagunya menunjuk ke arah Damar yang sedang mengulurkan tangan untuk bersalaman. “Apa kabar Asha?” tanya Damar sambil mengulurkan tangannya. Dengan kikuk aku menyambut uluran tangannya untuk berjabat tangan “Baik” jawabku singkat karena masih mencerna semuanya *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD