Bab 2

1139 Words
“Seharusnya kau mengatakan itu sejak awal,” kata Vina mendengus pelan, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi dengan ekspresi yang berubah dingin. Olivia mengangkat wajahnya sedikit, tidak langsung mengerti maksud ucapan itu. “Jangan bilang kau penerima beasiswa dari maskapai ini?” lanjut Vina menatapnya dengan tatapan merendahkan. Olivia terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk pelan. “Iya, apa itu masalah?” jawabnya jujur. Pertanyaan itu justru membuat Vina tertawa pendek. “Tentu saja masalah,” katanya sambil menyilangkan tangan di d**a. “Seharusnya kau sadar diri. Jangan bilang kau ikut makan di sini karena berharap ditraktir?” Sarah yang duduk di sebelahnya langsung menyenggol lengan Vina pelan, wajahnya terlihat sedikit tidak nyaman. “Vina, jangan kasar begitu,” gumamnya, merasa temannya mulai terlalu jauh. Vina hanya mengangkat bahu seolah tidak peduli. Lucas yang sejak tadi diam akhirnya ikut bersuara. “Sejujurnya, sepertinya Olivia memang tidak pantas ikut bergabung dengan kita,” katanya dengan tatapan tak lagi hangat. Kata-kata itu terasa seperti tamparan. Lucas kemudian menoleh kembali ke arah Vina. “Tenang saja. Bagian makanannya biar aku yang bayarin,” lanjutnya santai seolah-olah itu adalah bentuk kebaikan. “Dengar- “ Chris yang sejak tadi hanya mendengarkan akhirnya terlihat ingin mengatakan sesuatu. Tapi Olivia tiba-tiba berdiri dari kursinya. Gerakan itu membuat semua orang di meja menoleh. Tanpa berkata apa-apa, Olivia membuka dompetnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang. Tangannya sedikit gemetar, tetapi matanya terlihat jauh lebih tegas. “Aku memang penerima beasiswa, lalu kenapa?” Ia menarik napas sebentar. “Apa yang membedakan kita?” Tatapannya akhirnya berhenti pada Vina. “Pada akhirnya kita akan memakai seragam yang sama dan menjadi pelayan di dalam pesawat.” Ucapan itu membuat wajah Vina langsung berubah. Olivia tidak berhenti. “Kau pikir para penumpang akan menunduk hormat padamu?” Kalimat itu menggantung di udara, membuat tidak ada seorang pun yang segera menjawab. Setelah meletakkan uangnya di atas meja, Olivia mengambil tasnya. Tanpa melihat siapa pun lagi, ia berbalik dan berjalan keluar dari restoran. Wajah Vina terlihat memerah karena kesal. Tangannya mengepal di atas meja. “Berani sekali dia—” “Kau berlebihan hari ini, Vina.” Chris memotong dengan tajam. Semua orang menoleh padanya. Chris menatap Vina dengan ekspresi serius. “Seharusnya kau tidak membawa sikap angkuhmu ke sini.” Vina menatapnya tidak percaya. Chris kemudian berdiri dari kursinya. “Dan dia benar,” lanjutnya tenang. “Pada akhirnya kita memang hanya pelayan bagi para penumpang.” Kata-kata itu membuat Vina semakin tidak senang, tetapi Chris sudah tidak terlihat tertarik untuk melanjutkan perdebatan. Ia mengambil dompetnya, lalu melemparkan sebuah kartu hitam ke atas meja. Sebuah black card yang langsung membuat Lucas dan Sarah saling melirik. “Anggap saja aku yang mentraktir semuanya hari ini,” katanya singkat. Tanpa menunggu jawaban siapa pun, ia meninggalkan meja itu. *** Malam sudah larut ketika Olivia akhirnya sampai di lingkungan pinggir kota tempat ia tinggal. Jalanan di sana jauh lebih sepi dibanding pusat London. Ia berjalan pelan menyusuri deretan rumah kecil yang berdiri rapat, hingga akhirnya berhenti di depan sebuah bangunan sederhana dengan papan kayu kecil bertuliskan Fresh Fruits di atas pintunya. Rumah itu menyatu dengan toko buah kecil milik ibunya. Olivia membuka pintu dengan hati-hati. Di dalam, ibunya, Wilona, sedang merapikan beberapa keranjang buah yang tersisa. Wanita itu tampak lebih kurus dari yang Olivia ingat beberapa tahun lalu. Wajahnya pucat, dan sesekali ia menutup mulutnya dengan tangan ketika batuk kecil menyerang. “Bu,” panggil Olivia pelan. Wilona menoleh, lalu wajahnya langsung berubah cerah melihat putrinya pulang. “Olivia, kamu sudah pulang.” Olivia segera meletakkan tasnya dan berjalan mendekat. Tanpa banyak bicara ia langsung membantu mengangkat beberapa keranjang buah yang akan disimpan ke dalam. “Kamu masuk saja ke dalam,” kata Wilona pelan. “Pasti kamu lelah setelah hari pertama ikut pelatihan.” Olivia menggeleng. “Tidak apa-apa, Bu. Sebentar lagi juga selesai.” Ia mulai merapikan beberapa apel yang masih tersisa, menyingkirkan yang sudah mulai busuk. Tangannya bergerak cepat, terbiasa membantu pekerjaan toko sejak kecil. Tak lama kemudian pintu rumah di bagian belakang terbuka. Seorang remaja laki-laki keluar dengan langkah malas. “Kakak sudah pulang?” tanyanya singkat. Itu Stuart, adik laki-laki Olivia yang baru berusia tujuh belas tahun. Belum sempat Olivia menjawab, Stuart sudah menghela napas panjang. “Bu, aku butuh papan skyboard baru,” katanya sambil bersandar di dinding toko. “Yang lama sudah usang. Teman-temanku sudah pakai yang model baru.” Wilona menoleh padanya dengan senyum lembut. “Nanti Ibu belikan,” katanya tenang. Olivia langsung berhenti merapikan buah dan menatap adiknya dengan wajah tidak setuju. “Stuart, Kamu seharusnya fokus sekolah, bukan memikirkan mainan baru terus.” Stuart langsung memutar mata. “Ah, kakak memang pelit sekali.” Stuart langsung berbalik dan masuk kembali ke dalam rumah, menutup pintu dengan suara cukup keras. Olivia menghela napas panjang. Ia menoleh ke arah ibunya dengan ekspresi khawatir. “Bu, jangan selalu menuruti semua keinginannya,” katanya pelan. “Dia jadi tidak belajar bertanggung jawab.” “Biarkan saja,” jawabnya lembut. “Selama Ibu masih bisa memberinya apa yang dia minta, tidak apa-apa.” Kalimat itu membuat Olivia terdiam sejenak. Ia tahu ibunya selalu seperti itu sejak ayah mereka meninggal sepuluh tahun lalu. Wilona selalu berusaha keras agar kedua anaknya tidak merasa kekurangan, meskipun ia sendiri harus bekerja tanpa henti di toko kecil itu. Wilona lalu menatap Olivia dengan mata penuh rasa ingin tahu. “Bagaimana hari ini?” tanyanya hangat. “Hari pertamamu di pelatihan.” Olivia menunduk sebentar, mengingat kembali kejadian di restoran tadi. Kata-kata Vina, tatapan Lucas, dan keheningan yang membuatnya merasa begitu kecil. Tapi ia tidak ingin ibunya tahu semua itu. Olivia mengangkat wajahnya dan memaksakan senyum kecil. “Menyenangkan,” jawabnya singkat. “Tapi aku hampir tidak bisa masuk kelas karena terlambat lima menit.” Wilona menatap terkejut. “Kenapa bisa terlambat? Bukankah kamu sudah berangkat lebih awal pagi tadi?” Olivia tertawa kecil, menuntun ibunya masuk ke dalam rumah. “Keretanya sedikit ada gangguan. Jadi sampai lebih lama.” *** Olivia masuk ke dalam kamarnya. Ia merebahkan diri di atas ranjang kecilnya. Menatap langit-langit kamar yang mulai kusam. “Apa salahnya jika aku adalah penerima beasiswa? Setidaknya, aku punya kemampuan dan tekad yang besar,” gumamnya mengingat semua pembicaraan hari ini di restoran. Olivia menyadari sejak awal, jika kondisinya jauh berbeda dari semua peserta pelatihan. Karena penerima beasiswa lebih sedikit dari total peserta yang ada di kelas. Tapi, itu tidak membuatnya merasa minder. Seharusnya begitu, tapi ucapan Vina begitu terpati dalam benaknya. Entah bagaimana hal itu menggores harga dirinya. Olivia menoleh menatap bingkai foto yang ada di atas meja samping ranjangnya. Foto dirinya dengan saat masih SMP, Stuart yang masih kecil dan ibunya yang terlihat sangat sehat dan ceria. Serta seorang pria dewasa yang tersenyum lembut memeluk ketiganya. “Ayah,” panggil Olivia. “Aku harus kuat!” katanya mendapatkan semangat saat menatap wajah sang ayah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD