Hari ini aku dipanggil lagi menghadap guru Bimbingan Konseling, seperti biasa karena aku telah berkelahi mematahkan batang hidung seseorang adik kelas yang belakangan kutahu namanya Adi. Di kantin tadi dia menyindirku cuma jago kandang, selalu berlindung di bawah ketiak Ibuku. Tak terima dengan perkataannya aku langsung menghajarnya habis-habisan. Dia melawan, terjadilah perkelahian itu. Semakin terkenallah aku sebagai biang onar di Sekolah ini. “Duduklah Dimas, sebentar lagi Ibumu ke sini. Bapak Sudah memanggilnya.” Pak Bagus mempersilahkanku duduk di depannya. Masih di ruangan yang sama, kulihat orang yang telah kuhajar tadi duduk di sebelah Bu Ratmi. Sepertinya sengaja kami dijauhkan, agar tak saling baku hantam lagi. Namun mata kami masih tetap saling beradu nyalang. Belum puas

