Part 2 : Perjanjian

1705 Words
Ilora termenung di atas tempat tidur kamar barunya. Kedua kakinya bersila di atas kasur, kedua tangannya terlipat di d**a. Masih berpikir banyak hal tentang Edward. Hot Daddy yang membuatnya tak bisa jatuh cinta pada pria manapun setelah pertemuan tak sengaja mereka sembilan tahun lalu. Ya, bagaimana bisa ia jatuh cinta pada sosok lain jika sosok cinta pertamanya bahkan sudah sesempurna itu? Tubuh tinggi tegap, bahu begitu kokoh, d**a bidang, kaki yang jenjang. Lalu parasnya, bak Dewa Yunani. Rahang tegas, bibir berbentuk sempurna, hidung lancip, mata tajam dengan bulu mata lentik dan alis yang tebal. Jangan lupakan rambutnya yang hitam legam juga kulitnya yang tidak tan, tapi tidak bisa di katakan seputih salju. Pria itu benar-benar sempurna, sangat sempurna. Sungguh ia tak menduga akan bertemu dengan pria itu dengan cara seperti ini. Padahal sebelumnya ia sudah bertekad akan melupakan pria itu kemudian mencari cinta baru, nanti setelah ia berusia dua puluh lima tahun, tapi ternyata takdir membuatnya bertemu dengan pria itu lagi. Apakah tandanya mereka berjodoh? “Miss, pakaiannya sudah rapih. Ada lagi yang bisa saya bantu?” Ilona mengalihkan pandangan pada perempuan awal tiga puluhan yang merupakan salah satu pelayan di rumah ini. “Dimana Edward?” “Mr. Dalbert sedang berada di ruang kerjanya, dilantai tiga.” “Oke. Thanks.” Ujar Ilona kemudian segera beranjak dari atas tempat tidurnya itu. Menuju lantai tiga mansion itu menggunakan lift tanpa menghiraukan pelayan itu yang terus memanggilnya. Ting! Pintu lift terbuka, memperlihatkan ruangan penuh dengan buku, layaknya sebuah perpustakaan. Di tengah ruangan ada sofa berwarna coklat, di sudut lain tepat di dekat jendela ada sepasang kursi yang saling berhadapan, sudut lain ada sebuah pintu yang tampak sedikit terbuka. Ilona segera berjalan ke arah pintu, mengintipnya sesaat, sebelum membuka pintu tersebut. “Siapa yang mengijinkanmu masuk?” “Pintunya terbuka, jadi aku masuk.” ujar Ilona tak acuh. “Keluar.” Ilona membuka mulut, lalu mendengus kecil. “Wah! Daddy, kamu benar-benar melupakanku? Serius?” Edward tak membalas ucapannya, pria itu justru menyibukan diri dengan sebuah dokumen di depannya. Ilona mendengus kecil kemudian berjalan mendekat, ke arah pria itu. Lalu berdiri tepat di depan pria itu, menghadap ke arah Edward, menghalangi pria itu dari dokumen yang sedang pria itu baca. “Minggir.” “Look at me Daddy!” “Berhenti memanggilku Daddy, kau bukan anakku!” tegas Edward seraya menatapnya dengan tatapan dingin lagi. Tapi kali ini di tambah dengan secercah amarah di sana. “Aku memang bukan anakmu. Tapi aku memanggilmu Daddy untuk urusan lain.” Ilona mendekatkan wajahnya ke arah Edward. “Kamu mengerti maksudku, Daddy?” lanjutnya dengan setengah berbisik diiringi dengan sebuah seringaian. “Aku bilang menyingkir!” Ilona tak mendengarkan itu, ia justru semakin menggila dengan mengalungkan kedua tangannya di leher Edward. “Aku penasaran. Bagaimana bisa kamu melupakanku sementara aku saja tak bisa melupakanmu? Apa karena faktor umur?” “Jangan kurang ajar.” “Aku tidak sedang kurang ajar, aku sedang menggodamu.” “Menyingkir sekarang juga, atau—.” “Atau?” Ilona menaikan satu alisnya lalu menyeringai, menantang Edward yang menatapnya dengan tajam. “AAAAAAA.” Ilona memekik ketika tubuhnya di angkat di atas bahu layaknya karung beras. “Daddy lepaskan! Daddy!!!” “AW!” ringis Ilona ketika Edward dengan tidak manusiawi menurunkannya secara kasar hingga jatuh terjerembab di atas lantai dingin. “Daddy!” “Sudah kukatakan berhenti memanggilku Daddy! Dan jangan menggangguku!” Seru Edward dengan keras sebelum pria itu masuk ke dalam ruangan itu, lalu menguncinya. Ilona mendesis seraya terkekeh masam. “Kenapa dia bertingkah seolah aku akan memperkosanya? Ah! Sial. Lihat saja nanti Edward, akan kupastikan kau bertekuk lutut dihadapanku.” *** Semakin sulit dihadapi, semakin menarik untuk ditaklukan. Begitulah sifat dasar Ilona yang ia miliki sejak lama. Apapun yang ia anggap susah, selalu berhasil menarik perhatiannya. Bahkan Kalkulus yang tidak orang lain senangi pun berhasil ia taklukan. Kuliah jurusan teknik yang menurut orang lain mustahil untuk mendapatkan nilai sempurna pun, ia dapat menaklukannya, ia dapat lulus dengan nilai sempurna. Semua karena apa? Karena sulit dan begitu menarik untuk ia taklukan. Maka jangan heran, ketika Edward semakin menguji kesabarannya. Ia akan semakin gencar mendekati pria itu. Ia bertekad akan menaklukan pria itu dan menjadikan miliknya, hingga Edward tanpa sadar mencintainya lebih dari cinta yang ia miliki untuk pria itu. “Selamat pagi Mr. Dalbert, silahkan nikmati sarapan anda.” Edward mengangguk kecil, tanpa banyak bicara pria itu duduk di ujung meja makan, tepat di samping kanannya. “Selamat pagi Edward.” “Perhatikan sopan santunmu.” “Ok. Selamat pagi Daddy!” “Aku bilang jangan—.” “Memanggilmu Daddy. Aku sudah mendengarnya.” Ilona mendesis. “Memanggil namamu salah, memanggil Daddy juga salah. Ingin kupanggil sayang?” “Ilona!” “Wow ... ternyata kamu tahu namaku?” “Perhatikan tingkahmu, jangan sampai kau terus seperti ini.” Tak lama setelah itu Edward memberinya sebuah map. “Baca.” “Apa ini?” “Kau tidak buta huruf.” Ilona mendengus lagi kemudian membuka dokumen tersebut. Ternyata sebuah lembar perjanjian dan juga beberapa peraturan yang harus ia sepakati, dari mulai ia harus merahasiakan tinggal bersama Edward, hingga ia tak diijinkan masuk ke lantai tiga mansion itu tanpa seijin Edward. Ilona mendesis. “Berlebihan. Tanpa perjanjian ini pun aku tahu posisiku, aku tak mungkin kurang ajar saat di Kantor. Aku perempuan berpendidikan, dan tentu saja aku memiliki sopan santun.” “Kau tidak terlihat seperti itu.” Ilona mendelik. “Apa maksudmu?” “Tanda tangan saja. Kalau tidak, aku akan mengantarmu kembali ke Swiss sekarang juga.” Ilona kembali mendelik, menatap tajam ke arah Edward yang tampak tak acuh, tak mempedulikannya, kemudian mendengus kecil. “Beraninya mengancam. Iya iya!” jawabnya seraya membubuhkan sebuah tanda tangan dibagian bawah surat perjanjian itu. “Sudah. Puas?!” Edward menerima dokumen dari tangannya dengan tenang kemudian kembali sibuk dengan menyantap sarapannya. Ilona menatap tajam ke arah Edward, merasa dongkol sekaligus kesal. Tekad dalam hatinya pun perlahan semakin kuat. Ia harus mendapatkan Edward. Ia harus menaklukan pria itu! “Habiskan sarapanmu. Lima menit.” *** Ilona dan Edward berangkat dengan menggunakan kendaraan yang berbeda meskipun kendaraan itu jalan beriringan. Hingga ketika kendaraan yang membawa Ilona berhenti di pintu lobi, tak lama setelah itu kendaraannya pun berhenti di tempat yang sama. Edward keluar dari dalam kendaraannya itu, di sambut oleh beberapa orang yang mulai menyapanya. Termasuk Jack, asistennya yang sudah menunggu di depan pintu. Sementara Ilona sudah berlalu, berjalan memasuki gedung menuju ke arah lift. “Agenda hari ini?” “Jam 9 evaluasi event fashion week yang di gelar satu minggu lalu dan juga rapat perencanaan untuk fashion week musim panas. Jam 12 makan siang bersama petinggi agensi, sekaligus membicarakan kontrak untuk model pakaian musim gugur. Jam 4 sore anda dijadwalkan untuk melakukan cek ke pabrik. Designer perusahaan kita pun sudah memberikan draft untuk pakaian musim dingin. Saya akan segera mengirimkannya melalui email.” Edward mengangguk kecil. “Jack, bawakan semua pekerjaanku dalam satu bulan ini ke rumah. Sementara anak-anak berlibur aku akan menyelesaikan pekerjaanku.” “Baik Mr. Dalbert.” Langkah kaki Edward terhenti ketika melihat Ilona yang tengah berbincang akrab dengan seorang pria tepat di depan lift khusus karyawan di gedung dua. Kemudian ia melangkahkan kakinya kembali ke arah lift khusus untuk menuju ruangannya, melewati Ilona dan pria itu yang membungkuk dan menyapanya dengan sopan. Ternyata perempuan itu menepati janjinya, dengan tidak bertingkah. Ia pikir dia hanya mempermainkannya saja. Edward menatap Ilona kembali dari pantulan pintu lift yang tertutup. Perempuan itu tampak lain, cukup anggun dengan pakaian kerja yang perempuan itu kenakan, ekspresi yang di berikan perempuan itu pada pria didepannya pun tampak lain, terlihat begitu nyaman. Tidak tengil dan menyebalkan seperti saat bersamanya. “Dia Mr. Felix Rery Dalton, staff dari bagian perencanaan.” Ujar Jack setelah mereka masuk ke dalam lift. Edward mendelik ke arah Jack sesaat. “Aku tidak bertanya.” Ujarnya. “Oh? Maafkan saya Mr. Dalbert, saya pikir anda ingin mengetahuinya.” Edward menghela nafas panjang. Mengabaikan Jack yang berdiri di sampingnya. ... Sementara itu Ilona masih mengantri untuk menggunakan lift bersama dengan Felix, Senior-nya ketika masih kuliah. Ia melirik Edward dengan ujung matanya saat melihat pria itu memasuki lift lalu menarik ujung bibir. “Tadi itu, dia Mr. Dalbert. Dia pemilik perusahaan. Kamu harus tahu Na, dia sangat perfectionist, tegas dan juga disiplin. Kamu harus mampu memenuhi standart-nya yang tinggi. Apalagi posisimu penting, kamu akan sering berhadapan langsung dengan Mr. Dalbert. Ingat Na, kamu harus mampu mengerjakan seluruh pekerjaanmu dengan baik atau akan mendapatkan revisi yang tidak ada habisnya.” jelas Felix. Ilona tersenyum kemudian mengangguk kecil. “Kamu tahu sendiri bagaimana aku Felix. Tentu saja aku tidak akan pernah mengecewakannya.” “Hoho! Ilona dan rasa percaya dirinya memang tidak pernah berpisah.” “Tentu. Hanya itu yang bisa aku banggakan.” Ujar Ilona seraya terkekeh kecil. “Kamu terlalu merendah Ilona, aku percaya lulusan terbaik pasti bisa menaklukan apapun. Termasuk menaklukan sifat perfectionist Mr. Dalbert.” Ilona tersenyum dalam hati. Ia bertekad ia akan memberikan yang terbaik untuk Edward agar pria itu berhenti memandangnya sebelah mata. *** Selalu ada tempat terbaik bagi lulusan terbaik, apalagi untuk jurusan-jurusan tertentu yang dianggap sulit. Itu juga yang di terima oleh Ilona saat ini. Ilona ditempatkan di bagian produksi, yang masih bersinggungan langsung dengan bagian perencanaan, akan tetapi tugas Ilona lebih berat daripada tugas Felix, Ilona berada di posisi dimana ia akhirnya yang harus mempertanggungjawabkan project yang sedang ia tangani. Memang berat sekali, tapi Ilona yakin ia mampu mengerjakannya. “Ini tugas pertamamu.” Ilona menerima sebuah dokumen dari manager produksi, kemudian membukanya, membacanya dan memahaminya selama beberapa saat. “Pelajar ini dan buat rancangan anggaran untuk project tersebut. Gajimu akan di setarakan dengan hasil dari pekerjaanmu ini. Sampai di sini, ada yang ingin kau tanyakan?” Ilona tersenyum seraya menggeleng kecil. “Tidak. Semuanya sudah cukup jelas. Terimakasih Miss Eva.” “Besok kau harus sudah menyelesaikannya.” Ilona mengangguk percaya diri. Setelah itu ia menatap managernya lagi lalu berpamitan. “Saya akan mempelajarinya sekarang, Miss. Permisi.” Ilona mendudukkan diri tepat di meja kerjanya kemudian menarik ujung bibirnya. Tersenyum kecil. Lihatlah kemampuanku Edward. Kau akan tercengang. Akan kupastikan, tak ada tempat bagimu untuk mencelaku lagi. Dan ku jamin, kau akan terpesona dengan otak cerdasku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD