Bagian 8

668 Words
"aku tau kamu pasti mau cari alasan buat menghindar dari aku kan, dav?" tanya Sherly sambil tersenyum. Sebelum aku sempat menjawab, Windy tau-tau memotong ucapanku, "mas, aku ke tempat Alya dulu ya, daa" Windy langsung melesat keluar. Kurang ajar. Awas kamu Windy!!! "aku boleh duduk?" aku hampir melupakan Sherly yang ada di hadapanku. Ku anggukan kepala dan dia duduk di salah satu sofa panjang berwarna hitam yang tersedia diruanganku. Melihat wajah Sherly seperti menamparku ke masa lalu. Wajahnya keturunan Chinese. Dan tebak, ternyata kami memiliki kepercayaan yang beda. Itulah kenapa Bunda sempat mengamuk waktu mengetahui siapa kekasihku waktu itu. Sebetulnya aku tidak terlalu memikirkan masalah kepercayaan, pada awalnya. Karena aku rasa kami masih baru untuk suatu hubungan. Tapi nyatanya Bunda dan Ayah sangat menentang hubungan kami hingga kami sempat melakukan backstreet hingga akhir kepindahanku ke London. Dilihat dari segi gayanya, Sherly adalah tipe wanita yang sopan cara berpakaiannya. Tapi dari segi sikap, banyak poin negatifnya. "kok, diem aja dav?" suara Sherly mengagetkanku. Aku berdeham. "ada apa kamu kesini , sher?" tanyaku akhirnya. Sherly tersenyum. "kangen aja sama kamu" jawabnya singkat. Sumpah, aku benar-benar bingung bagaimana harus mengusir Sherly secara halus. Ini sudah masuk jam makan siang dan aku ingin segera menelepon Alya untuk mengajaknya makan siang bareng. Suara dering handphone menyelamatkan ku. aku segera beranjak dari sofa dan mengangkat siapapun penelepon ini. "hallo." "mas, makan siang bareng. Sekarang. Aku, mas Farhan sama Alya nunggu di lobi ya. bay." Klik. Telepon terputus. Kurang Ajar emang si Windy. Kayaknya dia harus segera mendapatkan pelajaran sopan santun secepatnya. "sher, maaf banget. Aku diajak makan siang, nih" kataku sembari menghampiri sofa. "aku boleh ikut?" tanyanya tanpa perlu mengetahui siapa yang mengajakku makan siang. Oh, Crap! ------------------ "kamu ngapain ngajak Sherly, sih?" jerit Windy tepat di telingaku setelah sebelumnya dia menarikku agak menjauh dari Farhan, Alya dan Sherly. "win, kamu belajar sopan santun gak sih?" tanyaku galak. "Sherly tau-tau minta ikut gitu aja. Aku bisa bilang apa?!" "kamu kan bisa nolak. Bilang acara makan siang sama klien, kek." "mana ada klien yang telepon lewat nomer pribadi aku sih, win. Udah deh biarin aja. semoga aja abis ini dia kapok datengin aku lagi." Windy menggelengkan kepalanya. "gak bakal. Aku marah sama, mas" serunya dan berjalan cepat menghampiri Alya, lalu menarik nya untuk berjalan lebih cepat. Dasar perempuan. Hobi banget ngambek. "master banget nih, ngajak makan mantan sedangkan udah jelas ada tunangannya disini" komentar Farhan setengah berbisik. Aku mendelik kesal padanya. "diem deh. Gak lo, gak Windy sama aja kelakuan" gerutuku yang hanya disambut kekehan pelan dari Farhan. --------------------- Kami tiba di sebuah restoran jepang di dalam Pasific Place yang kebetulan memang dekat sekali dengan kantorku. Hanya berjalan kaki 5 menit. Tidak pernah seumur hidupku mengalami keadaan canggung seperti ini. Windy sibuk ngobrol dengan Alya -menganggap aku tidak ada- sedangkan Farhan sibuk dengan ponselnya. pasti bermain Get Rich. Dasar. "ka, minggu ini aku pulang ke tangerang ya" tiba-tiba Alya mengajakku berbicara. Terima kasih Tuhan. "kenapa?" tanyaku. Kita gak bisa malem mingguan dong, Al, seruku dalam hati. Alya memasukan ponselnya kedalam tas, saat waiters datang dan meletakan pesanan kami diatas meja. "mau main sama anak-anak. Pada kangen katanya" jawabnya cuek. "oh, Revan cs itu ya? Raka juga ada kan?" tanya Farhan tau-tau ikut berbicara sambil melirik padaku yang hanya dijawab Alya dengan anggukan. Matanya sudah berfokus pada sushi yang ada di hadapannya. Maksudnya apa coba dia ngomong begitu? "yaudah gak apa-apa. emang pergi sama temen-temen kamu hari apa?" tanyaku sembari meracik bumbu untuk sushi. Kecap manis, kecap asin, bubuk cabai. Sip. "hari sabtu, minggu. Katanya sih mau ke puncak nginep gitu" sahut Alya yang sukses membuatku tersedak. "hati-hati dav makannya" tiba-tiba saja Sherly sudah menepuk-nepuk punggungku. Ya, dia duduk tepat di sampingku, sedangkan Alya duduk di depanku. Ku lihat Alya hanya menatap penuh tanya kepada ku dan Sherly hingga akhirnya matanya kembali menatap jejeran sushi di depan nya. "iya. Makasih" jawabku datar dan dapat kulihat Farhan tersenyum mengejek ke arahku dan lirikan maut yang di lemparkan Windy padaku. Sebenarnya yang tunanganku Alya atau Windy, sih? ----------------
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD