Setahun berlalu. Aku hidup damai bersama Sherly sebagai adik maduku. Tak ada yang berat jika semua berlandas kejujuran. Poligami yang berat itu karena ditutupi dengan kebohongan. Walau masih ada satu hal yang mengganjalku, seringkali aku menemukan Dimas tertidur di sofa saat seharusnya waktu gilir bagi Sherly. Sherly pun kadang mengungkapkan rasa kecewanya, walau tidak secara terang-terangan. Masih banyak yang harus aku benahi bersama mereka. Walaupun kini mereka sudah tidak lagi mengkonsumsi minuman beralkohol namun mereka masih terlihat enteng meninggalkan salat lima waktu. Kadang aku mengingatkan Dimas, untuk tetap berlaku adil pada Sherly. Jangan sampai Sherly merasa iri, karena Dimas lebih sering bersamaku. Tak pernah ada jawaban darinya. Memang hati itu tak pernah bisa adil, sel

