Chapter 4

1464 Words
“Lo sudah saling kenal? Dimana?” tanya Rayyan terlihat cukup kaget karena mengetahui aku dan Damar sudah saling kenal. Begitu juga dengan yang lainnya. “Om Arya, Papanya Asha pakai jasa kantor gue buat renov rukonya. Kebetulan kemarin Om Arya pas datang ke kantor buat konsultasi ngajak Asha juga. Kita ketemu di sana” kata Damar menjelaskan. Mereka semua mengangguk-angguk mengerti dari mana aku dan Damar bisa saling kenal. “Sha, sini” Kata Sophie menyuruhku duduk di sebelah Damar. Aku pun mengikuti perintah Sophie untuk duduk di sebelah Damar dengan sedikit kikuk. “Itu tas siapa?” tanyaku setelah sadar pada kursi kosong di antara Rayyan dan Sophie. “Cewek gue lah” jawab Rayyan dengan bangga. “Loh ini?” kataku sambil menunjuk ke arah Damar tanpa sadar. “Sepupu gue dia” jawab Gerry. “kata Shopie gue disuruh ngajak orang lagi biar lo gak jadi nyamuk diantara kita” Kata Gerry menjelaskan sambil sedikit tertawa. Aku melotot ke arah Sophie sedangkan ia hanya cengengesan sambil membentuk tanda peace menggunakan kedua jarinya. “Asha, kenalin ini Sandra, pacar gue. Sandra, kenali ini Asha sahabat aku” kata Rayyan memperkenalkan wanita cantik yang baru saja datang. Kami pun saling memperkenalkan diri dan berjabat tangan. Dan setelahnya aku tertawa hingga membuat mereka semua saling memandang satu sama lain karena bingung melihatku tiba-tiba sendiri. “Sha, kenapa lo?” tanya Rayyan terlihat khawatir. “Sumpah aneh banget lo dari pertama datang tadi” katanya lagi. “Sebelumnya maaf ya, Rayyan sama Damar. Awalnya gue kira orang yang mau dikenalin Rayyan itu Damar. Karena Sophie, lo bilang mau ngenalin pacar lo ke kita, Yan. karena pas ditanya yang mana orangnya lo jawabnya ‘duduk sama Sophie’ sedangkan yang gue liat cuma ada Damar yang duduk dan lagi ngobrol sama Sophie. Makanya pas dipojokkan gue tanya-tanya lo mulu, Yan” kataku setelah selesai menjelaskan kesalahpahaman ku sendiri. “Ih, stres lo” ucap Rayyan setelah selesai mendengarkan penjelasanku. Sedangkan yang lainnya malah tertawa mendengarnya. Namun berbeda dengan Damar. Wajahnya datar tidak tersenyum apalagi tertawa. “Do I look like that to you, Asha?” tanyanya datar namun sambil melihat tepat ke arahku. Kami yang tadinya tertawa langsung terdiam setelah mendengar pertanyaan dari Damar tadi. Aku merasa tak enak. “Enggak. Makanya gue sempat kaget dan gak nyangka. Tapi untungnya pikiran gue salah. Maaf ya, Damar” kataku sungguh-sungguh tak enak padanya. Setelah aku meminta maaf ia bangun dari kursinya. “Mau kemana?” tanya Gerry pada sepupunya itu. “Toilet” jawabnya singkat. “Ger, itu beneran sepupu lo?” tanyaku setelah Damar pergi menjauh. Gerry tertawa mendengar pertanyaanku “He was a nice person. But something bad happened. So, this is how he is” kata Gerry menjelaskan padaku. “Tapi tadi waktu gue liat dia ngobrol sama Sophie kayaknya asik-asik aja. Gak ada masalah” ucapku. “Kesal kali sama lo karena disangka pacarnya Rayyan” ujar Sophie sambil tertawa. “Gue kalau jadi Damar juga kesel sih. Baru juga kenal udah disangka yang enggak-enggak” ucap Rayyan menambahkan. Tak lama setelah Damar kembali, makanan pun disajikan dan suasana mulai mencair. Tetapi aku masih merasa tak enak hati pada Damar karena selama makan malam ia tak banyak berinteraksi denganku. Namun dengan yang lainnya ia bersikap biasa saja. Setelah selesai makan malam Sophie, Gerry, Rayyan dan Sandra masih ingin meneruskan perbincangan mereka dan berencana untuk pindah ke bar. Sedangkan aku berencana pulang karena ada praktek jam delapan pagi di rumah sakit. “Gue balik duluan ya. Besok gue di rumah sakit praktek pagi” kataku seraya pamit pada yang lainnya. “Naik apa?” tanya Sandra. “Taksi online paling” jawabku sambil memasukkan ponsel ke dalam tas. “Bareng Damar aja, Sha. Dia juga mau balik kok” ucap Sophie menawarkan tumpangan padaku. Damar melirik cepat ke arah Sophie. Tatapannya menyiratkan sepertinya ia tak setuju dengan usul Sophie. “Gak usah. Gue naik taksi aja” jawabku cepat. “Udah gak papa. Sekalian. Searah juga kan lo pulangnya” kata Gerry menambahkan. Damar hanya diam saat yang lain menyuruhku untuk ikut pulang bersamanya. Sepertinya ia enggan untuk pulang bersamaku dan aku jadi makin merasa tak enak. “Gak papa. Kalau gak mau gak usah dipaksa. Gak enak gue” kataku sambil berbisik pada Sophie. “Mar, keberatan gak kalau Asha ikut mobil lo?” tanya Sophie tiba-tiba pada Damar. “Kata siapa?” kali ini Damar bertanya balik pada Sophie. Sophie menunjukku dengan dagunya. Aku makin merasa tak enak. “Lo suka ambil kesimpulan sendiri ya?” tanya Damar padaku. Aku terdiam. Antara kesal dan tak enak. Kalau memang masih marah harusnya ia tolak saja permintaan teman-temanku untuk mengantarku pulang. “Ayo” katanya lagi padaku. “Udah sana nanti kemalaman” kata Rayyan. “Gue pamit dulu ya” kataku berpamitan pada yang lainnya. “Iya. Hati-hati” jawab Sophie dan Sandra hampir berbarengan. Sedangkan Gerry dan Rayyan melambaikan tangan pada kami. Aku mengikuti Damar sampai ke mobilnya. “Mar, gue balik naik taksi aja gak papa” kataku karena masih merasa tak enak dan kesal padanya. “Naik” katanya sambil membukakan pintu mobilnya untukku. “Naik, Asha” katanya lagi karena aku masih diam. Akhirnya aku mengikuti perintahnya untuk naik ke mobil dan pulang bersamanya. Tak lama suara mesin mobil terdengar. Namun entah mengapa mobil tidak langsung jalan. Aku hanya diam tidak berani bertanya. Tiba-tiba ia mendekat ke arahku. Wajah kami bertatapan. Aku pun memejamkan mataku, Lalu terdengar bunyi Klik… “Seatbelt nya belum dipakai. Makanya kita belum jalan” katanya sambil menjauh dariku. Aku sangat malu karena berpikir ia akan melakukan hal yang tidak-tidak padaku di dalam mobil. “Jangan keseringan berasumsi sendiri. Belum tentu asumsi kamu benar. Dan gak usah takut. Saya gak akan ngapa-ngapain kamu. Kan menurut asumsi kamu saya bukan laki-laki yang suka perempuan. Jadi santai aja” dan setelahnya mobil pun perlahan meninggalkan tempat kami makan bersama tadi. Aku hanya diam. Tak ingin membalas atau berkomentar apa-apa biarpun aku sangat kesal padanya. Aku hanya berharap jalanan malam ini lancar hingga aku tak usah berlama-lama semobil dengannya. Di lain tempat, di Triangle Bar and Lounge… “Soph, lo yakin itu si Asha gak ngamuk-ngamuk nanti?” tanya Rayyan sedikit khawatir karena mereka sedikit memaksakan agar Asha pulang dengan Damar. “Santai aja. Damar biar mulutnya kalau ngomong suka pedes tapi kalau sama cewek dia gak bakalan macem-macem” jawab Gerry meyakinkan sahabat dari kekasihnya “Mudah-mudahan rencana kita lancar dan berhasil” ucap Sophie yang diamini oleh ketiga orang lainnya. Sementara itu, di dalam mobil Damar. Suasananya sangat tenang. Hanya terdengar alunan lagu dari band Favoritnya, Coldplay. Dan saat ia melihat ke arah Asha ternyata ia tertidur di tengah perjalanan. Untung saja Damar sudah menanyakan di mana Asha tinggal jadi ia tak perlu membangunkannya. Tak lama mereka pun sampai di parkiran apartemen Asha. Namun Asha masih tertidur pulas di mobil Damar. Damar pun coba membangunkannya. “Kita sudah sampai” katanya sambil tangannya masih memegang stir mobil. Asha tak bergeming. Ia masih tertidur. “Bangun. Udah sampai” kata Damar mencoba membangunkan Asha sekali lagi. Asha masih tetap tidak bangun. Ia malah membalikkan punggungnya membelakangi Damar. “Asha, bangun. Kita sudah sampai” Damar mencoba membangunkannya untuk ketiga kalinya sambil menepuk punggung Asha beberapa kali. “Sebentar lagi, Pa” kali ini Asha menjawab. Tapi matanya masih terpejam. “Astaga, malah ngira bokapnya yang bangunin” kata Damar. Ia pun menyerah membangunkan Asha yang seperti sudah semakin pulas tidur di dalam mobilnya. Dan pada akhirnya Damar pun ikut tertidur di sana sambil menunggu Asha bangun dengan sendirinya. Beep… Beep… Beep… Terdengar suara alarm dari ponselku yang menunjukan pukul lima tiga puluh pagi. Dan itu berhasil membangunkan mereka berdua yang tertidur di dalam mobil Damar semalaman. “Astaga, semalaman gue tidur disini?” kata Asha sedikit panik setelah mengetahui ia tidur didalam mobil Damar berdua dengan sang pemilik. Damar pun ikut terbangun mendengar suara dari alarm milik Asha. “Kenapa gak bangunin kalau sudah sampai?” tanya Asha pada Damar. “Saya udah bangunin berkali-kali. Tapi kamu susah banget dibanguninnya. Malah ngira saya Om Arya” kata Damar membela dirinya. Asha melirik ke arah Damar dengan sedikit kesal. Dan ia pun agak terburu-buru membereskan penampilannya sebelum ia keluar dari mobil Damar. “Hei” panggil Damar membuat Asha menengok ke arahnya. “Tidur kamu berisik banget” kata Damar yang membuat Asha malu. Asha pun reflek memukul tangan Damar karena kesal lalu segera turun dari mobil Damar dan berlari memasuki gedung apartemennya. Ia juga lupa mengucapkan terima kasih pada Damar karena sudah mengantarnya pulang. Sementara dari dalam mobil Damar terlihat tertawa karena berhasil menjahili Asha. Dan tak lama setelah Asha menghilang di balik pintu masuk gedung apartemennya, ia pun menyalakan mesin mobilnya untuk kembali ke rumahnya. *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD