Part 20 : Dugaan

1695 Words
Ilona mengepalkan kedua tangannya erat ketika untuk pertama kalinya lagi harus berhadapan dengan Edward, di ruang meeting. Setelah semalam ia pulang terlambat dan pagi ini ia berangkat lebih pagi. Baru kali ini ia berhadapan dengan Edward lagi.   Dadanya bergemuruh, berkecamuk. Satu sisi ia sangat ingin menjelaskan semuanya, mengatakan semua yang dituduhkan pria itu adalah kesalahan, akan tetapi di sisi lain ia tahu bahwa semua yang ia katakan saat ini tidak akan berhasil. Edward masih terlihat sangat marah, jika ia memaksa untuk bicara, yang akan ia dapatkan hanyalah luka dalam hatinya, Edward pasti akan menutup telinga dengan rapat atas semua penjelasannya.   Aura di ruangan meeting bahkan terasa lebih mencekam daripada biasanya.  Sampai setiap orang menjelaskan rekap bulanan mereka dengan gugup, hingga mendapatkan teguran dan tidak jarang kalimat pedas dari Edward.   Sekarang giliran Ilona, ia berdiri memberikan presentasinya. Mengabaikan Edward, mengabaikan rasa sakit hatinya.   “Selamat siang, saya Ilona. Berikut ini adalah laporan kinerja dari proses produksi pakaian musim semi dan musim panas yang diproduksi bulan ini. Terlihat dari grafik bahwa terdapat peningkatan pesat dari bulan lalu hingga bulan ini, bahkan sampai detik ini masih terdapat permintaan dari konsumen untuk barang-barang tertentu. Berikut ini ... adalah daftar barang yang sangat diminati oleh konsumen dan berikut ini adalah keuntungan yang perusahaan dapatkan dari penjualan berikutnya dan prediksi penghasilan tambahan jika produk kita produksi ulang..”   “Apakah menurutmu penambahan produksi akan benar-benar memberikan keuntungan sebanyak itu untuk perusahaan?”   Ilona menatap ke arah Edward dengan mengatupkan rahang sesaat, menahan luapan emosi lalu mengangguk kecil. “Ya. Tapi saya tidak setuju jika produk tersebut di produksi kembali.”   “Kenapa? Bukankah bagus jika perusahaan mendapatkan keuntungan?” tanya seorang manager divisi lain.   “Agar antusias konsumen untuk produk selanjutnya meningkat. Jika kita melakukan produksi ulang konsumen akan berpikir bahwa produk selanjutnya pun akan seperti itu dan nilai eksklusifitasnya berkurang. Jadi daripada memproduksi lagi saya menyarankan untuk mengurangi stock untuk barang limited edition dan mulai menaikan harga, agar brand perusahaan ini mampu menyaingi brand ternama yang sudah ada.”   “Selain itu saya rasa penggunaan brand ambassador akan sangat mendukung dan meningkatkan kepercayaan publik terhadap produk perusahaan ini. Berikut ini adalah daftar nama artis, harga yang harus kita bayar untuk jadikan mereka brand ambassador dan keuntungan perusahaan yang pernah menjadikan mereka sebagai brand ambassador.”   “Dari seluruh nama siapa yang paling kau rekomendasikan?”   Ilona menatap Edward sesaat sebelum kembali menunjuk layar. “Dia. Larisa. Salah satu anggota girlgroup asal korea selatan yang sedang naik daun. Dia salah satu yang memiliki pengaruh tinggi untuk dunia fashion, peningkatan penghasilan perusahaan yang pernah menjadikannya brand ambassador mencapai 250% dan rata-rata mendapatkan peningkatan di atas 200% untuk setiap produknya.”   Setelah itu tidak ada kalimat apapun yang keluar dari Edward. Sampai kemudian Jack meminta Ilona duduk kembali.   Kedua tangan Ilona kembali mengepal, saat sesak dalam dadanya kembali terasa membelenggu. Tatapan Edward begitu dingin, sikap Edward pun tidak lebih hangat dari tatapannya. Tidak ada kehangatan, tidak ada lagi tatapan nyaman yang selama ini ia dapatkan.   ...   Ilona menghembuskan napasnya perlahan, mengatur napasnya yang memburu setelah menahan emosi selama berjam-jam dalam ruangan itu. Memang ... masih beruntung Edward kali ini tidak mengkritik pekerjaannya. Tapi tetap ...   Hatinya sakit ... sungguh. Masih tidak bisa menerima Edward hanya menganggapnya karyawan biasa. Ia masih tidak terima dengan sikap Edward dan cara lelaki itu menatapnya.   Puk!   Ilona mengangkat kepalanya, menatap Felix yang sedang memegang bahunya seraya memberinya senyuman tipis yang terasa begitu hangat.   “Kamu sudah melakukan yang terbaik Na. Kamu hebat. Sudah ... yuk. Sebaiknya kita makan siang.”   Ilona menggeleng kecil. “Aku tidak selera makan Fel, kamu saja. aku akan kembali ke ruanganku.”   “Tapi Na ... .”   “I’m fine, really.”   Felix kemudian menarik sebuah kursi, lalu duduk di samping Ilona, membiarkan Ilona menyandarkan kepala tepat di bahunya.   “Kamu harus merasa beruntung, setidaknya pengendalian kamu hebat Na. kamu juga tidak mendapatkan cecaran tajam dari Mr. Dalbert. Kamu hebat Na ... kamu sudah melakukan yang terbaik.”   “Tapi Fel ... sakit. sangat sakit. Bagaimana bisa dia bertingkah begitu dingin padaku padahal belakangan ini dia begitu manis, begitu hangat dan ... begitu peduli?”   “Lalu bagaimana bisa kamu bertingkah seolah tidak pernah ada yang terjadi diantara kalian?” tanya balik Felix.   Ilona terdiam. “Profesional ... tentu saja. apa lagi?”   “Begitu juga Mr. Dalbert. Aku yakin dia bersikap seperti itu hanya ingin profesional saja. Jadi kamu tidak perlu berpikir yang aneh-aneh. Daripada begini, sebaiknya kamu memikirkan cara untuk menjelaskan semuanya pada Mr. Dalbert.”   “Tapi Fel bagaimana kalau ternyata Mr. Dalbert bersikap seperti itu karena membenciku? Bagaimana jika ... bukan karena profesional?”   “Sangat wajar bagi seseorang yang kecewa bersikap seperti itu Ilona. Tidak masalah ... kamu harus yakin ... ini hanya sementara Ilona. Sebentar lagi dia pasti akan kembali. Lebih tenang. Sampai saat itu tiba jelaskanlah semuanya, katakan bahwa semua tuduhannya salah. Dia pasti akan mendengarkanmu.”   Tepat setelah Felix menyelesaikan ucapannya ponsel Ilona bergetar kencang pertanda sebuah panggilan masuk. Dari Mia.   Ilona menghembuskan napas kemudian meletakkan ponselnya kembali ke atas meja. Membiarkan getaran itu berhenti, memunculkan puluhan pesan dan panggilan tak terjawab. Dari Max, Mia dan juga Nate.   “Tidak ingin berbicara dengan mereka?”   Ilona menggeleng kecil. “Edward melarangku. Aku juga harus membuktikan kalau aku tidak memanfaatkan mereka jadi aku ... akan menjaga jarak sementara waktu ini.”   Felix menghembuskan napas perlahan lalu mengelus kepala Ilona sesaat. “Berjuanglah kalau memang kamu masih ingin berjuang, dan menyerahlah jika memang kamu sudah tidak bisa berjuang lagi.” tangan Felix turun, beralih membelai lengan Ilona.   “Aku ... akan selalu ada di sini. Untukmu.”   ***   Edward menarik ujung bibirnya, terseyum masam seraya menyandarkan punggung ke sandaran kursi. Menertawakan dirinya sendiri yang semalaman merasa khawatir, dan menyayangkan tangis dan rasa khawatir putrinya. Ternyata ... yang mereka khawatirkan justru tampak baik-baik saja.   Bahkan masalah yang menimpa mereka seolah tidak berpengaruh sama sekali. Dia masih bisa bekerja dengan benar sementara ia terus menerus mencari kesalahan orang lain demi melampiaskan amarahnya.   Sebenarnya apa yang sudah perempuan itu lakukan? Apa yang sedang benar-benar dia rencanakan? Kenapa dia begitu berpengaruh, sampai mengacaukan kehidupannya. Tapi dia ... seolah tidak merasa terganggu sama sekali.   Dia! Perempuan itu! terlihat Baik-baik saja!   Ya ... ia akui. Semalam setelah Mia mengatakan Ilona belum pulang perasaannya sedikit terganggu. Rasa khawatir mulai menjalari dadanya, tapi rasa kecewa, rasa sakit yang ia rasakan lebih besar daripada rasa khawatir itu. Sampai ia memutuskan untuk menahan diri, tidak peduli pada perempuan itu.   Membiarkan perempuan itu melakukan apapun semaunya.   “Mr. Dalbert ... apakah anda berpikir untuk mempertimbangkan saran dari Miss Ilona? Saya rasa ini akan sangat efektif, kita juga harus mulai melakukan terobosan dengan menjadikan artis papan atas sebagai brand ambassador. Ide yang diberikan Miss Ilona juga terlihat realistis dan penuh pertimbangan. Bagaimana menurut anda?”   Edward menahan napasnya sesaat sebelum menatap Jack. “Bagus. Kau urus sendiri. Aku tidak mau berhadapan dengan perempuan itu.”     Jack mengangguk. “Baik Mr. Dalbert.”   Edward memejamkan mata dengan tangan kanan yang semakin terkepal keras. Menahan emosi yang masih bersarang dalam dadanya. Bertepatan dengan itu ponsel Edward berdering, pertanda sebuah pesan masuk.   Aku sudah sampai di rumah. Jangan pulang terlambat.   Edward menghembuskan napas perlahan sebelum menyimpan ponsel itu lagi. Sedikit lega ... setidaknya sekarang ia tidak akan merasa terpojok lagi jika ada perempuan itu di rumahnya.   ***   Sore hari saat jam kerja selesai Ilona sudah beranjak meninggalkan kantor. Awalnya ia pikir untuk lembur kembali demi menghindari anak-anak. Akan tetapi pilihan itu riskan, ia takut Mia semakin khawatir padanya,  sehingga ia berencana pulang cepat, sebelum anak-anak pulang.   Begitu sampai di rumah, ia berniat mengurung diri di kamar dan berpura-pura tidur sebagai langkah menghindari keluarga kecil itu dan ... ya ... setidaknya mungkin dengan kehadirannya di rumah tidak akan membuat anak-anak khawatir lagi.   “Kamu yakin kamu baik-baik saja Ilona? Aku temani di tempatmu ya ... .”   Ilona terkekeh kecil dengan ponsel ia tempelkan di telinga kanan. “Tidak perlu Felix, aku hanya patah hati. Bukan diujung maut. Lagipula aku tidak tinggal sendiri. Aku tinggal di rumah kenalan ayah, jadi tidak enak kalau aku membawamu. Lagipula besok kita bertemu lagi Fel. Tenang saja.”   “Kamu tahu Na ... aku cuma khawatir.”   “Aku tahu Fel. Terimakasih untuk itu. Tapi sungguh aku baik-baik saja ... aku akan berusaha untuk tetap baik-baik saja.”   “Baiklah. Aku percaya.”   “Kalau begitu sudah dulu ya Fel, aku sudah mau sampai.”   “Jangan lupa hubungi aku lagi nanti.”   Ilona bergumam kecil sebelum mengakhiri panggilan tersebut. Tidak lama kemudian kendaraan yang ia tumpangi sampai di halaman mansion mewah itu. Ilona menghembuskan napas lega saat tidak melihat kendaraan Edward ... itu berarti Edward masih di kantor.   Ilona melangkahkan kaki pelan, lemas tanpa semangat ketika memasuki tempat itu. Pikirannya masih berkecamuk, terasa berat, rasa ingin menghindar begitu tinggi tapi rasa ingin menyelesaikan masalah mereka pun tidak kalah tingginya.   Apa yang harus ia lakukan agar Edward mau mendengarkannya?   Ilona menghembuskan napas. Beberapa saat kemudian langkahnya terhenti, matanya mengerjap ketika melihat sosok tinggi semampai dengan celana jeans berwarna hitam, baju tanpa lengan berwarna senada dan juga rambut hitam legam yang diikat seperti ekor kuda, berdiri di dekat meja makan, terlihat sedang menyiapkan sesuatu.   Ilona menyeret kembali kakinya mendekat ke arah perempuan itu yang kemudian berbalik saat menyadari kehadirannya.   “Kamu ... siapa?”   Perempuan itu tersenyum tipis. “Aku Miranda.”   “Miranda?”   Perempuan itu mengangguk kecil.   “Ibu kandung Max dan Mia.”   Seketika waktu terasa berhenti ... telinganya mendadak berdenging setelah mendengar kalimat itu. Apa katanya? Apakah ia tidak salah dengar?   Ibu ... kandung?   Kalau begitu ... dia.   “Mira.”   Perempuan itu memalingkan wajah kemudian tersenyum lebar setelah bertatapan dengan Edward yang baru saja datang. Perempuan itu menyambut Edward, meraih jas di lengan kanan Edward dan juga tasnya. Tidak sampai di sana, Edward pun menyambut perempuan itu, memeluk pinggang ramping perempuan itu lalu memeluknya dengan erat.   Pemandangan itu membuat kedua mata ilona iritasi, perih, memanas hingga memburam sebelum akhirnya cairan panas turun membasahi kedua belah pipinya tepat saat melihat kedua orang itu berciuman tepat di depan matanya.   Apa yang sebenarnya sedang Edward rencanakan? Kenapa Edward melakukan ini semua padanya?   ***   Bersambung ...  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD