Sehabis pulang dari acara makan malam, Belvina mampir ke kedai coffe ayahnya di antar Zayn, tapi lelaki itu tidak sempat mampir karena sudah merasa lelah dan ingin segera pulang. Kebetulan besok tanggal merah, jadi Belvina berniat membantu orang tuanya malam ini karena besok dia tidak perlu bangun pagi untuk ke kantor.
Belvina masuk ke dalam kedai, terlihat ada beberapa orang yang masih duduk santai berbincang – bincang sambil menikmati coffe.
“ Ayah, ibu. “ Sapa Belvina ketika sudah berhadapan dengan kedua orang tuanya.
“ Ya ampun? “ Asri terkesima melihat putri semata wayangnya sangat cantik dengan dress dibalut blazer yang masih dikenakan Belvina. “ Ini Belvina anak ibu? “ Asri memegang bagu Belvina, lalu memutar tubuh anaknya itu.
“ Ibu kelapa Belvina pusing, dong. “ Keluh Belvina, ibunya pun berhenti memutarnya
“ Belvina kamu cantik sekali! “ seru Asri. “ Kamu dapat darimana baju mahal ini? apa ini baju dari boss kamu itu? “
“ Bu, Belvina baru aja sampai udah dikasih banyak pertanyaan. “ Bani menarik Belvina untuk duduk di kursi. “ Kamu istirahat dulu. “
Belvina duduk sambil senyam – senyum. “ Bukan dari boss ku, bu. Tapi, dari saudaranya. “ Jelas Belvina.
“ Saudaranya? “ Asri duduk disebelah Belvina. “ Apa saudaranya juga kaya raya? “
“ Ya jelas, bu. Keturunan Eugene tidak mungkin ada yang miskin. “
“ Wah, anak ibu super hebat. “ Asri mencubit gemas pipi Belvina. “ Kamu pintar sekali memikat kedua lelaki itu. “
“ Memikat apanya sih, bu? Lagian, kita cuma temenan aja dan tidak ada hubungan spesial. Dia juga belum tentu suka sama Belvina. “ Belvina jadi sedikit merengut ketika memikirkan Zayn, seandainya saja dia bisa memiliki Zayn, tapi rasanya tidak mungkin lelaki itu mencintai gadis biasa – biasa saja sepertinya.
“ Kamu jangan ngomong begitu. “ Kali ini Asri menoyor kening putrinya. “ Ini buktinya dia beliin kamu baju? Apa arti semua ini kalau dia gak menaruh perasaan sama kamu? “
“ Dia itu emang baik banget, bu. “ Belvina membayangi wajah Zayn sambil berkata. “ Tapi, orang yang baik dan perhatian sekalipun belum tentu artinya dia suka sama kita. “ Belvina mengerucutkan bibirnya.
“ Kamu itu jangan berkecil hati, Belvina. Pokoknya, kamu pepet terus itu si anak pengusaha dan saudaranya. Setidaknya, kamu bisa mendapatkan salah satu dari mereka. “ Asri nampak bersemangat sekali jika sudah membahas hal ini. “ Kapan lagi ibu dapat menantu kaya. “ Lanjutnya sambil tertawa.
“ Jangan dengerin ibu kamu, belvi. “ Bani menyodorkan segelas air ke Belvina. “ Minum dulu. “
“ Makasih, ayah. “ Belvina meneguk air di gelas sambil memperhatikan beberapa orang yang baru saja datang ke kedai. “ Ada pembeli datang, tuh. “ Ujarnya selesai minum.
“ Ibu layanin dulu, ya. “ Asri segera bangun dan melayanin orang yang baru saja datang.
“ Ayah, Belvina tetap disini sampai kedai tutup ya? sekalian bantuin ayah dan ibu. “
“ Jangan, belvi. Kamu istirahat saja, kan besok kerja. “
“ Besok tanggal merah, jadi belvi libur. “
“ Gak usah, nak. Lebih baik kamu sekarang pulang saja ya. Kamu jangan terlalu capek, nanti kalau drop gimana? “
“ Tapi—“
“ Sudah sana kamu pulang saja. Nih, sekalian bawain makanan buat abang kamu. Pasti dia sedang kelaparan karena belum makan. “ Asri yang sudah selesai melayani berjalan mendekati Belvina membawa bungkusan. “ Tadi ibu beli lauk di warteg sebelah, tapi belum sempet pulang untuk kasih makanan ini ke denis karena kedai lagi ramai. “ Asri menyodorkan bungkusan itu ke arah Belvina. Meskipun kadang – kadang Asri kesal dengan Denis yang pengangguran, tapi tetap saja sebagai seorang ibu dia menujukkan rasa perhatiannya.
“ Yaudah. “ Belvina mengambil plastik itu. “ Jadi, gak apa – apa nih Belvina pulang? “
“ Gak apa – apa. “
Tidak lama datang lagi beberapa orang memasuki kedai.
“ Yaudah Belvina layani dulu pembeli itu, nanti baru Belvina pulang. Sekarang ibu dan ayah istirahat aja dulu. “ Sebelum kedua orang tuanya yang melayani, ia bergegas mendahului karena tidak ingin ibu dan ayahnya kelelahan.
“ Lihat tuh anak kita, biarpun sudah lelah tetap berusaha berbakti sama kita. “ Bani tersenyum bangga melihat putrinya yang selalu saja semangat.
“ Seandainya Denis seperti Belvina juga. “ Asri menghela nafas berat jika mengingat anak yang satunya lagi pengangguran dan pemalas.
**
Barra menghentikan mobilnya di tengah jalan. Dia masih memikirkan mengapa Zayn bisa bersama Belvina datang ke restauran dengan baju kompak. Apakah mereka janjian? Atau sebelum datang ke restauran mereka berdua pergi bersama untuk membeli baju. Begitulah kira – kira yang ada difikiran Barra.
“ Kalau memang Zayn dan Belvina janjian, itu artinya Zayn sudah semakin dekat dengan Belvina. “ Barra menggeleng cepat. “ Gak! Ini gak boleh dibiarkan! Gue tidak terima kalau Zayn semakin dekat dengan perempuan itu! gue harus obrolin ini dengan Zayn! “ Barra menyalahkan kembali mesin mobilnya, ia putar balik arah untuk menuju rumah Zayn meskipun waktu sudah semakin malam Barra tidak perduli. Dia harus menemui dan membicarakan ini kepada Zayn.
Belvina sudah selesai melayani para pembeli, ia segera pulang kerumah berjalan kaki karena jarak kedai ke rumahnya tidak begitu jauh .Tadinya Bani ingin mengantarkan putrinya untuk pulang karena khawatir Belvina berjalan sendirian dimalam hari, tetapi Belvina menolak karena tidak ingin membuat ayahnya capek.
Hembusan angin malam yang begitu dingin menusuk kulit Belvina, tapi gadis itu terlihat tenang menikmatinya sambil menggosok kedua tangannya agar mendapat sedikit kehangatan. Sepanjang perjalanan, sesekali Belvina memikirkan wajah tampan Zayn agar dia tidak merasa iseng karena saat ini berjalan sendirian, setidaknya ada hal yang menyenangkan menemani perjalanan. Dia melihat ke kanan dan kirinya tidak ada siapapun disisi jalan raya, hanya ada beberapa kendaraan saja yang berlalu lalang.
Namun, sedetik kemudian Belvina dikejutkan ketika melihat beberapa laki –laki yang berjumlah sekitar empat orang sedang menghalangi mobil yang baru saja melintas. Meskipun jaraknya sedikit jauh dengan Belvina, tapi ia bisa melihat jelas bagaimana para pemuda itu berniat menghancurkan kaca mobil itu dan menyuruh pemiliknya segera keluar.
“ Waduh? Mereka pasti mau berbuat jahat? “ Belvina mengigil ketakutan melihat empat orang lelaki yang kini membuka paksa pintu mobil itu.
Belvina semakin dikejutkan ketika tahu ternyata orang yang kini ditarik paksa keluar adalah CEO nya sendiri yakni Barra Eugene.
Mulut Belvina terbuka sempurna. “ Barra Api? “ Belvina celingak – celinguk mencari sesuatu yang bisa dijadikan senjata untuk melakukan perlawanan. Sayangnya, disekelilingnya tidak ada apapun.
“ Tolong! Tolong! “ teriak Barra ketika kedua tangannya di pegangi oleh para penjahat itu.
Suasana jalanan kini semakin sepi dan tak ada lagi pengendara yang lewat, hal itu memaksa Belvina harus memberanikan diri untuk menolong Barra. Meskipun lelaki itu sering kali menyakiti hatinya, tapi Belvina tidak bisa tinggal diam melihat orang lain sedang kesusahan dan membutuhkan pertolongan.
“ Awas ya kalian!” Belvina berlari kencang meskipun saat ini menggunakan High Heels dengan Hak 12cm yang cukup tinggi. Dia tidak ingin terlambat menolong atasannya itu.
“ Keluarkan dompet dan ponselmu! “ Perintah salah satu lelaki sambil menodongkan sebilah pisau ke arah Barra.
“ Dasar miskin! Kalian semua pasti pengangguran yang tidak punya uang sehingga harus merampok seperti ini! “ disaat nyawanya sudah terancam, Barra masih saja sempat – sempatnya menghina para penjahat dihadapannya.
BUKK…
Salah satu dari mereka meninju perut Barra kencang. “ Jangan banyak bacot! Cepat serahkan semua harta benda yang kamu bawa! “
“ Argghhh…” Barra merasakan nyeri dibagian perutnya, ia sulit melakukan perlawanan karena kedua tangannya di pegangi. “ Kalau kalian mau punya banyak uang itu harus kerja! Bukan maksa minta barang orang lain! dasar pecundang! “ caci Barra sekali lagi mendapat pukulan diperutnya.
BUKK..
“ Gue bunuh juga lo lama – lama! “ penjahat itu sudah mulai kesal dengan mulut beracun Barra. “ Udah cepet periksa ada apa aja di dalam mobilnya! “ penjahat itu saling berkordinasi dan mendapat tugas masing – masing.
“ HAI!! KALIAN BERANI NYA KEROYOKAN!! “ Teriak seorang wanita membuat semua yang ada di tempat kejadian menoleh.
“ Belvina? “ Barra tak percaya gadis itu muncul di saat yang tak terduga.
“ Mau apa perempuan ini tiba – tiba muncul berteriak seperti itu? “ Para penjahat itu malah tertawa remeh.
“ Kalian semua kalo berani satu lawan satu, dong! “ Belvina semakin mendekati ke arah mereka sambil memasang ancang – ancang.
Barra memutar ke dua bola matanya. “ Dasar bodoh! Sok jago sekali dia! “ cetus Barra.
Ketika sudah berada dihadapan mereka, Belvina mendongakan dagunya sambil bertelak pinggang, lalu bertanya dengan nada tinggi. “ Siapa yang mau lawan saya duluan? “ tantangnya memberanikan diri, padahal aslinya dia ketakutan setengah mati.
“ Daripada kamu buang – buang tenaga untuk melawan kita berempat, lebih baik kamu pergi kalau tidak ingin mendapat masalah. “ Saran salah satu penjahat itu.
“ Harusnya kalian yang pergi sebelum saya buat kalian menyesal terlahir ke dunia! “ ancam Belvina membuat semua yang ada disana tertawa termasuk Barra.
“ Udah sana lebih baik kamu pulang. Saya gak butuh bantuan kamu! “ cetus Barra masih saja memiliki gengsi dan egois yang tinggi di saat – saat seperti ini.
“ Tuh, kamu dengar kan? yang mau dirampok aja malah usir kamu gak mau ditolongin. “ Ucap penjahat berkepala plotos. “ Emang dia siapa kamu sampai kamu mau bantuin dia? Pacar atau—“
“ Ya, dia pacar saya! Kenapa? “ Bohong Belvina membuat Barra terkejut. “ Kalian semua lepasin pacar saya sekarang juga dan cepat pergi dari sini tanpa membawa barang miliknya! “ perintahBelvina yang tentu saja tidak mereka turutin.
“ Saya bukan pacarnya. “ Protes Barra membuat bingung para perampok itu.
“ Jadi perempuan ini berbohong? “ tanya salah satu penjahat.
“ Iya, dia ngaku – ngaku. “ Jawab Barra.
Belvina bersunggut sebal karena Barra tidak bisa diajak kompromi. “ Terserah dia mau mengakui saya pacarnya atau tidak , intinya cepat lepasin dia atau saya akan panggil polisi! “
“ Nona manis, daripada kamu marah – marah… “ Lelaki berkepala plotos itu mendekatinya, lalu ingin membelai rambutnya tetapi dengan cepat Belvina tepis.
“ Jangan kurang ajar kamu kepala botak! “ Dengan sigap Belvina memutar tangan lelaki itu hingga kebelakang membuat si kepala plotos itu meringis kesakitan.
“ Perempuan sialan! “ Dia segera memberontak dan mendorong Belvina agar melepaskan tangannya.
“ Kita urus dia dulu! “ Mereka pun berniat menyergap Belvina, tapi nyatanya tidak semudah itu. Belvina melemparkan nasi bungkus yang dititipkan ibunya untuk Denis tepat diwajah lelaki berambut gondrong hingga membuat matanya terasa perih karena isi makanan itu tumpah mengenai wajahnya, tak berhenti sampai disitu, penjahat lainnya maju untuk melawan Belvina, dengan cepat Belvina melepaskan Heels yang sejak tadi melekat di kakinya untuk dijadikan senjatanya melawan para penjahat itu.
Belvina memukuli tubuh penjahat yang mendekatinya dengan Hak sepatu Heelsnya yang runcing dan cukup membuat penjahat itu kesakitan. Sedangkan Barra diam saja karena dia sendiri tidak bisa berkutik ditahan oleh kedua penjahat lainnya.
Belvina memukul wajah penjahat itu hingga terkena bagian matanya membuat salah satu di antara mereka kesal dan segera mengeluarkan pisau.
“ Dasar perempuan gila! “ tanpa berfikir panjang penjahat itu ingin menusuk perut Belvina, tapi beruntungnya Belvina berhasil menghindar dan hanya mengenai tangannya.
“ Aww…” Belvina meringis kesakitan bersamaan dengan darah yang mengalir dari lengannya yang tersayat.
Penjahat itu menarik rambut Belvina dengan kencang hingga gadis itu tidak berkutik, beruntungnya ada beberapa warga yang melihat kejadian itu dan segera menghampiri untuk menolong Belvina.
Merasa panik, para penjahat itu segera berlari secepat kilat, bahkan sampai tidak sempat membawa barang milik Barra yang niatnya ingin mereka curi. Barra pun juga terbebas dari kedua penjahat yang sejak tadi menahan dirinya.
“ Woi mau kemana kalian, jangan lari!! “ Para warga langsung mengejar perampok itu sedangkan Belvina kini terduduk lemas memandangi tangannya yang masih mengeluarkan cairan merah.
Barra berjalan mendekati Belvina, bukannya merasa prihatin atau berniat ingin menolong gadis itu justru Barra malah terlihat santai tak menunjukkan rasa khawatir sedikit pun melihat keadaan Belvina saat ini.
“ Mr. Barra gak apa – apa, kan? “ tanya Belvina sambil sesekali meringis. Disaat dirinya terluka seperti itu, Belvina malah bertanya keadaan Barra.
“ Siapa yang suruh kamu tolongin saya? Kamu mau jadi pahlawan kesiangan biar saya sangat berterima kasih atas apa yang telah kamu lakukan ke saya? “ Bukannya terimakasih, Barra malah melontarkan ucapan yang tidak mengenakan kepada gadis yang rela terluka dan sudah mempertaruhkan nyawanya demi menolong Barra.
“ Hah? “ Belvina melongo mendengar apa yang baru saja Barra katakan. “ Mr. Barra yang bener aja? saya berniat bantuin Mr sampai tangan saya berdarah seperti ini! “ Belvina mencoba untuk berdiri dengan susah payah.
“ Saya tidak minta bantuan kamu. “ Jawabnya dengan ekspresi datar.
“ Mr. Barra emang gak minta bantuan sama saya, tapi apa yang saya lakukan ini benar – benar tulus dan berniat menolong kamu dengan ikhlas! “ Dia bicara dengan suara gemetar karena menahan rasa perih di tangannya.
“ Saat melihat kamu dicegat oleh perampok tadi, saya merasa takut terjadi sesuatu yang buruk dan ingin segera membantu karena biar bagaimana pun kamu itu atasan saya. “ Belvina menggeleng pelan dengan mata berkaca – kaca, ia merasa tidak ada gunanya bersikap baik kepada Barra karena bagi lelaki itu sama sekali tidak ada artinya. “ Kalau tahu ini balasan atas apa yang udah saya lakuin, lebih baik tadi saya biarkan saja Mr. Barra di rampok atau dibunuh sekalian kalo perlu! “
“ Jaga ucapan kamu! “ Tegas Barra, sorot matanya sedikit menajam ketika Belvina berkata seperti tadi.
“ Kamu lihat? “ Belvina menunjuk ke arah makanan yang berceceran dijalanan. “ Aku sampai buang makanan itu sia – sia karena tadi melawan mereka! “ tegasnya. “ Gak cuman itu saja, tanganku sampai tersayat pisau seperti ini. “ Belvina menunjukkan tangannya yang berdarah.
“ Saya tidak suruh kamu buang – buang makanan dan apa yang terjadi sama kamu itu disebabkan oleh dirimu sendiri yang sok jago! “ Barra melirik tangan Belvina yang berdarah. “ Obati lukamu itu dan berhenti memasang wajah memelas dihadapanku! Kalo perlu biaya pengobatan tinggal hubungi saya.“ Selesai bicara, Barra dengan mudahnya pergi begitu saja.
“ BARRA! “ Teriak Belvina membuat Barra menahan dirinya yang akan segera masuk ke dalam mobil. Dia menoleh ke arah Belvina dengan bingung mengapa perempuan itu dengan lancang hanya menyebut namanya saja tanpa embel – embel ‘MR’
“ Ada beberapa sikap yang harus dimiliki seorang pria sejati, yaitu bertanggung jawab dan menghargai orang lain. “ Belvina tersenyum miris, matanya lurus menatap Barra. “ Tapi, aku tidak melihat itu didalam diri kamu. “
Barra diam tanpa suara, ia tidak memberikan respon apapun terhadap ucapan Belvina yang sangat menohok tadi, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk masuk ke dalam mobil dan melajukan kendaraanya itu menuju rumahnya. Dia jadi tidak mood untuk pergi kerumah Zayn atas insiden yang baru saja terjadi. Sambil mengemudi, Barra merasakan nyeri dibagian perutnya yang sempat di tinju beberapa kali oleh para penjahat tadi.
Barra merasa hari ini dirinya sangat sial. Pertama, rencana dia gagal untuk menyingkirkan Belvina. Kedua, dia hampir saja di rampok dan ketiga, perutnya dipukul beberapa kali oleh para pemuda tadi. Benar – benar suatu kombinasi kesialan yang sangat sempurna hari ini.
Tunggu – tunggu? Apakah doa Belvina kali ini dikabulkan lagi? Mari kita ingat kebelakang apa yang gadis itu ucapkan ketika di toilet restauran.
“ Gua sumpahin dia…dia…Pokoknya, gue sumpahin dia kena sial! “
Apakah ini jawaban dari sumpah serapah yang di ucapkan Belvina atau hanya kebetulan saja? Entahlah, intinya hari ini Barra benar – benar sial!
Disisi lain Belvina kini baru saja sampai dirumahnya. Dia masih tidak habis fikir mengapa Barra selalu saja bersikap seenaknya pada dirinya. Bahkan, Barra sampai tidak perduli dengan luka di tangan Belvina.
Belvina masuk ke dalam rumahnya dengan langkah lemas, dress yang baru saja dibelikan Zayn itu terkena tetesan darah dari tangannya. Denis yang sedang duduk sambil nonton televisi terkejut melihat adiknya pulang dengan keadaan begitu.
“ Belvi? “ Denis bangun dari duduknya menghampiri adiknya. “ Tangan lo kenapa berdarah kayak gitu? “
Belvina tidak menjawab, ia memilih untuk duduk di sofa karena merasa lelah sejak tadi berjalan kaki.
“ Loh, ini kenapa lukanya kayak sayatan? “ Denis terkesiap melihat luka di daerah pergelangan tangan Belvina. Luka sayatannya memang tidak terlalu lebar dan panjang karena hanya seperti sehlai rambut saja, namun darah yang keluar cukup banyak.
“ Kak, lebih baik lo obatin gue deh, daripada tanya – tanya terus. “ Suara yang keluar dari mulu Belvina terdengar lemah membuat Denis jadi khawatir.
“ Tunggu sebentar, lo jangan pingsan ya. “ Ucap Denis jadi panik sendiri. Dia pergi ke belakang dan kembali datang membawa kain bersih, plester dan baskom berisi air. Hanya itu saja yang bisa Denis siapkan karena dirumah tidak ada kotak P3K.
“ Lo tahan ya karena ini agak sakit. “ Ucap Denis, ia mulai membersihkan dulu darah yang membanjiri tangan Belvina, lalu ia elap hinga kering dan terakhir dia tutup luka itu dengan plester. “ Untuk saat ini di plester aja dulu. Kalau besok masih keluar darahnya dan tangan lo bengkak langsung ke dokter biar segera di tangani. Sekarang udah terlalu malam. “ Denis bicara sambil memandangi wajah lesuh Belvina dengan kasihan. “ Apa yang terjadi? “ tanya nya ingin tahu.
“ Gak apa – apa, kak. “
“ Apa yang terjadi, Belvina? “ ulang Denis kali ini dengan tegas.
“ Tadi gue hampir aja di rampok, tapi karena gue melakukan perlawanan akhirnya perampok itu ngeluarin pisau dan gak sengaja kena tangan belvi. “ Bohong Belvina, ia takut jika menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi nanti Denis akan marah dan kemungkinan terburuknya Denis akan mencari gara – gara dengan Barra yang sudah membiarkan adiknya terluka karena menolongnya.
“ Makanya, jadi perempuan itu jangan keluyuran malam – malam. Begini kan, jadinya? “ Omel Denis karena dia khawatir dengan keselamatan adiknya.
“ Kak, sebenarnya tadi belvi disuruh ibu kasih makanan buat kakak. “ Belvina menatap Denis dengan wajah sedikit memelas.
“ Terus makanan nya mana? “
“ Makanan nya…“ Belvina memperlambat ucapannya. “ Makanannya gak sengaja ke buang waktu tadi Belvina berantem sama perampok itu. “ Selesai bicara Belvina tersenyum meringis.
Sambil menghela nafas kasar Denis berkata. “ Yaudah, gak apa – apa makanan gue terbuang karena yang penting adik gue gak kenapa – kenapa. “ Denis mengusap kasar pucuk kepala adiknya.
“ Tumben lo manis. “ Belvina menyipitkan matanya ke arah Denis sambil menerka – nerka ada apa sikap kakaknya mendadak sok manis seperti ini.
“ Seperti kata pepatah, terkadang seseorang bersikap manis karena sedang ada maunya. “ Denis cengar – cengir seraya mengadahkan tangannya kehadapan Belvina. “ Karena gue ga dapet makanan, jadi lebih baik lo bagi gue duit. “ Pintanya sambil menaik turunkan kedua alisnya.
Belvina menarik nafasnya dalam – dalam. “ Gue lagi kayak gini masih aja dipintain duit. “ Belvina membuka tasnya lalu mengeluarkan selembar uang lima puluh ribu. “ Nih, karena lo udah tolongin gue jadi dengan baik hati gue kasih. “
“ Makasih adikku yang paling baik sedunia. “ Dengan senang hati Denis mengambil uang itu. “ Udah sanah lo tidur. “
**
Barra melempar kunci mobilnya asal di atas kasur, membuka pakaiannya kasar, lalu duduk di atas sofa dengan raut wajah tersulut emosi. Entah apa yang membuatnya merasa kesal. Sepertinya omongan Belvina tadi memberikan tamparan keras bagi dirinya.
‘ Ada beberapa sikap yang harus dimiliki seorang pria sejati yaitu bertanggung jawab dan menghargai orang lain, tapi aku tidak melihat itu didalam diri kamu. ‘
“ Sial! Apa menurut dia aku ini bukan seorang pria sejati!! “ Dia mendengus kesal, wajahnya menunjukkan pancaran amarah yang tertahan. Selama beberapa menit dia merenungi ucapan Belvina, tiba – tiba terbesit perasaan bersalah di hatinya karena telah membiarkan seorang gadis di tengah malam pulang sendirian dalam keadaan terluka karena telah menolong dirinya.
“ Apa tadi gue terlalu egois? “ Barra bertanya pada dirinya sendiri. “ Lagipula, siapa yang suruh dia menantang para perampok itu? “ Barra malah berfikir seperti itu, padahal sudah jelas Belvina melakukan semua itu untuk menyelamatkannya.
“ Kalau difikir – fikir, kasihan juga tadi tangan dia terkena pisau. “ Barra bergidik ngeri ketika membayangi luka sayatan dan darah yang keluar dari tangan Belvina, hal itu membuatnya jadi merasa bersalah mengapa tadi dia tidak membantunya atau minimal mengantarkan gadis itu pulang karena sudah menolongnya. Entah mengapa Barra selalu merasa angkuh didepan Belvina, seolah – olah ia tidak ingin menunjukkan sedikit pun rasa perduli atau perhatian.
Barra jadi mengingat ucapan yang cukup menyentuh hatinya ketika Belvina berkata. ‘ Saat melihat kamu dicegat oleh perampok tadi, saya merasa takut terjadi sesuatu yang buruk dan ingin segera membantu karena biar bagaimana pun kamu itu atasan saya. ‘
“ Kenapa dia perduli sama keselamatan gue? padahal, gue udah sering mengusili dan berbuat kasar ke dia. “ Barra mulai memikirkan apa yang harus dia lakukan untuk menebus perasaan bersalahnya ini.
Haruskah Barra meminta maaf kepadanya?
Mungkinkah sebagai ucapan terima kasih, Barra akan berhenti mengusili gadis itu dan membiarkannya bekerja dengan damai?
Atau Barra akan melakukan hal lain untuk menghilangkan rasa bersalahnya?
Baiklah, Barra akan memutuskan apa yang harus dia lakukan besok karena saat ini Barra sudah mulai mengantuk dan memilih untuk bersiap tidur.