Flassback
Aku melangkah keluar kamar mandi. Sekali lagi aku menatap Karin yang masih terlelap bergulung di bawah selimut. Matanya terlihat sembab, mungkin karena tangisannya semalam akibat ulah bejatku.
Kuusap pipinya pelan, tubuhnya menggeliat. Matanya mengerjab-ngerjab, selang waktu bola mata indah itu sempurna terbuka. Bahkan sedikit melebar karena menatapku.
"Karin...," lirihku.
Ada guncangan di bahu Karin, perlahan ia kembali menangis sesenggukan.
"Maafkan aku," aku hendak mengusap bahunya, namun ia tepis dengan kasar.
"Menjauhlah! Kau lelaki b*jingan yang pernah kutemui. " tangannya mendorong tubuhku. Dia bangkit dan memunguti pakaiannya yang tercecer.
Bajingan? Ya, aku memang pantas mendapat julukan itu sekarang. Karin mampu meruntuhkan tembok kokoh yang selama ini kujaga hanya dalam waktu satu malam.
"Aku akan bertanggung jawab, apapun yang terjadi nanti." tegasku.
Karin menoleh ke arahku dengan gurat mata kebencian. Setelahnya ia melangkahkan kaki keluar dan menutup pintu dengan kasar.
Tiga bulan setelah kejadian itu, aku tak lagi bertemu dengan Karin. Aku tak tahu di mana rumah wanita itu.
Kini, sebentar lagi aku akan kembali ke kota tempat tinggalku. Puas aku mencari sosok wanita itu, namun tak kunjung kutemukan.
"Huft, di mana ia tinggal? " gumamku.
Kebetulan ada seorang ibu-ibu membawa kerang lewat. Aku langsung menghampirinya.
"Maaf, Bu, apa anda tahu seorang gadis yang tinggal disini? Berambut panjang kira-kira tingginya segini? " aku menunjukan kriteria wanita yang kucari.
"Siapa namanya? " tanya ibu itu.
"Karin, Bu. "
"Oh, Mbak Karin? Dia tinggal bersama pengasuhnya diujung sana, " ibu itu menunjuk sebuah jalan.
"Rumah paling ujung warna biru muda. " terangnya.
Setelah mengucapkan terima kasih, aku bergegas menuju alamat yang disampaikan. Akhirnya ketemu juga.
"Kurang ajar!!" lamat aku mendengar teriakan dari rumah itu.
"Jadi ini kelakuan kamu di luar sana?! Dasar anak tak tahu diuntung, kami sudah membesarkanmu tapi ini balasanmu membuat malu kami?! "
PLAK
Satu tamparan mendarat di pipi wanita yang dihajar oleh seorang lelaki paruh baya itu.
"Mau jadi p*****r kamu, ha? Katakan sama bapak, siapa yang sudah kamu layani hingga menumbuhkan janin disana?" guratan mata merah lelaki paruh baya itu menandakan kemarahan yang sangat besar.
"Jawab! Siapa yang sudah tidur denganmu? " bentaknya.
Aku tak tahan lagi dengan kericuhan itu, aku berjalan mendekat.
Mataku terbelak ketika melihat siapa yang tersungkur lemah itu. Karin, ternyata dia wanita yang aku cari.
Tangan lelaki paruh baya itu teracung ke atas hendak melayangkan tamparannya lagi.
Aku berlari mendekat dan langsung menarik Karin dalam dekapanku. Mencoba melindunginya.
"Jangan pakai kekerasan, Pak! "ucapku.
Karin mendongak dengan wajah sembab dan terdapat lebam biru di beberapa bagian wajahnya.
"Devan..., " ucapnya lirih.
Aku kembali menenggelamkan wajah Karin dalam dekapanku, agar ia tak terkena tamparan Bapak itu.
"Aku disini, tenanglah. "
"Jangan ikut campur urusan keluarga kami! Gadis itu anak tak tahu diri! " lelaki paruh baya itu mencoba menghalauku.
"Jangan pake kekerasan, Pak. Dia perempuan, " belaku.
"Jangan coba-coba bela dia, dia sudah jadi anak gk bener, p*****r! "makinya.
"Pergi kamu! " Bapak itu hendak menarikku. Tangannya meraih rambut panjang Karin, Karin merintih kesakitan karena jambakannya. Cengkeraman tangan Karin terasa sangat erat di bajuku.
"Saya yang sudah perkosa dia."
Gerakan lelaki paruh baya itu terhenti. Aku semakin mendekap Karin dengan erat.
"B*adab!"
Satu pukulan tinju mendapat di pipiku.
"Saya akan bertanggungjawab! Jika anda tidak mau menerima Karin lagi, saya akan membawanya. " tegasku.
"Dev..., " Karin menggeleng lemah.
Aku tak peduli. Aku menuntun Karin untuk bangkit. Bagaimanapun, ini semua adalah kesalahanku.
Aku membawa Karin ke penginapan.
"Karin, apa benar kau tengah hamil? " tanyaku memastikan.
"Dan itu karena ulahku? " tanyaku lagi.
Karin mengangguk lemah. Lihat, Dev! Apa jadinya hidupmu setelah ini.
Karin menuntun telapak tanganku untuk menyentuh perutnya. Disana ada calon anakku.
Aku membawa Karin menuju dokter terdekat untuk melakukan pemeriksaan kandungan.
"Kondisi janinnya lemah, tidak pernah mendapat asupan gizi yang cukup selama kehamilan, bahkan sering dibawa stres dan kelelahan. " jelas dokter itu.
Aku merasa bersalah, kenapa aku tidak menemui Karin lebih cepat. Sehingga aku tak bisa menjaga anakku dan ibunya disana.
Aku menelepon Mama tentang kejadian ini.
"Ma.. Mama.., " panggilku melalui sambungan telepon.
"Devan..sudah melakukan kesalahan besar disini, Ma..," ucapku sesenggukan menahan tangis. Karin benar-benar merobohkan semuanya tentangku. Airmataku yang terbilang jarang keluar ini sekarang berlomba berjatuhan.
Aku menceritakan semuanya kepada Mama, dan aku mengucapkan akan membawa Karin pulang kesana tinggal bersama kami. Demi calon anakku.
Setelah pulang dari Dokter, aku membelikan Karin vitamin dan pakaian gantinya. Aku membelikan semua kebutuhannya. Juga makanan sehat. Selama tiga hari aku tinggal bersama Karin di penginapan. Aku harus merawatnya.
Aku selalu memijat kakinya terlebih dahulu sebelum ia beranjak tidur, sekarang aku merasakan bagaimana rasanya jika akan menjadi seorang ayah. Rasanya benar-benar beda.
"Kau akan ikut aku pulang, kita akan naik kereta siang ini. " ucapku ketika membereskan barang-barang bawaanku. Sahabat dan karyawan kantor lainnya sudah pulang duluan dua hari lalu.
"Apa ibumu bisa menerimaku, Dev?"
Aku menggangguk. Walau sebenarnya aku pun tak yakin.
Setelah selesai membereskan barang, aku beranjak duduk di samping Karin. Aku menghela napas panjang, aku menatap matanya lekat.
"Karin, aku memiliki seorang tunangan." bagaimana pun, ia harus tahu.
Mata Karin sedikit melebar, dan terdapat cairan bening menggumpal disana.
"Kami sudah menjalin kasih bertahun lamanya, aku harap kau bisa maklum saat disana ada kunjungan tunanganku, aku akan memikirkan cara jalan keluar semua ini. Aku tetap akan menjagamu dan anak kita. "
Karin memalingkan wajah dan menyeka ujung matanya.
Kami menuju stasiun kereta api siang ini. Aku menuntun Karin dengan penuh hati-hati. Karena banyaknya orang yang lalu-lalang bepergian aku takut Karin akan tertabrak.
Selama perjalanan, aku selalu memastikan Karin tidak kelelahan. Aku memijat-mijat kepalanya, dan membiarkannya menyandar pada tubuhku.
Siapa sangka, tunanganku sudah menunggu disana. Sebelumnya aku sudah berencana ingin menyembunyikan keberadaan Karin, namun aku terpaksa harus berbohong.
Aku menahan perih di relung hati menatap wanita yang sudah lama menemaniku. Haruskah berakhir?
Devan-mu ini telah melakukan kesalahan, Nay. Kesalahan yang benar-benar fatal, hingga menumbuhkan nyawa di rahim seorang wanita lain.
Aku terjebak antara perasaan dan keadaan. Bagaimana aku harus memulai kembali? Bagaimana aku harus menjelaskan?
Aku tak ingin kehilangan keduanya. Salahkah jika aku menjadi egois?
Di satu sisi, aku mencintai Naya. Di sisi lain, ada anak yang harus kuperjuangkan.