Sebuah klinik bersalin kecil di pinggiran kota, masuk ke gang yang lumayan jauh dari jalan raya. Rumah bercat putih dengan gaya tempo dulu. Tersedia kursi-kursi yang disediakan untuk pasien menunggu antrian. Namun nampaknya hari ini belum ada pasien yang datang, karena hari masih pagi. Setelah Dimas berangkat kerja, Sherly buru-buru mengajaku untuk mengantarnya ke tempat ini. Terlihat di dinding ada gambar-gambar janin, ibu hamil juga ibu menyusui. Melihat gambar janin, hatiku berdesir. Membayangkan seandainya mahluk kecil itu ada di dalam perutku, aku pasti bahagia. Anaknya Dimas tentu saja. Aku senyum-senyum sendiri membayangkannya. “Mbak Sherly.” Panggil seseorang. Petugas yang menerima pendaftaran juga yang mengecek teanan darah pasien. Setelah tekanan darah Sherly dicek, dengan

