Part 4 : Tak Terganti

1633 Words
Edward benar-benar menepati ucapannya menyelesaikan banyak pekerjaan di rumah sementara Max dan Mia liburan. Buktinya setelah makan malam usai pria itu sudah mendekam di lantai tiga mansion-nya, memeriksa beberapa dokumen, mengecek beberapa surel masuk dan pekerjaan lainnya. Akan tetapi di tengah fokusnya, ada sesuatu yang mengganjal. Ada sesuatu yang ia rasa salah, sesuatu yang sangat janggal. Tapi kemudian ia menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan setelahnya ia lebih memilih meraih ponsel untuk menghubungi kedua malaikatnya. “Hallo Dad! I miss you so bad.” Edward tersenyum mendengar kalimat yang terlontar begitu manis dari putri cantiknya. “I miss you too baby. Kamu sedang apa sayang?” “Cuma di kamar Dad, melihat bintang dari atas tempat tidur.” “Dimana kakakmu?” “Max? Ah dia ... .” kalimat Mia menggantung. Kening Edward mengerut ketika melihat wajah sang putri tampak bingung. “Itu Dad ... Max ... ah! Ya! Dia sedang menemui teman barunya. Iya teman baru.” “Dan kamu di tinggalkan di resort sendirian?” Mia tersenyum kaku. “Bukan salah Max Dad, aku yang tidak ingin keluar. Daddy tidak perlu khawatir ... aku aman di kamar. Max juga pasti akan aman.” “Teman mana yang Max temui? Perempuan atau laki-laki?” Mia mengerjapkan mata bulatnya lalu menatapnya kembali. “L—Laki-laki Dad.” Edward terdiam. “Oh. Friend? Just friend?” Mia mengangguk ribut. “Yes! Just friend Dad. Tenang Dad, Aku akan segera menghubungi Max agar segera kembali, Max pasti mau mendengarkanku. Jadi Dad jangan marah begitu ya?” “Please ... jangan marahi Max karena meninggalkanku sendiri di resort. Aku ... hanya sedang lelah setelah seharian ini bermain. Aku ingin sendirian ... so Dad ... promise me ... don’t be mad okey?” pinta Mia dengan tatapan memohon penuh keraguan dan rasa takut. Edward menghembuskan napas kasar lalu mengangguk kecil. “Kalau begitu Daddy temani sampai Max pulang ya?” “Eyy Dad, daripada menemaniku sebaiknya Dad mencari pacar. Aku yakin banyak yang mau pada Dad tanpa terkecuali, Daddy hanya perlu menunjuk.” Mia tergelak setelah berujar panjang. “Mau yang seperti apapun pasti Daddy dapat.” Edward menghembuskan napas. “Tidak Mia. Papa sudah katakan itu.” “Kenapa? Apa Daddy memiliki seseorang yang Daddy tunggu? Apa Daddy mencintai seseorang terlalu dalam sampai memilih sendiri seperti ini? atau—Daddy sebenarnya punya pacar raha—.” Tok tok tok “Daddy! Dad kamu di dalam kan?” Edward terkesiap, ia menoleh ke arah pintu masuk yang mendadak terbuka. Rahangnya mengatup, kedua tangannya terkepal erat saat melihat Ilona lagi-lagi masuk dengan lancang ke dalam ruang kerjanya. “Sudah ku katakan aku melarangmu masuk ketempat ini!” “Tenang, tenang Dad. Aku hanya ingin meminta arsip dokumen Autumn Fashion Week tahun lalu agar memiliki pembanding untuk pekerjaan pertamaku.” “Tidak! Tidak ada pembanding. Gunakan otakmu sendiri tanpa ada acuan dokumen lain.” “Ugh! Pelit sekali.” Rajuk Ilona. “Memang apa peduliku? Sekarang keluar! Sekali lagi kau berani masuk ke ruangan ini akan kupastikan aku akan mengantarmu ke Swiss saat itu juga.” Ilona menghembuskan napas kasar. “Baiklah, aku akan keluar.” Ilona menunduk hendak menarik pintu itu untuk ditutup, tapi kemudian mendongak kembali menatap ke arahnya. “Jangan tidur terlalu malam Dad, jaga kesehatanmu. Good night.” Edward memejamkan mata erat, menahan rasa kesal setiap kali ia harus berhadapan dengan perempuan itu, kepalanya mendadak pening. Anak itu, bisanya cuma membuatku darah tinggi saja. “Who’s she Dad?” Edward terjengit, sesaat melupakan sambungan teleponnya dengan sang putri. “Dad ... “—she’s ... my future mommy?” tanya Mia ragu. Tatapan mata Edward berubah, berkilat menatap tegas putrinya. “Tidak ada satu pun yang namanya Ibu masa depan untuk kalian Mia. Ibumu cuma satu dan tidak akan pernah ada yang menggantikan posisinya.” “Sampai sini, kamu mengerti Mia?” Anak perempuannya itu mengerjapkan mata lalu mengangguk kecil dengan kepala tertunduk. “Maaf ... Dad. Aku tidak bermaksud membuatmu marah. I’m so sorry ... .” cicit Mia. Edward mendesah kecil, merasa bersalah melihat putrinya ketakutan. “Dia hanya anak dari rekan bisnis Papa. Mr. Hazard, kamu ingat? Sembilan tahun lalu.” Mia berpikir sejenak lalu mengangguk ragu. “Jadi sudah, jangan dipikirkan lagi dan jangan membahasnya lagi. Okey? Sekarang sebaiknya kamu tidur. Papa akan kembali bekerja.” Mia mengangguk seraya bergumam kecil. “Good girl. See you soon princess.” “See you Dad.” Mia tersenyum kaku dengan melambaikan tangan sesaat sebelum mengakhiri panggilan. Edward menghembuskan napas. Selama ini memang tidak pernah ada lagi issue tentang seseorang yang akan dipanggil Ibu di rumah ini. Sudah lebih dari sembilan tahun berlalu, ketika saat itu ibunya tiba-tiba datang dengan seorang perempuan yang akan dijodohkan dengannya. Sejak saat itu di depan kedua anaknya dan keluarganya sendiri Edward berikrar tidak akan ada lagi perempuan yang dipanggil ibu oleh Max dan Mia. *** Keesokan harinya. Edward sedikit sangsi dengan keadaan meja makan yang cukup tenang, padahal sejak kedatangan Ilona hingga kemarin malam, Ilona masih banyak mengoceh tentang banyak hal yang sebenarnya tidak ia simak dengan benar. Tapi kali ini lihatlah ... perempuan dengan stelan jas rapih itu hanya menyantap sarapannya dalam diam. Bahkan tidak ada suara sendok yang bersinggungan dengan piring sama sekali, benar-benar hening dan itu ... sesuatu yang sangat janggal. Apa yang terjadi dengan perempuan dihadapannya ini? Edward menatap Ilona setelah menyelesaikan sarapannya. Mengamati gerak-geriknya yang jelas sekali bahwa dia ... seperti menghindarinya. “Bagaimana laporan pertamamu?” Ilona terjengit, perempuan itu mengerjapkan mata sesaat sebelum menoleh ke arahnya dengan seringaian kecil. “Apakah kamu mulai perhatian padaku Dad?” Ilona tersenyum lebar. “So cute.” Edward mendengus. Sepertinya ia salah berbicara. “Tidak penting.” “Dad wait!” Sebuah tarikan di tangan kanan menahan langkahnya. Ia pun berhenti tanpa berbalik sedikitpun. Membuat Ilona berjalan ke arahnya, berdiri tepat dihadapannya, kemudian meraih dasinya. Edward mundur satu langkah. “Diam.” “Dasimu kurang rapih.” Edward menahan napas, lalu memalingkan wajah ke arah lain saat aroma manis yang menguar begitu kuat dari tubuh Ilona menusuk masuk melalui indera penciumannya. “Sudah.” Edward seketika mundur lalu menatap Ilona dengan tajam kemudian mendesis. “Jangan melewati batasmu Ilona. Kau harus sadar posisimu di rumah ini.” ujar Edward sebelum beranjak pergi tanpa berpamitan sama sekali. Sorot mata Ilona berubah muram, layaknya langit cerah yang tertutup awan pekat. Tidak ada sorot mata penuh godaan, tidak ada senyuman penuh rasa percaya diri. Tatapannya benar-benar sendu. Sarat akan luka dan kecewa. “—she’s ... my future mommy?” “Tidak ada satu pun yang namanya Ibu masa depan untuk kalian Mia. Ibumu cuma satu dan tidak akan pernah ada yang menggantikan posisinya.” Ilona menggigit bibir bagian dalamnya ketika mengingat percakapan Edward dengan putrinya semalam. Hatinya yang penuh percaya diri ingin mengejar Edward seketika hancur saat mendengarnya. Ia tidak menduga perempuan yang merupakan ibu kandung kedua anak Edward begitu berharga untuk Edward. Sampai Edward berkata dengan begitu lugas bahwa tidak akan ada pengganti ibu mereka. Hatinya tercubit. Sakit. Sungguh, ia pikir memiliki peluang yang sangat besar untuk mendapatkan Edward, karena—demi Tuhan, tidak ada satu pun foto perempuan di rumah ini. Tapi sepertinya terkaan yang ia pikirkan salah besar. Ilona berjalan memasuki gedung perusahaan dengan kepala yang masih berpikir begitu dalam. Dirinya ingin sekali bersikap biasa, akan tetapi ia tidak bisa menyangkal bahwa ucapan Edward tentang ibu kedua anaknya begitu mengganggu. “Na! Hei! Ilona.” Ilona terjengit, kemudian menoleh ke kanan pada Felix yang kini tersenyum lebar padanya. “Masih pagi, kenapa sudah melamun?” Ilona tersenyum tipis. “Sesuatu mengganggu pikiranku.” “Apa itu?” Ilona menatap Felix lamat. “Menurutmu apa penyebab seorang laki-laki lebih memilih sendiri daripada mencari pasangan?” Kening Felix mengerut. “Wow! Ilona, untuk pertama kalinya kamu membicarakan tentang laki-laki. Siapa lelaki beruntung yang sudah mendapatkan hatimu itu?” Ilona mendesah pelan. “Sepertinya memang lebih baik akutidak bertanya.” “Ey jangan marah, tunggu.” Felix berjalan di sisi Ilona. “Ruanganmu bukan ke arah ini Fel.” “Tidak masalah, aku akan mengantarmu terlebih dulu.” jawab Felix. “Dan tentang pertanyaanmu—.” Felix menatap Ilona. “—bisa jadi karena ada seseorang yang dia tunggu, tidak tertarik pada komitmen atau ... tidak tertarik dengan perempuan.” Ujar Felix setengah ragu. “Kalau ternyata ada sosok yang tidak bisa tergantikan di kehidupan lelaki itu. Menurutmu apa penyebabnya?” “Karena perempuan itu sangat dia cintai, sangat berharga, dan memberikan ribuan kenangan manis yang tidak ingin digantikan orang lain. atau—.” “Atau?” tanya Ilona menggantung. “Perempuan itu sudah melakukan sesuatu—pengorbanan yang besar untuknya. Sehingga kalau dia bersama perempuan lain dia merasa bersalah dan merasa mengkhianati perempuan itu.” Ilona termenung ditempatnya. Apakah perempuan yang Edward maksud semalam sebegitu berharganya seperti yang dideskripsikan Felix? Dadanya berdenyut sakit, serasa di korek oleh pisau berkarat. “Tapi percayalah, lebih dari apapun. Orang yang selalu ada akan dengan mudah menggantikan posisi seseorang yang spesial.” Langkah Ilona terhenti, ia menatap Felix dengan mata bulatnya. “Maksudmu, masih ada kesempatan?” Felix tersenyum tipis. “Tentu ... kesempatan itu akan selalu ada meskipun kamu harus melalui celah-celah kecil.” Luka dalam hatinya perlahan merasa tertutup meskipun belum bisa ia katakan sembuh. Tapi setidaknya berdasarkan pendapat yang Felix ucapkan, tentu saja—ia memiliki kesempatan bukan? Senyuman Ilona mengembang, kedua tangannya kemudian terulur memeluk Felix dengan cepat. “Terimakasih Felix, terimakasih kamu sudah membuat perasaanku lebih baik.” Felix menepuk punggung Ilona beberapa saat. “Tentu, tentu saja. Katakan apapun yang ingin kamu katakan padaku, dan tanyakan apapun yang ingin kau tanyakan padaku Ilona, dengan senang hati aku akan menjawabnya.” Karena aku pun akan menggunakan celah terkecil dari setiap kesempatan yang ada agar bisa mendapatkan hatimu. *** Bersambung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD