Bagian 7

1585 Words
“magang di tempat aku aja ya, al?” pintaku pada Alya.             Kami sekarang sedang melakukan ritual seperti pasangan pada umumnya. Malam mingguan.             Malam ini aku mengajak Alya untuk makan malam di sebuah restoran perancis di plaza senayan. Dari kemarin kami masih dalam tahap berdebat mengenai dimana Alya akan magang. Dia sudah memasuki semester 7 yang artinya, sudah memasuki tahap magang.             Aku tidak ingin Alya jauh dari jangkauanku. Sudah cukup Raka dan Rian yang mencoba mencari perhatiannya. Jangan sampai aku kecolongan lagi dengan merelakan Alya bekerja ditempat yang tidak ada aku-nya.             “emang kenapa harus di tempat kamu?” tanya Alya masih keras kepala.             Dia tidak mau magang di tempatku karena dia gak mau jadi bahan gosip. Alasan sekali. “biar aku bisa jagain kamu, al.”             Alya mengunyah escargot nya dengan membabi buta. Itu pertanda bahwa dia sedang kesal. Lima bulan dekat dengannya membuatku mengenalnya cukup baik. Salah satu kebiasaan nya yang membuatku kesal adalah jarangnya dia memegang hp nya. Menyulitkan ku untuk mengetahui kabar tentangnya.             Menggelikan sekali diriku yang sekarang. Dulu aku sangat benci dengan perempuan yang selalu mengirimi ku pesan atau menelefon. Sekarang malah aku yang tidak bisa tidak mengirim pesan dan menelfon Alya. Dulu aku benci jika pacarku datang ke kantor, kini aku malah meminta Alya untuk bekerja di kantorku.             Kini aku percaya, karma memang ada.             Alya menggigit bibir bawahnya dan tersenyum mencurigakan. “di gaji gak?” tanyanya.             Aku tertawa. “iya deh di gaji. Mau gaji berapa?” tantangku.             “serius emang dikantor kamu digaji kalau magang?” kini Alya menatapku dengan serius.             “iyalah. Atau uang makan sih biasanya.”             “yah, aku maunya yang di gaji” seru Alya sedikit merajuk. “kamu usulin ke bos kamu dong biar sekarang yang magang di gaji” pinta Alya seenak jidatnya.             Alya sayang, kalau aku ini bosnya trus aku harus bilang ke bos yang mana coba?, tanyaku dalam hati.             Tapi kemudian aku sadar bahwa Alya belum tahu mengenai jabatan yang ku duduki sekarang. Dia terlihat tidak peduli mengenai pekerjaanku. Yang dia tahu aku bekerja dan gajiku cukup besar sehingga aku selalu mengajaknya makan di restoran yang bisa dibilang tidak murah. Beda sekali dengan perempuan yang beberapa kali sempat dekat denganku.             “oiya, ngomong-ngomong kamu kerja di perusahaan mana sih?” see? Dia bahkan lupa dimana aku kerja. Aku juga agak sangsi dia tau aku bekerja di perusahaan ayahku sendiri.             “Greenwood Land. Taukan?”             Alya menganggukan kepalanya. “perusahaan property, ya? lupa aku kalo kamu pernah cerita” sahut Alya sambil tertawa sendiri dan kubalas dengan gelengan kepala.             “deket lagi sama kampus kamu, rumah nenek kamu juga. kurang apa lagi?” tanyaku masih ingin beradu argumen dengannya.             “Windy magang disana juga?”             Ku gelengkan kepalaku. Anak manja itu, tentu saja akan magang di perusahaan periklanan papa nya sendiri. Mana mau dia magang di kantor ku. Aku juga tidak mau dia ada disekitarku. Bisa-bisa waktu kerjaku berantakan gara-gara dia.             “yah,masa aku sendiri sih” gerutunya sembari bersandar pada kursi.             “kan ada aku. Tenang aja sih. Nanti aku temenin deh pas makan siang. Ada Farhan juga kok.”             “aku bilang papa dulu ya. soalnya papa maunya aku magang di deket rumah biar bisa pulang kerumah” jawab Alya.             Yah, kalau sudah urusan sama calon papa mertua, aku bisa bilang apa?             ---------------             Aku tidak bisa menghentikan bibirku untuk tidak tersenyum. Kenapa? Karena Alya akhirnya magang di kantorku. Papanya lebih mempercayaiku untuk menjaga Alya. Tapi sedikit tahu juga bahwa Alya kurang dekat dengan keluarganya. Ini membuatku sedikit kasihan padanya.             Alya merupakan anak bungsu dan satu-satunya perempuan dikeluarganya. Aku kira dengan begitu Alya pasti akan di manja oleh orangtuanya. Ternyata aku salah. Walaupun dia anak bungsu, orangtuanya kurang peduli padanya. Di usianya yang ke 21, Alya seharusnya berpenampilan modis seperti anak kuliah pada umumnya. Namun yang kulihat justru sebaliknya. Dia hanya memakai pakaian seadanya. Bukan karena orangtuanya tidak mampu. Tapi orangtuanya tidak cukup peduli dengan anak perempuannya.             Yang ku tahu juga bahwa ternyata Alya sudah tidak pernah meminta uang saku kepada orangtuanya. Pada akhirnya neneknya lah yang suka memberikan uang saku padanya walaupun untuk ukuran anak kuliahan, uang sakunya kurang dari kata cukup. Aku salut padanya karena dia bisa mengontrol pengeluarannya sehingga dia tidak terlihat kekurang uang sama sekali.             Sekarang aku dapat mengerti, kenapa Alya ingin di gaji saat magang. Itu mungkin karena dia tidak ingin merepotkan neneknya dengan memberikannya uang saku. Aku bahkan hampir menangis mendengar ceritanya. Padahal Alya menceritakannya biasa saja. tidak menangis, tidak merajuk atau minta di kasihani.             Setelah mendengar ceritanya, dengan refleks aku sering membelikannya baju-baju atau dress jika aku sedang pergi ke mall dengan atau tanpa Alya. Bukan karena aku kasihan padanya. Tapi aku hanya ingin membuatnya senang.             Hubungan kami pun berjalan cukup baik selama 5 bulan ini. Hanya ada satu hal yang mengganjal. Yaitu perasaannya padaku dan perasaanku padanya. Kami tidak pernah membahas masalah itu selama ini. Alasannya karena aku tidak mau keadaan kami berubah canggung jika aku membahasnya. Dan rasanya tidak etis jika aku bertanya tentang perasaannya sedangkan perasaanku sendiri padanya masih belum jelas.             Walaupun begitu, ada rasa sayang dan ingin melindungi yang aku rasakan jika mengingat Alya. Juga rasa posesif jika memikirkan bahwa ada lelaki lain yang berdekatan dengan Alya. Aku masih ragu tentang perasaan itu. Apakah cinta, atau hanya rasa kasih sayang dari seorang kakak pada adiknya. Yang jelas, sekarang ini aku ingin Alya selalu berada di sekelilingku.             “beneran di gaji, kan?” tanyaku menggodanya saat memasuki lobi kantorku bersama Alya.         Beberapa karyawan yang sudah datang menatapku dan Alya dengan pandangan menilai. mungkin mereka menerka-nerka siapa Alya, karena selama ini aku jarang sekali masuk ke kantor dengan seorang wanita. Apalagi reputasi ku yang bisa dibilang cukup buruk dimata karyawan.          Bos yang dingin, bos yang galak, bos yang judes, dan sebagainya. Padahal aku merasa bahwa aku biasa saja. Mungkin mereka memang terlalu melebihkan hal-hal yang menurutku sepele.         Selain terkenal karena reputasi yang baik, perusahaan ku juga dikenal karena memiliki karyawan yang memiliki wajah diatas rata-rata. Bukan karena sengaja, tapi memang mungkin kebetulan saja 70% karyawan yang bekerja di sini bisa dikatakan cantik, atau tampan.          Sebenarnya aku agak ragu juga untuk membawa Alya masuk ke perusahaanku karena takut dia naksir dengan salah satu karyawanku. Tapi setelah ku fikir kembali, aku masih bisa mengintai Alya dari perusahaan ku sendiri daripada harus mengintai Alya di perusahaan lain. lebih ribet.             Alya menganggukan kepalany sambil tertawa. “iya, waktu di interview malah di tanya mau gaji berapa. Aneh ya? padahal aku Cuma magang.”             “mungkin kamu bakalan di rekrut jadi pegawai disini.”             “yah kali deh. Dia aja belum tau kerja aku kaya gimana” sahut Alya.             “tapi kamu dapet di tempat yang sesuai jurusan kuliah kamu kan?”             “iya. Aku di lantai 7 kerjanya. Kamu dilantai berapa?”             “aku dilantai 10. Farhan di lantai 8. Kalau kamu ada apa-apa dateng aja ke ruangan aku atau Farhan. Oiya nanti makan siang bareng” ujarku saat kami memasuki lift.             “tapi gak janji ya. kalau ada yang ngajakin aku makan siang juga, aku gak makan sama kamu” sahutnya membuatku meliriknya kaget.             “kok gitu?”             “iya lah biar dapet temen baru” jawabnya.             “terserah deh. Lagian pede banget. Kaya bakal ada yang ngajak makan siang bareng aja” dengusku sedikit sebal.             “jahat banget sih” jerit Alya sembari memukul tangan kiriku. Membuatku mengaduh kesakitan. Untung di dalam lift hanya ada aku dan Alya. Tidak terbayang seandainya ada pegawai lain. biasa ribet masalahnya kalau mendapati anak magang memukul bos mereka.             “kebiasaan banget sih suka mukul” seruku sembari mengusap lengan kiriku.             “lagian doain nya jelek banget” ketusnya.             Belum sempat aku membalas ucapannya, lift berhenti di lantai tempat Alya bekerja. “bye, kak” seru Alya yang langsung keluar dari lift dan bertemu dengan bagian HRD yang sudah janjian dengannya saat interview kemarin.             ------------------             Aku kurang begitu paham bagaimana sesungguhnya pekerjaan yang diberikan untuk anak magang. Tapi aku sedikit curiga bahwa dia memang tidak mendapat pekerjaan apa-apa. yang ku maksud disini bukan Alya. Melainkan Windy. Aku tidak tahu ada angin apa yang membuat Windy sudah ada di dalam ruang kerja ku.             “kamu ngapain disini, win?” tanyaku bingung.             “eh, mas Dav. Lama banget. Darimana? Aku nungguin daritadi tau” sahutnya sedikit kesal.             “ada rapat tadi. Kenapa?”             “gak apa-apa. aku mau nanya Alya kerja dilantai berapa. Soalnya aku sms gak dibales” gerutunya.             “dia dilantai 7. Aku aja yang statusnya lebih tinggi dari kamu gak dibales smsnya. Apalagi kamu yang cuman temen, win” kataku sedikit curhat.             Windy tertawa. “kasian. Gak apa-apa deh. Itung-itung biar kamu frustasi” serunya. “oiya, tadi ada cewek dateng kesini.”             “oh ya? siapa?”             “dia bilang namanya Sherly. mantan kamu ya? mas Farhan pernah cerita tuh.”             Dasar Farhan. Tukang gosip.             “trus dianya mana sekarang?”             “tadi dia nanya sih kamu kemana, aku jawab aja lagi fitting baju buat nikah trus dia langsung pergi gitu” jelasnya sambil tertawa cekikikan.             Syukurlah. Setidaknya aku tidak perlu memutar otak untuk mengusirnya secara halus.             Windy menyipit curiga padaku. “kamu gak ada niatan buat balikan sama dia kan? Awas aja sampe sakitin temen aku” ancam Windy padaku.             “aku malah seneng kamu yang ngusir dia, win.”             Belum sempat Windy menyahutiku, suara ketukan pintu membuatnya kembali terdiam. “masuk” seruku akhirnya.             Begitu pintu terbuka, aku dan Windy sama-sama terdiam dengan tamu yang datang ke dalam ruanganku. Sepertinya cara halus Windy untuk mengusir Sherly kurang berhasil.             Buktinya wanita itu datang lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD