Bab 3

1138 Words
Keesokan paginya, Olivia sudah berdiri di depan gedung pelatihan dengan pikiran masih dipenuhi kejadian semalam. Ia menarik napas dalam, lalu masuk ke dalam kelas. Begitu melangkah masuk, suasana langsung terasa berbeda. Tatapan para trainee tidak lagi sekadar penasaran, melainkan penuh penilaian, seolah semua orang sudah tahu tentang dirinya. Bisikan dan pandangan itu membuat Olivia merasa seperti orang asing. Langkahnya melambat, dadanya terasa sesak, namun ia tetap berjalan mencari tempat duduk. Hingga matanya tertuju pada kursi kosong di sebelah Chris. Ia ragu. Chris terlihat santai mengobrol dengan orang lain, membuat Olivia tidak yakin apakah ia masih punya tempat di sana. Ia berdiri terlalu lama, hingga akhirnya Chris mengangkat kepala dan pandangan mereka bertemu. “Olivia!” panggil Chris dengan lantang. Beberapa orang langsung menoleh. “Kemarilah!” lanjutnya dengan menepuk kursi yang kosong di sebelahnya. Olivia terdiam sejenak. Ia berjalan mendekat, lalu duduk di kursi itu. Sebuah senyum kecil muncul di wajahnya. Ia merasa diterima. Dan hal itu membuat dirinya mulai kembali percaya diri. “Kamu tidak terlambat lagi hari ini,” kata Chris ramah. Matanya yang ikut tersenyum membuat Olivia merasa lebih hangat. Olivia mengangguk kecil, “Iya, kebetulan tidak ada gangguan keretanya hari ini.” “Baguslah.” Kelas hari itu berjalan lebih lancar. Olivia mencoba fokus pada setiap penjelasan instruktur, mencatat dengan teliti, dan sesekali mencuri pandang ke arah Chris yang tampak lebih santai, tetapi tetap memahami setiap materi dengan baik. Ketika bel istirahat berbunyi, sebagian trainee langsung keluar menuju kantin. Olivia berjalan sendiri, membawa nampan makanan, lalu memilih duduk di salah satu meja di sudut ruangan. Ia belum benar-benar siap untuk menghadapi banyak orang sekaligus. Tiba-tiba seseorang duduk di hadapannya. Chris. Tanpa banyak basa-basi, pria itu meletakkan nampannya di meja yang sama. Ia mulai makan dengan santai, seolah mereka sudah terbiasa melakukan itu bersama. Olivia sedikit terkejut, tetapi tidak mengatakan apa-apa. “Boleh kan aku bergabung di sini?” tanya Chris ramah. Olivia hanya mengangguk kecil. Malu. Chris menatap Olivia sambil sedikit menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Materi tadi pagi… kamu paham?” tanyanya santai. “Lumayan… tapi bagian prosedur darurat masih agak bingung,” jawab Olivia canggung. Chris mengangguk pelan. “Yang mana? Evakuasi atau penggunaan alat?” “Evakuasi,” jawab Olivia. “Urutannya suka ketukar.” Chris tersenyum tipis. “Wajar. Itu memang banyak detailnya. Tapi kalau kamu ingat prinsip utamanya, sisanya bakal lebih gampang.” “Prinsip utama?” Olivia mengerutkan kening. “Penumpang dulu, tetap tenang, dan ikuti prosedur,” jelas Chris ringan. “Sisanya tinggal kebiasaan.” Olivia mengangguk pelan. “Kalau dijelasin gitu jadi lebih masuk akal.” Chris tertawa kecil. “Makanya jangan dihafal mentah-mentah.” Obrolan mereka berlanjut tanpa terasa. “Jadwal pelatihan cukup padat. Kamu tidak apa-apa naik kereta setiap hari?” tanya Chris. “Gimana kalau terlambat lagi?” Olivia terdiam sesaat, lalu menjawab. “Tidak apa-apa. Aku harus terbiasa karena kalau tidak naik kereta, mungkin aku cuma bisa naik bus. Tapi itu terlalu lama sampai sini. Jadi, aku harus berangkat lebih pagi,” jawab Olivia. “Ohh ... rumahmu jauh ya?” tanya Chris penasaran. “Iya, lumayan. Di pinggiran kota soalnya.” “Wah ... kalau aku pasti tidak akan kuat. Macet sedikit saja, rasanya sudah stres.” Olivia tertawa kecil mendengarnya. “Baru macet saja sudah stres, gimana kalau nanti bawa pesawat?” Chris memutar bola matanya, ia mencondongkan wajahnya sedikit lalu bercanda, “Di langit tidak ada lampu lalu lintas. Jadi, tidak akan macet.” Chris tertawa mendengar candaannya sendiri, Olivia tanpa sadar ikut tertawa kecil. Suasana yang tadinya canggung kini terasa jauh lebih santai, bahkan waktu istirahat terasa berlalu begitu cepat tanpa mereka sadari. *** Hari berikutnya, para trainee berkumpul di ruang praktik yang dipenuhi alat peraga medis, termasuk manekin yang digunakan untuk simulasi pertolongan pertama. Instruktur berdiri di depan, menjelaskan prosedur dengan suara tegas dan terstruktur. “Hari ini kalian akan belajar dasar pertolongan pertama. Ini penting, karena dalam kondisi darurat, kalian adalah orang pertama yang harus bertindak.” Olivia memperhatikan dengan serius, tetapi saat praktik dimulai, ia mulai merasa gugup. Di depannya terbaring manekin yang harus ia tangani, sementara langkah-langkah yang tadi terlihat mudah kini terasa membingungkan. “Periksa respons pasien, lalu cek pernapasan,” kata instruktur. Olivia mencoba mengikuti, tetapi gerakannya kaku. Tangannya ragu saat menyentuh manekin, seolah takut melakukan kesalahan. “Aduh… yang mana dulu tadi, ” gumamnya pelan. “Tarik napas dulu.” Suara itu datang dari sampingnya. Olivia menoleh dan mendapati Chris sudah berdiri di sebelahnya. Ia tersenyum kecil. “Aku lihat kamu hampir panik,” katanya ringan. Olivia menghela napas, sedikit malu. “Aku ingat teorinya, tapi saat praktik… semuanya jadi campur aduk.” Chris tertawa pelan. “Normal. Semua orang juga begitu di awal.” Ia lalu menunjuk manekin di depan Olivia. “Coba ulang dari awal. Aku bantu.” Olivia mengangguk. “Pertama… cek respons, kan?” “Iya. Coba panggil pasiennya.” Olivia mencondongkan tubuh sedikit. “Pak? Anda bisa dengar saya?” Chris mengangguk. “Bagus. Sekarang cek pernapasan.” Olivia menempatkan tangannya dengan hati-hati, tetapi posisinya sedikit salah. Chris langsung mendekat. “Bukan di situ,” katanya pelan. Ia mengulurkan tangannya untuk membimbing posisi tangan Olivia. Tanpa sengaja, jari-jari mereka bersentuhan. Olivia langsung terdiam. Sentuhan itu singkat, tetapi cukup membuat jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Chris tampak tidak menyadari perubahan itu. “Di sini,” lanjutnya sambil mengarahkan. “Rasakan pergerakan napasnya.” Olivia mencoba fokus, meskipun pikirannya sempat terganggu oleh perasaan aneh yang tiba-tiba muncul. “Iya… seperti ini?” “Benar. Nah, sekarang kalau tidak ada napas, kamu mulai CPR.” Olivia mengangguk, lalu bersiap menekan d**a manekin. Namun lagi-lagi ia ragu. “Tekanannya harus seberapa kuat?” Chris tersenyum tipis. “Cukup kuat untuk menyelamatkan nyawa, tapi jangan takut salah.” Ia berdiri sedikit lebih dekat di belakang Olivia. “Coba lakukan. Aku lihat.” Olivia mulai menekan d**a manekin dengan ritme yang masih belum stabil. “Satu… dua… tiga…” “Lebih cepat sedikit,” kata Chris. Olivia mencoba menyesuaikan. “Seperti ini?” Chris mengangguk. “Ya, itu sudah lebih baik.” Beberapa detik berlalu dalam fokus yang perlahan kembali. Tapi ketika Olivia hendak berhenti, tangannya kembali bersentuhan dengan Chris yang ingin mengoreksi posisi. Kali ini lebih lama. Olivia menahan napas. Jantungnya berdetak tidak seperti biasanya, lebih cepat, lebih jelas, seolah ia bisa mendengarnya sendiri. Ia buru-buru menarik tangannya. Chris menatapnya sekilas. “Kamu tidak apa-apa?” Olivia mengangguk cepat. “Iya… hanya sedikit gugup.” Chris tersenyum ringan. “Kalau gugup, ingat saja satu hal. Kamu tidak melakukan ini sendirian, karena aku akan selalu ada di sisimu.” Kalimat itu sederhana, tetapi entah kenapa terasa hangat. Olivia menatapnya sebentar, lalu tanpa sadar tersenyum kecil. “Iya.” Pemandangan itu terlihat jelas oleh beberapa trainee yang lain, termasuk Vina. Ia mendengus kesal melihat kedekatan Chris dan Olivia yang selalu terlihat bersama.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD