Kedatangan Devan

1014 Words
"Ada Devan di bawah, bangun Nay." Bunda mengguncang pelan bahuku yang masih terlelap. "Ha...kenapa, Bun?" Aku menggeliat pelan. "Devan menunggumu di bawah, kamu siap-siap,ya." Bunda mengusap rambutmu, setelah itu beranjak pergi. Aku melihat jam, masih pukul setengah sepuluh lebih. Selepas isya' tadi aku sudah tertidur, mungkin karena kelelahan akibat menangis. Ada apa Devan datang ke rumah, ya? Apa dia ingin minta maaf dan memperbaiki semuanya? Apa dia berkeinginan ingin mempertahankan hubungan kami dan meninggalkan wanita itu? Aku bergegas mencuci muka dan berganti pakaian. Aku datang, Dev. Mari kita lewati ujian cinta ini, mari pertahankan hubungan kita. Dengan cepat aku turun ke bawah, disana aku melihat Devan, Ayah dan Bunda sudah menungguku. Devan menatapku saat aku sudah sampai di bawah, tatapan yang tak biasa. Wajahnya gusar dan rambutnya sedikit basah. Tampan. "Duduklah disini, Nay." Devan menepuk sofa di sampingnya. Berada di dekatnya aku bisa mendengar nafas Devan yang terdengar berat. Hening. Tak ada yang mengeluarkan suara di antara kami. Sebenarnya ada apa? "Ayah, Bunda, dan...Kanaya," Devan menatap kami bergantian. "Ada yang ingin Devan bicarakan serius, masalah pertunanganku dan Naya," Devan beralih menatapku. Devan menghembuskan nafas panjang, dia melepas cincin yang melekat di jari manisnya. Aku terperanga. "Dev...," lirihku. "Devan benar-benar minta maaf, pertunangan Devan dan Kanaya harus dibatalkan." Damn! Devan bahkan berani terang-terangan di depan orangtuaku demi membela wanita itu. Aku tak dapat membendung air mataku lagi, aku kira Devan datang ke rumah untuk memperbaiki semuanya dan kembali padaku, ternyata dia tetap lebih memilih wanita perusak itu. Aku tak rela. "Dev, apa kau lupa perjuangan kita untuk mendapatkan cincin itu? Dari kau susah, sampai kita menabung bersama, hingga sekarang kau hampir berjaya kau lepas dengan mudahnya demi wanita yang baru kau temui?" Ucapku menahan tangis. Mereka benar-benar tak berperasaan. "Demi wanita apa maksudmu, Nay?" Ayah bertanya padaku, kedua orangtuaku kaget mendengar penuturan Devan yang tiba-tiba ingin membatalkan pertunangan tanpa mereka tahu alasannya. "Ada orang ketiga di antara kami, Yah. Devan berkhianat, dia telah selingkuh," wajahku sudah basah dengan air mata. "Bahkan mereka sudah melewati batas, wanita itu hamil sekarang, hamil anak Devan!" Ayah menatap Devan dengan gurat marah. Ia bangkit menghampiri Devan dan melayangkan satu pukulan di wajahnya. Aku menutup mulut. "Devan khilaf, Yah." Devan menyeka bibirnya yang mengeluarkan darah. "Devan hanya ingin bertanggungjawab atas kesalahan Devan, Devan tetap mencintai Naya." Ayah mengepalkan tangan hendak melayangkan pukulan lagi. Aku dengan sigap menghalangi. "Jangan!" Aku melentangkan tangan melindungi tubuh Devan yang tersungkur. "Jangan halangi ayah!" "Tidak, Yah. Jangan!" Aku memeluk Devan. Aku masih bisa merasakan besarnya cinta Devan padaku. "Tidak, Dev. Jangan. Aku mohon jangan lepas cincin tunangan kita," aku menggeleng menatap Devan. Devan mengusap air mataku. Aku berhambur memeluknya, Devan membalas pelukanku. "Maafkan aku, Nay...," "Menyingkirlah, Nay. Biarkan ayahmu menghajarku, aku pantas menerimanya." Ayah menarikku. "Pergi kamu! Jangan pernah temui puteri kami lagi," jari telunjuk ayah mengarah ke pintu, menyuruh pergi. "Ayah kecewa sama kamu Devan." "Maafkan Devan, Yah." Ucap Devan lirih namun masih bisa kudengar. Perlahan Devan bangkit, tatapannya tak luput dariku. 'Jangan pergi, Dev.' Aku hanya mampu mengucapkan itu dalam hati. Lidahku rasanya keluh. Aku menggeleng menatap Devan. Perlahan Devan melangkahkan kakinya keluar, aku hanya bisa menatap kepergiannya. Hingga aku kehilangannya. *** Aku menangis di dalam kamar menumpahkan semua lukaku. Aku menggenggam erat sepasang cincin pertunangan kami yang didapatkan dengan susah payah. Aku mendekap jaket Devan yang dia berikan saat mengantarku waktu pertama kali dia membawa wanita itu pulang. Aku menghirup aroma tubuh Devan yang masih tertinggal disana, aku tak mau wanita lain juga merasakan aromanya. Aku tak mau wanita lain menggantikanku. Sakit, ini benar-benar sakit. Aku mengusap pelan air mataku, aku akan menemui wanita itu besok. Sebagai sesama perempuan, aku ingin dia mengerti tentang perasaan. Aku akan membuat dia meninggalkan Devan dengan cara halus. *** Disisi lain, Devan terduduk lemah di terotoar jalan. Berat, ini sangat berat baginya. Kenangan bersama Kanaya terlalu banyak dan indah baginya. Perlahan cairan bening itu menetes di pelupuk matanya. Persetan dengan harga diri! Haruskah ia menyakiti wanita yang dia cintai demi tanggungjawabnya? Devan menatap jari manisnya yang masih terdapat bekas cincin pertunangannya dengan penuh luka. Dulu dia harus rela lembur setiap malam untuk membelikan Kanaya cincin dan melamarnya. Dari Devan hanya mampu membeli vespa, itupun sering mogok. Hingga kini Devan memiliki segalanya, Kanaya selalu setia menemani Devan dengan penuh cinta. Devan sadar dirinya jahat. "Masih lama, Dev?" Naya menguap menunggu Devan membenarkan vespanya yang mogok. Entah sudah berapa kali Naya bertanya itu. "Sabar, bentar lagi semoga bisa." Jawab Devan sambil terus mengotak-atik vespanya. Kini mereka berdua berada di pinggir jalan. Naya menyelonjorkan kakinya, kepalanya bersandar di dinding pinggir jalan. Angin malam menerpa wajah sayunya. "Huft, hidup dong." Devan hampir merasa putus asa. Namun dia terus berusaha memperbaiki vespanya demi kekasihnya. Devan tersenyum lega saat vespanya akhirnya mau menyala. "Nay, sudah bi-" ucapan Devan terhenti saat melihat Naya tertidur. Devan mendekat ke arah Naya, dia ingin mengusap pipi kekasihnya namun urung karena tangannya kotor. "Nay, bangun ayo kita pulang." Dengan lembut Devan mengguncang bahu Naya. Naya mengerjab. "Ayo, pulang tukang tidur." Devan mencubit hidung Naya. Lekungan terbentuk di bibir Devan saat Naya tertidur di bahunya saat perjalanan pulang. Dalam hati Devan berlirih takkan menyia-nyiakannya. Air mata Devan kembali menetes mengingat bayangan itu, kini dia telah ingkar. Dia sudah menjadi pria b******k untuk wanitanya. Pasti Naya sangat terluka sekarang... Devan bangkit dari duduknya, ia kembali melangkahkan kakinya untuk pulang. Tak lupa dia membeli buah-buahan untuk dibawa pulang. Devan membuka pintu kamar setelah sampai, dia meletakkan buah yang ia beli di atas nakas. Devan menatap wanita yang sedang mengandung anaknya yang sudah terlelap, dia membenarkan selimut yang menutupi tubuh Karin. Dengan lembut ia mengusap perut Karin yang sudah terasa buncit. Tanpa Devan sadar, cintanya kepada Karin mulai tumbuh. Saat bersama Karin selama ini, Karin wanita yang baik dan lembut. Namun Devan menepis perasaan itu, dia mengira mungkin hanya karena Karin sedang mengandung anaknya, tak lebih. Setelah memastikan Karin baik-baik saja, Devan beranjak keluar kamar. Dia merebahkan tubuhnya di sofa, dia memilih tidur di sofa demi mengalah pada Karin. Karena kamar tamu tidak ada AC nya jadi Karin harus pindah menempati kamarnya. Perlahan mata Devan terpejam, membawa luka ke dalam mimpi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD