Bagian 15 - END

3741 Words
            “ngapain lo disini?” Mata Axel menyipit begitu menemukan Davin berdiri didepan pintu rumah berwarna putih milih oma dan opa Alya.             “lo gak liat?” tanya Davin sembari menunjukan koper berwarna hitam disamping kirinya dan sebuah backpack yang tersampir dibahu kirinya. “gue mau nginep disini.”             “gak ada yang ngajak lo kesini” seru Axel membuat Davin mengepalkan tangannya.             “emang lo di ajak sama Alya kesini? Seinget gue, lo sama Windy deh yang mau ngikut dia” sahut Davin pantang mundur.             “darimana lo tau alamat ini?” tanya Axel lagi sembari mengerutkan kening.             “dari calon mertua gue. Udah minggir gue capek, mau istirahat” seru Davin dan memaksa masuk ke dalam rumah dan sengaja menubrukan bahunya pada bahu Axel membuat Axel berdecak kesal dan segera menutup pintu.             Davin memperhatikan ruangan tamu yang terlihat sangat rapih dan bersih. “oh, davin” seru sebuah suara yang terdengar asing di telinga Davin.             Pria itu mencari asal suara dan menemukan seorang wanita tua yang –herannya- memiliki rambut berwarna hitam. Wanita tua itu terbalut dengan busana jaket berwarna merah dan rok panjang berwarna hitam –sangat khas orang tua belanda. Dia tersenyum ramah pada Davin lalu segera memeluk dan mencium kedua pipi Davin.             “pasti capek ya, oma sudah menyiapkan kamar mu. Yuk deh ke kamar” Oma yang di ketahui Davin bernama Ams itu mencoba untuk merangkul Davin. Sadar dengan tinggi nya yang menjulang, Davin sebisa mungkin agak membungkuk untuk memudahkan Oma Ams merangkulnya sembari menariknya ke bagian dalam rumah.             “disini hanya tiga kamar. Jij* (read: yey) tidur sama Axel, ya” seru Oma penuh semangat saat membuka kamar yang berada dilantai dua rumah itu.             kamarnya berada benar-benar diatap rumah dengan langit-langit meruncing dengan sekeliling berwarna coklat karena baik dinding dan lantai terbuat dari kayu. Ada satu tempat tidur ukuran queen, dua nakas di masing-masing samping tempat tidur, satu lampu tidur,lemari baju dengan tiga laci, meja kayu berwarna coklat di dekat jendela persegi.             “makasih, oma” seru Davin setelah puas memperhatikan sekeliling kamar. “setelah jij istirahat segera turun karena kita akan makan malam, ya” ujarnya sembari turun dari tangga.             Begitu suara pintu tertutup, Davin segera melemparkan tubuhnya dikasur. Perjalanan 16 jam menggunakan pesawat terasa sangat melelahkan. Belum lagi tempat tinggal oma dan opa Alya yang berada di desa Zaanse Schans membuatnya memutuskan untuk naik kereta dari Amsterdam yang hanya membutuhkan waktu 20 menit dan sedikit berjalan kaki selama 10 menit. Davin tidak bisa menyewa mobil karena dia tidak memiliki SIM belanda, juga jika di tempuh dengan kendaraan, membutuhkan waktu satu jam ditambah dia tidak tahu sama sekali dengan negara Belanda.             Dia lelah. Apalagi setelah seminggu sebelumnya dia menjalankan rencananya untuk memohon maaf pada keluarga Alya dan meminta di beri kesempatan. Walaupun awalnya negosiasi berjalan sangat alot. Namun akhirnya Davin berhasil. Terbukti saat mama nya Alya memberikan Alamat rumah oma nya yang baru. Davin mendapatkan kepercayaan keluarga itu, dan kali ini dia tidak akan bermain-main dengan hal itu.             -----------------             Davin terbangun setelah seseorang menggoyang-goyangkan tubuhnya. Bukannya terbangun, Davin kembali menarik selimutnya sampai kepala. Cuacanya negara Belanda di bulan Oktober memang tiada duanya.             “kak Dav, bangun. Makan malam” Davin seperti bermimpi mendengar suara itu.             Mimpi yang indah, pikir Davin senang.             Alya yang kesal karena gagal membangunkan Davin, segera mengambil guling yang tergeletak disamping Davin dan memukul tubuh pria itu membabi buta. “KAK DAV, BANGUN GAK!!!” jerit Alya kesal setengah mati.             Kaget, Davin segera melempar selimut dan segera duduk. Membuat kepalanya pening dan dia mengaduh kesakitan karena Alya masih memukulnya. “al, al. Stop!! Aku udah bangun. Aduh sakit, al”seru Davin berusaha menutupi kepalanya dari guling yang digunakan Alya untuk memukulnya.             “susah banget dibanguninnya! Dasar kebo!! Ayo makan malam, aku udah laper” seru Alya kemudian segera meninggalkan Davin menuju ruang makan.             Segera Davin membongkar kopernya, mencari peralatan mandi dan kaus juga sweater dan celana piyama. Tapi begitu sadar cuaca di Belanda saat malam akan lebih menggila, Davin memutuskan hanya membawa pasta gigi dan sikat gigi lalu turun ke bawah dimana kamar mandi berada.             Selesai sikat gigi, Davin segera berjalan menuju ruang makan. Tidak sulit mencari ruang makan karena rumah itu cukup kecil jika dibandingkan dengan rumah Davin di Jakarta. setiap lorong terdapat pintu. Dan ruang makan ada di bagian paling belakang rumah.             “malam semuanya. Maaf telat” seru Davin.             Begitu mendengar suara Davin, Oma Ams dan Opa Hans segera menghampiri Davin. Opa Hans memeluk Davin dan mengacak-acak rambutnya karena saat datang tadi mereka belum sempat bertemu. Tinggi mereka sama sehingga Davin tidak perlu repot membungkukan badannya.             Meja makan persegi panjang yang dilapisi taplak berwarna putuih dengan 7 kursi berwarna coklat tua sudah dipenuhi makanan khas belanda. Terlihat dari masih banyaknya menu di meja, sepertinya Davin belum terlalu terlambat.             “ayo, duduk” ajak Opa dan Oma segera menggiring Davin menuju kursi yang berhadap-hadapan dengan Opa Hans. Alya berada di kanannya dan Axel berada di sisi kirinya.             Makan malam terasa hangat karena diiringi dengan candaan dari Opa Hans. Davin sedikit kaget saat tahu Opa hans bisa berbahasa Indonesia tapi dia tidak terlalu kaget dengan Oma Ams karena menurut mama nya Alya, Oma Ams memang tinggal dibelanda sebelum akhirnya dibawa ke Belanda oleh Opa Hans di jaman Jepang mengusir Belanda dari Indonesia.             Davin hanya geleng-geleng kepala saat itu. tidak menyangka bahwa oma dan opa Alya sudah hidup selama itu. Umur mereka diperkirakan berusia sekitar 75-80 tahun tapi masih terlihat sehat dan bugar. Bahkan tadi Davin sempat mendengar bahwa Opa Hans mengantar Alya dan Windy ke pasar tradisional menggunakan mobil. Mungkin karena efek dari udara dan suasana yang baik di Belanda.             “kalian besok mau kemana? Opa antar” seru Opa setelah kami semua pindah ke ruang keluarga.             Ruang keluarga tidak terlalu jauh berbeda dengan ruang tamu. Bercat putih, ada tiga buah sofa. Satu sofa single berwarna putih, satu sofa panjang untuk tiga orang berwarna krem, dan kursi goyang berwarna coklat di depan perapian yang sudah menyala.             “jangan jauh-jauh, opa. Kasihan opa nanti capek” sahut Windy sembari mempererat selimut tebal yang tadi tersampir di tangan sofa panjang.             “eish, memang jij pikir ikh* (read: ekh) sudah gak kuat bawa mobil?” seru Opa tidak terima sembari menyalakan televisi layar datar  yang tertempel di dinding sebelah kanan perapian.             “bukan begitu opa. Tapi kayaknya kita mau naik kereta aja deh biar lebih berasa wisatanya” jelas Windy.             Opa terlihat menganggukan kepalanya dan tidak menyahut begitu televisi menampilkan tayangan sepak bola. Sepertinya opa tergila-gila dengan sepak bola. Terlihat jelas saat oma memanggilnya dan opa Hans tidak menyahutinya.             “jij kalau sudah menonton bola susah banget di panggilnya” gerutu oma sembari membawa nampan berisi 4 cangkir yang ku yakin berisi coklat panas. Dibelakangnya, Alya menyusul dengan 1 toples berisi cemilan yang mungkin dibawa Oma saat pulang kemarin. Dan satu piring berisi kue yang terlihat seperti waffle berwarna coklat dan ada buah strawberry disampingnya yang sudah di potong berbentuk segitiga sebanyak 8 buah.             Tanpa sengaja mata Davin dan Alya bertemu. Secepat kilat Alya memutuskan kontak mata mereka. Alya segera berjalan kembali menuju dapur dan Davin segera mengikutinya.             “alya” panggil Davin saat Alya berusaha menghindarinya lagi.             Wanita itu membalikan tubuhnya dan menatap Davin. Tepatnya menatap rambut pria itu, bukan menatap matanya karena dia tidak berani.  “kenapa?” tanya Alya akhirnya.             “kita perlu bicara. Biar semuanya lurus. Supaya kamu gak asal ngambil kesimpulan, juga supaya hubungan kita gak abu-abu kaya gini, al” Davin terus menatap Alya. Dia baru menyadari bahwa Alya sedikit lebih kurus –terlihat dari pipinya yang agak sedikit tirus.             Alya menganggukan kepalanya. Davin benar, pikirnya. Mereka harus bicara, agar semuanya lurus dan beban nya selama ini akan terjawab. Namun melihat waktu yang sudah menunjukan pukul 9 malam, Alya memutuskan bahwa besok adalah waktu yang tepat untuk membahas masalah mereka.             “oke kita akan bahas. Tapi gak sekarang, kak dav. Kamu baru sampe. Pasti capek. Ini juga udah malam. Sebaiknya kita tidur. Besok pagi baru kita bicarakan” tutur Alya sembari mencuci tangannya dan berjalan keluar dari ruang tv menuju kamarnya.             Seperti terhipnotis, Davin menganggukan kepalanya dan segera mengikuti Alya berjalan. Alya hampir masuk kedalam kamarnya ketika Davin segera mencekal lengan kiri Alya.             “kenapa lagi?” Alya sedikit kaget saat berbalik dan mengerutkan keningnya.             Davin tersenyum lembut. “goedenacht*” ucap Davin sembari memeluk Alya dan dengan berani mencium kening wanita itu.             Alya syok. Matanya membelalak lebar namun tidak bisa menutupi kebahagiaan di hatinya. “dank u*” bisik Alya yang masih mampu di dengar Davin.             Begitu Alya menutup pintunya, Davin segera mengeluarkan senyum lebarnya sembari berjalan sedikit cepat menuju tangga yang akan membawanya ke kamar.             -------------------------               Pagi-pagi sekali Davin sudah bangun dari tidurnya. Dia bahkan sudah jogging keliling desa walaupun cuaca sangat dingin. Dia terlalu bersemangat untuk hari ini. Dia optimis semuanya akan berjalan dengan lancar. Dia tidak sabar menjelaskan semuanya dengan Alya, juga meminta kesempatan kedua padanya.             Davin memutuskan mandi setelah keringat –yang hanya sedikit- keluar dari pori-pori kulitnya. Davin tentu tidak menolak untuk mandi karena dirumah itu tersedia water heather –alat pemanas air- yang menggunakan tenaga matahari.             Luar biasa, pikir Davin. Semua yang ada di negara ini memanfaatkan segala sesuatu dari alam. Mulai dari air untuk perkebunan, hingga kincir angin yang menjadi lambang negara bekas penjajah Indonesia itu digunakan untuk menggerakan generator yang akan mengalirkan listrik ke desa disekelilingnya.             Belanda juga dikenal karena kebanyakan masyarakatnya menggunakan sepeda sebagai alat transportasi, tidak heran udara di negara itu bersih dan segar. Walaupun seharusnya Davin membenci Belanda karena menjadi penjajah tanah airnya, namun Davin tidak bisa menolak untuk terkagum-kagum oleh negara itu.             “indonesia harusnya di jajah belanda terus biar negaranya maju” gumam Davin sembari berdiri diatas balkon rumah. Menatap ke depan yang hanya terdapat perkebunan yang sekarang hampir berwarna coklat karena sudah memasuki musim gugur.             “salah. Harusnya Indonesia di jajah inggris, biar pinter trus maju. Kalau sama Belanda negara jij maju tapi rakyatnya bodoh” sahut suara Opa Hans yang tiba-tiba sudah berdiri disamping Davin.             Davin hanya terkekeh pelan, tidak menyahuti perkataan Opa Hans karena memang benar begitu lah adanya. “jij sudah sarapan?”             “sudah. Pancake nya enak sekali” sahut Davin sembari mengingat pancake panas yang di siram dengan madu. Tiba-tiba dia lapar lagi. Astaga! Pasti ini karena cuaca yang dingin, pikirnya.             “mungkin nanti jij akan minta Oma untuk membuat poffertjes* untuk makanan penutup kita. Kalian jadi pergi berkeliling?” tanyanya.             Davin menggelengkan kepalanya. Dia tidak tahu akankah dia ikut Windy dan Axel berkeliling karena dari semalam dia belum berbicara apapun pada Axel dan Windy. Bahkan Axel sudah tidur saat dia masuk ke kamar. Tapi yang pasti, dia harus berbicara secepat mungkin pada Alya.             Ngomong-ngomong Alya, dimana wanita itu?, tanya Davin dalam hati.             “kamu gak ikut kita, mas?” Windy tiba-tiba datang menghampiri dengan coat berwarna coklat muda, celana ketat hitam dan sepatu boots berwarna senada. Sepertinya dia sudah mulai melunak pada Davin.             “alya mana?” tanyaku sebelum menjawab pertanyaan Windy.             “dia gak ikut. Bantu oma rapih-rapih. Tadi aku sama mas Axel juga mau bantu, tapi katanya kita disuruh pergi aja soalnya waktunya tinggal bentar lagi disini” jelas Windy mencoba untuk bernada ketus walaupun bagi Davin gagal total yang malah membuat pria itu ingin tertawa.             “aku disini aja. capek baru flight kemarin. Kamu sama Axel hati-hati” seru ku.             “pakai ponsel Opa, ini. Kalau ada-apa segera telepon. Ada nomor telepon rumah juga didalam sana” Opa Hans segera memberikan ponsel flip nya kepada Axel yang tiba-tiba saja sudah ada disamping Windy.             Axel segera menerima ponsel tersenyum dan berpamit kepada Opa. Setelah itu segera berjalan keluar dari balkom rumah. Begitu Windy dan Axel menghilang dari pandangannya, Davin segera izin kepada Opa Hans untuk mencari Alya.             Ini saatnya, pikir Davin senang.             Davin menemukan Alya di gudang belakang bersama Oma Ams. Mereka sedang membereskan alat-alat berkebun milik Opa Hans. Davin juga baru sadar bahwa di belakang rumah Oma Ams ada kayu-kayu yang menancap panjang setinggi setengah meter dan disambung dengan kawat.             “ini buat apa, Oma?” tanya Davin penasaran.             Oma Ams segera keluar dari gudang belakang dan menghampiri Davin. “oh, ini buat tanam buah Anggur. Kalau musim gugur kaya gini gak bisa karena sebentar lagi salju. Jadi nunggu musim semi dulu” jelas Oma Ams.             “rencananya sih Oma akan bikin halaman belakang jadi kebun kecil-kecil. Mau nanam buah berry. Segala macam Berry, sama bahan-bahan bumbu masak jadi gak perlu ke supermarket untuk beli. Ah, ya Oma juga mau nanam bunga biar makin ramai” jelas Oma sembari menatap sekeliling halaman belakang yang memang terlihat luas.             Pekarangan-pekarangan rumah hanya dibatasi oleh kayu setinggi 1 meter atau bahkan ada yang tidak di batasi oleh apapun. Di desa itu terlihat sekali masyarakatnya memiliki toleransi yang tinggi.             “oh ya, kalian tidak ikut Windy dan Axel? Lebih baik jij jalan-jalan sama Alya naik sepeda Oma. Tuh ada di gudang” seru Oma Ams padaku sembari menunjuk sebuah ruangan cukup besar yang hanya terbuat dari kayu di pojok halaman.             Davin menganggukan kepalanya dengan semangat. Dia segera berjalan menuju Gudang dan menemukan Alya sedang merapihkan peralatan untuk rumah, perkebunan atau mobil. Matanya berkeliling dan menemukan dua buah sepeda. Satu sepeda dengan keranjang dan kursi belakang –yang pasti milik Oma Hans- dan satu sepeda gunung biasa.             Segera Davin menghampiri sepeda itu. setelah memeriksa bahwa sepedanya masih bisa digunakan, Davin segera menghampiri Alya. “naik sepeda, yuk” ajaknya.             Alya segera berbalik dan menatap Davin aneh. “aku lagi bantu oma beres-beres” sahutnya.             Davin menggelengkan kepalanya. “gak ada penolakan. Pokoknya kamu harus ikut” seru Davin sembari menarik Alya keluar dari gudang dan tangan satunya lagi menarik sepeda.             “Oma, aku pinjam Alya dulu” seru Davin setengah berteriak.             Oma Ams tertawa. “hati-hati, jangan tersesat” sahutnya yang hanya disambut Davin dengan tawa.             ------------             Mereka berjalan selama lima menit hingga sampai di lokasi wisata desa Zaanse Scahns. Sudah mulai banyak turis yang datang untuk melihat rumah-rumah tradisional dari desa itu. beberapa orang terlihat berfoto, ada juga yang sedang menikmati pemandangan dari hamparan hijau yang terbentang didepan mata walaupun warna hijaunya sudah cenderung berubah warna karena sudah memasuki musim gugur.             “harusnya kamu ambil sepeda oma, bukan sepeda opa” seru Alya setengah bete karena akhirnya bukan bersepeda, mereka malah jalan kaki dan Davin menjalankan sepedanya.             Davin tersenyum sembari meminta maaf atas keteledorannya salah mengambil sepeda. Pria itu segera menarik Alya sedikit cepat begitu menemukan bangku kayu kosong yang menghadap ke arah danau dan kincir angin. Bangku itu tepat dimiliki oleh sebuah rumah yang ternyata juga merupakan sebuah kafe kecil.             “kamu mau kopi, s**u, atau teh?” tanya Davin saat waiters datang menghampiri mereka.             “aku teh aja” sahut Alya.             “americano and tea, please” pinta Davin kepada waiters itu menggunakan bahasa inggris karena dia tidak bisa bahasa Belanda.             Setelah Waiters itu pergi. Davin segera berdeham. “jadi aku mau jelasin semuanya” ucap Davin perlahan.             Alya menganggukan kepalanya. “oke” sahutnya.             “pertama aku minta maaf sama kamu buat semua hal yang udah bikin aku nyakitin kamu. Juga karena aku udah bersikap kaya pengecut dan gak seberani kamu untuk nyatain perasaan aku ke kamu, karena jujur aku pun masih ragu-ragu sama perasaan aku” Davin memulai penjelasannya.             “untuk masalah Sabrina, dia datang karena aku ngundang dia waktu acara nikahan Karen. Aku dan dia benar-benar tidak ada hubungan apa-apa. kami hanya teman lama, kalau kamu gak percaya, kamu bisa tanya Farhan, Ryan dan Derry. Aku juga tau kamu pasti marah banget waktu aku gak ada disamping kamu saat itu padahal keluarga aku yang ngundang kamu dan kamu pasti sendirian saat itu.”             “aku juga minta maaf karena tamu tamu yang datang membicarakan hal jelek mengenai aku dan Sabina yang membuat Bagas langsung marah sama aku dan mutusin pertunangan kita –aku gak nyalahin bagas dalam hal ini. Aku juga udah datang kerumah kamu waktu kamu udah disini. Menjelaskan semuanya ke mereka.”             “trus gimana reaksi mereka?” Alya tidak bisa menahan rasa penasarannnya.             Davin terkekeh pelan. “parah. Mereka malah mau ngusir aku, apalagi Bagas. Tapi aku berusaha buat mereka yakin dan kasih aku kesempatan lagi.”             “jawaban mereka?”             Kini Davin tersenyum lebar. “mereka kasih aku kesempatan lagi. kalau nggak. Gak mungkin aku bisa ada disini” serunya bangga dan Alya hanya mencibir Davin.             Waiters datang dan meletakan dua cangkir berisi kopi dan teh pesanan mereka. Dengan kompak mereka menyesap minuman itu dan meletakan kembali cangkir diatas meja.             “kenapa kamu minta kesempatan lagi?” tanya Alya bingung karena setaunya Davin tidak memiliki perasaan lagi padanya. Lalu kenapa dia harus meminta kesempatan? Apa alasan Davin meminta kesempatan lagi kepada keluarganya?             Pria itu tersenyum lembut. “maaf aku baru menyadarinya. Kalau aku sayang sama kamu, al. Lebih dari rasa sayang aku ke Windy. Aku tahu aku telat. Aku gak tau apa benar kamu memiliki hubungan serius dengan Axel, apa perasaan kamu masih sama ke aku, tapi yang jelas aku udah jujur sama kamu, sama diri aku sendiri kalau aku sayang sama kamu. Aku cinta sama kamu, al” seru Davin dengan tegas. Matanya menatap Alya dengan bersungguh-sungguh.             Saat dia meminta kesempatan, dia akan benar-benar memanfaatkan kesempatan itu dengan sebaik-baiknya. Dia tidak ingin menjadi bodoh dan pengecut lagi. Apalagi mengetahui bahwa Axel sepertinya memiliki perasaan lebih pada Alya, yang menurut Davin, Axel adalah lawan sepadan untuknya.             Alya terdiam. Dia bingung bagaimana harus bersikap. Jelas dia senang mendengar penuturan Davin. Akhirnya penantiannya akan cinta Davin terhenti karena Davin telah membalas perasaannya. Dia memang sakit hati saat tahu dulu Davin tidak mencintainya dan malah berdiri disamping wanita hamil daripada berdiri disampingnya dihadapan tamu undangan pernikahan Karen yang pasti juga merupakan teman-teman dari orangtuanya.             Tetapi Alya tidak ingin terus tenggelam dalam masa lalu. Jika dia terus hidup dimasa lalu, dia tidak akan pernah berjalan kedepan. Dia ingin menolak Davin tapi dia takut menyesal. Ini kesempatan baginya untuk benar-benar menjadi hubungan serius seperti yang diimpikannya. Dan dia tidak bisa melewatkannya begitu saja. Apalagi ketika Alya melihat mata Davin, hanya pancaran penuh cinta dan bahagia yang Davin berikan untuknya.             “kenapa kamu diem aja, al?” tanya Davin.             “trus kamu mau aku gimana?” Alya balik bertanya.             “jawab pertanyaanku.”             Alya mengerutkan keningnya. “kamu bahkan gak nanya apa-apa sama aku, kak dav” sahut Alya.             Davin menepuk keningnya. Dia segera merogoh saku kanan jaket kulitnya, dan menunjukan cincin pertunangan milik Alya yang dirampas Bagas dan di kembalikan pada Davin. Tangan kirinya menarik tangan kanan Alya. “be mine, again. Be my fiance?”             Alya terkesiap. Ini pertama kalinya Davin memintanya untuk bertunangan dengannya, bukan karena ada alasan ‘bunda’ dibalik permintaannya. Alya tersenyum bahagian.             Pria itu tiba-tiba menggelengkan kepalanya. “ini salah” serunya tiba-tiba membuat Alya seperti baru saja di hempaskan dengan tidak berperasaan ke dalam danau berisi air es. Menyesakan dadanya.             “m-maksud kamu?” tanya Alya tergagap.             Davin berdeham. “maksud aku, will you marry me? be my friend, be my bestfriend and be my wife?”             Ya Tuhan, rasanya Alya ingin mati saja karena Davin begitu mudah memainkan perasaannya. Sedetik dia berfikir bahwa Davin tidak ingin melanjutkan hubungan mereka.             Alya menganggukan kepalanya dengan cepat. “i do” sahutnya tampa berfikir panjang.              Pria itu tersenyum lebar dan segera berdiri menghampiri Alya. dia berlutut disamping kursi yang diduduki oleh Alya dan memeluk wanita itu dengan senang. “aku cinta banget sama kamu, al. Jangan deket-deket Axel lagi ya” bisik Davin sembari mendekap Alya dengan kuat karena bahagia juga gemas pada Alya.             Suara-suara tepuk tangan dan sorakan membuat Davin segera melepas pelukannya dan menatap sekeliling. Dia kaget, ternyata beberapa tamu kafe, waiters dan pejalan kaki yang ada didepan kafe memperhatikan mereka sedari tadi. Mungkin dari awal Davin melamar Alya.             Davin tersenyum lebar dan mengucapkan terima kasih sembari berkeliling menatap orang-orang. Alya pun hanya tersenyum dengan wajah semerah tomat karena malu telah dilamar didepan banyak orang.             Mereka kemudian menikmati Oudewijvenkoek - semacam kue bolu, namun kue ini sering dibumbui dengan cengkih, kayu manis, jahe dan pala- yang diberikan secara Cuma-Cuma dari pemilik kafe. Alasanya karena Davin melamar Alya ditempatnya dan diyakini pasti semakin banyak orang yang akan datang ke kafe mereka. Alya dan Davin hanya menurut saja karena mereka tidak percaya dengan hal seperti itu. karena baik Alya maupun Davin bukan orang yang terkenal sehingga mampu membuat orang-orang datang ke kafe itu.             Usai menghabiskan makanan, Davin segera membayar bill yang hanya berisi kopi dan teh yang dipesannya dan segera beranjak dari sana. “capek?” tanya Davin sembari memperhatikan Alya yang ternyata hanya menggunakan sweater rajun berwarna krem.             Alya hanya menganggukan kepalanya. Berjalan saat pergi memang tidak terasa capek,  namun ketika pulang rasanya capeknya menjadi dua kali lipat.             Davin segera menaiki sepeda. “yuk naik, biar cepet sampe rumah” ajak Davin.             “aku duduk dimana? Gak ada injekan dibelakangnya” seru Alya sembari memperhatikan sepeda milik Opa nya itu.             “duduk disini aja. sebentar doang, kok” Davin menepuk besi antara kursi dan stang sepeda membuat Alya mengerutkan keningnya. “gak ah, sakit, trus nanti aku merosot jatuh, gimana?!”             “ngga. Kamu percaya deh sama aku. Ayo sini” segera Davin menarik Alya dan mendudukan wanita itu di besi antara kursi sepeda dan stang sepeda. “pegangan sama stangnya aja, oke.”             Belum sempat Alya menyahuti Davin segera menggerakan pedal sepeda, dan sepeda pun berjalan melewati pemandangan-pemandangan desa Zaanse Schans. “Belanda gak kalah romantis ya dari Paris” seru Davin disela-selanya menikmati pemandangan.             “jelas. Kamu lagi hepi” sahutnya Alya. Dia mencoba menyindir Davin walaupun justru malah dia sendiri yang merasa tersindir hingga tidak sadar wajahnya memerah dan tiba-tiba muncul senyum lebar pada bibirnya             Davin tertawa. “ternyata gak salah juga aku milih sepeda” serunya lagi.             Alya tertawa dengan keras. “modus cowok jaman sekarang” sahutnya setelah tawanya reda.             Mereka kembali terdiam karena sibuk menikmati pemandangan yang tersaji didepan mata. Davin sedikit menunduk. “makasih udah mau nunggu aku” bisiknya kemudian menarik kepalanya kembali dan segera mencium puncak kepala Alya.             Wanita itu hanya menganggukan kepalanya. Sayangnya Davin tidak bisa melihat, bahwa wajah Alya benar-benar merah sekarang. Kontak fisik yang barusan dilakukan Davin sukses membuat jantungnya berdegup kencang hingga Alya sedikit sakit merasakannya. Namun dia menikmatinya. Sangat menikmatinya.             “makasih karena sudah mencintai aku” bisik Alya dalam hati sembari merasakan angin musim gugur yang menerpa wajahnya dengan lembut karena Davin menginjak pedal sepeda tidak terlalu kencang.             ----------------------             End             Ket:             Jij : kamu             Ikh : aku , saya             Goedenacht : selamat malam (informal)             Dank u : terima kasih (informal)  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD