“Rapihkan meja kalian! Mr. Dalbert akan melakukan sidak.”
Ilona mengalihkan pandangan dari layar komputer ke arah beberapa staff bagian produksi yang sedang sangat sibuk merapihkan meja mereka, orang-orang yang sedang bekerja sambil nyemil makanan bahkan menyingkirkan makanannya segera ke dalam kardus, terlihat sangat panik seolah kedatangan Edward adalah malapetaka.
“Oh s**t! Padahal ini belum akhir bulan, kenapa Mr. Dalbert melakukan sidak?” keluh salah sati staff.
Ilona mengedik acuh kemudian kembali menyibukkan dirinya pada file yang sedang ia kerjakan, sampai beberapa menit kemudian seseorang menyenggol lengannya.
“Sst! Ilona bangun. Mr. Dalbert datang.” Bisik Miss Eva padanya yang masih terpaku bingung di meja kerja.
Ilona menghela napas panjang kemudian berdiri tegak dengan kedua tangan saling bertumpuk di atas perut, lalu membungkuk sesaat memberikan hormat. Ilona sebenarnya tidak tertarik untuk melihat Edward, ia sedang malas, pikirannya sedang fokus pada pekerjaan. Akan tetapi ketika ia mengangkat kepala iris mata mereka bertemu, Edward ternyata menatapnya dengan intens sebelum beranjak pergi.
“Miss Eva dan team untuk penanggung jawab fashion week musim panas ditunggu di ruang rapat sekarang.” Ujar Jack sebelum beranjak mengikuti langkah Edward.
“Haaahhh.” helaan napas terdengar begitu kompak dari teman satu divisinya.
“Kalian lihat tadi. Mr. Dalbert benar-benar menakutkan!”
“Suara langkah kakinya saja benar-benar mencekam.”
“Aku bahkan tidak sanggup untuk mengangkat kepala.”
Puk.
Elina menoleh, menatap Eva yang menepuk pundaknya. “Kau tak apa Ilona? Aku melihat Mr. Dalbert menatapmu dengan tajam.”
Elina tersenyum seraya menggeleng kecil. “Tak apa Miss Eva. Saya anggap itu sebagai motivasi.”
“Good.”
“Eh tapi tumben Mr. Dalbert hanya lewat? Biasanya akan masuk dan melihat dokumen-dokumen kita. Iya kan?”
“Iya ini benar-benar aneh. Mr. Dalbert seperti iseng saja, cuma untuk memastikan sesuatu. Apakah ada karyawan yang bermasalah ya? Atau mungkin, dalam pantauannya?”
“Beruntung sekali kalau memang ada yang berada di bawah pantauan Mr. Dalbert. Mr. Dalbert sangat tampan, terlihat sangat muda dan kaya raya, meskipun sayang sekali auranya terasa benar-benar mematikan. Aku seperti akan mati berdiri jika berhadapan dengannya.”
Eva kembali menepuk bahunya yang sedang mendengarkan keluhan-keluhan staff lain. “Sudah jangan dengarkan. Mereka memang selalu begitu.”
“Kembali bekerja dan untuk team yang bertanggung jawab event musim panas segera ke ruang rapat. Ema jangan lupa kabari Felix.” Seru Eva pada semua orang sebelum kembali menuju meja kerjanya mengambil berkas lalu beranjak pergi.
Ilona duduk termenung, menatap layar di depannya dengan kosong. Sebenarnya apa tujuan Edward datang? Ilona menghembuskan napas lalu menggeleng kecil.
“Aku tidak peduli.” Gumamnya sebelum kembali fokus bekerja.
***
Sejujurnya Edward tidak benar-benar lupa pada Ilona, ia ingat betul Ilona adalah gadis ceroboh berkuncir kuda yang Mia temukan tersungkur di area peternakan milik Hazard. Tapi tidak ... Edward tidak dengan sengaja mengingat-ingatnya, Edward mengingat gadis itu karena memang daya ingatnya sangat tinggi. Otak cerdasnya benar-benar mampu mengingat apapun hingga detail terkecil.
“Apa tugas pertamanya?” tanya Edward sebelum memasuki lift.
“Bagaimana Mr. Dalbert?”
Edward menoleh menatap Jack. “Tugas pertama Ilona.”
“Ah itu, Miss Ilona sedang mengerjakan rencana anggaran dan pelaksanaan untuk fashion week musim gugur. Seharusnya besok laporannya sudah selesai.”
“Kau yakin dia bisa melakukannya?”
“Tenang saja Mr. Dalbert. Sebenarnya Miss Eva sudah menyelesaikan rencana pelaksanaan fashion week untuk musim gugur, dokumennya sudah saya kirimkan ke e-mail anda. Miss Ilona mengerjakan itu hanya sebagai tes awal saja.”
Edward mengangguk kecil sebelum melenggang keluar dari dalam lift menuju ruang rapat.
“Mr. Dalbert ini daftar penanggung jawab event musim panas.” Ujar Jack seraya memberikan tablet PC di tangannya.
“Mr. Hanan tidak bisa ikut berpartisipasi karena mendadak dilarikan ke rumah sakit, oleh karena itu Mr. Hanan digantikan oleh Mr. Felix dari bagian perencanaan.”
Sebelah alis Edward naik, melirik Jack dengan tatapan tak suka. “Felix Rery Dalton?”
“Benar Mr. Dalbert.”
***
“Ini gila!”
Ilona menoleh ke kanan, kunyahannya pada menu makan siang di kantin kantor pun terhenti saat melihat wajah kusut Felix yang tidak berbeda jauh dengan baju kusut, duduk tepat di kanannya. Wajah Felix di tekuk, dasinya bahkan tidak tersimpul sempurna. Terlihat sangat kacau.
“Ada apa?” tanya Ilona kemudian mengulurkan tangan ke leher Felix, merapihkan dasi dan juga kerah lelaki itu.
“Felix dimarahi habis-habisan oleh Mr. Dalbert.” Ujar Eva yang kemudian bergabung tepat dihadapan Ilona. “Mr. Dalbert bertanya rincian acara pada Felix dan buruknya Felix tidak bisa menjawab.” Jelas Eva. “Kamu ini kenapa Felix? Bukankah aku sudah memberikan rincian acaranya? Kamu bilang kemarin kamu sanggup untuk menggantikan Hanan?”
“Aku bersumpah aku sudah mempelajarinya, tapi semuanya lupa saat Mr. Dalbert menatapku seolah ingin memakanku. Mr. Dalbert benar-benar seperti predator yang sedang mencari mangsa. Sangat menakutkan.” Jelas Felix dramatis.
“Aku setuju. Hari ini Mr. Dalbert terasa dua kali lipat lebih menakutkan daripada biasanya. Kalian ingat apa yang Mr. Dalbert katakan?”
‘Jika ingin menggantikan seseorang harus digantikan dengan yang sudah mengerti tugas pokoknya, bukan hanya modal mau dan rela menggantikan.’ Tiru Ema. “Aku saja yang sudah biasa menghadapi Mr. Dalbert benar-benar ngeri. Apalagi kamu yang pertama kali Felix.”
“Sudah, jangan dibahas lagi, yang terpenting sekarang semuanya sudah selesai dan kamu tahu tugasmu kan Felix?” tanya Eva.
Felix mengangguk. “Akan kubuktikan aku benar-benar mampu.”
“Good.” Ujar Eva.
“By the way. Kenapa menu hari ini terasa sangat mewah? Mendadak ada steak daging sapi sebesar ini padahal biasanya itu itu saja. Ada daging pun selalu potongannya kecil.” ucap Ema.
Ilona menghentikan kunyahannya lalu menatap karyawan lama itu satu persatu lalu mengelilingkan pandangannya ke arah lain. Benar, mereka semua tampak heran. Ia pikir menu makan siang di kantor ini memang selalu mewah seperti ini.
“Aku dengar Mr. Dalbert yang meminta langsung menu ini.” ujar seseorang di meja lain di depan Ilona.
“Aneh ya ... padahal Mr. Dalbert bahkan tidak pernah makan di kantin.”
“Ih asal kalian tahu, tadi saat aku akan masuk, aku melihat Mr. Dalbert hampir memasuki kantin. Tapi balik kanan lagi.” ujar karyawan lain yang baru bergabung dengan meja yang berada di depannya itu.
Kening Ilona mengerut, tanpa sadar melirik ke arah pintu masuk sesaat sebelum menyantap makan siangnya lagi.
“Hari ini benar-benar aneh.” Ujar Felix sebelum menyantap makan siangnya. “Pasti ada sesuatu yang terjadi pada Mr. Dalbert.”
Ilona termenung, jika memang tidak biasa Edward seperti ini, mungkinkah Edward melakukan itu karena kedatangannya? Lalu Edward marah pada Felix karena pagi ini mereka keliatan akrab? Mungkinkah diam-diam Edward peduli padanya? Dan saat Edward marah pada Felix. Mungkinkah ... ternyata Edward cemburu?
Bibir Ilona berkedut, kemudian tertarik membentuk senyuman tipis. Dadanya mendadak berbunga, terasa begitu hangat hingga seluruh penjurunya.
“Hei Na, kenapa kamu? Kok senyum-senyum begitu?”
Ilona mengulum bibirnya, lalu menggeleng kecil. “Enggak Fel, gapapa.”
***
Senyuman Ilona tidak luntur bahkan setelah Ilona sampai di mansion milik Edward lagi. Begitu sampai ia tak langsung ke kamar, ia justru menunggu Edward di depan pintu menyambut kedatangan Edward dengan senyuman lebar.
“Hi Daddy!” Seru Ilona, yang hanya dibalas dengan tatapan tajam dan dengusan.
Ilona segera berjalan cepat, mendekat ke arah Edward yang hendak berbelok ke arah tangga, lalu mengulurkan tangan ke leher Edward, tapi kemudian Edward menghentikan langkah lalu mundur.
“Apa yang sedang kau lakukan? Jangan kurang ajar.”
Ilona berdecak lalu berkacak pinggang dengan iris mata menatap Edward dan bibir yang tersenyum menggoda. “Gak usah gengsi Dad, aku tahu hari ini kamu sangat memperhatikanku. Dari mulai sidak ... kamu sebenarnya hanya ingin melihatkukan? Lalu ... makan siang ... kamu menyiapkan makan siang semewah itu karena aku datangkan? Dan ... tentang Felix. Kamu memarahinya karena diam-diam kamu cemburukan Dad? Mengaku saja ... jangan jual mahal begini.”
“Aku tahu ... aku ini sangat mempesona. Jadi kamu ... Daddy ... tidak perlu gengsi.” Ujar Ilona seraya mengerling menggoda Edward yang hanya menatapnya datar.
“Sudah berkhayalnya?” tanya Edward. “Kau terlalu banyak berkhayal bocah. Singkirkan seluruh imajinasi dalam otakmu itu, bekerjalah dengan benar dan jangan terlalu percaya diri.” Lanjut Edward seraya mendorong kening Ilona dengan telunjuk, lalu melenggang pergi, melewati Ilona begitu saja.
Ilona mendengus dengan kedua mata memicing. Sebal. Apa benar ia hanya terlalu banyak berkhayal?
***
Bersambung.