Ucapan Miranda sungguh mengganggu. Ilona hingga tidak bisa berkonsentrasi pada pekerjaannya karena bayang-bayang perempuan itu. Gaya bicara, gesture tubuh, cara tersenyum dan tatapan perempuan itu sungguh mengganggu.
Ilona gundah, hatinya benar-benar gelisah, risau ... karena rencana perbincangan perempuan itu dengannya. Sedikitpun ia tidak dapat membaca isi pikiran Miranda, sekalipun ia berusaha tetap menggali, mengingat-ingat semuanya. Tapi nihil.
Ia tetap tidak bisa menebak, hal apa yang akan perempuan itu bicarakan kepadanya?
Duk!
Bruk!
“Ah!” Ilona terjengit saat dokumen di tangannya berserakan di lantai. Ilona mendongak menatap seseorang yang menabraknya, berniat meminta pertanggung jawaban. Namun seketika matanya membulat sempurna melihat sosok Edward yang ternyata berada di hadapannya.
Menatapnya dengan dingin.
“Hati-hati Miss Ilona.”
Mata Ilona mengerjap, tersenyum tipis kemudian merapihkan dokumen tersebut di bantu Jack. Pria itu tersenyum tipis seraya memberikan tumpukan dokumen itu.
“Lain kali jangan berjalan sambil melamun. Akan sangat bahaya jika kau menabrak seseorang yang membawa air. Dokumennya pasti akan rusak.” Ujar Jack diiringi dengan senyuman yang sangat lembut.
Ilona tersenyum kaku. “Maafkan saya, saya teledor.”
“Tidak masalah, lain kali cukup berhati-hati ya.” Pesan Jack masih dengan kalimat yang begitu hangat.
“Jack. Ayo. Kita tidak mempunyai banyak waktu.”
“Kalau begitu saya permisi.” Pamit Jack seraya menepuk lengan Ilona beberapa kali sebelum akhirnya beranjak pergi meninggalkan Ilona.
Helaan napas terdengar begitu panjang, Ilona berusaha meluangkan dadanya yang masih saja terasa sangat sesak saat berhadapan dengan Edward—apalagi setelah kejadian semalam.
Andai ... Edward sehangat Jack. Berbicara lembut dan tersenyum hangat.
Ed ... kapan kamu mau mendengar penjelasanku?
***
Sementara itu di mansion keluarga Dalbert Max, Mia, Nate sedang bersama dengan Miranda, berkumpul dengan Max dan Nate sedang bermain game, juga Miranda yang sedang mengepang rambut Mia.
“Aku menang lagi.” ujar Nate seraya menyeringai, tersenyum penuh kemenangan pada Max.
“Ah! Sial. Kamu tidak asik Nate.”
“Kamu cuma asik saat bisa mengalahkan seseorang Max.” ujar Miranda. “Kalau mau menang ... ya jangan mengalah dong. Masa bermain game kendor begitu.”
“Siapa yang mengalah? Aku tidak mengalah Ma? Nate saja yang terlalu pintar.”
Mia mendesis pelan. “Padahal sebenarnya Max hanya ingin membuat Nate senang Ma, lihat saja ... pada Nate sering sekali Max mengalah. Tapi padaku? Ish ... Max sangat menyebalkan.” Adu Mia.
“Terus saja terus ... adukan. Dasar tukang ngadu.”
“Tuh Ma denger!”
Miranda terkekeh kecil mendengarnya. Tangan kanannya terulur mengusak kepala Mia dan Max secara bergantian. “Sudah jangan berantem. Apa di hadapan Ilona kalian juga seperti ini?”
“Lebih manja.” Kali ini Nate yang menjawab.
Kening Miranda mengerut, heran. “Benarkah? Biasanya kalian tidak manja pada orang asing.”
“Mmm ... itu ... .” Mia menghembuskan napas. “Sebenarnya kami sedang berencana membuat Daddy dan Ilona menikah. Tapi sepertinya sekarang mereka sedang ada masalah.”
“Karena itu juga kalian sinis pada Daddy?”
“Ma ... .”
“Kalian sangat menyukai Ilona?”
Mata Mia mengerjap. “Ma.”
Miranda terkekeh kecil. “Tidak usah dijawab. Otak kalian sudah seperti buku terbuka. Mama bisa membacanya.”
“Sorry ... .” sesal Mia.
“Kenapa kamu berkata begitu?”
“Pasti tindakan kami melukai Mama ... ya? Mama pasti kecewa Mia ingin sosok ibu di rumah ini ya? Ma? Mama pasti marah ya pada Mia?”
Miranda terdiam, tangan kanannya masih mengelus kepala Mia beberapa saat sebelum mengecup puncak kepalanya. “Mama tidak marah. Itu hak kalian jika memang kalian ingin. Tapi ... jangan memaksa Daddy. Karena ... permintaan dan harapan kalian ... akan sangat sulit bagi Daddy.”
“Apa sulitnya Ma?”
Miranda tersenyum tipis. “Suatu saat ... kalian akan mengerti.”
“Sudah jangan membahasnya lagi. Sekarang saatnya kalian bersiap kelas siang atau kalian akan terlambat.”
Mia kemudian bangkit dari duduknya. “Max ayo! Nate tidak akan hilang. Kamu tidak perlu selalu mengawasinya begitu.”
“Hah? Apa?”
Mia mendesis. “Matamu sudah seperti mau keluar kalau lihat Nate. Ayo siap-siap. Aku tidak mau terlambat ya.”
Miranda terkekeh seraya menggeleng kecil ketika melihat bagaimana Mia menyeret tubuh tinggi tegap Max. Tidak heran lagi dengan kelakuan kedua anaknya itu.
“Mau bermain game bersamaku?”
Miranda menoleh, menatap Nate yang sudah duduk di sofa—tepat di sampingnya. “Siapa takut.”
Jemari lentik itu mulai bermain dengan lihai, melawan pemuda di sampingnya. Sesekali ia menoleh menatap Nate, lalu menatap layar televisi kembali melanjutkan permainan.
Tidak ada percakapan diantara mereka berdua, tidak ada seruan kekecewaan, atau kemenangan. Mereka hanya bermain begitu saja, tanpa ada ekspresi yang berarti.
“Kamu hebat juga Nate.” Ujar Miranda. “Max tidak membual.”
“Miss Miranda.” Nate menoleh ke arahnya. “Sejak kapan kau mengenal Mr. Dalbert?”
Sebelah alis Miranda naik. Berusaha mencari celah, ke arah mana percakapan pemuda itu akan berlangsung.
“Cukup lama.”
“Lebih lama siapa antara kau dan Jack?”
Miranda kini sepenuhnya menaruh perhatian pada Nate. “Tentu, Jack.”
“Tepatnya kapan kau dekat dengan Mr. Dalbert?”
Miranda menarik ujung bibirnya. “Kenapa aku harus menceritakannya padamu Nate?”
Pemuda itu menatapnya dalam diam selama beberapa waktu. Miranda pun membalasnya, berusaha menyelami tatapan Nate yang terhalang dinding tinggi, pemuda itu tampak menyimpan banyak rahasia dan rencana, tapi ... ia sendiri belum mengerti.
Sejak pertemuannya dengan Nate, sejujurnya ada sesuatu hal yang berhasil mengganggu pikirannya. Nate benar-benar persis dengan seseorang yang sangat ia dan Edward kenal di masa lalu. Beberapa dugaan mulai hinggap dalam benak Miranda. Dari mulai dugaan tentang Nate anak dari orang itu atau ... Nate ...
“—kau menyukai Edward?” todong Miranda.
Bola mata Nate membulat.
“Kau tiba-tiba mengenal Max, lalu menjadi model di perusahaan Edward, setelah itu tinggal di sini lalu kau bertingkah manis pada Edward.” Ujar Miranda. “Dugaanku benar?”
“Tidak.”
“Di depan mataku bahkan kau berani membenahi dasi Edward, lalu menatapnya dengan tatapan yang begitu dalam. Katakan padaku. Kau menyukainya? Kau cemburu melihatku datang lagi dalam kehidupan Edward?!”
Bayangan pagi ini, ketika mereka selesai sarapan bersama kembali terbayang, mencuat mengganggu pikiran Miranda. Ia ingat betul bagaimana Nate dengan sigap bangkit sebelum ia atau Ilona bangkit, pemuda itu mendekat ke arah Edward tanpa beban lalu membenahi dasi Edward yang memang sedikit terganggu karena acara sarapan mereka.
“Berhenti beromong kosong!”
Miranda menarik ujung bibirnya. “Kenapa kau panik begitu?”
Miranda kembali bertatapan dengan Nate, kali ini menatap tajam pemuda itu. kembali berusaha membaca isi pikiran Nate yang masih tertutup. Menyelami rencana yang sedang anak itu lakukan.
“Nate ... Kau tahu ... parasmu membuatku curiga, kau mungkin ada kaitannya dengan seseorang dari masa lalu Edward. Tapi ... sekarang aku lebih curiga dengan perasaanmu. Kau yakin ... tidak menyukai—.”
“Sudah kukatakan berhenti beromong kosong!”
Miranda tersenyum puas melihat emosi yang semakin meluap dari pemuda itu. Tatapannya benar-benar tidak terkontrol, terlihat sangat jelas bahwa memang benar pemuda itu memiliki maksud. Entah hanya salah satu dari dua dugaannya. Atau ... keduanya?
“Aku peringatkanmu jangan ikut campur urusanku! Urus saja urusanmu sendiri.” Desis Nate.
Bukannya takut, Miranda justru terkekeh kecil. “Kenapa? Ah ... kau takut aku memberitahukan itu pada Edward? Kalau sampai tahu ... Edward pasti akan mengusirmu tanpa berpikir dua kali.”
Miranda jalan mendekat, Kau tahu ... sejak pertama kali aku melihatmu, aku sudah menyadari orientasi seksualmu. Kau ... menyukai laki-laki kan?”
Rahang Nate seketika mengatup. Iris matanya pun mendelik, menghunuskan tatapan tajam pada Miranda. “Kau tidak berhak menilai orientasi seksualku!”
Miranda terkekeh kecil melihat bagaimana Nate beranjak pergi dengan penuh emosi.
***
Ilona melirik jam di meja kerjanya dengan jemari yang terus mengetuk meja, risau. Sudah dua jam berlalu sejak jam kerja selesai, pekerjaannya pun sudah tidak tersisa lagi bahkan untuk besok. Tapi Ilona masih enggan beranjak. Ia masih tetap bertahan di meja kerjanya.
Ponsel Ilona sudah berdering beberapa kali, sebuah panggilan masuk dari sopirnya terus mengganggu. Ia tahu itu pasti perintah Miranda karena supirnya itu tidak pernah ikut campur kapanpun ia akan pulang.
Ditengah keheningan, derap langkah kaki mendekat membuat Ilona terjengit. Tak lama setelah itu pintu terbuka tanpa permisi, mata Ilona seketika membulat ketika di sana ia melihat Miranda. Perempuan itu berdiri tegap di ambang pintu dengan memberinya tatapan dingin.
“Kau sengaja menghindariku Miss Ilona?”
“Aku?” Ilona menunjuk dirinya sendiri. “Tentu saja tidak. aku punya banyak pekerjaan yang harus kukerjakan. Bagaimana pun sebentar lagi ada event. Kau saja yang terlalu negative thinking.”
“Ah ... benakah? Aku tidak melihat satu pun dokumen yang sedang kau kerjakan.” Balas Miranda.
Ilona mendesis pelan, “Tentu saja karena aku baru merapihkannya. Kau bodoh atau bagaimana?”
Ilona dan Miranda berpandangan selama beberapa saat sampai Miranda yang memutuskan tatapan itu. “Sudahlah aku tidak peduli kau jujur atau berbohong. Aku hanya ingin berbicara denganmu sekarang. Ayo kita bicara di mobil saja dalam perjalanan pulang.”
“Aku—.”
“Supirmu sudah pulang, aku yang memintanya.” Sergah Miranda. “Jadi ayo. Kalau kau tidak ikut denganku sekarang aku akan meninggalkanmu sendirian di gedung ini.”
“Otakku masih pintar untuk memesan taksi online Miss Miranda.”
“Oke, baik. kalau itu maumu. Kita bicara di sini.” Miranda menarik sebuah kursi, lalu menarik paksa kursi Ilona agar berhadapan dengannya.
“Sebelumnya aku minta maaf saat ini aku memaksamu untuk mendengarkan penjelasanku. Karena keadaan sudah cukup genting dan ... sainganmu akan bertambah jika kau masih diam.”
Kening Ilona mengerut. “Apa maksudmu?”
“Ini fakta penting tentang Edward, satu hal yang sudah dikubur rapat-rapat dan kami semua sudah sepakat untuk melupakannya. Tapi ... sepertinya kau harus tahu. Sebab bagaimana pun kau adalah calon istri Edward.”
Kening Ilona semakin mengerut. Heran, lalu terkekeh sengau, tersenyum pahit. “Calon istri Edward? Bukankah kau yang calon istri Edward?”
Kali ini Miranda yang mengerutkan kening, diiringi dengan tatapan penuh selidik. “Aku? Calon istri Edward?” Miranda terkekeh kecil. “Kalau aku memang berminat jadi istri Edward sekarang aku bukan calon lagi Ilona. Aku sudah resmi menjadi istri Edward.”
“For your information. Sebelum aku pergi, Edward tiga kali melamarku.”
“Apa?!”
Miranda mengangguk kecil. “Tapi bukan itu yang ingin aku katakan sekarang Ilona. Masalah itu kau bisa tanyakan kapanpun padaku.”
“Tunggu ... tapi kenapa kau menolaknya Miranda? Apalagi kalian ... memiliki anak. Max dan Mia anak kandung kalian berdua kan?”
“Ya ... mereka memang anak kami berdua. Tapi Ilona ... tidak. kami tidak memiliki hubungan apapun.”
“Kenapa?”
“Karena Edward .... tidak menyukai perempuan. Edward ...
.
.
.
“Gay.”
***
Bersambung ...