Part 19 : Tuduhan

1997 Words
  “Itu dia ... dia yang sedang mendekati Mr. Dalbert.”   “Tidak tahu malu, sampai-sampai mendekati Mr. Max dan Miss Mia untuk dijadikan alat. Kalian tahu ... ada yang pernah lihat dia bersama Mr. Max jalan-jalan. Cih ... manipulatif ternyata.”   “Kalian tahu ... aku juga pernah melihat mereka makan bersama. Bukan pernah lagi tapi sering!”   “Aku juga sering lihat dia pakai lift Mr. Dalbert.”   “Aku penasaran si kembar diberi apa sampai mau mendekatkan perempuan itu dengan Mr. Dalbert. Dia hebat sekali bisa sampai menggunakan si kembar.”   “Aku pikir Mr. Dalbert akhirnya akan dengan Miss Eva. Eh ternyata ... levelnya jauh sekali ya dengan Miss Eva. Miss Eva sudah berkontribusi banyak buat perusahaan, dia cantik dan juga sangat cerdas. Cocok dengan Mr. Dalbert.”   “Ck! Kalian tidak tahu saja! Dia anak Mr. Hazard ... pemilik peternakan penyuplai s**u ke perusahaan kita. Pastilah gampang bagi perempuan itu untuk mendekati Mr. Dalbert.”   “Pantas saja dia begitu berani mendekati Mr. Dalbert. Benar-benar tidak tahu malu.”   ...   Ilona mengeratkan pegangannya pada sendok. Sejak pagi satu persatu gosip terus sama memasuki telinganya. Gunjingan, hujatan tidak berhenti ia dengar sama sekali bahkan setiap kali ia dengar gunjingan itu semakin besar. Setiap ia berjalan, setiap ia pergi ke suatu tempat pandangan orang-orang terus mengiringinya, menatapnya tajam penuh cemooh, seolah ia adalah buronan yang baru saja keluar dari sel.   “Aku selesai.”   “Ilona ... .” Emma meraih lengannya. “Makananmu masih utuh.”   “Aku ... .”   ...   “Memangnya kenapa kalau Ilona mendekati Daddy? Apa masalah untukmu?! Menghina orang lain tapi dirinya sendiri selalu cari perhatian pada Daddy! Dengar! Sekalipun Ilona tidak ada aku pun tidak sudi menjadikanmu ibuku! Jangan terlalu banyak bermimpi!”   ...   Ilona terkesiap saat mendengar seruan nyaring Mia. Begitu berbalik ia bisa melihat Mia berdiri di depan karyawan-karyawan perempuan itu.   Ilona segera berdiri, berjalan cepat ke arah Mia lalu merangkul gadis itu.   “Mia ... sudah ... ayo.”   “Awas saja ... aku laporkan kalian pada Daddy!” Seru Mia sebelum di tarik paksa Ilona keluar dari area kantin perusahaan.   “Lepas! Ilona! Lepaskan aku.”   “Mia... hei calm down.” Ilona menghentakkan tangan Mia, mengeratkan cengkramannya.   “Ilona.”   “Mia.” Tegas Ilona, membuat Mia mengulum bibir lalu menundukkan kepala. “Listen. I’m fine. Kamu tidak perlu seperti itu. Orang-orang tidak akan mengubah pandangan mereka hanya dengan sebuah bentakkan.”   “A—ku aku ... cuma. Aku tidak terima ... Seharusnya kamu melawan! Seharusnya kamu laporkan mereka pada Daddy!”   Ilona menarik napas panjang lalu memeluk Mia, mengelus punggung gadis itu dengan lembut. “Terimakasih kamu sudah mau membelaku di depan mereka Mia ... tapi ... kamu harus mengerti bahwa ... beberapa masalah harus dihadapi dengan tenang. Contohnya masalah seperti sekarang. Mereka tidak akan berhenti menggunjingku sekalipun aku melawan mereka, yang ada tindakan seperti itu bisa saja jadi seperti api disiram bensin. Masalah bisa lebih melebar Mia ... .”   “Kalau begitu ... tadi.”   “It’s okey, tidak akan terjadi apapun.”   ***   “Mia marah-marah di kantin.”   Sebuah kabar buruk Edward terima begitu ia keluar dari ruangan meeting. Rahangnya mengatup, kedua tangannya terkepal hebat dengan telinga berfokus mendengarkan penjelasan Jack.   “Miss Mia datang lalu melawan orang-orang yang sedang menggunjing Miss Ilona, sampai melontarkan ancaman pada karyawan-karyawan anda.”   Tidak! Tidak mungkin. “Mia bukan gadis seperti itu. Mia tidak pernah melakukan tindakan buruk seperti itu.”   “Ini.” Jack memberikan sebuah ponsel ketika mereka berada di dalam lift. “Seseorang mengirimkan ini di website perusahaan.”   Edward mengepalkan tangan ketika melihat dengan jelas Mia yang membentak karyawan-karyawannya. Tidak berselang lama Ilona datang lalu membawa Mia pergi.   “Sebenarnya apa yang terjadi?”   “Gosip yang saya katakan kemarin menyebar dengan cepat Mr. Dalbert. Dari mulut ke mulut. Gosip nya pun semakin melebar, bahkan ada orang-orang yang menyelidiki latar belakang kehidupan Miss Ilona. Ada yang mengatakan dia menggoda anda, menjadi teman tidur dan semacamnya, di samping gosip yang saya katakan kemarin. Saya rasa ... mungkin Miss Mia mendengar gunjingan tersebut sehingga membuat Miss Mia marah seperti itu.”   Tapi Mia tidak pernah seemosi ini saat menghadapi orang-orang. Mia tidak pernah semarah itu. Mia cenderung berhati-hati dan sangat memikirkan setiap langkahnya. Mia bahkan pernah mengatakan dia tidak akan ceroboh demi menjaga nama baiknya dan keluarganya. Tapi mengapa prinsip itu sekarang runtuh begitu saja?   Kenapa Mia sekarang banyak berubah?   Apa yang salah?   Apa ... karena Ilona?   “Mr. Dalbert. Miss Mia ada di ruang tunggu.”   ...   Edward berjalan dengan langkah cepat, menuju ruang tunggu tempat keberadaan Mia. Rahangnya mengatup tajam, kedua tangannya terkepal dengan erat. Bahkan kedua matanya begitu tajam, layaknya elang mencari mangsa. Begitu sampai ia melihat Mia bersama Ilona, sedang berbicara dengan saling berhadapan.   “Mia.”   Anak perempuannya itu terjengit, mendongak sesaat sebelum menundukkan kepala lagi.   “Apa yang kamu lakukan di sini?”   “Daddy ... sorry. I’m—.”   “Jack antarkan Mia pulang.”   “Daddy please listen. Aku—.”   “Jack!”   “Baik Mr. Dalbert. Miss Mia mari.” Jack kemudian meraih lengan Mia, membawa anak perempuan itu pergi meskipun sesekali memberontak dan terus memanggil-manggil namanya.   “Jack aku mau Daddy. Aku mau bicara sebentar.”   Edward mengabaikan panggilan itu. Ia hanya menatap tajam ke arah Ilona yang masih menatap Mia dengan tatapan sendu.   ...   Ilona menarik napas panjang kemudian mendongak menatap Edward, mengabaikan tatapan tajam yang siap menghunusnya itu.   “Ed ... Mia tidak salah. Kenapa kamu memperlakukannya seperti itu? Biarkan Mia menjelaskannya.”   “Kau benar-benar membawa pengaruh buruk pada anak-anakku!”   Deg!   “A—apa maksudmu Ed? Pengaruh buruk apa?”   Rahang Edward mengatup lebih keras, kedua tangannya pun terkepal dengan begitu eratnya. Menahan luapan emosi yang sudah menumpuk, tidak tertahankan.   “Jangan bertingkah sok polos Ilona. Aku tahu ... kau pasti yang membuat Mia jadi begini. Asal kau tahu ... Mia tidak pernah bertingkah bodoh dan ceroboh seperti ini. Tapi hanya karena kau dia berubah! Kau mengatakan apa padanya sampai dia mau membelamu? Kau memanfaatkan kepolosannya? Begitu?! Kalau bukan karena kau ... kenapa Mia bisa seperti ini? Kau pasti yang memintanya datang kan?!”   Ilona tidak bisa mengatakan apapun, mulutnya seolah terkunci saat mendengar rentetan tuduhan itu. kepalanya hanya bisa menggeleng, air matanya hanya bisa mengalir sebagai sangkalan, akan tetapi sayang ... yang di tatap hanya menatap tajam. Tidak terlihat iba ... tidak terlihat ingin mendengarkannya.   Edward hanya terus menatapnya dengan tajam dan napas yang memburu. Sebelum kemudian mendekat ke arahnya lalu mendesis tajam.   “Aku tidak peduli dengan semua yang kau rencanakan sampai memanfaatkan dan mempengaruhi anak-anakku. Tapi ... apapun itu ... berhenti secepatnya! Sebelum aku mengusir dan memecatmu!”   “Asal kau tahu ... aku tidak pernah benar-benar tertarik padamu jika bukan Max dan Mia yang memaksa. Jadi mulai sekarang ... dengar! Jangan melewati batasmu!”   “Ed ... .”   Bruk!   Ilona jatuh terduduk diiringi dengan lelehan air mata yang mulai tumpah, terjatuh dari pelupuk matanya. Matanya yang buram mengerjap, menatap punggung lebar itu berjalan pergi meninggalkannya tanpa berbalik, tanpa mau mendengarkan penjelasannya.   Tubuhnya mulai bergetar, isak tangis pun mulai mengudara, tertahan juga tersengal.   Hatinya tercabik, terkoyak menyisakan luka menganga, mencelos kosong namun menyakitkan. Rasanya begitu sesak ... bahkan sampai untuk membuka mulutpun tidak bisa. Untuk mengucapkan sesuatu untuk menahan Edward pun tidak bisa.   Hanya menangis, tersedu. Meratapi cintanya yang ternyata ... tidak pernah benar-benar bersambut.   Beberapa saat kemudian sebuah rangkulan di bahu ia dapatkan. Ia mengenal aroma ini ... saat ia mendongak pun ternyata benar. Lelaki itu ...   Felix.   Hiks!   Tepat saat isak tangis itu tumpah sebuah pelukan ia dapatkan, usakan lembut di kepala, elusan ringan di punggung, lalu kemudian pelukan erat yang kuat.   Hiks!   “Fel ... .”   “Menangislah, tumpakan semua kesedihanmu sampai puas, sampai semuanya tidak tersisa lagi.”   ***   Felix menatap Ilona yang kini tampak sudah lebih tenang daripada sebelumnya. Setelah menangis hebat diiringi dengan rancauan-rancauan tak jelas, Ilona tertidur dalam pelukannya. Begitu tenang sampai Felix tidak tega melepaskan pelukan itu barang sedikitpun.   Bahkan saat Felix pindahkan Ilona ke sofa perpustakaan perempuan itu masih tidur dengan tenang. Hanya saja Ilona tidak melepaskan tenggaman tangannya sama sekali.   Untuk pertama kalinya ... Ilona tertidur dengan menggenggam tangannya.   Felix menghembuskan napas perlahan lalu tersenyum kemudian mengusak kepala Ilona. Seharusnya aku tidak berpikir untuk menyerah dalam menjagamu Ilona ... kalau dengan satu kali aku lengah, aku harus melihat tangisanmu. Maafkan aku ...   Felix memang berpikir untuk menyerah saat dengan sadar beberapa minggu belakangan ini Ilona sangat dekat dengan Edward, buruknya ia sangat merasakan bahwa Ilona menjaga jarak dengannya. Ia pikir saat itu mungkin karena Ilona sudah bersama Edward jadi ia merasa lebih baik memakluminya lalu ... menyerah.   Untuk apa ia merebut kebahagiaan Ilona jika Ilona bahagia dengan pria itu bukan?   Tapi ternyata ... Ilona-nya tidak bahagia. hatinya bahkan ikut tercabik ketika tanpa sengaja mendengar desisan tajam penuh kebencian keluar dari mulut Edward.   “Thank you Felix.”   “Tidak masalah. Aku ... sahabatmu kan?”   Ilona tersenyum simpul dan mengangguk kecil. “Kalau begitu aku herus kembali bekerja. Terimakasih sudah menemaniku.”   “Besok saja. hari ini lebih baik pulang. keadaanmu sangat kacau Na.”   “Tidak. lebih baik aku menyelesaikan pekerjaanku daripada harus pulang.”   “Aku temani.”   “Tidak perlu Felix. Aku bisa sendiri.”   “Tidak. aku tetap akan menemanimu.”   Aku ... tidak mungkin membiarkanmu sendiri di saat seperti ini Ilona.   Ilona menghembuskan napas. “Baiklah. Terserahmu Fel.”   ***   Edward bekerja seperti orang kesetanan. Setelah menghabiskan waktu bekerja seharian di kantor, malamnya pun ketika sampai di rumah ia memutuskan untuk kembali ke ruang kerja. Mengerjakan apapun, untuk menghilangkan penat yang bersarang dalam benaknya.   Pikirannya berkecamuk, kusut. Ia sedang tidak bisa berpikir jernih untuk menghadapi siapapun. Bahkan ia belum menemui anak-anaknya. Ia tidak mau mulutnya mengeluarkan kalimat tajam yang akan melukai mereka.   Tok tok tok   Edward menoleh ke arah pintu masuk. Tanpa di duga ternyata Mia yang datang menemuinya. Ia pikir Mia akan marah padanya atau apapun. Tapi ternyata tidak ... anak perempuanya datang dengan wajah di tekuk dan kepala menunduk dalam.   “Dad ini sudah jam 11 malam.”   Edward yang sedang sibuk dengan beberapa berkas di depannya mengangguk kecil. “Tidurlah, jangan sampai besok terlambat bangun.”   “Bukan itu maksudku Dad! Tapi Ilona ... dia belum pulang.”   Gerakan jemari Edward terhenti, setelah itu ia menatap ke arah Mia lagi.   “Lalu?”   “Tidakkah Daddy khawatir? Ilona belum pulang Dad. Biasanya Ilona akan pulang sebelum jam 8 paling terlambat jam 9, tapi ini?”   Edward menghembuskan napas, kembali menyibukkan diri dengan pekerjaannya.   “Ilona sudah dewasa, lagipula kantor aman sekalipun tengah malam.”   “Dad. Bukan itu ... tapi ... Bukankah kalian sudah mulai dekat? Bagaimana mungkin Daddy masih bersikap seperti ini pada Ilona? Padahal Ilona sudah sangat memperhatikan Daddy.”   “Daddy tidak meminta dan Daddy hanya mengikuti keinginan kalian. Bukankah Daddy sudah mengatakan bahwa Daddy hanya tidak akan menolak kehadirannya. Lalu apa? Daddy tidak menjanjikan bisa menjadikan Ilona ibumu Mia.”   “Daddy jahat! Kenapa orang-orang jahat pada Ilona?!”   Edward tertegun, ia kemudian mendongak menatap Mia.   “Jahat? Daddy cuma berusaha untuk berkata jujur.”   “Daddy jahat!” seru Mia. “Hiks! Jahat.” Lanjut Mia lagi sebelum akhirnya beranjak pergi meninggalkan Edward yang mematung ditempatnya dengan d**a bergetar, ketakutan.   Beberapa saat waktu terasa berhenti, jantung Edward serasa jatuh ke dasar perut. Masih terkejut, tidak menduga bahwa putrinya akan menangis seperti itu hanya perempuan asing yang baru tinggal bersama mereka.   “ARGH! Sial!”   Edward kemudian membantingkan punggungnya pada sandaran kursi, memejamkan mata sesaat sebelum meraih ponsel, lalu menekan tombol tiga, sebuah tombol panggilan cepat.   “Hallo Ed ... .”   “Sibuk?”   “Tidak juga. Ada apa? Suaramu terdengar aneh.”   “Mia menangis.”   “APA?! Kenapa Mia bisa menangis?”   “Ceritanya panjang. Sekarang kamu dimana? Inggris atau Paris?”   “Paris.”   “Pulanglah ... .”   “Aku lelah menghadapi anak-anak.”     ***   Bersambung ...        
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD