Bagian 6

1521 Words
            Sayang. Sayang. Sayang.             Ucapan Alya tempo hari masih terus terngiang di kepalaku. Bahkan aku sempat tidak bisa tidur hanya karena memikirkannya. Sebenarnya kata-kata itu sangat biasa. Tetapi gabungan dari kata itu dengan suara Alya yang bikin aku gak bisa tidur. Benar-benar sudah diluar akal sehat.             Atau jangan-jangan dia memang sudah menganggap serius hubungan kami dan sudah memiliki rasa terhadapku. Pemikiran ini entah mengapa membuat ku senang.             “woi, senyum-senyum aja. kaya orang gila” tegur Farhan.             Aku mendengus dan menatapnya. “lo ngapain sih ke kantor gue? Ganggu aja” gerutuku.             “ganggu lo ngapain? Ganggu lo kerja apa ganggu lo ngelamun? Heran gue. Akhir-akhir ini lo hobi banget ngelamun” ujar Farhan sambil menatapku meminta penjelasan.             “lagi banyak pikiran aja” seruku cuek.             “mikirin Alya, ya? gak usah ngelak. Udah ketulisan nama Alya gede-gede di jidat lo” Farhan tertawa sendiri oleh joke yang dibuatnya.             “gue Cuma mau mastiin lo besok ajak Alya ke nikahan Derry , kan?” tanya Farhan.             Aku menganggukan kepala. Dua hari lalu aku baru mendapat konfirmasi kalau Alya bisa –harus bisa- menemaniku ke acara nikahan Derry. Kenapa harus? Jelas karena dia tunanganku. Gak mungkin juga aku ajak Karen, karena Karen pasti mengajak calon suaminya.             “bagus deh. Soalnya gue yakin si dia juga bakal dateng.”             Aku mengerutkan kening. “hah? Dia siapa?”             “you-know-who lah, dav. Jangan pura-pura b**o” sahut Farhan sedikit kesal.             “siapa tuh? Voldemort?” tiba-tiba ada suara menyahut dari  arah pintu masuk ruang kerjaku.             “haduh, lo bedua pada b**o ya. si Sherly lah. Siapa lagi” dengus Farhan membuat Rian –pemilik suara dari arah pintu- tertawa dan segera duduk di hadapanku.             Oh, Sherly.             “oh, yang bikin Davin gagal move on?” tanya Rian sakartis sambil tertawa.             “lo pada gak ada kerjaan apa selain ngecengin gue? Heran deh” gerutuku.             Farhan dan Rian mulai serius menatapku. “sekarang gini deh, dav. Lo suka ngegerutu gak jelas karena kepikiran gimana perasaan dia sama lo. Seakan-akan cinta lo gak terbalas sama Alya. Padahal jelas-jelas lo juga gak ada rasa sama dia—“             “alias cinta lo masih nyangkut di Sherly” potong Rian dengan cepat sebelum Farhan bisa menyelesaikan kalimatnya.                  Aku menghela nafas. Tidak berniat sama sekali untuk mengelak dari ucapan Farhan dan Rian. Karena memang sejujurnya aku masih menyimpan rasa untuk Sherly. Walaupun ini sudah 3 tahun lamanya.             Kami berpacaran menjelang aku lulus dari pendidikan sarjana ku. Dia juniorku waktu itu. Saat ku bilang aku akan melanjutkan S2 ku di London, dia menerimanya dan tidak mempermasalahkan hubungan jarak jauh. Pada bulan-bulan awal hubungan kami baik-baik saja, hingga memasukin bulan ke lima, kami sudah jarang berkomunikasi.             Pada saat itu ku pinta Rian dan Derry untuk mencari tahu apa yang terjadi pada Sherly. Dan tebak apa yang mereka dapat? Yap! Sherly memiliki pacar selain aku. Alasan dia selingkuh? Klasik. Dia tidak kuat dengan hubungan jarak jauh. Kalau sudah begitu apalagi yang harus ku lakukan? Aku tidak ingin menyiksanya dengan hubungan jarak jauh.             Sebagai seorang anak, aku pun ingin membanggakan orangtua ku dengan menyelesaikan pendidikan S2 ku di London. Aku tidak ingin hanya karena Sherly, aku kembali ke Indonesia dan membuat ke dua orangtua ku kecewa.             “kalau lo hidup untuk masa depan, tinggalin Sherly. she’s not that worth, man” ujar Rian.             Farhan menganggukan kepalanya. “lagian dari awal kita tau kan, dia itu tipe cewek hedon yang demen banget sama dunia malam” tambah Farhan.             “iya, iya. Gue juga udah gak kepikiran dia lagi. lo aja pada yang tiba-tiba ngebahas” sahutku jujur.             Memang sejak kedatangan Alya aku jarang sekali memikirkan tentang Sherly. Bahkan sepertinya tidak sama sekali.             “bagus deh. Kayaknya kita harus ngucapin terima kasih sama neng Alya” ujar Rian sambil tertawa.             “nanti aja pas nikahan Derry. Sekalian liat gimana sikap Davin kalo ketemu Sherly” sahut Farhan.             “kalo mau ngomongin gue, mending keluar dulu deh. Rese banget sih lo pada” dengusku sebal.             -----------------             Aku tersenyum puas memandang Alya yang hari ini mengenakan dress berwarna putih pada bagian atas dan hitam dibagian bawahnya. Dress tanpa lengan yang ku belikan di Mango beberapa hari lalu itu tampak cukup pas di tubuhnya dan sepertinya dia sedikit menjadi pusat perhatian saat ini.             “sekarang gue tau kenapa lo bisa lupa sama si Sherly” bisik Rian padaku yang hanya ku balas dengan senyuman.             “lo beneran gak ada rasa sama dia?” tanya Rian.             “bukannya gak ada rasa. tapi belum. Semua butuh proses, yan” jawabku.             Rian menganggukan kepalanya. “Cuma mau make sure aja. kalo emang lo gak ada niat buat cinta sama dia, gue bersedia kok ngasih cinta gue yang banyak ke dia” seru Rian yang membuat emosiku tiba-tiba naik ke ubun-ubun.             Aku mendelik tajam padanya. “awas aja lo macem-macem sama gue.”             “satu macem doang kok. Cuma mau neng Alya” sahut Rian  dan tiba-tiba saja sudah ada suara tawa Farhan di sekeliling kami.             Sial, kayaknya Rian benar-benar naksir Alya. Makin banyak aja sainganku.             “mangkanya cepet dibikin halal, biar gak ada yang berani macem-macem, bro” seru Farhan. “ngomong-ngomong tadi gue ketemu Sherly tuh. Abis salaman sama Derry” tambah nya membuat tubuhku sedikit kaku.             Bukannya aku tidak ingin bertemu Sherly. Hanya saja aku malas kalau harus berurusan lagi dengannya. Karena melihat wajahnya pasti akan melemparku ke masa lalu. masa-masa berpacaran dengannya, sampai masa dimana dia selingkuh.             “gak mau nemuin?” tanya Rian.             “ngapain? Gue udah punya gandengan” sahutku datar dan meninggalkan mereka untuk menghampiri Alya yang sedang mengantri mengambil kue-kue kecil.             “eh ka dav. Mau?” tawar Alya padaku sembari menyodorkan piring kecil berisi kue-kue.             “gak ah, udah kenyang” sahutku sembari menatapnya.             Sepertinya ada yang salah dengannya. apa ya?             “dress nya kekecilan ya?” tanyaku.             “hah? Ngga kok. Kenapa emang?” dia balik bertanya dengan heran.             “kok kayaknya dress nya pendek banget. Sampai di atas lutut gitu” gumamku sembari memperhatikannya dari bawah hingga atas.             Alya ikut-ikutan memperhatikan dirinya dari bawah. “oh, emang gini kak dress nya. Emang mba yang jaga toko nya gak bilang kalo dress ini pendek?”             Ku gelengkan kepala ku. Oke, besok-besok ku pastikan untuk bertanya dulu sebelum membeli baju untuk Alya. Aku tidak suka kalau bagian tubuhnya yang seharusnya tidak tereskspos malah jadi tereskspos.             Alya tiba-tiba melambaikan tangannya sembari tersenyum kepada seseorang di belakangku. Ku putar tubuh dan menemukan Rian dan Farhan sedang berjalan menghampiri kami.             Tunggu. Di belakang mereka..... sial.             “hai dav, apa kabar?” suara itu. Suara dari masa laluku.             Aku menggeser tubuhku hingga berdiri disamping Alya dan reflek melingkarkan tangan kananku di pinggangnya. “baik. Lo sendiri gimana?” tanyaku basa-basi.             Dia tersenyum. Terlihat canggung. “baik juga kok” sahutnya. Dia menatap Alya, kemudian kembali menatapku. “dia.. siapa?”             Aku tersenyum. Entah kenapa merasa lega bahwa ada Alya disampingku. “oh, iya. Kenalin ini Alya, tunangan gue. Al, kenalin ini Sherly. junior aku di kampus” kataku yang langsung di sambut Alya dengan senyuman dan mengulurkan tangan kanannya.             Sherly terlihat canggung saat berjabat tangan dengan Alya. “Sherly.”             “Alya” sahut Alya tanpa menghilangkan senyumnya.             “cepet juga ya kamu dapet pengganti aku, dav. Sampe udah tunangan segala” s**t. Aku lupa kalau Sherly tipikal seorang drama queen.             Ku lirik Alya yang kini tampak mengerutkan kening, kemudian menatapku. Aku baru saja hendak menjawab, namun keduluan oleh Alya. “CLBK ya?” tanyanya sambil tersenyum tipis.             “maksudnya?” tanya Sherly bingung ikut tersenyum juga. Tapi yang kulihat justru senyum mencurigakan.             “cinta lama belum kelar” jawab Alya membuat Rian dan Farhan hampir tertawa kalau saja aku tidak menatap mereka tajam.             Aku tersenyum. “gak susah kok buat dapetin pengganti lo” sahutku menjawab pertanyaannya yang tadi dijawab oleh Alya. “tadi bunda nyariin kamu, al. Yuk ketemu bunda. Gue duluan ya” kataku sembari menarik Alya untuk ikut bersama ku tanpa menunggu jawaban dari mereka.             “aku kira yang tadi Cuma ada di tv doang” komentar Alya.             “dia emang tipe cewek drama queen. Gak heran kalau dia sampe bilang begitu” sahutku.             “kok bisa putus?” tanyanya penasaran.             “gak kuat ldr” jawabku seadanya.             Alya menganggukan kepalanya. “gak kuat trus selingkuh, gitu?”             Kini aku menatap Alya. “kok tau?”             “udah ketebak. Basi” sahutnya cuek sembari mengedikan bahu.             “pernah di selingkuhin ya?” godaku.             “tiap putus itu karena aku di selingkuhin, kak dav” jawab Alya membuatku terdiam. Merasa sedikit bersalah karena takut menyakiti hatinya.             “oiya, katanya bunda kamu mau ketemu. Mana?” tanyanya sambil menatap sekeliling mencari sosok bunda.             “udah pulang” jawabku enteng.             Alya menatap bingung. “loh, tadi bilangnya— hoo, menghindar dari mantan ya?” godanya sembari tertawa mengejek.             Aku mendengus. “udah ah. Yuk pulang” ajakku sembari menariknya menuju pintu keluar function hall hotel Shangri-la.             Alya menahan lenganku. “gak bilang ka Derry dulu? Cipika cipiki mau pulang gitu?” tanyanya sambil tertawa, membuatku ikutan tertawa.             “oiya lupa. Yuk” aku segera menarik Alya menuju pelaminan dimana Derry dan Putri –istrinya- berada.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD