Lia berjalan sambil memandangi kuku palsunya berwarna pink glitter yang baru saja kemarin dia pasang di sebuah salon kecantikan. Sedangkan Belvina asik memainkan ponselnya, mereka berdua berjalan dengan kesibukan masing - masing.
“ Kukunya lucu banget sih, kayak gue. “ Ujar Lia memuji dirinya sendiri.
Belvina melirik Lia sebentar sambil bergidik. “ Kepedean banget manusia yang satu ini. “
“ Iri bilang Boss!! “ celutuk Lia tidak dibalas oleh Belvina karena merasa hanya akan buang – buang waktu saja jika meladeni temannya itu.
“ Belvina, lo tau gak berapa uang yang gue keluarin untuk perawatan kuku ini? “ Lia bertanya dan dijawab oleh Belvina seadanya.
“ Berapa emang? “
“ Seharga uang kost gue selama dua bulan! coba lo bayangin? Lumayan mahal, kan? “ jelas Lia dengan heboh.
“ Hmm… kalo gue sih, daripada buang duit gak jelas cuma buat kuku, lebih baik duitnya ditabung untuk masa depan. “ Belvina bicara dengan mata fokus ke layar ponselnya.
“ Masalahnya, gue itu gak punya masa depan. “ Dengan entengnya Lia mengeluarkan ucapan konyol seperti itu.
“ HEH! “ Belvina melotot ke arah Lia yang kini malah ketawa bukannya berfikir kalau tadi ucapannya tidaklah baik. “ Lia, lo udah gila ya? kalo ngomong itu jangan sembarangan! “
“ Bercanda, belvi. “
“ Bercanda lo gak lucu. “
Mereka berdua terus saja berjalan menelusuri koridor menuju ruangan. Terlalu fokus mengamati kukunya, ketika Lia ingin masuk ke dalam ruangan, ia tidak sengaja bertabrakan dengan seseorang yang baru saja keluar dari ruangan analis.
BUKK…
Lia hampir saja terjatuh, namun dengan cepat Barra menahan tubuhnya.
Belvina nampak terkejut melihat apa yang terjadi di hadapannya saat ini. “ Lia? Lo gak apa – apa? “
Lia tidak menjawab pertanyaan Belvina, dia sedang terkesima memandangi wajah tampan Barra yang kini sangat berdekatan dengannya. Terlihat wajah Lia berseri – seri, pipinya merah padam bersamaan dengan degup jantungnya yang sangat cepat.
Belvina yang merasa bingung melihat kedua orang dihadapannya diam bak patung langsung saja meledek temannya itu. “ Cie… tatap – tatapan. “
Mendengar Belvina bicara seperti itu, Barra langsung menjatuhkan tubuh Lia yang sejak tadi ia tahan menyebabkan perempuan itu terjatuh di lantai.
BUKK…
“ Aw… pak Barra kok saya di jatuhin, sih? ” Lia meringis merasakan punggung dan bokongnya terasa sakit karena tubuhnya dihempaskan begitu saja oleh Barra. Dengan cepat Belvina membantu Lia untuk berdiri.
“ Ya ampun Lia, ayo bangun. “
Setelah Lia sudah berdiri tegak, Belvina beralih menghadap Barra. “ Mr. Barra gak punya hati banget, sih! temen saya itu bukan karung beras yang seenaknya aja di jatuhin kayak tadi! “
“ Siapa yang bilang kalau temen kamu itu karung beras? “ tanya Barra membuat Belvina jadi kebingungan.
“ Gak ada, sih. “ Belvina menunduk malu.
“ Tau nih, belvi. Ada –ada aja lo, masa gue disamain dengan karung beras. “ Protes Lia.
“ Ya—ya, intinya Mr. Barra bersalah! “ cetus Belvina.
“ Temen kamu yang salah, kenapa dia jalan gak lihat – lihat! “ omel Barra, ia tak merasa bersalah telah menjatuhkan Lia.
“ Ma—maaf pak Barra, saya gak sengaja. “ Celetuk Lia, kemudian ia melirik tangannya. “ Kuku gue—“ Lia menatap nanar salah satu kuku barunya yang kini patah karena terbentur lantai ketika tadi dirinya dijatuhkan oleh Barra.
“ Tuh, Mr. Barra lihat, kan? kuku temen saya jadi patah gara – gara ulah Mr! “ protes Belvina tak terima atas perlakuan Barra kepada Lia.
“ Bukan urusan saya! Lagian, pasti teman kamu itu sengaja menabrak tubuh saya agar dia bisa bersentuhan dengan saya? “
“ Temen saya itu gak sengaja, Mr. “ Belvina menoleh ke arah Lia untuk bertanya. “ Lia, emang tadi lo sengaja tabrak Mr. Barra? “
Dengan bodohnya kepala Lia mengangguk. “ Iya, Eh—enggak pak Barra, saya gak bermaksud---“
“ Udah terbukti, kan? “ Barra memberikan tatapan meledek kepada Belvina. “ Perempuan jaman sekarang memang centil – centil sekali! “ Seru Barra sambil menepuk – nepuk kemejanya seolah – olah ada noda yang menempel karena tadi bersentuhan dengan Lia.
“ Lia, karena kamu sudah buat saya kesal. Bulan ini kamu tidak dapat bonus! Itu hukuman untuk kamu! “ tegas Barra.
Tanpa merasa terbebani, Lia tersenyum sumringah sambil mengangguk cepat. “ Siap pak Barra! “ katanya sambil memberi hormat.
“ Lia! “ Belvina mencubit gemas lengan Lia. “ Lo kenapa diam aja, sih? disini bukan sepenuhnya lo yang salah, kenapa lo terima aja hukumannya? harusnya lo protes! “
“ Apa maksud kamu? “ kini Barra beralih menatap Belvina. “ Kamu jangan kurang ajar kalau bicara! “
“ Saya cuma bingung aja sama Mr, Lia itu gak sengaja menabrak tubuh Mr. Barra dan dia juga udah minta maaf. Harusnya Mr memaafkan dia, bukan kasih hukuman ke Lia! Saya sebagai temannya tidak terima! “ jelas Belvina berbicara dengan lantang.
“ Belvina, gue gak apa – apa, kok. “ Lia mulai terlihat panik karena takut jika Barra berbuat diluar batas lagi seperti beberapa waktu lalu dimana Belvina disiram coffe.
“ Gak bisa Lia! Mr. Barra terlalu berlebihan sampai harus menghilangkan bonus bulanan lo! itu hak lo, Lia! dia gak bisa seenaknya mempermainkan karyawan! “ Protes Belvina yang sudah mulai emosi.
Barra terlihat tenang tanpa merasa bersalah atas apa yang sudah dia lakukan, hal itu membuat Belvina semakin kesal. “ Mr. Barra lihat kan, kuku temen saya patah? Dia mengeluarkan banyak uang untuk pasang kukunya itu. “ Belvina mengadahkan tangannya didepan wajah Barra. “ Karena Mr. Barra gak kasih dia bonus bulan ini, saya minta uang ganti rugi untuk biaya Lia pasang kuku baru lagi. “ Belvina memetik jarinya beberapa kali sambil berkata. “ Ayo cepat, mana uangnya. “ Pintanya bak preman pasar yang sangat memaksa.
“ Gak usah Belvina, pak Barra gak salah kok. Lagian, gue juga gak keberatan dan menerima hukuman dari pak Barra dengan ikhlas. “ Lia menarik Belvina agar mundur, tetap gadis itu tetap tidak bergerak, posisinya masih berada dihadapan Barra.
“ Gak bisa Lia, dia harus ganti rugi! “
Barra tertawa remeh. “ Kamu denger kan, temen kamu bilang dia yang salah dan tidak butuh uang untuk ganti rugi. “ Barra melirik Lia. “ Benar kan? “ tanya nya langsung dibalas anggukan oleh Lia.
“ Iya bener. Gak apa – apa saya ikhlas kuku saya ini di patahin pak Barra. “ Dengan bodohnya Lia berkata sambil senyam – senyum memandangi wajah Barra.
“ Kamu punya telinga untuk mendengar, kan? “ Barra memajukkan wajahnya mendekati Belvina, lalu dia menurunkan tangan Belvina yang sejak tadi mengadah dengan perlahan agar tidak menghalanginya untuk semakin mendekat.
Jantung Belvina mendadak berdetak sangat cepat ketika Barra semakin mendekati wajahnya, ia merasa tubuhnya membeku dan darahnya berdesir ketika nafas Barra sudah mulai terasa di wajahnya, sampai akhirnya Belvina berhenti merasakan semua itu ketika Barra melewati wajahnya dan beralih mendekati telingnya lalu berkata. “ DASAR PEREMPUAN TIDAK WARAS! “ Barra bicara dengan suara yang cukup keras membuat telinga Belvina mendengung.
“ Kamu jangan coba – coba manfaatin saya lagi dengan alasan minta ganti rugi untuk teman kamu! “ Selesai bicara Barra segera pergi, ia tak lupa untuk menabrak setengah bahu Belvina hingga gadis itu hampir saja terjatuh.
“ DASAR BARRA API! “ Belvina menggeram kesal sambil mengusap telinga nya yang masih berdengung karena teriakan Barra tadi. “ Gue benci banget sama dia! “ Bevina beralih melirik Lia yang kini melamun memandangai kepergian Barra sambil tersenyum, matanya terlihat bersinar menggambarkan dia sangat terpesona dengan lelaki itu.
“ Belvina, sekarang gue sudah bisa melihat masa depan yang cerah. Mr. Barra adalah masa depan gue! Ya tuhan, pak Bargem kalau dari dekat ternyata lebih tampan. “ Ungkap Lia penuh penghayatan.
“ LIA! “ merasa kesal, Belvina langsung menoyor kening Lia.
“ Aduh, Belvina. Kenapa, sih? ganggu gue lagi liatin Bargem aja! “ gerutu Lia.
“ Sumpah ya, lo itu nyebelin banget! bukannya dukung gue yang udah belain lo dari Barra api, eh malah mendukung dia! “ kedua tangan Belvina sudah terangkat ingin sekali mengacak – acak rambut Lia namun berusaha ia tahan rasa gemasnya itu. “ Bukannya protes, eh lo malah senyam – senyum terus setelah apa yang udah dia perbuat dan kasih hukuman ke lo! “
Lia terkekeh. “ Belvina, itu namanya Bargem lagi kasih hukuman manjyaahh. Makanya, gue anggap itu cara dia mengekspresikan perasaannnya ke gue, jadi gue diam aja deh. “ Jawaban ngelantur dari Lia semakin buat Belvina naik darah.
“ Terserah deh, lo ini yang rugi! Pertama, lo udah kehilangan bonus bulan ini dan kedua, gue pintain uang buat ganti kuku lo sok nolak! “ Belvina pun memilih masuk ke dalam ruangan lebih dulu meninggalkan Lia.
“ Kok, jadi dia yang ngambek? gue aja yang jadi korban biasa aja. “ Lia tertawa sebentar, ia menatap lagi kukunya. “ Kalau menabrak tubuh Bargem harus mematahkan kuku dulu, gue rela patahin semua kuku ini hanya demi pak Barra yang sangat tampan. “ Ucapnya terdengar sangat bersemangat.
**
Hari ini Belvina pulang on time yaitu jam lima sore. Sesuai dengan janji Zayn, setelah pulang bekerja dia mengajak Belvina untuk pergi membeli baju sekalian pergi ke salon. Belvina merasa sangat senang karena Zayn begitu perhatian padanya. Sebagai seorang perempuan, tentu saja Belvina sangat terbawa perasaan dan jatuh hati pada lelaki yang sangat perduli kepadanya.
“ Nanti kamu bantuin aku pilih baju ya? “
“ Enak ya jadi orang kaya? mau makan malam aja beli baju baru dulu. Kayaknya uang gak ada artinya lagi karena sudah terlalu banyak. Pasti kamu sangat bahagia dengan kehidupanmu saat ini, Zayn. “ Ucap Belvina sambil berjalan memasuki toko baju.
Zayn tersenyum melirik Belvina sambil mengusap lembut kepala gadis yang kini berjalan sejajar disampingnya. “ Jadi, menurut kamu kekayaan adalah tolak ukur sebuah kebahagiaan? “ tanya Zayn ingin tahu.
“ Um…” Belvina berfikir sebentar. “ Meskipun tidak sepenuhnya, tapi kalo kita punya banyak uang bukankah akan bahagia? “ Belvina mendongakan kepalanya mendapati Zayn sedang memperhatikannya. “ Kamu bisa membeli apapun yang kamu inginkan tanpa harus berfikir panjang. “ Tambahnya.
“ Kamu benar. “ Jari telunjuk Zayn mencolek hidung mancung milik Belvina. “ Tapi, ada yang tidak bisa dibeli dengan uang, belvi. “
“ Apa? “
“ Cinta. “ Jawab Zayn. Mereka berdua menghentikan langkahnya dan saling berhadapan. “ Dengan kekayaan yang aku punya saat ini, terkadang membuat aku sulit untuk menemukan cinta yang tulus, Belvina. “ Terang Zayn.
“ Kenapa sulit? diluaran sana ada banyak perempuan cantik antri ingin jadi pacar kamu, Zayn. “ Jawab Belvina.
Zayn mengusap rambutnya sambil menyombongkan diri. “ Kalo itu sih, udah pasti. Perempuan mana yang gak klepek – klepek liat aku ya, kan? “ godanya.
“ Hemm…. Sombong deh, sombong! Kalo lagi kayak begini kamu udah mirip banget sama sepupu kamu, tuh Barra api! “ tangan Belvina bergerak mencubit perut Zayn, ketika tangan Belvina melepaskan cubitannya, tiba – tiba Zayn menahan dan menggenggam tangan Belvina.
Belvina terdiam melihat tangannya di genggam lelaki dihadapannya, mulutnya bungkam meskipun sebenarnya bertanya – tanya mengapa kini Zayn menatapnya serius.
“ Aku tidak kesulitan untuk menemukan perempuan yang cantik, tapi aku kesulitan menemukan perempuan tulus yang cintanya murni bukan karena kekayaan dan apa yang aku punya saat ini, belvi. “ Jelas Zayn memberikan tatapan penuh arti kepada Belvina yang kini terdiam seribu bahasa dengan jantung yang terus berdetak cepat.
Belvina mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum akhirnya berkata. “ Se—semoga, suatu saat nanti kamu bertemu dengan wanita yang tepat. “ Ucap Belvina gugup.
“ Amin. “ Zayn melepaskan tangan Belvina yang sejak tadi dia genggam.
“ Permisi, ada yang bisa saya bantu? “ ternyata sejak tadi ada karyawan toko baju yang berdiri di dekat mereka.
“ Oh, iya. Saya mau lihat – lihat dulu, ya. “ Zayn pun mengajak Belvina mencari pakaian yang cocok untuk acara nanti malam.
Belvina memperhatikan salah satu dress mini berwarna putih yang terlihat sangat menawan meskipun sederhana, tapi terkesan santai.
“ Kamu mau pakai outfit apa, Zayn? “ tanya Belvina.
“ Kayaknya aku pengen yang santai aja, soalnya kan ini bukan acara resmi. “ Ungkap Zayn. Mendengar itu Belvina langsung mengerti pakaian apa yang tepat untuk Zayn.
“ Zayn. “ Panggil Belvina, lelaki itu berhenti melangkah.
“ Kenapa? “ Zayn menatap Belvina bingung karena gadis itu kini memperhatikan dirinya dari atas kepala hingga ujung kaki. “ Apa ada yang salah? “
“ Gak, kok. “ Belvina mengalihkan pandangannya ke arah pakaian yang tergantung rapih di rak baju toko tersebut. Kemudian dia berjalan mendekati dan mengambil kaos oblong berwarna putih. “ Kamu pakai ini aja, Zayn. “ Belvina mengambil baju itu dan menunjukkan ke arah Zayn.
“ Kamu serius, belvi? Masa, cuma pakai ini aja? “ Zayn mengambil baju itu dan menatapnya terheran – heran. “ Gimana kalau kemeja dan jas aja? “ saran Zayn.
“ Zayn, tadi katanya kamu mau outfit yang santai? “ Belvina melangkah ke hadapan Zayn. “ Kamu kan, pakai Blazer. “ Belvina menunjuk Blazer hitam yang saat ini Zayn kenakan. “ Kalau di padukan sama kaos putih itu jadi keliatan lebih kece dibanding kamu pakai jas dan kemeja. Jadi, nanti kamu tinggal ganti aja kemeja yang kamu pakai sekarang dengan kaos putih itu. Lagian, kita kan mau dinner bukan mau ke kantor masa pakai kemeja sama jas terus.“ Belvina tertawa sebentar. “ Pokoknya, kamu pakai itu ya? Biar kita jadi couple. “ Lanjut Belvina.
“ Maksud kamu? “ Zayn mengernyitkan keningnya.
“ Sebentar. “ Belvina pergi mengambil dress mini berwarna putih yang sejak tadi mencuri perhatiannya, lalu dia mengambil blazer wanita berwarna hitam yang tak jauh darinya, setelah itu dia kembali menghampiri Zayn.
“ Tadaaaaa…. Lihat ini, Zayn .” Belvina menunjukka dua pakaian yang sudah berada di tangannya.
“ Jadi, hari ini kita tema nya hitam – putih. “ Belvina bicara penuh semangat sambil menaik turunkan alisnya. “ Gimana? Kamu setuju, kan? “ tanya nya.
“ Umm… emang menurut kamu aku cocok dengan tampilan sederhana begitu? “ Zayn melirik kaos polos pilihan Belvina. Dia merasa ragu karena rasanya sangat aneh jika dia hanya membeli kaos putih saja dan menggunakan kembali blazer yang sejak tadi dia gunakan.
“ Zayn, kamu itu ganteng dan keren! Jadi, pakai apa aja pasti cocok di badan kamu yang super atletis! “ suara Belvina terdengar begitu semangat membuat Zayn jadi percaya saja pada gadis itu.
“ Oke, aku ikutin mau kamu. “ Zayn pun segera pergi ke kasir bersama Belvina untuk membayar pakaian yang telah mereka pilih.
Setelah dari toko pakaian, mereka beralih menuju salon untuk memaksimalkan penampilan.
“ Zayn, aku jadi gak enak sama kamu. Ini baju yang kamu beliin harganya mahal banget dan sekarang kamu juga mau bayarin aku ke salon. “ Ucapnya sambil berjalan kaki memasuki salon yang cukup besar dan Belvina yakini harga perawatan disana pasti sangat mahal.
Zayn menghentikan langkahnya ketika sudah berada di dalam salon, dia menatap Belvina dengan seulas senyuman. “ Karena aku yang ajak kamu, jadi udah kewajiban aku memperhatikan penampilan dan apa yang kamu butuhkan, belvi. “ Seperti biasa, lelaki itu mengusap kepala Belvina membuat gadis itu selalu terhanyut dibuatnya.
“ Makasih banyak, Zayn. “ Tangan Belvina bergerak mengelus lengan lelaki dihadapannya.
“ Mbak, buat teman saya ini jadi cantik banget malam ini. “ Perintah Zayn kepada salah satu karyawan salon.
“ Ih saya bukan mbak – mbak tau. “ Ucap pelayan yang berperawakan seperti perempuan namun ternyata lelaki atau lebih tepatnya bisa disebut seperti Waria. “ Panggil Ben aja ya atau kalau tidak keberatan mas ganteng boleh tambahin kalimat sayang dibelakangnya, jadi Ben sayang. “ Goda karyawan salon yang diketahui bernama Ben itu dengan suara lemah lembut.
Belvina tertawa melihat Zayn digoda oleh Ben, sedangkan Zayn terlihat risih dengan Ben karena memperhatikannya dengan genit.
“ Susi…susi…” Ben berteriak ke pada karyawan salon lainnya. “ Tolong kamu ubah mbak cantik ini jadi bidadari yang turun dari khayangan. “ Ucap Ben ketika Susi sudah berada di hadapannya.
“ Siap laksanakan! “ Susi segera menggiring Belvina menuju ruangan perawatan khusus wanita. Sedangkan Zayn masih tetap berada di posisinya tadi bersama Ben.
“ Bye, Zayn. “ Belvina menahan tawanya sambil melambaikan tangan.
“ Mas ganteng juga mau perawatan? “ tanya nya dengan nada manja bicara pada Zayn.
“ Iya, saya butuh Hair Stylist. “ Zayn mengangguk kaku, dia merasa tertekan berada di dekat pelayan lelaki yang terlihat lemah gemulai dihadapannya.
“ Rudi…Rudi… cepat kamu layani mas ganteng. Jangan buat dia menunggu.” Teriak Ben dengan suara tegas membuat Zayn terkejut ternyata pria dihadapannya itu bisa juga bersuara seperti lelaki tulen.
Ben menoleh ke arah Zayn yang masih terkejut, lalu ia berkata dengan suara lembut lagi seperti perempuan. “ Mas ganteng kaget ya? maaf, terkadang jiwa lelaki saya suka muncul tiba – tiba. “ Ucapnya.
“ O—oke. “ Zayn tersenyum meringis, dia bersumpah tidak akan mampir ke salon ini lagi agar tidak bertemu orang seperti Ben.
Berbeda dengan Zayn yang hanya memerlukan satu orang Hair Stylist, saat ini Belvina ditangani oleh beberapa karyawan salon mulai dari Hair Stylist, bagian Make up dan yang lainnya bekerja dengan cepat namun tidak asal – asalan untuk merubah penampilan Belvina.
Zayn selesai lebih dulu, dia langsung mengganti pakaiannya di ruang ganti di salon itu. Setelah selesai, Zayn duduk di sofa yang tersedia menunggu kedatangan Belvina sambil membaca majalah.
Hampir satu jam Zayn menunggu dengan bosan, akhirnya Belvina datang juga.
Zayn yang tadinya sedang membaca majalah sampai tidak fokus setelah melihat gadis bertubuh tinggi semampai menggunakan Dress mini dibawah lutut dibalut blazer hitam berjalan dengan anggun bak model Victoria Secret mendekat ke arahnya. Paras ayu nan cantik Belvina semakin berlipat ganda setelah dipoles make up natural dan rambut panjangnya di sanggul oleh Hair Stylist agar terlihat rapih dan elegant supaya ketika makan nanti rambutnya tidak acak – acakan dan menganggu.
Mata Zayn tidak berkedip dengan mulut setengah terbuka, ia meneguk ludahnya susah payah sambil memperhatikan Belvina yang semakin mendekat ke arahnya. Ketika sudah berada di hadapan Zayn, dengan manis Belvina menampilkan senyuman merekah. Rupanya hal itu membuat Zayn jadi semakin gugup dan hilang konsetntrasi hingga dirinya tidak sengaja menjatuhkan majalah yang sejak tadi ditangannya, lalu dengan ceroboh ia membungkukkan tubuhnya untuk mengambil majalah itu, tapi kepalanya tidak sengaja terbentur meja di hadapannya.
“ Aw…” ringisnya.
“ Zayn, kamu gak apa – apa? “ Belvina mendekati Zayn, lalu mengusap kening Zayn yang baru saja terbentur.
DEG…
Zayn merasa organ dalam tubuhnya bergemuruh ketika Belvina menyentuhnya.
‘ Sial! Belvina cantiknya kelewatan! ‘ batin Zayn mengatur kadar ketegangan dalam dirinya.
“ Aku gak apa – apa, kok. “ Zayn segera berdiri. “ Kamu udah siap? ”
“ Udah. “ Belvina memperhatikan tampilan Zayn dengan kaos putih di balut blazer, meskipun terkesan sederhana tapi jika Zayn yang mengenakannya kelihatan sangat modis dan keren.
“ Cie – cie warna bajunya kembaran. Uwu banget sih, kalian berdua outfitnya pakai tema monokrom hitam – putih! “ Ben menghampiri mereka berdua dengan heboh. “ Pokoknya, kalian berdua cuco marucok markotop top top! Kalau nanti nikah undang Ben ya? “ Ben terus saja banyak bicara membuat Belvina tertawa mendengar suaranya.
“ Ayo, nanti kita telat. “ Zayn segera mengajak Belvina pergi dari sana sebelum mendapat banyak pertanyaan dari Ben.