Part 5 : Dugaan

1548 Words
Begitu masuk ruangan, Edward kembali sibuk dengan beberapa dokumen di atas meja, ia segera memeriksanya satu persatu dokumen tersebut dengan Jack yang berada di hadapannya, membacakan beberapa jadwal meeting dan beberapa janji lain.   “Miss Viona mengirimkan beberapa hadiah untuk anda sebagai ucapan terimakasih karena sudah diberi kesempatan bergabung di Summer dan Autumn Fashion Week. Miss Viona mengatakan tidak akan mengecewakan anda dan akan memanfaatkan setiap kesempatan yang telah anda berikan untuknya. Jika anda berkenan Miss Viona juga ingin makan malam dengan anda.”   “Tolak. Katakan padanya aku sangat tersentuh dengan hadiah yang dia berikan tapi aku sedang sangat sibuk, aku tidak bisa memenuhi undangan makan malamnya.”   Jack mengangguk. Tidak heran lagi dengan penolakan Bos besarnya itu. Sebab tidak ada satu pun yang berhasil membawa Edward makan malam secara pribadi.   “Baik Mr. Dalbert. Kemudian ini ... menu makan siang untuk karyawan hari ini ... sesuai permintaan anda. Kepala Koki mengatakan akan menunggu printah anda sebelum menurunkan perintah pada anak buahnya terkait menu hari ini.”   Edward terdiam, ia termenung dengan punggung bersandar di kursi dan pandangan mata menerawang ke arah buku menu tersebut. Teringat kembali ucapan Ilona kemarin saat perempuan itu mengatakan bahwa ia begitu perhatian. Tapi sungguh! Bukan itu maksudnya.   Ia tidak pernah berpikir sedikitpun untuk memberikan keistimewaan pada perempuan itu.   “Jack apakah kemarin aku bertindak terlalu berlebihan?”   Jack tampak ragu untuk menjawab, bahkan mulutnya yang terbuka kembali menutup tanpa ada kalimat yang keluar.   “Katakan sejujurnya Jack.”   “Ya ... sejujurnya anda memang terlalu berlebihan.”   “Aku hanya ingin menghormati Mr. Hazard dengan memastikan dia nyaman, sebab bagaimanapun dia anak dari rekan bisnisku yang paling loyal. Aku tidak ingin mengecewakan Mr. Hazard setelah semua yang Mr. Hazard berikan padaku.”   “Saya mengerti Mr. Dalbert, tidak ada yang salah dengan kekhawatiran yang anda rasakan, akan tetapi Mr. Hazard tidak meminta anda untuk memperlakukan Miss Ilona dengan spesial, beliau hanya berpesan agar anda menjaga Miss Ilona selama dia tinggal bersama anda. Selain itu saya rasa tidak perlu, lagipula Miss Ilona hanya karyawan biasa.”   “Dan sebaiknya anda—.”   “—jangan memberikan celah pada Miss Ilona jika memang anda tidak ingin Miss Ilona lebih masuk ke dalam hidupan anda. Jangan membuatnya berharap.”   Edward kembali diam setelah mendengar penjelasan dari Jack, benar ... seharusnya ia tidak perlu berlebihan seperti itu. Toh Ilona hanya karyawan biasa dan tidak ada yang spesial dari Ilona sekalipun dia putri rekan bisnisnya. Karyawan tetap karyawan, hubungannya dengan Hazard tidak ada sangkut pautnya dengan pekerjaan yang perempuan itu kerjakan.   Edward mendesah pelan lalu memberikan buku menu di tangannya lagi pada asistennya itu.   “Katakan pada Kepala Koki, lakukan saja seperti biasanya. Tidak perlu mendengarkan perkataanku kemarin.”   Jack mengangguk. “Baik Mr. Dalbert akan saya sampaikan sekarang.”   Edward mengangguk kecil setelahnya ia kembali meraih bolpoin, lalu membubuhkan sebuah tanda tangan pada salah satu dokumen. Akan tetapi detik berikutnya ia kembali termenung saat ingat Ilona lagi.   Aku harus berbuat sesuatu agar dia tidak semakin liar.   ***   Setelah berbicara dengan Felix perasaan Ilona terasa lebih baik. Tidak ada lagi beban seperti yang ia pikirkan sepanjang malam, tidak ada lagi pikiran buruk yang mengganggunya. Sebab ... memang benar, ia sangat meyakini bahwa yang selalu ada pada akhirnya akan menang.   Ilona menegakkan punggung berjalan ke arah Eva untuk menyerahkan berkas pekerjaannya yang baru saja selesaikan.   “Masuk.”   Mata Ilona membulat ketika melihat Miss Eva yang terlihat pucat dan menekan-nekan perutnya. “Miss apa yang terjadi? Apa yang sakit? Biar aku bantu ke klinik.”   “Oh tidak. Tidak terjadi sesuatu padaku Ilona. Aku baik-baik saja.”   “Tapi anda ... .”   “Hari pertama period-ku, selang satu bulan aku memang selalu begini. Tapi tidak masalah, aku hanya perlu diam di ruangan dan bekerja tanpa pergi kemanapun.” Eva tersenyum simpul. “Terimakasih sudah mengkhawatirkanku. Lalu ada perlu apa kemari?”   “Ini ... dokumen yang anda minta sudah selesai saya buat.”   “Ah itu ... Mr. Dalbret pasti sudah menunggunya. Tapi—argh.”   Ilona meringis melihat Eva yang tampak kesakitan. “Anda mau saya membantu mengantarkan dokumen ini Miss? Saya khawatir melihat anda terlihat sangat kesakitan begitu.”   “Kau sungguh-sungguh mau mengantarkannya sendiri?”   Ilona mengangguk ragu.   “Sangat pemberani.” Ujar Eva. “Kalau begitu tolong antarkan, katakan saja tentang keadaanku jika Mr. Dalbert bertanya.”   Ilona kembali mengangguk lalu berpamitan setelah itu keluar dari ruangan tersebut. Sepanjang perjalanan Ilona kembali termenung, memang sekejam apa Edward sampai Eva mengatakan bahwa ia sangat pemberani? Padahal Edward ya ... hanya Edward. Baginya Edward tidak seburuk itu.   Ya ... meskipun terkadang mulutnya begitu menyakitkan.   ...   “Ada yang bisa saya bantu Miss?”   Ilona tersenyum pada satu sekretaris Edward yang ada di depan pintu masuk. “Saya ingin memberikan dokumen ini pada Mr. Dalbert. Titipan langsung dari Miss Eva.”   “Oh. Miss Eva. Mari ... .”   Perempuan itu mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum kemudian membukanya setelah mendengar sahutan. Sekretaris itu pun berpamitan setelah Ilona berdiri di depan meja kerja Edward.   Ilona menahan napas ketika aura penuh d******i dan intimidasi terasa menguar di ruangan ini, ditambah aroma wood dan earthy yang menusuk hidung, menambah kesan maskulin yang dimiliki lelaki itu. Terlebih saat melihat gerakan mata dan jari pria itu. Terlihat begitu tajam dan pasti.   Ilona membasahi bibirnya sesaat lalu meneguk ludah kasar.   “Mr. Dalbert ... .”   Gerakan tangan Edward terhenti lalu mendongak menatapnya dengan tatapan setajam elang.   “—ini saya mewakili Miss Eva untuk memberikan dokumen ini. Untuk Autumn Fashion Week yang saya kerjakan sebagai pekerjaan pertama saya.”   “Kenapa kau yang datang? Dimana Eva?”   Ilona menghembuskan napas perlahan. “Miss Eva sakit, hari pertama period-nya. Jadi saya berinisiatif mengantar dokumen ini. Karena Miss Eva mengatakan anda memintanya hari ini juga.”   Edward tidak mengatakan apapun lagi. Pria itu segera meraih dokumen di tangannya, lalu membacanya.   Ilona meneguk ludahnya kasar, bukan ... bukan karena gugup. Tapi karena ia takjup dengan ketampanan Edward yang tampak tidak berubah sejak sembilan tahun lalu, Edward justru terlihat lebih segar daripada menua. Edward tidak tampak seperti pria berusia awal empat puluh tahun, dia terlihat lebih muda ... bahkan sangat muda dibanding usianya.   Wajah putih bersih tanpa ada kerutan, rahang tegas, alis tebal dengan mata tajam, hidung hampir sembilan puluh derajat dan bibir yang ... begitu menggoda. Ditambah dengan bahu tegap selebar samudra dan tubuh yang atletis.   Sungguh ... Ia rasa usia yang dimiliki Edward terlalu banyak untuk penampilannya saat ini.   “Saya tahu saya tampan.”   Ilona terkesiap, matanya kemudian mengerjap dengan cepat. Gugup dan malu ketahuan mengawasi wajah tampan itu.   “Kenapa masih berdiri di sini?”   “Saya pikir anda akan melakukan review secara langsung pada pekerjaan pertama saya.”   Edward menatap Ilona, lalu menyandarkan punggung pada sandaran kursi. “Baik. Sebagai pekerjaan pertama, pekerjaanmu tidak buruk, tapi masih jauh dari standart perusahaan ini. Terlalu banyak hal yang tidak masuk akal untuk sebuah peragaan busaha musim gugur, dari segi konsep, tema sampai lokasi, konsep yang kau buat terlalu memakan banyak tempat dan waktu. Tidak efisien sama sekali. Termasuk rancangan anggaran biaya, tidak ada singkronasi antara rencana yang dibuat dengan anggaran biaya yang dianggarkan.”   Edward menatap ke arahnya lagi.   “Jika Fashion Week ini di gelar berdasarkan rancanganmu. Acara akan gagal total dan perusahaan mendapatkan kerugian yang cukup besar. Lebih jelasnya adalah rancanganmu ... tidak dapat digunakan sama sekali.”   Ilona kembali mengerjapkan mata lalu mendelik menatap Edward. Apa katanya? Tidak masuk akal? Apa dia tidak tahu yang namanya inovasi? Ia hanya bosan dengan konsep yang selalu sama. Di tempat sama dan tidak ada kreatifitas sama sekali. Lalu sekarang ... apa katanya? Terlalu mengada-ada? tidak dapat digunakan? Yang benar saja!   “Kenapa menatapku begitu? Tidak terima?”   Ilona menghembuskan napas, kemudian tersenyum tipis. Berusaha menenangkan diri sendiri.   “Ah itu ... tidak.”   “Kalau begitu sekarang keluar. Kembali bekerja.”   Ilona kembali menghembuskan napas, berusaha tidak tersulut emosi lagi. Kemudian ia membungkuk sebelum beranjak pergi meninggalkan ruangan itu.   “Hallo Eve ... what’s wrong? Sudah kukatakan periksakan dirimu.”   Langkah Ilona terhenti dibalik pintu saat mendengar kalimat yang begitu lembut dan terdengar manis dari Edward.   Eve? Apakah maksudnya Miss Eva?   ...   “Mr. Dalbert aku sudah memeriksa bulan lalu dan katanya tidak ada masalah, ini masalah biasa saja, sudah sangat umum. Sungguh.”   Edward mendengus mendengar hal itu. “Aku tidak mau tahu, kau harus periksa lagi hari ini juga atau aku yang akan mengantarmu!”   “Mr. Dalbert ... God, aku hanya sakit karena period bukan—.”   “Ingat Eva ... tubuhmu bukan hanya milikmu saja! Dan lagi lusa ada Pesta. Jangan sampai kau masih sakit dan tidak bisa menemaniku.”   “Aku akan sembuh besok. Aku berjanji.”   “Periksa!” tegas Edward.   “Iya iya ... aku akan ijin pulang lebih cepat dan pergi ke Dokter.”   Edward menghembuskan napas. “Bagus.”   ...   “Maaf aku membentakmu.”   Deg!   Ilona mengatupkan rahang saat merasakan ada yang mencelos kosong dalam dadanya. Edward ... kenapa dia terdengar begitu manis pada Eva? Dia bahkan meminta maaf dan memberikan perhatian yang lebih. Apakah ... perkataan Edward semalam karena sebenarnya Edward memiliki hubungan dengan Eva? Karena Edward belum bisa mengenalkan Eva pada kedua anaknya?   Tidak ... tidak mungkin. Mana mungkin mereka memiliki hubungan ... kan?    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD