Chapter 4

1491 Words
“Lo sudah saling kenal? Dimana?” tanya Rayyan terlihat cukup kaget karena mengetahui aku dan Damar sudah saling kenal. Begitu juga dengan yang lainnya. “Om Arya, Papanya Asha pakai jasa kantor gue buat renovasi rukonya. Kebetulan kemarin Om Arya pas datang ke kantor buat konsultasi ngajak Asha juga. Kita ketemu di sana” dengan tenang Damar menjelaskan perkenalan kami. Mereka semua mengangguk-angguk mengerti dari mana aku dan Damar bisa saling kenal. “Sha, sini” Kata Sophie menyuruhku duduk di sebelah Damar. Aku pun mengikuti perintah Sophie untuk duduk di sebelah Damar dengan perasaan sedikit canggung. “Itu tas siapa?” tanyaku setelah mataku menangkap sebuah tas wanita di kursi kosong antara Sophie dan Rayyan. “Cewek gue lah” jawab Rayyan dengan bangga. “Loh ini?” kataku sambil menunjuk ke arah Damar tanpa sadar. “Sepupu gue dia” jawab Gerry. “kata Shopie gue disuruh ngajak orang lagi biar lo gak jadi nyamuk diantara kita” Kata Gerry menjelaskan sambil sedikit tertawa. Aku melotot ke arah Sophie sedangkan ia hanya cengengesan sambil membentuk tanda damai menggunakan dua jarinya. “Asha, kenalin ini Sandra, pacar gue. Sandra, kenali ini Asha sahabat aku” kata Rayyan memperkenalkan wanita cantik yang baru saja datang. Kami pun saling memperkenalkan diri dan berjabat tangan satu sama lain. Dan setelahnya aku tertawa hingga membuat mereka semua saling memandang satu sama lain karena bingung melihatku tiba-tiba tertawa sendiri. “Sha, kenapa lo?” tanya Rayyan terlihat khawatir. “Sumpah aneh banget lo dari pertama datang tadi” katanya lagi. “Sebelumnya maaf ya, Yan, Damar” setelah aku bisa menenangkan diri. “Awalnya gue kira orang yang mau dikenalin Rayyan itu Damar. Karena Sophie, lo bilang mau ngenalin pacar lo ke kita. Dan pas ditanya yang mana orangnya lo jawabnya ‘yang lagi duduk bareng Sophie’ sedangkan yang gue liat cuma ada Damar yang duduk dan lagi ngobrol sama Sophie tadi. Makanya gue agak panik dan tanya-tanya terus tadi” kataku setelah selesai menjelaskan kesalahpahaman ku sendiri. “Ih, stres lo” ucap Rayyan setelah selesai mendengarkan penjelasanku. Sedangkan yang lainnya malah tertawa mendengarnya. Namun berbeda dengan Damar. Wajahnya datar tidak tersenyum apalagi tertawa. “Do I look like that to you, Asha?” tanyanya datar namun sambil melihat tepat ke arahku. Kami yang tadinya tertawa langsung terdiam setelah mendengar pertanyaan dari Damar tadi. Aku merasa bersalah dan tak enak pada Damar. “Enggak. Makanya gue sempat kaget dan gak nyangka. Tapi untungnya pikiran gue salah. Maaf ya, Damar” kataku sungguh-sungguh tak enak padanya. Setelah aku meminta maaf ia bangun dari kursinya. “Mau kemana?” tanya Gerry pada sepupunya itu. “Toilet” jawabnya singkat. “Ger, itu beneran sepupu lo?” tanyaku setelah Damar pergi menjauh. Gerry tertawa mendengar pertanyaanku “He was a nice person. But something bad happened. So, this is how he is. Jangan terlalu diambil hati ya” kata Gerry menjelaskan padaku. “Tapi tadi waktu gue liat dia ngobrol sama Sophie kayaknya asik-asik aja. Gak ada masalah” ucapku. “Kesal kali sama lo karena disangka pacarnya Rayyan” ujar Sophie sambil tertawa. “Gue kalau jadi Damar juga kesel sih. Baru juga kenal udah disangka yang enggak-enggak” ucap Rayyan menambahkan. Tak lama setelah Damar kembali, makanan pun disajikan dan suasana mulai mencair. Tetapi aku masih merasa tak enak hati pada Damar karena selama makan malam ia tak banyak berinteraksi denganku. Namun dengan yang lainnya ia bersikap biasa saja. Jadi aku memilih diam dan menikmati makan malamku. Setelah selesai makan malam Sophie, Gerry, Rayyan dan Sandra masih ingin meneruskan perbincangan mereka dan berencana untuk pindah ke bar. Sedangkan aku berencana pulang karena ada praktek jam delapan pagi di rumah sakit. “Gue balik duluan ya. Besok gue di rumah sakit praktek pagi” ucapku sambil merapikan tas. “Naik apa?” tanya Sandra. “Taksi online paling” jawabku sambil membuka ponsel. “Bareng Damar aja, Sha. Dia juga mau balik kok” usul Sophie tiba-tiba. Damar melirik cepat ke arah Sophie. Tatapannya menyiratkan sepertinya ia tak setuju dengan usul Sophie. “Gak usah. Gue naik taksi aja” tolakku cepat. “Udah gak papa. Sekalian. Searah juga kan lo pulangnya” kata Gerry menambahkan. Damar hanya diam. Tidak menolak, juga tidak menyetujui untuk memberikan tumpangan padaku. Aku jadi merasa semakin tak enak. “Gak papa. Kalau gak mau gak usah dipaksa. Gak enak gue” kataku sambil berbisik pada Sophie. “Mar, keberatan gak kalau Asha ikut mobil lo?” tanya Sophie tiba-tiba pada Damar. “Kata siapa?” kali ini Damar bertanya balik pada Sophie namun matanya melihat ke arahku. Sophie menunjukku dengan dagunya. Aku makin merasa tak enak. “Lo suka ambil kesimpulan sendiri ya?” tanya Damar padaku. Aku terdiam. Antara kesal dan tak enak. Kalau memang dia keberatan, harusnya ia tolak saja permintaan teman-temanku untuk mengantarku pulang. “Ayo” katanya sambil berdiri dan mengambil kunci mobilnya. “Udah sana nanti kemalaman” kata Rayyan. “Gue pamit dulu ya” kataku berpamitan pada yang lainnya. “Iya. Hati-hati” jawab Sophie dan Sandra hampir berbarengan. Sedangkan Gerry dan Rayyan melambaikan tangan pada kami. Aku mengikuti Damar sampai ke mobilnya. “Mar, gue balik naik taksi aja gak papa” kataku karena masih merasa tak enak dan kesal padanya. “Naik” katanya sambil membukakan pintu mobilnya untukku. “Naik, Asha” katanya lagi karena aku masih diam. Akhirnya aku mengikuti perintahnya untuk naik ke mobil dan pulang bersamanya. Tak lama suara mesin mobil terdengar. Namun entah mengapa mobil tidak langsung jalan. Aku hanya diam tidak berani bertanya. Tiba-tiba ia mendekat ke arahku. Wajahnya mendekat begitu cepat. Membuat jantungku berdebar. Karena reflek aku pun memejamkan mata. Klik… Terdengar dengan jelas suara sabuk pengaman terkunci. “Seatbelt nya belum dipakai” katanya sambil menjauh dariku. Aku sangat malu karena berpikir ia akan melakukan hal yang tidak-tidak padaku di dalam mobil. “SSatu lagi, jangan terlalu seringan berasumsi sendiri. Belum tentu asumsi kamu benar. Dan gak usah takut. Saya gak akan ngapa-ngapain kamu. Karena menurut asumsi kamu saya bukan laki-laki yang suka perempuan. Jadi santai aja” lalu setelah ia mengucapkan itu mobil pun mulai berjalan perlahan meninggalkan tempat kami makan bersama tadi. Aku hanya diam. Tak ingin membalas atau berkomentar apa-apa walaupun aku sangat kesal padanya. Aku hanya berharap jalanan malam ini lancar hingga aku tak usah berlama-lama semobil dengannya. Di lain tempat, di Triangle Bar and Lounge… “Soph, lo yakin itu si Asha gak ngamuk-ngamuk nanti?” tanya Rayyan sedikit khawatir karena mereka sedikit memaksakan agar Asha pulang dengan Damar. “Santai aja. Damar biar mulutnya kalau ngomong suka pedes tapi kalau sama cewek dia gak bakalan macem-macem” jawab Gerry meyakinkan sahabat dari kekasihnya “Mudah-mudahan rencana kita lancar dan berhasil” ucap Sophie yang diamini oleh ketiga orang lainnya. Sementara itu, di dalam mobil Damar. Suasananya sangat tenang. Hanya terdengar alunan lagu dari band Favoritnya, Coldplay. Kelopak mataku terasa berat dan perlahan namun pasti aku terlelap dikursi penumpang Tak lama kami pun sampai di area kompleks apartemenku. “Kita sudah sampai” katanya sambil tangannya masih memegang stir mobil. Aku diam saja dan tidak meresponnya. “Bangun. Udah sampai” kata Damar mencoba membangunkankuku sekali lagi. Aku membalikkan tubuh membelakangi Damar. “Asha, bangun. Kita sudah sampai” kata Damar mencoba membangunkanku untuk yang ketiga kalinya sambil menepuk lembut tanganku beberapa kali. “Sebentar lagi, Pa” gumamku dengan mata yang masih rapat terpejam. “Astaga, malah dikira bapaknya yang bangunin” kata Damar sambil mengusap wajahnya. Akhirnya Damar pun menyerah membangunkanku yang seperti sudah semakin pulas tidur di dalam mobil. Ia mematikan mesin mobil dan menungguku untuk bangun dengan sendirinya. Karena malam semakin larut, tanpa sadar Damar pun ikut tertidur di kursi kemudi. Beep… Beep… Beep… Terdengar suara alarm dari ponselku yang menunjukan pukul lima tiga puluh pagi. Dan itu berhasil membangunkan kami yang tertidur di dalam mobil Damar semalaman. “Astaga, semalaman gue tidur disini?” katakuku panik setelah menyadari kalau aku tidur berdua dengan Damar di dalam mobilnya. Damar pun ikut terbangun mendengar suara dari alarm dari ponselku.dari ponselku “Kenapa gak bangunin kalau sudah sampai?” tanyaku yang masih setengah sadar.ku pada Damar “Saya udah bangunin berkali-kali. Tapi kamu susah banget dibanguninnya. Malah ngira saya Om Arya” jawab Damar sambil membela diri. Aku melirik kesal ke arah Damar. Dengan terburu-buru aku merapikan rambut dan pakaianku lalu membuka pintu mobil dan hendak keluar. “Hei” panggil Damar membuatku menoleh lagi ke arahnya. “Tidur kamu berisik banget” kata Damar yang membuat wajahku memerah wajahku memerah. Refleks aku memukul tangannya karena kesal lalu segera turun dari mobil dan berlari memasuki gedung apartemen. Sampai-sampai aku lupa mengucapkan terima kasih pada Damar yang mengantarkan aku pulang. Sementara di dalam mobil, Damar terlihat tertawa karena berhasil menjahiliku. Setelah aku benar-benar tidak terlihat, ia mulai menyalakan mesin mobilnya dan perlahan meninggalkan kompleks apartemenku dengan senyum yang tak kunjung hilang dari wajahnya sepanjang perjalanan pulang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD