Bagian 9

1547 Words
Sedari tadi aku sibuk memecet tombol pada remote televisi di ruang keluarga rumah orangtua ku. Aku sungguh bosan sekali. Selain sibu memainkan remote televisi, mataku juga sibuk melirik handphone yang berada di sampingku. Tidak ada notifikasi, baik sms, telepon, bbm, line, w******p dari orang yang aku tunggu sedari tadi.             “kasian ditinggal jalan” suara Karen menghampiri telingaku diikuti dengan gerakan pada sofa yang aku duduki.             “diem deh” dengusku kesal.             Karen cekikikan di sampingku. “main sama aku aja, yuk?” ajak Karen tiba-tiba.             Aku mendelik padanya. “jadi obat nyamuk? No, thanks”sahutku.             Karen tertawa lagi. Heran aku. Punya saudara perempuan kok gak ada yang bener. Giliran punya saudara lelaki, malah merantau ke benua lain.             “oiya, minggu depan fitting baju ya” kata Karen mengalihkan topik pembicaraan.             “ajak Alya?”             Kini, giliran Karen yang mendengus. “iyalah. Emang kamu mau ajak siapa lagi? Sherly?”             Aku meliriknya sekilas dan kembali menatap layar televisi.             Sherly adalah teman main Karen saat di universitas dulu. Tepatnya, Sherly adalah senior Karen dalam club modeling yang dia ikuti. Sayangnya Karen hanya aktif di dunia modeling saat kuliah saja. Begitu lulus, dia malah keluar dari dunia itu. Sayang sekali.             “kamu belum dikabarin sama Alya?”             Ku gelengkan kepalaku. “pas dia gak sama temennya aja aku gak pernah dikabarin. Apalagi dia lagi asik sama temennya dek” kataku melas.             Iya emang. Kasian banget nasib ku.             Karen tertawa. “oh lagi asik penjajakan kali ya sama si... siapa namanya? Raka ya?” Karen tertawa lagi.             Aku jadi kefikiran. Mungkin aja Karen benar. Mungkin sekarang Alya lagi asik berduaan dengan Raka. Apalagi di puncak dingin, gak menutup kemungkinan mereka malah asik peluk-pelukan.             Alya hanya mengabari ku semalam. Saat dia sudah berada di puncak. Di salah satu Villa keluarga milik temannya. Setelah itu kami hanya bertukar pesan beberapa kali dan aku meneleponnya tengah malam. Sesudahnya tidak ada kontak lagi antara aku dengannya.             Wajar sih kalau dia tidak memegang handphone selama disana. Karena aku yakin dia ingin benar-benar memiliki quality time bersama teman-temannya. Kalau aku jadi dia, pasti aku akan melakukan hal yang sama.             Sepertinya.             Tapi sepertinya hal itu tidak akan terjadi lagi. mengingat otakku selalu berputar tidak jauh dari nama Alya, wajah Alya bahkan nomer handphonenya pun berputar-putar dikepalaku.             Mengerikan.             “mas, kok bengong. Itu ada telepon” suara Karen mengembalikan ku dari khayalan. Aku segera melirik handphone dan melihat nama Windy tertera pada layar handphone ku.             Duh, males banget sih Windy telepon. Paling gak jauh-jauh dari ngecengin aku.             Dengan malas-malasan aku mengangkat telepon dari dudukan sofa dan mengamitnya diantara telingaku dan bahuku. “ya, kenapa win?”               “mas ayo ke puncak sekarang!”             Ku putar bola mata saat mendengar jeritan Windy di ujung sana. Sudah sore baru ngajak ke puncak. “niat banget sih, win sampe sore-sore gini ngajak kepuncak” sahutku sinis.             “Alya jatuh dari bukit sekarang ada dirumah sakit umum cipanas. Aku udah otw rumah kamu. Tunggu aku ya.”             Klik.             Telepon terputus. Otakku masih sibuk mencerna ucapan Windy.               Apa tadi dia bilang? Mau ke rumah? Rumah sakit cipanas? Alya jatuh?             Saat itu juga ku rasakan pupil mataku membesar diikuti dengan jantungku yang memompa darah dengan sangat cepat. Aku langsung meloncat dari sofa dan berlari menuju kamar ku di lantai 2.                        “mas, kenapa?” teriak Karen yang ku yakin masih duduk di sofa ruang tv.             “Alya jatuh dari bukit. Sekarang ada dirumah sakit di cipanas” sahutku ikut berteriak seiring dengan aku yang menutup pintu kamar dengan sedikit bantingan.             Yang ada di otakku saat ini adalah, bergerak secepat mungkin. Mengganti baju, celana, ambil dompet dari nakas, handphone dan berlari menuju mobilku yang sialnya ternyata sedang di gunakan ayah dan bunda pergi.             “aduh. Karen kunci mobil ayah mana?” tanyaku setengah berteriak sambil kembali masuk ke dalam rumah.             “di lemari biasa simpan kunci mobil, mas” sahut Karen.             Dengan asal ku tarik kunci apa saja yang ada di lemari penyimpanan kunci dan segera menuju garasi. Ku nyalakan alarm agar mengetahui kunci mobil yang mana yang sedang ku pegang.             Bunyi ‘bip’ pada sebuah sedan berwarna hitam keluaran BMW berbunyi. Tanpa berfikir panjang aku segera masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesinnya. Aku baru saja akan menjalakan mobil ketika bunyi pintu terbuka dari samping ku dan belakang menghentikanku.             Karen dan Windy sudah duduk dengan manis di dalam mobil. Aku segera menjalankan mobil keluar dari kompleks rumahku.             ----------------             Kami sampai di rumah sakit umum daerah cipanas pukul 5 sore. ya, salahkan buka-tutup jalur puncak. Apalagi saat aku sampai ternyata jalur naik sedang ditutup. Aku sampai membayar polisi untuk mengiringiku masuk ke puncak.             Sekali-sekali tidak apa-apa kan memanfaatkan uang dengan cara seperti ini.             Aku, Karen dan Windy berjalan tergesa-gesa menuju IGD setelah Windy mendapat kabar dari Revan dimana Alya berada.             Begitu kami sampai, teman-teman Alya sedang berkumpul di ruang tunggu. “masuk aja. ada orangtua nya di dalem” kata Revan sebelum aku sempat bertanya.             “kok gak di pindahin ke ruang rawat?” tanya Karen heran.             “Alya gak mau nginep disini. Jadi nanti mau di bawa ke jakarta” sahut Revan.             “dia gak apa-apa?” tanyaku sebelum masuk.             Dari sudut mata kulihat mereka saling melirik satu sama lain. “Alya di bawa pakai ambulance” jawab Nuri dengan lirih. Sepertinya dia kelelahan menangis.             Aku segera masuk ke dalam IGD yang sedikit ramai. Sepertinya memang sedang ada kecelakaan karena ku lihat cukup banyak pasien di IGD. Kulihat om Irvan keluar dari sebuah tirai. Beliau tersenyum padaku dan menghampiriku.             “om ngurus administrasi dulu ya” katanya sembari menepuk bahuku yang hanya ku jawab dengan anggukan.             Setelahnya, aku menghampiri tempat dimana om Irvan dari berada. Ku geser sedikit tirai dan menemukan tante Dewi yang duduk di kursi di samping brankar rumah sakit. kemudian ku tarik mataku untuk menatap seseorang yang sedang terbaring di sana.             Itu Alya. Wajahnya terlihat pucat dengan selang oksigen menempel pada hidungnya. Matanya terpejam. Sepertinya dia tertidur. Aku berjalan pelan menghampirinya dan mengelus pelan puncak kepalanya. Ada luka-luka gores di leher dan pipi sebelah kirinya. Selebihnya aku tidak tahu, karena tubuh Alya terbungkus selimut putih hingga ke dadanya.             “kok bisa, tante?” tanyaku dengan nafas tercekat.             Tante Dewi menengadah dan tersenyum. “katanya sih mereka lagi makan-makan gitu di warung yang suka jual jagung bakar. Trus tiba-tiba longsor. Mangkanya tadi kamu liat banyak pasien di IGD. Mereka juga korban. Kebetulan Alya sama temen-temennya mau pulang. Tapi kata Rio, Alya balik lagi ke warung itu ada yang ketinggalan. Yaudah deh dia terperosok. Untung gak sampai dalem, jadi bisa segera di tolong” jelas tante Dewi.             Membayangkannya saja membuatku bergiding ngeri. Bagaimana aku melihat langsung kejadian itu, atau menjadi diri Alya aku pasti sudah berteriak histeris.             “kata dokter, Alya dapet luka apa aja?” tanyaku tanpa mengalihkan pandangan dari wajah Alya.                     “luka-luka gores di leher sama kaki. Dia pakai sweater makanya tangannya selamet. Kaki kirinya patah. Dia juga terkena hipotermia karena mungkin di puncak pas itu dingin dan keadaanya emang lagi kurang fit” jawab tante Dewi.             Seharusnya aku melarang dia pergi ke puncak. Tetapi aku malah mengizinkannya. Namun di satu sisi aku tidak ingin menjadi tunangan yang over protektif hingga melarang Alya untuk pergi kemana-mana. Itu malah akan membuatnya terkekang dan mungkin dia malah pergi meninggalkanku.             Suara gorden di tarik membuatku tersentak dan berbalik. Seorang suster wanita dan dokter pria menghampiri kami. Dokter tersebut kemudian memeriksa Alya, sedangkan suster nya memeriksa tekanan darah Alya.             “untuk sementara kakinya tidak boleh di tekuk terlebih dahulu, ya. Kondisi pasien masih kurang baik, sehingga saya sarankan untuk memindahkan pasien menggunakan ambulance karena ada fasilitas oksigen yang di perlukan pasien selama pemindahan berlangsung” jelas dokter itu kepada kami.             Tante Dewi dan Om Irvan yang baru saja kembali setelah menyelesaikan administrasi menganggukan kepala. “kapan bisa di pindahkan? Dia tidak bisa tidur dengan tenang” tanya tante Dewi.             “sekarang pun sudah bisa. Saya akan menulis surat rujukan untuk pasien. Saya permisi dulu” dokter dan suster itu pun pergi meninggalkan kami.             Setelah menunggu hampir setengah jam, brankar yang di gunakan Alya pun di dorong oleh dua suster laki-laki menuju pintu keluar IGD. Sudah ada mobil Ambulance di depan pintu tersebut.             Tante Dewi, Nuri dan Amel ikut ke dalam Ambulance sedangkan teman-teman Alya yang lain kembali ke mobil yang mereka bawa untuk kembali ke Vila dan membawa barang-barang mereka untuk kembali ke jakarta.             Aku segera menghampiri mobil ku yang sudah di bawa Karen mendekat padaku. Karen segera berpindah duduk, sedangkanya Windy sudah duduk dengan manis di kursi belakang.             Keheningan terjadi didalam mobil. Kami terlalu syok dan tidak menyangka atas apa yang terjadi dengan Alya. Dia terlihat sangat lemah saat tadi aku melihat nya dimasukan ke dalam mobil ambulance.             “kurang gede mas milih mobilnya” ujar Windy memecah kesunyian saat kami sudah memasuki tol beriringan dengan mobil om Irvan dan mobil ambulance.             Iya, ini mobil memang terlihat besar, tidak seperti mobil sedan lainnya. Bahkan tadi susah sekali untuk menyalip karena mobilnya berukuran besar. “gak tau ini mobil siapa. Aku asal ambil kunci aja tadi” sahutku tanpa menghilangkan fokus dari jalanan.             “ayah pasti murka. Mobil hadiah buat ulangtahun bunda udah kamu pake” komentar Karen dengan datar membuatku sedikit terpaku.             Belum sempat aku menyahuti Karen, ponselku berbunyi dan tertera nama Ayah di layarnya.             Bagimana aku bisa lupa.             Oh, sial.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD