Bagian 14 Author POV

1134 Words
               Davin mempersilahkan Sabrina untuk masuk terlebih dahulu ke dalam apartemennya. Malam ini juga Davin akan menanyakan perihal Karen pada Sabrina. Jika itu memang benar, Davin ingin mengetahui sebab wanita yang menjadi teman lama nya itu melakukan hal memalukan seperti itu.             Sabrina tidak terlihat seperti seseorang yang merebut kekasih orang lain. Dia terlihat seperti wanita biasa. Apalagi dengan kenyataan dia sudah menikah dan hamil saat ditinggal suaminya untuk selamanya, rasanya Davin ragu bahwa Sabrina pernah hampir menghancurkan hubungan adiknya dan Haris.             “kamu mau nginep disini, dav?” tanya Sabrina yang heran karena Davin malah duduk di sofa ruang tv. Ini sudah menunjukan pukul 10 malam, biasanya setelah mengantar Sabrina, pria itu pasti langsung pergi.             “aku mau bicara sesuatu sama kamu” pinta Davin sembari memperhatikan Sabrina. Wanita itu pun menurut dan duduk di samping Davin.             “serius banget. Kenapa sih?”             “kamu kenal Haris?” tanya Davin to the point.             Sabrina terlihat sedikit kaget dan menganggukan kepalanya. “suami Karen adik kamu kan?”             “maksud aku, udah berapa lama kamu kenal Haris?” Davin menatap Sabrina lekat-lekat. Yang ditatap berusaha mengalihkan perhatian. Sabrina tidak berani menatap langsung manik mata Davin karena dari yang di dengar, suara Davin sarat akan emosi.             Wanita itu diam. Bingung harus jujur atau bohong kepada Davin. “kenapa gak jawab, brina?”             “ak—akku.. kenal Ha—Haris.... udah lama” Suara Sabrina semakin lama semakin hilang hingga akhir kalimatnya.             “udah lama sampai kamu berani jadi orang ketiga diantara Karen dan Haris, iya?” tanya Davin tajam.             Sabrina terdiam. Tidak tahu harus menyahuti bagaimana. Dia memilin jari-jari tangannya dengan kuat. “aku gak tau kalau Haris pacarnya Karen, dav. Haris bahkan bilang dia sendiri waktu aku deket sama dia” jelas Sabrina sembari menutupi kegugupannya.             “sejak pertama kamu kenal Karen, kamu tau kan Haris itu pacarnya? Mereka udah pacaran dari SMA  ya Tuhan berarti kamu jelas tau Karen itu pacarnya Haris!” pekik Davin.             Sabrina tergagap. “aku minta maaf, dav. Tapi itu udah berlalu kan? Sekarang mereka udah jadi suami isteri . Juga aku bahkan belum sempat berpacaran dengan dia” jelas Sabrina.             Davin memicingkan matanya curiga menatap Sabrina. “aku rasa niat kamu untuk menetap disini sedikit lama karena ada alasan lainnya. iya kan?”             “aku Cuma kangen Jakarta, dav. Kenapa kamu jadi curigaan gitu sih sama aku?”             “karena aku tahu sejak Ricky meninggal kamu menolak untuk tinggal di Jakarta” jelas Davin. “jadi, ada apa kamu berlama-lama di Jakarta?”             “aku kangen kamu, dav. Aku cinta sama kamu. Sejak kamu selalu ada buat aku saat Ricky meninggal, aku jadi cinta sama kamu. Dari saat kamu bilang kamu memperbolehkan anak aku kelak buat manggil kamu ‘papa’. Aku udah cinta kamu sejak dulu. Saat itu aku berkesimpulan kalau kamu juga cinta aku, dav. Makanya aku kesini. Aku mau perjuangin cinta kita, dav. Aku yakin kamu gak keberatan dengan anak aku dan Ricky, iya kan?” jerit Sabrina histeris membuat Davin kaget sekaligus tidak habis fikir kenapa Sabrina berani menyimpulkan seperti itu.             Davin menggelengkan kepalanya. Seakan menolak dengan semua ucapan Sabrina yang tidak masuk akal. “kamu tau kan kita sahabat? Aku sayang kamu sebagai sahabat, brina. Bukan hanya aku yang bilang begitu, Farhan, Derry dan Ryan pun memperbolehkan anak kamu memanggil mereka ‘papa’. Gimana bisa kamu ngambil kesimpulan kaya gitu, brina?”             “jadi kamu gak cinta sama aku, dav?” tanya Sabrina sambil terisak.             “aku sayang sama kamu. Seperti aku sayang sama Karen, brina” sahut Davin.             “aku mau lebih dari sahabat, dav” lirih Sabrina.             “maaf, brina. Aku gak bisa” Davin mengusap pelan punggung Sabrina. Dia berusaha untuk tidak berteriak kepada Sabrina. Walau bagaimana pun wanita itu sedang hamil dan Davin tidak ingin mengambil resiko dengan marah-marah pada wanita itu.             “kenapa? Karena tunangan kamu? Bahkan kamu diem aja waktu kakaknya ngasih cincin tunangan yang kamu kasih ke cewek itu. Dia bahkan pacaran sama saudara kamu, dav. Kamu fikir aku gak tau? Aku tau. Alya. Dia kan tunangan kamu itu? dia bahkan masih kecil, dav” gumam Sabrina. Nafasnya masih tersenggal karena habis menangis.             “aku bahkan tau kamu gak cinta dia. Gimana aku bisa tau? Karena kamu gak ada di sekeliling dia waktu pernikahan Karen. Kamu tau? Seharusnya kalau kamu cinta sama seseorang, kamu gak akan ngebiarin dia sendiri, apalagi ditempat keramaian.”             Kini Davin terdiam. Rasanya menyesakan saat Sabrina menjelaskan semuanya. Rasanya dia kini dapat merasakan apa yang Alya rasakan. Tidak diperdulikan di keramaian yang bahkan keluarganya sendiri yang khusus mengundangnya. Davin yakin pasti Alya menangis setelah pergi dari acara pernikahan Karen.             “apa benar gak ada kesempatan buat aku, dav? Apa ini karena aku lagi hamil? Karena aku akan punya anak?”             “bukan. Gak gitu, brina. Tolong kamu ngerti. Aku gak bisa ngasih lebih dari ini ke kamu. Aku hanya ada untuk kamu hanya sebagai sahabat. Dan ya, alya itu tunangan aku” ujar Davin. “dan aku sangat menyesal sudah membiarkan Alya sendiri di acara pernikahan Karen” tambah Davin. Matanya menerawang menatap televisi yang tergantung di depannya.             Sabrina menarik nafas panjang dan menghembuskanya. Terus seperti itu hingga dia merasa tenang. Kemudian wanita itu tersenyum. “jadi kamu udah mulai jatuh cinta sama dia?”             Davin terdiam lama sekali. Memutar ulang semua kejadian yang akhir-akhir ini mewarnai hidupnya. Rasa nyaman berada di dekat Alya, rasa rindu saat Alya tidak memberi kabar padanya, rasa senang saat Alya mengajaknya selfie, rasa bangga saat Alya menyandarkan kepalanya di bahunya, rasa sedih, kesal, marah, emosi dan cemburu saat tahu Alya dekat dengan Axel. Dan ya, rasa ingin memiliki dengan egois juga pemujaan yang di lakukan oleh otak Davin membuat pria itu lantas menganggukan kepalanya.             “ya, aku rasa aku jatuh cinta sama dia dan aku ngerasa seperti baru pertama kali jatuh cinta dan pacaran selama sama dia. Aku bener-bener ngerasa seperti ABG yang baru jatuh cinta dan ngerasa norak tapi aku senang” jawab Davin pelan tanpa menutupi senyum nya yang lebar saat kembali mengulang  memori saat bersama Alya.             “lalu apa yang masih kamu lakukan disini? Go get her, dav.” Seru Sabrina membuat Davin kembali kepada kenyataan.             “dan, aku akan segera pulang ke jogja. Terima kasih untuk waktu dan apartemennya” tambah Sabrina. Wanita itu mencoba untuk tegar menghadapi semuanya. Mengikhlaskan semuanya.             Davin tersenyum dan memeluk Sabrina. “take care of yourself. Kabari aku kalau kamu lahiran. Aku akan ke jogja bersama anak-anak” seru Davin sembari beranjak dari kursi dan berajaln menuju pintu.             “goodnight, dav.”             “goodnight, sabrina.”             Sambil tersenyum, pria itu berjalan menuju lift. Fikirannya berputar memikirkan cara bagaimana mengambil kembali Alya dari Axel. Menjelaskan semuanya pada perempuan itu dan meminta kesempatan kedua. Namun sebelumnya, dia harus mencari cara agar keluarga perempuan itu mau menerimanya kembali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD