Ilona tersenyum dengan hati berbunga saat membantu Edward menyimpulkan dasinya.
Setelah hari itu hari-hari Ilona terasa begitu indah. Edward tidak lagi menolaknya dengan keras, Edward justru mulai memberinya afeksi, sentuhan-sentuhan kecil, Edward juga sekarang lebih sering berbicara dengannya saat mereka menghabiskan waktu malam hari.
Kemajuan? Tentu saja.
Walaupun belum ada kata cinta yang keluar dari mulut Edward ... atau kata suka? Tapi setidaknya dengan begini ia tahu bahwa Edward benar-benar memegang ucapannya untuk memberinya kesempatan.
“Bibirmu akan robek kalau terus tersenyum.”
Ilona terkekeh kecil lalu menepuk d**a Edward sesaat. “Tidak masalah jika bibirku robek karena terlalu bahagia.”
“Aneh.”
Ilona terkekeh lagi kemudian turun dari bangku yang ia pijak dengan dituntun Edward, —maklum tubuhnya memang terlalu mungil jadi ia harus memasangkan Edward dasi dengan bantuan pijakan itu.
“Aku berangkat sekarang, sampai bertemu di kantor.”
Ilona mengangguk kecil. “Hati-hati.”
Ilona menarik napas panjang kemudian menghembuskannya secara perlahan seraya melambaikan tangan pada Edward. Hari-hari ini ... terasa tidak nyata bagi Ilona. Edward ... benar-benar baik padanya. Edward benar-benar memperlakukannya seperti ratu.
“Ilona ... kita berangkat sekarang?”
“Oh ... Nate. Sudah siap?”
Pemuda itu mengangguk kecil. “Sudah.”
“Ayo.” Ilona melangkah lebih dulu menuju mobil berwarna merah. Lalu sama-sama masuk di kursi penumpang.
...
Nate melirik Ilona yang sedang membaca berita online. Ia menghembuskan napas lalu membasahi bibirnya perlahan.
“Ilona ... ini kita hanya berangkat berdua? Tidak bersama Mr. Dalbert?”
Ilona tersenyum. “Edward sudah berangkat lebih dulu.”
Nate menghembuskan napas, kecewa.
“Kenapa?”
“Kami memang selalu berangkat terpisah Nate.”
“Tapi bukankah kalian sepasang kekasih?”
Ilona terkekeh kecil. “Soon to be. Tapi pekerjaan tetap pekerjaan, kami sudah berkomitmen tidak mencampuradukan masalah perasaan dan pekerjaan. Ketika di rumah boleh saja kita dekat seperti yang selalu kamu lihat Nate. Tapi di kantor, aku tetap bawahan Edward. Aku tetap harus menjaga sikap.”
“Oh ... begitu ya ... Mm ... Ilona ... Apa Mr. Dalbert selalu sesibuk itu?”
Ilona mengangguk kecil. “Kenapa?”
“Tidak ada apa-apa, hanya ingin bertanya.”
Nate tersenyum tipis.
“Tapi Ilona ... kamu benar-benar calon istri Edward?”
Kening Ilona mengerut. “Kenapa kamu bertanya begitu?”
“Hah? Tidak tidak ... tidak ada maksud apapun Ilona. Aku hanya ingin tahu saja, Max dan Mia sangat antusias dengan hubungan kalian. Aku juga merasa ... aku ya ... kamu tahu. Aku bahagia sebagai sahabat mereka.” Nate menahan napas sesaat, gugup setelah menjelaskan hal itu.
Ilona terkekeh kecil. “Tidak perlu panik begitu. Tidak masalah kalau kamu ingin bertanya. Kamu sendiri bagaimana? Max atau Mia?”
“Hah?” Nate mengerjapkan mata lalu menatap Ilona dengan mata membulat. “A—apa maksudnya? Aku tidak—kami hanya sahabat.”
“Awalnya aku pikir kamu tertarik pada Max, tapi terakhir kali aku melihat kamu berpelukan dengan Mia. Dengan siapapun kamu terlihat sangat cocok.”
“Kami hanya sahabat Ilona.”
“Aku sering kali melihat Max manja padamu, kamu juga terlihat tidak keberatan.”
Nate mengulum bibirnya, lalu menarik napas panjang kemudian menghembuskannya kembali dengan kepala menunduk. “Kami ... benar-benar hanya sahabat.”
Ilona terkekeh kecil lalu mengusak kepala Nate sesaat. “Tidak perlu panik begitu. Santai saja.”
Tangan Ilona terulur menepuk-nepuk pundak Nate. “Aku sebenarnya tidak membenarkan hubungan seperti itu, bagaimanapun kalian sama-sama laki-laki.”
“—tapi aku tidak akan menentang jika memang kalian sama-sama bahagia. Kamu dan Max maksudku.”
“Tidak Ilona. Aku tidak akan bersama Max. Aku tidak ingin semakin memperumit kehidupanku yang ... sudah sangat rumit ini. Jika pun aku harus memilih, aku lebih baik pergi kalau memang Max merasakan hal seperti itu untukku.” Tegas Nate.
Hening. Tidak ada percakapan lagi selama beberapa saat sampai kemudian Ilona menggenggam tangan Nate.
“Hidupmu pasti sangat sulit Nate. Sampai harus bekerja di usia semuda ini. Tapi aku percaya kamu kuat. Katakan apapun padaku jika kamu membutuhkan bantuan Nate. Aku dengan sukarela akan membantumu ... semampu yang aku bisa.” Ilona tersenyum kecil saat iris mata mereka saling bertemu. Setelah itu Ilona menarik Nate masuk ke dalam pelukannya.
“Everything is gona be fine.”
***
“Pagi semuanya ... .” Sapa Ilona begitu memasuki ruang kerjanya.
“Wah! Ilona siapa ini?”
“Model yang kuceritakan.”
“Kau menemukan model setampan ini dari mana Ilona?” Seru Emma.
Ilona terkekeh kecil. “Dan yang terpenting Nate tidak neko-neko, tidak akan menyusahkan kita juga seperti model yang dulu itu.” Ilona menoleh menatap Nate. “Perkenalkan dirimu Nate.”
“Perkenalkan saya Nate, model pengganti model utama.”
“No no no ... jangan berkata model pengganti baby. Kamu model utamanya sayang ... .” potong Emma. “Kamu bahkan lebih tampan, kamu harus percaya diri bahwa kamu mampu menjadi model utama. Aku percaya kamu hebat.”
Ilona tersenyum pada Nate. “Dengar Nate, orang yang baru menemuimu saja percaya padamu. Jadi jangan berpikir kamu tidak bisa apapun lagi.”
Nate tersenyum lalu mengangguk kecil. “Terimakasih Miss ... .”
Hari ini memang jadwal final meeting sebelum event musim gugur di gelar. Semua orang yang berkepentingan atas event itu akan datang, dari mulai model-model sampai pemilik perusahaan. Sehingga Nate sebagai model utama tentu harus ikut andil dalam rapat tersebut.
“Nate maafkan aku kamu mungkin harus menunggu di ruang tunggu sampai meeting dengan model lain dan designer dilaksanakan. Karena aku harus meeting dengan teamku terlebih dulu. Tidak masalahkan?”
Nate mengangguk kecil. “Tidak masalah Miss Ilona.”
“Baik, ayo aku antarkan. Emma aku pamit ya ... sampai bertemu di ruang meeting.”
Ilona berjalan beriringan dengan Nate menuju ruang tunggu yang berada di lantai lima belas, berdekatan dengan kantin, perpustakaan kecil dan cafetaria.
“Di sini dulu ya ... kalau kamu membutuhkan sesuatu segera kabari aku.”
Nate mengangguk kecil.
“Ilona.”
“Edward—eh Mr. Dalbert.” Ilona tersenyum lalu membungkuk kecil. “Selamat pagi Mr. Dalbert.” Sapa Ilona yang diikuti oleh Nate.
“Sedang apa? Bukankah sekarang kita ada rapat?”
Ilona mengangguk kecil. “Rapat akan dimulai lima belas menit lagi Mr. Dalbert jadi saya pikir untuk mengantarkan Nate dulu ke sini agar tidak terlalu bosan menunggu.”
“Kalau begitu ayo kita keruang rapat bersama. Nate tidak apa-apakan di tinggal sendiri? Max dan Mia akan segera menyusul setelah kelas selesai.”
Nate mengangguk. “Tidak Mr. Dalbert. Terimakasih banyak.”
“Nate aku rapat ya bye.” Pamit Ilona sebelum berjalan mengikuti Edward bersama dengan Jack.
Saat memasuki lift, Ilona terjengit ketika tanpa di duga Edward menarik pinggangnya untuk berdiri lebih dekat.
“Ed ... ini kantor.”
“Ini dalam lift.” Jawab Edward yang tidak bisa Ilona balas lagi.
“Max dan Mia akan datang ke kantor lagi, Max mengatakan ingin makan siang bersama.”
“Lagi?” tanya Ilona.
“Aku juga tidak tahu kenapa akhir-akhir ini Max dan Mia sering sekali meminta makan siang bersama. Padahal biasanya jika aku tidak meminta mereka tidak akan meminta.”
“Kamu juga tidak tahu mereka akan datang?” Tanya Edward.
Ilona menggeleng kecil. “Max hanya mengatakan ingin menghabiskan waktu lebih banyak bersama kita. Itu saja.”
Edward mengangguk kecil. “Saat makan siang langsung saja ke ruanganku.” Ujar Edward sebelum melepaskan rangkulan.
Beberapa detik kemudian pintu lift terbuka, setelah itu mereka kembali berjalan dengan Ilona dan Jack mengekori Edward.
...
Sepeninggal Edward, Ilona dan Jack, Nate kemudian mengambil tempat duduk di daerah perpustakaan. Lalu mendial sebuah nomor yang beberapa hari ini terus menghubunginya.
“Hallo Nate ... bagaimana?”
“Maaf Ma aku belum bisa melakukan apapun, aku belum sempat berbicara dengan Mr. Dalbert.”
***
Rapat selesai, Edward kembali ke ruangannya untuk melanjutkan pekerjaan lain, sementara rapat dengan model dan lainnya di pegang oleh Eva sebagai penanggung jawab.
“Mr. Dalbert ... ada yang ingin saya bicarakan. Sangat penting.”
Edward duduk di balik meja kerjanya. “Katakan.”
“Anda terlihat lebih akrab dengan Miss Ilona akhir-akhir ini.”
Edward mendongak, menatap Jack. “Demi anak-anak. Aku merasa mereka sangat menginginkan sosok Ibu dan Ilona adalah perempuan yang mereka inginkan. Jadi aku pikir tidak masalah untuk mencoba. Kamu mungkin heran, tapi ini sudah keputusanku. Meskipun akan sulit tapi aku akan mencoba demi anak-anak.” Edward menjeda kalimatnya, menghela napas sesaat.
“—Kamu tahu sendiri Jack ... di dunia ini hanya mereka yang ingin aku bahagiakan dan prioritaskan. Tentu saja aku harus selalu memberikan apapun yang terbaik untuk mereka?”
Jack mengangguk kecil. “Saya mengerti Mr. Dalbert ... hanya saja ... apakah anda tidak merasa heran? Ini sangat aneh. Untuk pertama kalinya setelah belasan tahun Mr. Max dan Miss Mia mendadak membahas tentang pasangan anda. Tentang Ibu. Ibu mereka bahkan masih ada dan secara logika alih-alih membantu orang asing, kenapa mereka tidak meyakinkan Ibu kandung mereka saja untuk kembali?”
“Maafkan saya Mr. Dalbert saya melewati batas saya lagi. Saya hanya merasa tidak tahan dengan isi kepala saya sendiri. Saya khawatir Mr. Max dan Miss Mia sebenarnya di manfaatkan.”
Kening Edward mengerut. “Dimanfaatkan?”
Jack mengangguk kecil. “Saya sebenarnya setuju saja anda menikah dengan siapapun Mr. Dalbert. Hanya saja jika Miss Ilona benar sampai memanfaatkan anak-anak demi mendapatkan anda saya tidak setuju. Terlebih setelah saya mengingat-ingat cerita anda dimana anak-anak yang terlalu ikut campur dalam urusan anda, terdengar sangat mendesak anda bahkan pada akhirnya ada menyerah pada keinginan mereka.”
“Maafkan saya sekali lagi Mr. Dalbert. Tapi saya kembali pada pikiran saya tentang ... jika memang anak-anak sekeras itu ingin anda memiliki pendamping, seharusnya daripada mencoba dengan perempuan lain, anak-anak seharusnya meminta anda membawa kembali ibu kandung mereka untuk pulang, lalu mendesakmu menjadikan keluarga kalian keluarga utuh.”
“Aku rasa ... kalau anda berjuang sedikit lagi dan anak-anak yang meminta, ibu kandung mereka pasti dengan senang hati akan kembali. Sebab ... sekeras apapun batu jika sedikit demi sedikit terkena tetesan air, pada akhirnya akan berbekas juga.
“Aku cukup tahu—Ibu mereka bukan orang yang buruk, anda juga lebih mengenalnya daripada siapapun. Saya rasa jika pada akhirnya anda akan memilih pendamping akan lebih pantas bersama Ibu kandung Mr. Max dan Miss Mia. Jika memang harapan mereka benar-benar keluarga utuh.”
“Dan lagi ... .”
“Mungkin anda tidak atau belum menyadarinya, tapi beberapa hal belakangan ini sangat mengganggu. Gosip-gosip di sekitar perusahaan juga membuatku risih.”
Edward kembali menatap Jack. “Apa?”
“Mereka juga berpikir bahwa Miss Ilona memanfaatkan anak-anak anda. Terlebih ada karyawan yang pernah melihat Miss Ilona jalan-jalan bersama Mr. Max.”
“Pikirkan sekali lagi Mr. Dalbert ... apapun keputusan anda saya tetap akan menjadi pendukung setia anda. Hanya saja ... sampai di sini ... ini cara pandangku.”
“Kalau begitu mohon ijin saya akan kembali ke meja kerja saya.” Pamit Jack sebelum beranjak pergi meninggalkannya.
Edward termenung, kepalanya terasa penuh dengan semua kalimat yang Jack utarakan padanya. Terasa semakin penuh lagi dengan semua hal yang berusaha ia ingat. Semakin rumit dan rumit lagi hingga ... ingatannya kembali pada hari dimana Edward berbicara banyak dengan Ilona.
...
“Lalu bagaimana perasaanmu saat tahu aku tidak punya istri?”
Ilona tersenyum lebar. “Apa lagi? Tentu saja aku berpikir untuk mendapatkanmu. Apapun caranya.”
...
Apapun caranya.
Tapi ...
Apakah benar Ilona sampai memanfaatkan anak-anaknya?
***
Bersambung ...