Zayn dan Belvina baru saja tiba di sebuah restauran, tempat dimana Niana mengadakan acara makan malam hari ini. Zayn mendekati Belvina lalu mengulurkan tangannya kehadapan perempuan yang sudah membuat dahinya terbentur meja salon karena terpesona dengan kecantikannya. “ Kurang kompak rasanya kalau gak gandengan. “ Ucap Zayn dibalas anggukan setuju oleh Belvina.
“ Baiklah, Zayn. “ Belvina pun langsung mengenggam tangan Zayn, ia berjalan masuk ke dalam restauran sambil bergandengan.
Gugup, tegang, namun juga senang.
Ketiga perasaan itulah yang mereka berdua masing – masing rasakan. Sesekali Zayn melirik Belvina yang begitu menawan, ia merasa bingung mengapa Barra bisa setega itu berlaku kasar pada gadis yang sangat memesona ini.
“ Belvina, tangan kamu dingin. “ Celetuk Zayn.
“ Ah? Um… aku…” Belvina jadi tambah grogi setelah Zayn menyadari bahwa dirinya gugup sekali. Padahal, Belvina tidak tahu saja kalau sejak tadi jantung Zayn juga sedang berdebar – debar dibuatnya.
“ Gak usah dijelasin. “ Potong Zayn mengerti perasaan gadis itu.
Mereka berdua mempercepat langkahnya menuju salah satu Room Privat di restaurant itu yang telah di pesan Niana. Zayn juga tidak lupa membawa hadiah yang kemarin dia beli bersama Belvina.
Disisi lain, Barra, Devo dan Niana sudah duduk manis sambil menunggu kedatangan Zayn.
“ Kenapa Zayn belum juga datang? di w******p gak di balas dan ditelefon pun tidak di angkat! Kemana manusia yang satu ini! “ Barra sejak tadi terus saja menggerutu.
“ Sabar sedikit kenapa, bar. Mungkin jalanan macet? “ Niana berusaha mendinginkan adiknya yang sudah mulai emosi.
“ Jalanan mana yang macet? Tadi kita lewat gak macet, kan? dia itu pasti melewati jalan yang sama, kak! Pasti dia lupa atau ketiduran! Dasar bodoh! “ Barra terus saja mengomel.
“ Lebih baik kamu minum dulu deh, biar tenang gak ngedumel terus. “ Niana menyodorkan Ice Milk Tea kesukaan Barra yang sejak tadi berada di atas meja. Barra pun langsung menyeruput minuman itu untuk menghilangkan dahaga karena sejak tadi terus saja bicara.
“ Nah, itu dia orangnya. “ Devo menunjuk ke arah kedua insan yang kini sedang bergandengan tangan dengan warna baju senada baru saja datang.
“ WOW! “ Niana berdecak kagum melihat penampilan mereka berdua yang terlihat kompak.
“ Hai? Sorry ya kita berdua telat. “ Zayn menarik kursi untuk Belvina duduk.
Melihat Zayn datang tidak sendirian, melainkan bersama Belvina membuat Barra sampai tersedak minumannya hingga terbatuk – batuk.
“ Uhuk…Uhuk… ”
Niana yang duduk tepat disebelah Barra langsung mengusap punggung adiknya. “ Kaka tau kamu haus, tapi minumnya pelan – pelan, dong. “
Barra mengambil tissue, ia mengelap bibirnya yang basah sambil menatap lurus ke arah Belvina yang duduk tepat dihadapannya. Dahinya mulai berkerut dan tak lupa melemparkan tatapan tajam ke arah perempuan yang sedang dia usahakan agar segera resign dari kantornya.
Belvina terdiam, ia melihat kengerian di wajah Barra yang kini semakin memperdalam tatapannya, Belvina pun berusaha mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Barra meletakan gelas yang sejak tadi dia genggam ke atas meja dengan kasar membuat yang ada di dekatnya kaget.
“ Barra! “
“ Zayn, lo ngapain ajak dia? “ Barra bicara dengan nada tinggi. Rahangnya menegang sambil menggertakkan giginya, pertanda bahwa emosi lelaki itu sudah mulai tidak stabil.
“ Emang kenapa? gue udah minta izin sama Niana, kok. “ Jawab Zayn dengan tenang, ia duduk disebelah Belvina.
Barra beralih menatap Belvina sinis. “ Kamu kenapa ada disini? acara ini privat dan kamu tidak layak ikut serta sama kita! Kamu itu gak selevel sama kita! Sekarang lebih baik kamu pergi! “ Sampai hati Barra memaki – maki Belvina, terlihat gadis itu nampak Sedih dan merasa malu diperlakukan seperti itu di depan umum.
“ Barra! Ini hari ulang tahun kaka, jadi tolong jangan buat rusuh! “ omel Niana, ia mulai kesal dengan sikap adiknya yang tidak terkendali.
“ Kak, Barra gak suka kalau ada orang yang tidak setara satu meja dengan kita! “ tegas Barra mendapat gelengan kepala dari Niana, Devo dan Zayn.
“ Bar, udahlah. Lebih baik kita nikmati hari ini dengan bersenang – senang. “ Sahut Zayn dibalas senyuman miring oleh Barra.
Bagaimana Barra bisa bersenang – senang kalau keberadaan Belvina membuatnya naik darah.
“ Yaudah, kalau dia gak mau pergi… “ Barra menatap Belvina tajam. “ Biar Barra aja yang pergi. “
“ Jangan! “ sahut Belvina. “ Biar saya aja yang pergi. “ Belvina bangun dari duduknya, ia ingin segera pergi namun dicegah oleh Zayn.
“ Jangan pergi, belvi. Ayo duduk kembali. “ Perintah Zayn, tapi Belvina memaksa untuk tetap pergi karena dia merasa kehadirannya hanya akan membuat suasana jadi tidak kondusif.
“ Gak apa – apa, Zayn. Aku gak mau buat acara ulang tahun mbak Niana jadi berantakan. “ Belvina berusaha menampilkan senyuman yang terlihat dipaksakan.
“ Belvina kamu tetap disini, kalau kamu pergi saya akan sangat kecewa. “ Niana ikut melarangnya pergi.
“ Tapi—“
“ Ini acara saya, jadi kamu tidak perlu khawatir. “ Ungkap Niana, akhirnya Belvina kembali duduk karena tidak ingin membuat Niana kecewa. Sedangkan Barra kini memberi tatapan penuh pertanyaan kepada Niana.
“ Kak? Kenapa gak dibiarin aja dia pergi! “ Protes Barra tak terima.
“ Barra, kakak mohon sama kamu jangan bikin ulah. Ini hari ulang tahun kakak, bar. Jangan bikin mood kakak rusak, deh! “ ucap Niana mulai geregetan.
“ Yaudah, kalau gitu biar Barra aja yang pergi! “ Barra pun bangun dari duduknya. Sebelum pergi, ia menatap semua yang ada didekatnya saat ini hanya terdiam memandanginya. Barra bingung mengapa tidak ada yang melarangnya atau mencegahnya pergi.
Barra mendengus kesal seraya duduk kembali, ia menyandarkan tubuhnya kasar. “ Kenapa gak ada yang cegah Barra? “ ungkapnya menahan rasa malu.
Niana menahan tawanya melihat ekspresi adiknya saat ini sedang merengut, ia tahu pasti Barra kesal karena tidak ada yang mencegahnya pergi.
“ Gak jadi pergi? “ pertanyaan itu keluar dari mulut Belvina yang memang terkadang tidak bisa dikontrol.
“ DIAM KAMU! “ Bentak Barra membuat Belvina bergidik ngeri.
“ Jadi, gak masalah kan kalau Belvina ikut makan bareng kita? “ tanya Devo yang juga ingin tertawa.
“ Masalah! Tapi, demi kak Niana gue coba untuk sabar. “ Ungkap Barra dengan raut wajah merengut.
Niana memeluk Barra dari samping. “ Baik sekali adikku. “ Tak lupa dia memberi satu kecupan dipipi Barra.
“ Aku mau izin ke toilet dulu, ya? “ setelah mendapat anggukan dari yang lainnya, Belvina segera pergi.
Melihat Belvina berjalan menuju toilet, muncul sebuah ide jahat di otak Barra. Dia pun bergerak bangun dari duduknya.
“ Kamu mau kemana? “ tanya Niana.
“ A—aku mau ambil dompet ketinggalan di dalam mobil. “ Jawab Barra.
“ Ini anak kebiasaan banget dompetnya ketinggalan mulu. “ Zayn geleng – geleng.
“ Mau ambil dompet atau mau samperin Belvina? “ celetuk Devo yang selalu saja menebak dengan benar.
‘ sial! Kenapa Devo bisa tahu! ‘
“ Ngapain gue nyamperin dia? Kurang kerjaan! “ ucapnya berusaha mengelak.
“ Yaudah sana. Ingat, jangan berbuat yang aneh – aneh. “ Niana memperingati adiknya yang sangat keras kepala itu.
“ Iya, bawel. “
Barra pun bergegas pergi dengan langkah terburu – buru.
Belvina menatap dirinya di cermin sambil menggerutu kesal. Dia selalu dibuat jengkel dan sakit hati oleh ucapan Barra yang tak pernah difikirkan dulu sebelum bicara.
“ Dasar Barra Api!! “ Belvina bicara sedikit berteriak, untungnya saat ini toiletnya sepi, jadi dia bisa leluasa meluapkan kekesalannya.
“ Gua sumpahin dia…dia…” Belvina berfikir dulu kira – kira kutukan apa yang tepat untuk Barra yang sudah mempermalukannya tadi. “ Pokoknya, gue sumpahin dia kena sial! “ ungkapnya penuh kekesalan.
Setelah selesai meluapkan amarahnya, Belvina segera keluar toilet. Dia terkejut melihat ada lelaki yang kini bersandar di samping pintu toilet.
“ Mr. Ba—Barra? “ Belvina mengerjapkan matanya beberapa kali, dia jadi deg – degan sendiri karena takut jika atasannya itu sejak tadi mendengarkan dirinya bicara yang tidak – tidak tentang Barra.
Barra menarik tubuhnya yang sejak tadi menempel dinding. “ Gak usah kaget kayak gitu, saya bukan hantu! “ ujarnya.
“ Um…” Belvina menggarug dagunya yang tak gatal. “ Mr. Barra ngapain disini? toilet laki – laki bukan disini, tapi sebelah sana. “ Belvina menunjuk ke arah toilet lelaki yang cukup berjarak dari toilet perempuan.
“ Terserah saya, dong. “ Barra mendekati Belvina, tetapi gadis itu malah melangkah mundur karena takut Barra akan berbuat kasar padanya. Matanya melihat ke kanan dan kiri tidak ada siapapun saat ini membuat Belvina semakin cemas.
“ Mr. Barra mau nga—ngapain? “ Belvina bicara terbata – bata, ia merasakan kini punggungnya sudah menyentuh dinding dan itu artinya sudah tidak ada celah lagi untuk dia melangkah mundur.
“ Menurut kamu saya mau ngapain, hm? “ Barra berdiri tepat dihadapan Belvina, mereka berdua hanya dipisahkan sedikit jarak. Kedua mata mereka saling bertatapan sebentar sebelum akhirnya Barra membuang pandangannya karena dia sendiri tiba – tiba saja merasakan sesuatu yang bergemuruh di hatinya.
‘ Sial apa – apaan ini! ‘
Barra mengusap wajahnya sendiri, entah mengapa menatap Belvina seperti tadi menciptakan dentuman di dalam jantungnya. Barra akui dengan penampilan Belvina saat ini cukup berbeda dan memanglah memancarkan aura kecantikan yang luar biasa, namun Barra berusaha mengubur pemikiran itu karena dia tidak ingin memberi celah untuk memuji perempuan yang selalu buatnya kesal.
“ Apa mau kamu? “ tanya Belvina memberanikan diri.
Barra tersenyum tipis. “ Saya mau kamu pergi dan tidak usah ikut makan malam. “ Perintahnya.
“ Tapi, saya gak enak sama mbak Niana. “
“ Saya bilang pergi ya pergi! itu perintah dan tidak boleh di tolak! “ Tegasnya.
“ Tapi—“
Barra memegang lengan Belvina. “ Gak ada tapi – tapian! “ ia menarik gadis itu keluar dari sana dengan paksa. “ Ikut saya! “
“ Mr. Barra, kita mau kemana? “ Kaki Belvina terpaksa ikut melangkah karena Barra menarik tangannya untuk berjalan mengikutinya.
“ Jangan bawel! “
Barra membawa Belvina keluar restauran, ia menghentikan langkahnya ketika sudah di depan.
“ Kita ngapain keluar? “ Belvina bertanya namun tidak ditanggapi oleh Barra yang kini sedang mencari – cari sesuatu di sekitar parkiran restaurant.
“ Mr. Barra lagi cari siapa? “ Belvina nampak kebingungan dengan tingkah lelaki itu, sampai akhirnya ada ojek online yang mengahampiri mereka berdua di depan restauran.
“ Atas nama Barra Eugene? “ tanya pengemudi ojek itu dijawab anggukan oleh Barra. Ternyata lelaki itu sudah memesankan Belvina ojol untuk mengantarkan perempuan itu pulang.
“ Sekarang kamu naik dan pulang! “ Barra mendorong Belvina untuk segera naik.
“ Tapi, saya gak enak sama mbak Niana dan Zayn. Saya masuk ke dalam lagi aja ya? “ Belvina ingin melangkah pergi namun ditahan oleh Barra.
“ Naik! “ tegasnya.
“ Mr—“
“ Jangan protes! “ bentak Barra membuat Belvina akhirnya menuruti saja perintah Barra meskipun sebenarnya dia ingin sekali ikut berkumpul dan dia juga merasa tidak enak hati jika pergi tanpa berpamitan dengan Niana dan Zayn.
“ Ck, oke – oke saya akan naik. “ Dengan lemas, akhirnya Belvina naik ke atas motor itu. “ Udah, kan? “
“ Bagus. “ Barra tersenyum puas. “ Kamu gak perlu khawatir, ongkos ojek ini sudah di bayar. Kamu cukup duduk manis dan akan sampai di tempat waktu itu saya antar kamu pulang. “
“ Makasih. “ Jawabnya terpaksa.
“ Mas, cepat bawa perempuan ini pergi. Kalau perlu culik aja, saya gak keberatan. “ Barra tertawa tanpa merasa bersalah.
“ Si mas bisa aja. Yaudah kalau gitu, permisi. “ Pengemudi Ojol pun segera melajukan motornya membawa Belvina yang duduk sambil cemberut, dengan gembira Barra melambaikan tangannya ke arah Belvina sambil berkata. “ Bye perempuan tidak waras! “
Merasa rencananya sudah berjalan mulus, Barra pun kembali masuk ke dalam restauran meninggalkan Belvina yang sudah mulai menjauh bersama ojol itu.
Barra berjalan menuju Room Privat sambil bersiul senang karena sudah berhasil menyingkirkan Belvina. Setidaknya, hari ini dia bisa makan malam dengan tenang dan damai tanpa melihat Belvina.
“ Wah, makanannya udah siap. “ Ucap Barra yang baru saja sampai, ia melihat di meja sudah tertata banyak menu mulai dari Appetizer, Main course dan tak lupa Dessert untuk makanan penutupnya. Barra segera duduk di kursinya dengan wajah sumringah.
Niana memperhatikan ekspresi adiknya terlihat berbeda dari sebelumnya yang sedikit merengut.
“ Tadi cemberut, sekarang kok Kamu kayaknya kelihatan bahagia banget? “ Niana mengamati wajah adiknya.
“ Bahagia, dong. Kan, hari ini kakak kesayangan Barra lagi ulang tahun. “ Ucapnya dilanjuti senyuman merekah.
“ Ngomong – ngomong, Belvina kemana ya? “ Zayn nampak cemas menunggu Belvina yang tak kunjung datang.
“ Coba kamu cek di toilet, Zayn. Takutnya dia kenapa – kenapa? “ Niana jadi ikut khawatir.
“ Kalian semua tidak usah cemas. Tadi dia nitip salam sama Barra, katanya izin pulang lebih awal. “ Bohong Barra menjelaskan dengan begitu semangat.
“ Masa, sih? apa alasannya? “ tanya Zayn.
“ Dia bilang katanya gak biasa makan di tempat mahal takut perutnya sakit, jadi dia memutuskan untuk pulang saja mau makan dirumah. “ Barra semakin memperluas kebohongannya yang tak masuk akal itu.
“ Yang bener, bar? “ Zayn terlihat ragu dengan penjelasan Barra. “ Gue serius, nih. “
“ Beneran. “ Barra manggut – manggut sambil memotong steak daging dipiringnya yang sangat menggoda. “ Buat apa gue bohong? “
“ Kok, dia gak pamit dulu ke kita? “ tanya Niana.
“ Gak tahu. “ Barra mengangkat bahunya. “ Mungkin dia gak betah berada di tempat mahal seperti ini. “ Lanjut Barra, ia melahap daging steak yang sudah ia potong beberapa bagian. “ Um… enak sekali. “ Katanya menunjukkan ekspresi nikmat dari makanan itu.
“ Lo gak paksa dia untuk pulang, kan? “ celetuk Devo menatap Barra curiga.
“ Enggak, lah. Buang – buang energi aja paksa dia pulang. “ Jawab Barra berusaha terlihat tenang.
“ Yaudah biarin aja, mungkin Belvina emang gak suka sama makanan yang ada ditempat ini. Ayo dinikmati makanannya. “ Niana mempersilahkan hidangan yang dia pesan untuk segera dimakan.
Zayn juga mulai melahap makanannya meskipun masih memikirkan Belvina. Dia merasa ada yang aneh.
“ Sorry ya aku agak lama di toilet. “ Tiba – tiba saja Belvina datang dan langsung duduk disebelah Zayn membuat Barra tersedak daging yang belum sempurna ia telan menyebabkan dirinya kesulitan bernafas.
“ Loh, Mr. Barra kenapa? “ Belvina segera memberikan pertolongan kepada lelaki itu dengan menyodorkannya segelas air. “ Minum Mr, kalau enggak nanti bisa meninggal karena kesulitan bernafas.” Ucap Belvina dengan memberikan penekanan pada kalimat ‘meninggal’
Barra pun mengambil minuman itu dan segera meneguknya untuk menurunkan makanan yang menghambat di tenggorokannya.
“ Barra, kamu hari ini kenapa sih? makan dan minum tersedak terus? Pelan – pelan dong jangan kayak orang kelaparan yang gak dikasih makan selama seminggu! “ Niana kembali mengusap punggung adiknya itu. “ Udah mendingan? “ tanya nya dan Barra mengangguk.
“ Kata Barra kamu pulang duluan? “ tanya Zayn untuk mengkonfirmasi laporan dari Barra tadi.
“ Ngapain aku pulang? kan, acaranya aja belum selesai. “ Jawab Belvina santai.
“ Berarti kamu bohong! “ Niana menoyor pelan kepala Barra karena adiknya itu telah berbohong.
“ Udah gue duga. Soalnya, alasan yang Barra berikan itu gak masuk akal! “ cetus Zayn.
Barra terdiam, ia mengatur nafasnya yang masih sedikit sesak. Barra memperhatikan Belvina dengan segudang pertanyaan. Bagaimana bisa perempuan itu masih ada disini sedangkan tadi Barra melihat jelas bahwa Belvina sudah pergi bersama ojol pesanannya. Barra mengepalkan tangannya kuat menahan rasa kesalnya karena merasa dipermainkan oleh Belvina.
“ Mr. Barra kenapa lihatin saya seperti itu? kok, kayak kaget gitu sih? “ Belvina bertanya dengan ekspresi meledek, hal itu semakin membuat Barra memanas.
“ Jangan sok tahu! “ Balas Barra.
“ Sudah – sudah, lebih baik kita nikmati lagi makanan ini. “ Ujar Devo. “ Ayo Belvina, silahkan dinikmati makananya. “
“ Terimakasih. “ Dengan senang hati Belvina mulai melahap makanan yang begitu mengugah seleranya itu. Berbeda dengannya yang penuh semangat, kini Barra terlihat tidak nafsu makan.
Mata Barra melebar memperhatikan Belvina yang terlihat begitu menikmati hidangan dihadapannya, ia sangat jengkel pada gadis itu karena tak menuruti perintahnya untuk tidak ikut makan malam. Disaat dirinya sedang menatap Belvina, gadis itu tak sengaja ikut menatapnya membuat kedua mata mereka berdua saling bertabrakan.
Belvina mengunyah makanan dimulutnya seraya memberikan tatapan mengejek dan tak lupa tersenyum dengan kedua alisnya yang sengaja di naik turunkan, seolah – olah menunjukkan bahwa dia puas telah mengerjai Barra.
‘ Kamu fikir aku sebodoh itu wahai Barra Api!! ‘ ucap Belvina dalam hati, ia ingin sekali tertawa jika mengingat tadi ketika baru saja menjauh dari restauran dengan paksa dia menyuruh Ojol yang dia tumpangi untuk putar balik ke restaurant. Dia sampai tidak sabar melihat bagaimana ekspresi Barra ketika melihat dirinya datang kembali dan sekarang semua itu sudah terbayarkan. Belvina merasa puas karena Barra terlihat tak bersemangat karena rencana menyingkirkan Belvina gagal.
“ Perempuan tidak waras. “ Umpat Barra.
“ Mr. Barra kenapa melongo? lagi banyak fikiran ya? kasihan tuh steak dagingnya di anggurin aja. “ Lagi – lagi Belvina memberikan pertanyaan seperti menyindir Barra yang kini terlihat tak nafsu makan karena melihat dirinya datang kembali.
“ Kamu gak usah banyak tanya! “ Balas Barra.
“ Baiklah. “ Belvina manggut – manggut.
“ Barra kamu ini kenapa, sih? Belvina itu cuma bertanya, kenapa kamu sewot terus balasnya. “ Omel Niana.
“ HHHH…Semua perempuan di dunia ini kenapa sangat cerewet! “ gerutunya mendapat toyoran dari Niana.
“ Sembarangan kalau ngomong! “
Selesai makan, Devo segera memberikan hadiah yang dia bawa untuk Niana.
“ Happy Bithday, Niana. “ Devo menyerahkan sebuah kotak berukuran sedang yang di ikat dengan pita berwarna merah.
“ Terimakasih, Devo. “ Niana memeluk sebentar tubuh Devo yang duduk di sebelah kirinya.
“ Dibuka, dong. “ Pinta Devo.
“ Apa nih, isinya? “ Niana menarik tali pita yang terikat hingga terlepas, lalu ia buka tutup kotak tersebut untuk melihat ada hadiah apa di dalamnya. “ Wow! Thankyou, Devo. Gue suka banget kado nya. “ Niana berdecak kagum mendapat hadiah Apple Watch Series 6 berwarna gold. “ Gilak keren banget ini. “
“ Nah, Ini kado dari gue untuk sepupu gue yang paling cantik tapi galak. “ Zayn menyodorkan Paper Bag berwarna pink yang didalamnya terdapat kotak berisi Lionton bertuliskan huruh ‘N’ pilihan Belvina.
“ Makasih, sepupuku. “ Niana mengambil PaperBag itu dan melihat isi didalamnya. “ Wah, apani? “ Dia membuka kotak yang berisi kalung Liontin bertuliskan inisial namanya. “ Ya ampun, Zayn? “ Niana melongo menatap hadiah dari Zayn.
“ Suka gak? “ tanya Zayn.
“ SUKA BUANGET!!! “ Niana bangun dari duduknya, menghampiri Zayn lalu memeluk sepupunya itu sebentar. “ Thankyou so much, Zayn. “
“ Sama – sama, Niana. “ Zayn ikut tersenyum puas melihat Niana sangat bahagia. Dia melirik Belvina yang juga ikut senang. “ Hadiah Liontin itu Belvina yang pilih. “ Terang Zayn.
“ Oh, ya? “ Niana menoleh ke arah Belvina. “ Wah, selera kamu bagus juga Belvina. Makasih ya udah pilihin kalung ini. “
“ Sama – sama, Mbak. “ Belvina menghampiri Niana. “ Selamat ulang tahun ya. Maaf aku gak bisa kasih apa – apa. “ Ucapnya tak merasa tidak enak hati.
“ Dasar miskin. “ Ucap Barra pelan.
“ Kamu udah sempetin datang saja udah cuku kok, belvi. “ Niana memeluk Belvina beberapa saat sebelum akhirnya kembali ke tempat duduknya.
Niana mencolek Barra yang kini terlihat tidak lesuh. “ Kado dari kamu mana? “
Barra mengambil PaperBag cukup besar di samping kursinya, lalu memberikannya kepada Niana.
“ Hadiah nya apa,nih? Jangan sampai sepatu balet lagi. “ Ledek Niana.
“ Lihat aja sendiri. “ Barra menyerahkan hadiahnya kepada Niana.
Niana melongok isi di dalam PaperBag tersebut dan ternyata ada sebuah tas Branded dengan desain elegan untuk dirinya.
“ Bar? Sumpah ini tas keren banget!! “ Dengan gembira dia memeluk erat Barra yang terlihat sesak nafas karena Niana begitu kencang memeluknya.
“ Kak, udah dong. Nanti Barra kehabisan oksigen. “ Keluh Barra, akhirnya Niana melepaskan pelukannya.
“ Ya maaf, kaka itu seneng banget kamu beliin tas ini. “ Niana memandangi tas itu sampai terkagum – kagum. “ Tapi—“ Niana kini memberikan tatapan penuh pertanyaan.
“ Apalagi? “ Barra memutar kedua bola matanya.
“ Tumben kamu gak salah pilih kado untuk kaka? kamu dapat ide darimana? “ Niana terlihat sangat penasaran menunggu jawaban Barra.
“ Ide Barra sendiri, lah. Kakak tau kan? Barra itu sangat cerdas, jadi sudah jelas adikmu ini punya selera yang bagus dan tau barang mahal yang keren. “ Jelasnya penuh kesombongan membuat Belvina menatapnya dari jauh sambil bergidik.
‘ Dasar tukang bohong! Tidak seperti Zayn yang jujur dan apa adanya! ‘ Batin Belvina.
“ Hmm… gak tau harus percaya atau tidak, tapi intinya makasih kamu udah belikan kakak hadiah ini. “ Niana tersenyum bangga. “ Makasih untuk kalian yang udah luangin waktu hari ini. “ Niana menatap semua yang ada diruangan satu persatu.
“ Sama – sama, Niana. “
Setelah selesai, mereka semua berjalan keluar restauran. Barra memperlambat langkahnya agar sejajar dengan Belvina, sedangkan Devo, Zayn dan Niana kini sedang berbincang – bincang sambil berjalan.
“ Belvina! “ Ucap Barra pelan, mungkin hanya Belvina saja yang dapat mendengarnya.
“ Kenapa? “ Belvina menoleh ke samping atau lebih tepatnya ke arah Barra.
“ Urusan kita belum selesai! Kamu akan saya beri hukuman karena sudah mempermainkan saya! “ Ancamnya setelah itu dia mempercepat langkahnya mendekati Niana.
Belvina mendengus kesal memandangi Barra dari belakang. “ Dasar Barra Api!! Kayaknya gue harus siapin mental menghadapi dia! “ Belvina yakin lelaki itu tidak akan membuatnya tenang setelah apa yang terjadi hari ini.
**