Jam digital di dashboard mobil menunjukkan pukul 10 malam saat aku memasuki pekarangan rumah. Rasanya lelah sekali. Lelah fisik dan batin. Fisik karena aku harus berkendara pulang pergi Jakarta – Puncak. Lelah batin karena tidak tega melihat Alya terbaring lemah dengan mata terpejam karena pengaruh obat bius yang di berikan dokter sesaat setelah kami sampai di rumah sakit Bethsaida, Tangerang.
Ya, ternyata Alya tidak di rawat di rumah sakit di Jakarta karena –tentu saja- orangtua nya tinggal di Tangerang. Dan sekarang aku harus di ‘sidang’ karena salah menggunakan mobil untuk pergi ke puncak tadi. Lagipula aku kan terburu-buru, jadi tidak sempat berfikir mengenai mobil mana yang harus ku gunakan.
Ayah dan Bunda sudah duduk di sofa ruang tv –menunggu ku pulang- sambil menonton film yang tidak ku tahu apa judulnya. Yang sekarang aku inginkan hanya tidur dan segera bangun keesokan paginya untuk menengok Alya. Dia hanya sempat sadar setengah jam saat sampai kemudian merintih kesakitan pada bagian kakinya sehingga terpaksa dokter memberikan obat tidur padanya.
“darimana jam segini baru pulang?” tanya ayah tanpa perlu mengalihkan perhatiannya pada layar televisi. Aku dan Karen kompak duduk di sofa, kemudian bersandar dan memejamkan mata.
“lalu kayaknya kamu salah pakai mobil ya, dav” tambah ayah lagi.
Aku menghela nafas dan membuka mata. menatap ayah dan bunda yang duduk di sampingku. “maaf yah, buru-buru banget. Tadi tuh Alya jatuh di bukit di puncak mangkanya aku buru-buru pergi. Pulang malem karena ke Tangerang dulu soalnya Alya minta di inap-in dirumah sakit deket rumahnya” jelasku.
Bunda mengangguk-anggukan kepalanya. “iya bunda tau. Udah baca status bbm dari bu Dewi” sahut bunda membuat Karen terkekeh.
Bunda tidak seperti ibu-ibu tua kebanyakan. Karena bunda adalah wanita sadar teknologi dan juga sedikit hedon menurutku. Seminggu, bisa terhitung empat kali bunda pergi bersama teman-temannya mungkin ke mall, kulineran, sampai pergi keluar kota naik kereta. Ayah hanya bisa menggelengkan kepala saja melihat tingkah bunda.
Namun begini lebih baik. Daripada bunda harus berdiam diri dirumah menunggu ayah atau Karen pulang kerja. Ayah malah takut bunda menjadi stres. Jadi selama kegiatan bunda positif ayah tidak akan melarang. Lagipula selama ini bunda pergi menggunakan supir yang ayah pekerjakan jadi tidak ada alasan bagi ayah untuk tidak mempercayai bunda.
Apalagi mengingat aku sudah tidak tinggal dirumah, dan Karen sebentar lagi akan menikah dan tentu saja setelah menikah dia akan tinggal bersama suaminya. Pasti bunda akan merasa lebih kesepian dari sebelumnya.
Ayah melepas kaca matanya dan menganggukan kepalanya. “lagi, salah ayah juga pakai mobil aku gak bilang-bilang.”
“udah jangan berantem. Lagian bunda tau kok ayah beliin bunda mobil. Gak tau ada angin apa ayah sampai beliin mobil sedan” kata bunda.
Aku menganggukan kepala. Keluarga ku tidak begitu menyukai mobil sedan. Terbukti dari mobil yang ada di garasi. Hanya ada SUV dan Minibus. Bahkan Karen meminta mobil sedan coupe Audi hadiah ulang tahun ke-22 diganti SUV dengan merek yang sama. Ayah menggunakan SUV lexus, aku menggunakan Range Rover dan bunda menggunakan Pajero sport. Juga ada Alphard sebagai mobil keluarga.
See? Tidak ada mobil sedan di dalam garasi rumahku. Sepertinya ada yang salah dengan para wanita dirumahku.
“biar kaya ibu-ibu pejabat, bun” sahut Ayah sambil tertawa.
“bunda kan pake kerudung, yah. masa mau disamain sama ibu pejabat yang kondenya setinggi monas sih” gerutu bunda.
Percakapan absurd dimalam hari.
“besok bunda mau jenguk Alya?” tanya Karen mengalihkan topik pembicaraan.
Bunda menganggukan kepalanya. “iya, lagian bunda udah lama gak ketemu mantu” sahut bunda cuek.
“Emang beneran bakal jadi mantu bun?” tanya Karen. “nikahnya aja belum jelas kapan” tambahnya.
Apa maksudnya, nih?
Bunda dan ayah kompak menganggukan kepalanya. “iya. Kapan kamu nikahin Alya, dav?” tanya Ayah.
Kapan ya? bahkan aku tidak berfikiran sampai kesana. Apa itu artinya aku memang tidak ada niatan untuk menikahi Alya?
Ku gelengkan kepala. “gak tau, yah” jawabku jujur.
Tanpa aba-aba ayah langsung melempar koran ke padaku. “kamu nih gimana. Niat gak sih nikahin Alya?!”
“kalo gak niat putusin aja” tambah Karen ikut memojokkan ku. “eh emang pernah jadian?” tambahnya sembari tersenyum mengejek padaku.
Seperti disiram air es. Itulah yang aku rasakan sekarang. Bodoh! Bahkan aku tidak pernah mengajak Alya untuk berpacaran, atau bahkan melamar dia secara resmi. Benar-benar melamarnya, hanya antara aku dan dia. Selama ini aku dan Alya bertunangan karena keinginan bunda, bukan karena keinginan ku.
“kenapa, mas? Nyesel ya tunangan sama Alya? Ck, kasian Alya dimainin sama kamu” ujar Karen dengan nada mengejek.
“bener dav kamu nyesel? Kamu gak sayang gitu sama Alya?” tanya bunda sembari memperhatikanku.
Jangankan bunda, aku saja ikut mempertanyakan hal itu pada hatiku, bun. Apa aku gak sayang Alya? Kalaupun aku sayang padanya, apa itu sayang sebagai adik, sahabat atau bahkan lebih dari itu semua?
“davin, davin. Udah tua masih galau. Cepet tentuin perasaan kamu. Jangan sampai nyesel” kata Ayah. “yuk bun tidur. Udah malem. Kalian juga tidur. Besok kerja kan” seru ayah kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan ke lantai 2 bersama bunda dimana kamar mereka berada.
“kamu yakinin dulu perasaan kamu, mas. Setelah itu lamar dia lagi. kali ini yang romantis kaya di filem-filem. Mungkin aja kemarin dia nerima kamu karena gak enak sama bunda, padahal mungkin dia lagi naksir sama cowok lain, iya gak?” seru Karen tanpa perasaan kemudian berajak menuju kamarnya.
-----------------
Sudah tiga minggu sejak kejadian Alya jatuh di bukit, aku jarang bertemu dengannya. Alasannya karena dia masih dalam tahap pemulihan juga dia mengundurkan diri dari kantorku karena pemulihan pada kaki nya yang patah memerlukan waktu yang lumayan lama. Selain itu Alya stay di rumah orangtua nya, which makin jarang saja aku bertemu dengannya. Terlebih perusahaan sedang dalam tahap ‘melebarkan sayap’ membuat seluruh karyawan –termasuk aku- sibuk, jadilah makin sedikit waktu untuk bertemu dengan Alya.
Begitu mendapatkan waktu kosong di hari rabu, langsung saja aku melesat kerumah Alya. Sebenarnya dia yang minta bertemu, entah kenapa. Sebelumnya jarang sekali dia minta bertemu denganku. Semoga tidak akan terjadi apa-apa.
Aku membantu Alya keluar dari mobil dan mengambil kruk dari kursi belakang dan membantunya berjalan memasuki sebuah resto yang masih di dalam kawasan perumahan Alya. Resto minimalis yang khusus menyediakan stik dan pancake ini berdesain minimalist. Kami memilih duduk di sofa pinggir jendela karena hari masih sore.
Alya sedang sibuk membulak-balik buku menu yang diberikan waiters. Sedangkan aku, well, aku sibuk memperhatikan Alya. Entah perasaanku saja atau memang Alya sedikit berbeda. Dia jadi terlihat, ehmm, apa ya, menawan, mungkin. Atau mungkin itu karena efek terusan musim panas berwarna hijau tosca dipadu jaket jeans berwarna gelap yang dia gunakan. Aku tidak tahu.
Seorang waiters menghampiri kami dan menanyakan pesanan kami. Alya segera menyebutkan pesanannya, dan aku meminta Alya untuk memilihkan makanan untukku. Aku bukan tipe pemilih dalam urusan makanan. Makanan apapun pasti aku makan asal bersih, tidak bau, dan halal.
Dia bertopang dagu dan memperhatikan ku lekat-lekat, membuatku salah tingkah dan jantungku berdetak luar biasa cepatnya. “kenapa sih?” tanyaku sedikit risih. Dia hanya tertawa dan menggelengkan kepala.
“aku boleh duduk disamping kamu?” tanyanya yang ku balas dengan anggukan.
Alya segera bangkit dan berjalan tertatih –karena tidak menggunakan kruknya- menuju sofa tempatku duduk. Dia segera duduk dan bersandar. “kamu kenapa deh?” tanyaku super kepo. Sumpah, dia aneh banget. Kaya bukan Alya yang biasanya aku kenal.
“ka, dav” panggil Alya.
“hmm” sahutku.
Dia malah menarik-narik ujung kemeja yang aku gunakan. Akhirnya aku itu bersandar sepertinya dan menghadapnya. “kenapa?” tanyaku.
“sherly tuh mantan pacar kamu?” Alya balik bertanya membuatku kaget.
Belum sempat aku menjawab, seorang waiters datang membawakan pesanan kami. setelah dia pergi, aku kembali menatapnya. Aku menelan ludah dengan susah payah. Karena bohong bukan salah satu nama tengahku, akhirnya aku memilih menganggukan kepala. Jujur saja. Toh Sherly hanya masa lalu. “kenapa memangnya?”
Alya mengangkat bahunya, matanya menatap lurus ke depan. Aku mencoba menetralisirkan diriku dengan minum peach ice tea yang dipesankan Alya tadi. “dia kerumah hari sabtu lalu” katanya sukses membuatku hampir menyemburkan minuman itu kembali ke dalam gelas.
Dengan susah payah aku menelan minuman itu dengan sedikit sakit karena aku yakin ada sebagian minuman itu yang masuk ke saluran pernafasanku. “ngapain dia kerumah kamu? Darimana dia tahu rumah kamu?” tanyaku bertubi-tubi.
Gila si Sherly. Ngapain coba dia datang ke rumah Alya. Awas saja kalau dia macam-macam dengan Alya.
“aku gak tau dia tau rumahku dari mana. Coba nanti kamu tanya sendiri. Dia juga sempet jenguk aku di rumah sakit juga kok” katanya sukses membuatku syok.
“kenapa kamu gak pernah bilang? Kenapa baru bilang sekarang?” tanyaku sedikit marah.
“kok kamu jadi marah sih, kak?” tanya Alya sambil mengernyit menatapku.
Aku menghela nafas dan memejamkan mataku sembari bersandar pada sofa, menetralkan detak jantungku. “aku minta maaf” kataku saat membuka mata.
“jadi, ngapain dia ke rumah kamu? Dia gak macem-macem kan?” tanyaku curiga.
Dia menggelengkan kepalanya. Alya sepertinya akan membuka mulutnya ketika bunyi pesan line berbunyi. Dia segera mengambil handphone nya diatas meja, mengetik entah sesuatu dan kembali menatapku, setelah sebelumnya meletakan handphone nya kembali. “dia dateng Cuma buat cerita gimana kalian dulu pacaran. Gak jelas, gak penting. Aku bilang aja dia freak trus aku langsung ninggalin dia di teras rumah” jawabnya membuatku kaget.
“tapi sebelum aku benar-benar tutup pintu rumah. Dia bilang aku Cuma pelarian kamu dari dia aja. Dia juga bilang kamu terpaksa ngelamar aku karena di paksa bunda kamu.” Tambahnya. “aku percaya waktu kamu bilang dia drama queen, karena emang dia terlihat seperti itu. Dan aku gak mau percaya kata-katanya. But, can i ask you something?”
Aku diam saat melihat Alya terlihat kesulitan untuk mengungkapkan apa yang ada di fikirkannya. Wajahnya terlihat ragu, seperti bingung ingin mengungkapkan kata-kata itu atau tidak. firasatku tidak enak. Ku gigit bibir bawahku.
Jangan sekarang ya Allah, jangan sekarang –
“do you love me?”
Ugh, sial. Firasatku menjadi kenyataan. Pertanyaan itu. Bagaimana aku harus menjawabnya kalau bahkan aku tidak tahu jawabannya.
“aku siap untuk semua jawaban kamu, kak. Maksudku, kalau memang ehmmm, you know- kita gak perlu nerusin hubungan ini. Mabye friendship is good for us” katanya membuat jantungku seperti jatuh ke perut.
Apa dia bilang? TEMAN???
Aku tidak mau berteman dengannya. Aku tidak mau dia jauh-jauh dariku. Tapi aku juga belum merasakan cinta untuknya. Ya Allah aku harus gimana, jeritku dalam hati.
Aku menatap Alya. Wajahnya terlihat biasa saja, namun ada kilat kesedihan di matanya. You i***t, dav! Mana ada perempuan yang gak sedih kalau tunangannya gak cinta sama dia? Dasar b**o! Walaupun dia mungkin gak cinta sama lo, tapi kan lo yang ngelamar dia. So, seharusnya lo cinta dong sama dia. Kalo ngga, buat apa lo lamar dia, i***t?!
Karena paksaan bunda, otakku menjawab.
“kalau kamu, gimana perasaan kamu sama aku?” tanyaku dengan pelan setelah keheningan panjang diantara kami.
“kamu mau jawaban jujur atau bohong?”
“the truth, of course.”
Dia terlihat menarik nafas panjang dan menghembuskannya. Entah kenapa aku yakin jawabannya akan membuat ku tidak akan bisa tidur selama berminggu-minggu kedepan. “aku suka kamu. Aku sayang kamu. Pertamanya aku kira aku sayang kamu seperti Windy sayang kamu. Tapi ternyata beda. Aku pernah rasain ini sebelumnya, saat aku deket sama cowok yang sekarang udah jadi mantan pacar aku” jelasnya dengan satu tarikan nafas.
Aku bahkan tidak sadar selama dia berbicara aku menahan nafasku. Oh God, ini gila. Alya mencintaiku!!!! Rasanya ada sesuatu yang meledak dalam perutku dan membuatku merasa amat sangat bahagia. Aku bahkan tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum lebar.
Mataku menangkap senyum Alya. Tapi aku yakin senyum yang Alya berikan berbeda dengan senyum yang biasanya dia berikan padaku. senyumnya terlihat seperti senyum untuk menutupi sesuatu. Senyum yang bergabung dengan kesedihan.
Seharusnya aku memberi reward dengan membalas perasaannya karena sebagai perempuan, pasti malu sekali menyatakan perasaannya pada seorang pria dan dia pasti sudah menekan harga dirinya dengan menyatakan perasaannya padaku. Tapi aku tidak bisa berbohong karena memang benar aku belum merasakan perasaan itu.
Oh ya ampun, bagaimana mungkin aku belum mencintai Alya? Sepertinya ada yang salah denganku.
Dia menggigit bibirnya. “ku tebak kamu tidak memiliki perasaan yang sama denganku” ucapannya terdengar seperti pernyataan daripada pertanyaan.
Aku menarik tangan Alya saat dia hendak bangkit dari kursi. Mau kemana coba? Pergi? Apa dia sudah terkontaminasi penyakit drama queen-nya Sherly?
“aku mau pulang. Sekalian mau kasih kamu waktu buat berfikir gimana kita kedepannya. Aku harap gimana pun nanti, kita gak akan putus komunikasi. Biar gimanapun kamu saudara Windy yang juga teman dekat aku” serunya sambil tersenyum.
Dengan perlahan Alya melepaskan jemariku dari lengannya. Dia berjalan menarik kruknya dan keluar dari area resto. Bodohnya aku masih diam, termenung duduk di sofa. Benar-benar seperti lelaki i***t dan pengecut. Membiarkan perempuan –yang ayahnya sudah memberikanku tanggung jawab untuk menjaganya- pulang sendiri ke rumahnya dan bahkan belum bisa berjalan dengan benar dan masih di bantu kruk.
Lebih sialnya lagi, tiba-tiba resto ini memutarkan lagu Marry Me yang di populerkan oleh Jason Derulo. Seakan-akan nasib pun ikut memojokanku dan berkonspirasi bersama Alya untuk membuatku menyesal karena belum mencintainya.