Hamil

1090 Words
Dering. Namun berulang-ulang kali tak ada jawaban. "Hais, kemana sih Devan." aku mondar-mandir di ambang pintu, tak biasanya tunanganku me-riject panggilan. Padahal hari ini ada janji ingin pergi memilih gaun pengantin untuk persiapan pernikahan. Sejam berlalu, tetap tak ada panggilan balik darinya. Tak biasanya dia menghilang tanpa kabar, bahkan sesibuk apapun dia selalu meluangkan waktu untuk menghubungiku. "Apa dia sedang ada urusan mendadak, ya?" pikirku. Entahlah, akhir-akhir ini aku merasakan Devan sedikit berubah. Hingga hampir siang, tak kunjung ada kabar darinya. Aku menyeka ujung mataku yang mulai berair, teganya dia mengingkari janji. Padahal ini sudah disiapkan jauh hari. Suara bel berbunyi, aku bergegas menuju pintu. Siapa tahu Devan yang datang kemari. "Dev. Eh...Shanna?" aku menunduk lesu, kukira tunanganku yang datang. "Hai, Nay. Kamu ada waktu gk hari ini? Temani aku keluar yuk," ajaknya. "Kemana?" "Biasalah." aku berdeham pelan. Temanku yang satu ini memang sering memintaku menemani dirinya bertemu dengan klien. Aku menatap gawaiku sekali lagi, ya sudahlah, mungkin Devan lupa. Akhirnya aku memutuskan pergi menemani Shanna. Kami turun di depan caffe tujuan. Langkah kakiku terhenti ketika mataku menangkap sosok seseorang yang sangat kukenal. "Dev, Devan? Bukankah itu Devan?" pikirku. Menepis prasangka, aku melangkah mendekat. "Tenanglah, kita hadapi sama-sama," samar suara Devan terdengar. "Tak mudah melepas Naya begitu saja, tolong mengertilah. Beri aku waktu untuk mempersiapkan ini semua, aku sudah berjanji akan bertanggungjawab penuh padamu, aku pasti akan menikahimu. Tapi tunggu waktu yang tepat, ini benar-benar sulit bagiku," Aku tercengang mendengar penuturan Devan, apalagi dibumbui pemandangan yang menyakitkan. Devan memeluk seorang wanita yang sesenggukan menangis dalam dekapannya. Jadi ini alasan dia lupa menjemputku? Tanpa ragu aku melangkah mendekat, meski lututku sudah terasa bergetar. "Dev!" panggilku. Devan menoleh, "Nay? Kenapa kamu disini?" wajah Devan super terkejut. "Nyari kamu. Ini alasan kamu gk jemput aku, Dev?" aku menyeka ujung mataku. Aku memang terkenal cengeng. "Padahal kamu sudah janji hari ini kita beli baju pengantin, aku sudah menunggu lama, tapi ternyata ini yang kamu lakukan." Devan terlihat berpikir, "Ma-maafkan aku Nay, aku...aku benar-benar lupa." "Sudah sejak kapan kamu menghianatiku, Dev? Jadi ini alasan kamu akhir-akhir ini berubah, kamu tega Dev." tak kupedulikan berpasang mata yang menatap kami. Termasuk Shanna yang mencoba membawaku pergi. "Naya dengerin aku dulu, aku minta maaf, aku akan jujur Nay." "Siapa wanita ini? Siapa yang sudah membuatmu berubah." Devan mencoba melindungi wanita itu dariku, dia terus mendekap menyembunyikan wajah wanita itu. Aku berhasil menarik rambutnya, dan.. "Ka-karin?" lidahku benar-benar keluh. Aku gagal paham dengan semua ini. Devan membawanya dari stasiun kereta, mengakui kalau dia adalah sepupuh jauhnya, bahkan Devan membawanya tinggal serumah bersama calon ibu mertua, apa maksud semua ini? Devan akan menikahi sepupuhnya sendiri? "Kau, jadi kau yang sudah menggoda tunanganku?" aku menarik rambutnya agar menjauh dari tubuh Devan. "Naya, jangan!" Devan mencoba menghalangiku. Wanita itu tersungkur, Shanna terus mencoba melerai kami. Tak kuhiraukan. PLAK! Satu tamparan berhasil mendarat di pipi mulus wanita itu. Aku tak habis pikir, baru beberapa hari dia tinggal serumah bersama tunanganku, dia sudah berani menggoda. Dan Devan, pria yang selama enam tahun ini setia kepadaku, teganya menghianati hubungan yang sudah dijenjang keseriusan. Wanita itu merintih kesakitan memegangi perutnya. Padahal aku menampar pipinya, mengapa yang sakit perutnya? "Karin, kamu tidak apa-apa? " Devan menghampirinya. Ck, terus saja membelanya. "Naya, jangan begini...," Devan menatapku berkaca-kaca. "Perut aku sakit sekali...Dev, sakit..," Karin terus merintih kesakitan. Devan langsung menggendong Karin menuju mobil, lalu dia menghampiriku lagi. "Nay, kamu ikut aku, ya?" Devan menarik pelan tanganku. "Tidak mau, urus saja selingkuhanmu itu, Dev." "Shanna, maaf Naya gk bisa nemani kamu, biarkan dia ikut denganku." Devan menoleh ke arah Shanna tanpa menghiraukan tolakanku. "Dev, aku gk mau." aku sedikit memberontak saat Devan mulai menarikku kembali. "Aku gk mau ninggalin kamu, Nay." Devan terus menarikku menuju mobilnya "Kenapa? Melihatmu dengannya membuat aku semakin sakit, Dev." langkah kaki Devan terhenti, bola matanya menatapku lekat. Mata itu, mata yang selalu terpancar ketulusan dan kasih sayang kini sudah berubah. Air mataku luruh menatap Devan, aku tidak mau posisiku digantikan. Devan menarikku pelan ke dalam pelukannya, jarinya menyeka air mataku dengan lembut. "Maaf, maaf aku telah menyakiti hatimu Nay...," "Kita bawa Karin ke Rumah Sakit sama-sama, aku akan jujur padamu tentang semuanya, meski aku tak siap." Devan menggenggam jemariku erat. Kembali menuntunku ke dalam mobil. Di perjalanan kami sama-sama terdiam, larut dalam perasaan masing-masing. Hanya terdengar rintihan sakit dari mulut Karin saja. Setelah sampai, Devan membawa Karin menuju ruang pemeriksaan. Sedangkan aku duduk menunggu di kursi tunggu. Mataku memanas, begitu juga hatiku. Apakah hubungan kami tidak akan baik-baik saja? Devan melangkah ke arahku dengan wajah gusar, dia menjatuhkan kedua lututnya di lantai, menenggelamkan wajahnya di ceruk lututku. Pahaku terasa basah, apakah Devan menangis? "Dev...," lirihku. "Maafkan aku, Nay..., aku sudah salah..," Devan sesenggukan. "Kau menangis, Dev?" "Aku pria b******k untukmu, Nay. Aku bodoh, aku b******n!" "Jelaskan padaku ada apa, Dev?" aku mengusap rambutnya pelan. Devan mendongak dengan wajah yang sudah basah karena air mata. Sesekali dia mengusap wajahnya di kakiku. Setelah nafasnya mulai terdengar teratur, Devan meraih tanganku. "Nay...," lirihnya. "Mari kita batalkan pertunangan kita. Deg! Rasanya ada batu besar yang menghimpit dadaku. Sesak, itulah yang aku rasakan. "Karin...sedang mengandung anakku, Nay." Jantungku benar-benar ditikam. Katakan ini bohong, katakan ini semua bohong, Dev! Devan menceritakan awal kejadian, hingga dia melakukan kesalahan fatal. Tak henti-henti bibirnya mengucapkan maaf. "Sudah, Dev! Kamu semakin membuatku sakit jika bercerita tentang dia!" Aku mendorong tubuh Devan agar menjauh dariku, meski dia berlutut padaku, hatiku benar-benar sakit. Aku setengah berlari keluar dari Rumah Sakit itu, meninggalkan Devan dan Karin disana. Aku menumpahkan tangisku di halte, hari sudah sore. Hujan mulai turun, seakan tahu hati sedang gerimis. Teganya dia menodai cinta yang selama ini dibangun susah payah, suka duka semua sudah terlewati. Bayangan masa lalu kembali menari di ingatanku. Awal pertemuanku dengan Devan saat masih Sekolah Menengah Atas dulu. Terik matahari cukup menyengat, saat itu aku dihukum hormat bendera karena terlambat. Tiba-tiba menjadi teduh saat seseorang berdiri di sampingku. Tubuhnya yang tinggi mampu menghalangi sinar matahari menerpa wajahku. "Dev, Devan...ngapain kamu disini?" aku sedikit melirik ke arahnya. "Nemenin kamu," jawabnya santai. "Hei, kau kan ada kelas, nanti kau tertinggal pelajaran." dia tak menghiraukanku, dia terus fokus membaca buku yang dia pegang. Sejam berlalu hingga waktu hukumanku habis, aku menurunkan tanganku yang terasa sangat pegal. Devan melirikku sekilas lalu pergi begitu saja tanpa mengucapkan kata apapun. Ck, dasar orang aneh. Umpatku waktu itu. Tangisku kembali luruh mengingat itu, itulah awal kisah cintaku dengan Devan sampai saat ini. Hingga semuanya hancur sekarang. Aku menutup wajahku di kedua tangan, menumpahkan semua tangisku. Entah berapa lama aku menangis, hingga aku merasakan sebuah jaket melekat di tubuhku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD