Ilona tidak tahu posisi macam apa yang sedang ia hadapi ini. Duduk di antara keluarga kecil yang tampak sangat bahagia, saling memeluk, melepas ridu. Jika bisa, rasanya ingin sekali ia menghilang saat itu juga. Terlebih ia merasa tidak ada seorang pun di sini yang memiliki kepentingan dengannya.
Ya ... tidak ada. Satu pun.
Ia hanya orang asing yang secara kebetulan datang, masuk ke dalam hidup orang-orang itu. Seseorang yang disambut baik sekalipun pada akhirnya disalah pahami.
Ingin sekali ia menangis, hasrat terbesarnya adalah pergi ke kamar, mengurung diri dan tidak keluar kamar sampai besok pagi.
Tapi nyatanya tidak bisa. Sekalipun ia tidak begitu dekat dengan orangtuanya, ia tetap memiliki sopan santun untuk tetap menghormati pemilik rumah—walau dengan keadaan hati terlukam sakit tidak menentu.
“Mama Mia kangen banget.”
“Mama udah di sini baby. Kangen apa lagi?” tanya Edward menanggapi sikap manja sang putri.
“Ih! Daddy diem. Mia gak lagi bicara sama Daddy! Ingat. Mia masih marah sama Daddy ya!”
Edward mendesis kecil. “Marah ya? Oke. Daddy antarkan lagi Mama kalian pulang. Biar kalian cuma hidup sama Daddy yang seperti monster ini.”
Ilona tahu ... Max dan Mia memang tampak ada masalah dengan Edward. Kedua anak itu terlihat jaga jarak, juga bersikap dingin pada Edward. Tidak seperti biasanya, seperti yang selalu ia lihat. Ingin sekali ia bertanya, ada masalah apa? Kenapa mereka—terutama Max, memberikan silent treatment pada Edward?
Lihat saja ... Max bahkan tidak menghiraukan keberadaan Edward. Max totally menempel pada Miranda, mengabaikan Edward yang beberapa kali bertanya padanya.
Ilona menghembuskan napas perlahan. Atmosfir di ruangan ini terasa semakin membuatnya tidak nyaman. Apalagi saat tidak sengaja ia melihat bagaimana Miranda meliriknya seolah tidak nyaman dengan kehadirannya di tengah mereka.
“Selamat malam. Maaf malam ini saya pulang terlambat.”
Ilona diam, hanya mengamati gerak-gerik keluarga itu yang kini menatap kompak ke arah Nate yang baru saja datang usai pemotretan.
“Ed ... ini siapa?”
Ilona mengerutkan kening saat melihat gesture aneh yang diberikan oleh Miranda. Perempuan itu mendadak panik, dari matanya ia melihat bahwa perempuan itu tampak begitu resah.
“Perkenalkan Miss. Saya Nate Aiden, teman Max dan Mia yang kebetulan musim ini bekerja untuk Mr. Dalbert.”
“Jangan menatapnya begitu Ma. Nate teman baik kok. Aku yang mengajaknya tinggal karena rumah Nate ke kota dan kantor sangat jauh.” Tegur Max saat Miranda menatap Nate dengan penuh selidik.
“Oh ... hai Nate. Aku Miranda. Ibu Max dan Mia.”
“Ah ... begitu.” Nate menarik senyuman tipis. “Senang berkenalan dengan anda Mrs. Miranda.”
Miranda terkekeh kecil. “Aku belum menikah by the way. Jadi panggil aku Miss.”
“Hah? Hm ... ya. Miss.”
Satu fakta baru yang Ilona dapatkan. Mereka pasangan—ya setidaknya seharusnya begitu bagi Ilona, mereka memiliki sepasang anak kembar, tapi mereka tidak terikat pernikahan?
Tunggu ... kepala Ilona mendadak pening, berbagai dugaan mulai berkecamuk dalam kepalanya.
Memang benar setahunya Edward pun belum menikah. Tapi bagaimana mungkin mereka memiliki anak bersama? Jangan bilang Max dan Mia hanya anak Miranda? Hasil dari sebuah kecelakaan mungkin?
Tapi ... Max terlalu mirip dengan Edward untuk tidak di sebut anak kandung Edward.
Mungkinkah ... Max dan Mia anak kandung mereka karena kecelakaan? Lalu mereka memutuskan berpisah setelah anak mereka lahir?
Sayangnya hubungan mereka tidak tampak seperti itu. Justru terlihat terlalu baik untuk ukuran sebuah hubungan hanya karena kecelakaan.
Sebenarnya apa? Kenapa ... hubungan dalam keluarga ini begitu ambigu?
“Miss Ilona ... ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan untuk event musim gugur.” Ilona terjengit lalu berbalik ke arah Nate. “Bisa kita bicara di tempat lain?”
“Hm?” Ilona mengerjapkan mata, lalu menatap iris mata Nate yang memberikan suatu kode yang memaksanya untuk setuju. “Boleh.”
“Nate sebaiknya mandi dulu.” ujar Edward. “Berendam supaya relax. Kamu terlihat sangat lelah.”
Nate tersenyum. “Terimakasih atas sarannya Mr. Dalbert. Saya tentu akan melakukan saran dari anda nanti. setelah saya berbicara dengan Miss Ilona.”
Ilona menatap Edward sesaat sebelum bangkit. “Saya permisi.”
“Ilona ... wait.” panggil Mia.
Ilona hanya tersenyum tipis. “Kamu di sini saja Mia. Kamu pasti rindu bersama keluargamu seperti ini. Aku memiliki urusan pekerjaan dengan Nate.” Ujar Ilona meminta pengertian.
“Kalau begitu permisi.”
***
Ilona termenung, menatap langit dari halaman belakang rumah yang hampir tidak pernah dijajah, berhadapan dengan Nate yang juga masih diam. Setelah beberapa saat ia menoleh ke arah Nate yang ternyata sedang menatapnya dalam.
“Kamu mau bicara apa Nate? Kenapa malah melamun?”
“Memikirkan hubungan Mr. Dalbert dengan Miss Miranda.”
Kening Ilona mengerut, heran. Untuk apa Nate memikirkan hubungan mereka.
“Maksudku ... itu isi pikiranmu Miss Ilona.”
“Ilona saja.”
Nate mengangguk kecil. “Apa dugaanku benar?”
Ilona menghembuskan napas seraya melipat kedua tangan di d**a. “Benar. Apa hubungan mereka? Jika hubungan mereka sebaik ini kenapa Max dan Mia begitu gigih menginginkanku bersama Edward? Mengapa Max dan Mia justru mendukungku untuk bersama ayahnya?”
“Secara logika, bukankah seharusnya mereka lebih mengharapkan ibu kandung mereka kembali? Tapi ini ... .”
“Karena tidak ada kesempatan bagi mereka untuk bersama.” Ujar Nate.
Ilona menatap Nate lagi. “Apa maksudmu?”
“Max mengatakan Miss Miranda tidak ingin menikah dengan Mr. Dalbert. Miss Miranda memiliki trauma pada laki-laki dan suatu hubungan dengan laki-laki. Karena itulah mereka tidak bisa menikah. Dan Mr. Dalbert pun sebenarnya ... .”
Kening Ilona semakin mengerut ketika melihat Nate mengatupkan bibir, seolah baru saja menyadari kesalahan dari ucapannya.
“Edward sebenarnya apa Nate?”
“Tidak mencintai Miss Miranda.” Nate tersenyum tipis. “Anggap saja begitu. Agar kamu tidak terlalu sedih saat melihat interaksi mereka.”
“Ucapanmu justru semakin tidak masuk akal Nate. Bagaimana bisa orang yang tauma apda laki-laki dan orang yang tidak saling mencintai justru memiliki anak? Sangat tidak masuk akal.”
Nate terekeh kecil. “Benar ... tapi seperti yang kukatakan Ilona. Anggap saja begitu. Untuk menghibur perasaanmu.”
Ilona mendesis. “Terimakasih udah mau menghiburku. Tapi jika begitu justru semakin membuat kepalaku terbebani.”
Hening selama beberapa saat. Ilona kembali menatap Nate.
“Sekarang ayo apa yang ingin kamu katakan?”
“Tidak ada.”
Kening Ilona kembali mengerut. “Tidak ada?”
“Aku hanya berusaha menolongmu dari kecanggungan itu Ilona. Perasaanku mengatakan kamu tidak nyaman di sana. Jadi aku sedikit beralasan.”
Ilona tertegun, tidak menduga Nate akan sepeka itu pada perasaannya. “Kamu benar ... .”
“Karena itulah sebaiknya diam di sini bersamaku. Karena aku pun ... tidak nyaman saat melihat mereka bersama.”
Ilona menatap Nate dalam diam selama beberapa saat, tapi ia tidak dapat menemukan apapun dari tatapan kosong pemuda itu. Dia begitu dingin, tidak tersentuh dan isi kepalanya tidak terbaca sama sekali.
...
Setelah merasa lebih tenang keduanya berjalan bersama menuju lift yang akan mengantarkan mereka ke lantai dua mansion tersebut.
“Sebaiknya kamu naik duluan Nate. Mandi dan berendam. Aku ingin membawa minum dulu.”
Nate mangangguk, pemuda itu sudah tampak lelah sekali.
Ilona pun kemudian berjalan gontai ke arah dapur berniat menghilangkan dahaga. Akan tetapi langkah kakinya seketika terhenti ketika iris matanya menangkap bagaimana dua insan beda kelamin itu duduk saling berimpit, tanpa jarak, diiringi decakan basah yang terdengar begitu erotis.
Kedua tangan Ilona terkepal, hatinya mendadak panas, dadanya pun mendadak sesak, kedua matanya pun mulai memanas melihat adegan tersebut. Ia tidak sepolos itu untuk tidak menyadari decakan basah tersebut, mereka berciuman, bahkan kini diiringi dengan desahan dan erangan halus penuh kenikmatan dari Miranda.
Jika sudah seperti ini ... Apakah ia masih harus mempercayai ucapan Nate? Mereka berdua ... tampak saling mencintai. Layaknya pasangan yang sedang menebus rindu.
Tes!
Ilona memejamkan mata saat air mata itu tanpa komando mengalir. Setelahnya ia balik kanan kembali, menyeret tungkainya pelan, berusaha tidak meninggalkan suara.
***
Keesokan harinya ... Ilona meringis menatap penampilannya sendiri yang terlihat sangat kacau. Mata bengkak dengan bola mata yang memerah, wajahnya pun begitu pucat jika tidak ia tambahkan make up.
Ilona benar-benar lelah ... sampai ia pikir ia tidak pernah merasa selelah ini selama hidupnya.
Tok tok tok
“Ya. Masuk saja.”
Mata Ilona membulat saat melihat Miranda dari bayangan cermin memasuki kamarnya, dengan balutan piama berwarna gelap milik Edward.
Perempuan itu tersenyum lebar. “Ilona ... apakah hari ini kamu sangat sibuk?”
“Ada apa?”
“Aku ingin berbicara banyak denganmu.”
Bicara? Haruskah?
Ilona mengerjapkan mata sesaat lalu menghembuskan napas berat. “Aku tidak tahu malam ini aku lembur lagi atau tidak. aku tidak bisa berjanji.”
“Aku bisa menunggu. Malam ini ... kita bicara.”
Ilona menatap Miranda penuh selidik.
Kenapa Miranda begitu bertekad ingin berbicara padanya? Apa yang akan perempuan itu bicarakan?
***
Bersambung ...