w*************a

1043 Words
Aku mendongak ketika merasakan sebuah jaket melekat di tubuhku. "Devan...," Tanpa suara, Devan memeluk tubuhku. Hangat. Namun aku merasakan aroma yang berbeda dari tubuhnya, apakah Devan ganti parfum. Aku masih tak percaya kekasihku menghamili wanita lain, rasanya sungguh tak mungkin dia berkhianat. Devan mengantarku pulang, sampai rumah Devan tetap tak bersuara. Sedangkan aku, aku bahkan seperti orang mabuk. Beginikah sakitnya pengkhiatan? "Dev...ini semua mimpi 'kan?" aku memeluk Devan yang sedang membukakan sabuk pengamanku. "Dev, katakan padaku ini semua mimpi." Aku kembali sesenggukan. Devan tak bergeming, dia mengusap rambutku. Aku kembali menumpahkan tangisku, sungguh aku tak mau posisiku digantikan. Apa Devan tak memikirkan aku ketika 'melakukan' itu pada wanita lain? Aku menelangkupkan wajah Devan dengan kedua tangan. Devan tak membalas, dia terus saja diam. "Jangan tinggalin aku Dev...," aku terus meracau. "Naya, aku bukan Devan...," ucap pria yang sedari tadi bersamaku. "Ini aku Heren, Nay." Aku mendongak. Menatap wajah pria itu lekat, yang terlihat hanya bayangan Devan. "Apa terjadi sesuatu antara kau dan Devan? Mengapa kau terus meracau tentang dia?" Suaranya, suaranya terdengar asing di telingaku. Dan jelas itu bukan suara Devan. Aku menajamkan pandanganku, ketika sadar mataku melebar seketika melihat pria yang aku peluk bukanlah Devan. "Ka-kau?" Aku mendorong tubuhnya pelan. "Apa kau mabuk, Nay?" Tanyanya. "Tentu saja tidak, kau jangan sembarangan," sungutku. "Lalu mengapa tadi kau sangat aneh?" Heren menautkan alis. Aku terdiam sebentar. Mengingat itu lagi rasanya sangat sakit. Tanpa menjawab, aku turun dari mobil melewati Heren begitu saja. Dugaanku benar, bahwa posisiku perlahan telah digantikan. Ternyata Devan tidak mengejarku, dia lebih memilih menemani Karin disana. Bahkan dia tidak memikirkan aku pulang dengan siapa. "Terima kasih, Heren." Ucapku singkat lalu melangkah ke rumah. Aku merebahkan tubuhku di ranjang. Semua prasangka terbesit di kepalaku. Jadi, Devan 'melakukannya' dalam tiga bulan terakhir saat kita berjauhan? Apakah selama tiga bulan disana mereka selalu menghabiskan waktu bersama? Tanpa sepengetahuanku? Aku tak dapat membendung air mata lagi memikirkan itu, memikirkannya saja sudah sangat menyakitkan, apalagi benar-benar terjadi. Sampai larut malam, Devan tak kunjung menghubungiku. Begitu tak berartikah diriku baginya sekarang? Apakah Devan sekarang sedang sibuk merawat wanita itu sampai lupa kepadaku, bahkan untuk sekedar bertanya bagaimana aku pulang tadi pun tidak. Dirinya benar-benar menghilang. Sungguh, aku takut jika cintanya juga akan hilang. Aku mengepal tangan, aku benci wanita perusak itu, aku benci w*************a itu. Aku benci Devan yang lebih memilih peduli padanya, daripada diriku. Hubungan kami hancur karena wanita perusak itu. *** "Bagaimana keadaan kau dan Devan, Nay?" Tanya sahabatku--Shanna saat kami sedang makan sate di pinggir jalan setelah pulang kerja. "Begitulah, Shan. Bahkan seharian ini Devan tetap tidak menghubungiku," jawabku sambil menyuapkan makanan ke dalam mulut. "Sebenarnya siapa wanita yang bersama Devan kemarin?" Aku menghentikan gerakan sendokku, dan sedikit menghentakkannya di piring. "Sepupuhnya...," jawabku lirih. Aku menatap sekitar dengan mata berkaca-kaca. Pemandangan yang sudah lama aku lupakan maknanya. Semalam ini masih banyak pedagang-pedagang yang masih tak kenal lelah menawarkan jualannya. "Kau tahu, Nay. Jika nanti kita menikah aku akan bekerja keras seperti bapak-bapak itu," Devan menunjuk seorang bapak-bapak yang sedang berjualan kerupuk keliling. "Dan kita akan punya anak lima," Devan tersenyum jahil menatapku. "Kau sabar ya, saat ini aku sedang bekerja keras untuk beli cincin dulu." Devan tertawa renyah menunjukan barisan gigi rapinya. Aku telah menemani Devan saat ia susah, hingga sekarang. Aku tersenyum simpul mengingat bayangan itu. "Naya...," bayanganku buyar kala seseorang memanggil namaku. Aku menoleh. Tenggorokanku seperti tercekat melihat siapa yang datang padaku. "Kau," aku menekankan perkataanku. "Ada yang ingin aku bicarakan padamu," ucap wanita itu sambil menunduk. "Shanna, aku sudah selesai, ayo kita pulang." Aku mengabaikan keberadaan wanita itu. Berani-beraninya ia menemuiku. "Ini tentang aku dan Devan!" Langkah kakiku terhenti, aku menoleh ke arah wanita itu dengan sorot mata kebencian. "Kau dan Devan, katamu?" Aku menekankan setiap kata-kataku. Aku berbalik, lalu berjalan mendekat ke arah wanita itu. Aku benci mendengar kata-kata 'aku dan Devan' dari mulutnya. "Biarkan aku dan Devan menikah...," ucapnya. "Kau pel*cur menjijikan." Air mataku hampir luruh mendengar ia terang-terangan mengucapkan hal itu. Tidakkah dia memikirkan perasaanku? Setidaknya merasa bersalah lebih baik baginya. "Tolong dengarkan aku dulu, saat ini aku sedang mengandung anak Devan," "Diam kau w*************a!" Karin sedikit tersentak karena teriakanku. Aku sudah tak tahan lagi menahan sakit bercampur marah. "Pernikahan ini hanya sementara...setelah anak ini lahir, aku janji akan meninggalkan Devan." "Mengapa tak meninggalkannya sekarang saja? Mengapa harus menunggu anak itu lahir? Itu hanya caramu saja 'kan agar bisa menikah dengan Devan dan merebutnya dariku, nanti setelah anak itu lahir kau tidak jadi meninggalkan Devan dengan alasan kalian mempunyai ikatan pernikahan, iya 'kan?" Aku menyunggingkan senyum. "Kau itu ternyata w*************a yang hebat, dengan lagat polosmu kau menghancurkan hidup seseorang. Baru beberapa hari kau bisa menggoda tunanganku sampai rela melepas kesucianmu, murahan!" "Naya!" Aku menoleh ke sumber suara. "Jangan berkata seperti itu." Devan menatapku tak suka. "Devan...," lirihku. "Mengapa aku tak boleh berkata seperti itu, itu memang benar adanya 'kan, dia itu w*************a bahkan murahan dengan mudah dia memberikan tubuhnya. Dan kau, Dev. Aku tidak menyangka kau berbuat seperti itu dengan wanita macam dia!" "Dia bukan w*************a, Nay." Damn! Devan terang-terangan membela wanita itu di depanku. "Lihat, godaan dia hebat sekali, bahkan sekarang kau memilih membela dia yang jelas-jelas wanita gk bener." "Aku yang memperkosa dia, Nay...," Jantungku seperti ditikam mendengar itu. Jadi semua ini terjadi bukan karena wanita itu yang menggoda Devan, tetapi Devan sendiri yang menginginkannya. Mengapa, Dev...mengapa? Aku mengalihkan pandangan menyeka ujung mataku. Aku tak ingin terlihat menangis di hadapan mereka. "Tolong izinkan kami menikah...," wanita itu berucap lagi. Dia menundukkan wajahnya. "Hanya sampai anak kami lahir, untuk saat ini Devan ingin merawatku dan anak yang kukandung sebagai bentuk tanggungjawabnya. Untuk itu, kami harus menikah." Terangnya. Aku menahan air mata. Aku menggeleng menatap Devan, menandakan kalau aku tidak mau. Devan menghampiriku. "Nay, maafin aku...kita tetap akan bersama nanti. Aku tahu aku sangat salah, tapi ini membingungkanku Nay. Aku terjebak antara perasaan dan keadaan...kau wanita yang paling mengerti aku selama ini, mengerti aku sekali lagi kali ini saja." Devan menatapku sekilas, lalu beralih menatap Karin. "A-aku pergi, Nay...," Devan berbalik menghampiri Karin. Dia menuntun Karin dengan pelan, menatapku sekilas, lalu melangkah menghilang. Aku luruh ke lantai, sakit. Salah satu rasa sakit terbesar adalah saat kau diperlakukan sangat istimewa kemarin, namun seperti tak diinginkan hari ini. Dia yang kucintai lebih memilih orang lain.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD