Part 6 : Kecemburuan Ilona

1717 Words
“Iya. Aku akan berangkat sekarang Mr. Dalbert. Iya, aku akan berangkat dengan supirmu. Jemput saja di salon. Oke. Sampai nanti.”   Ilona berusaha menulikan telinganya saat Eva berbicara melalui telepon dengan Edward. Tidak hanya kali ini, ternyata perempuan itu cukup sering berhubungan secara pribadi dengan Edward, beberapa hari ini ia baru saja menyadarinya.   Cemburu? Tentu saja!   Sembilan tahun ia sudah mengagumi Edward dan sekarang Edward justru lebih menaruh perhatian pada perempuan lain. Ia yang tinggal satu rumah saja tidak pernah mendapatkan atensi se-intens itu. Tapi pada Eva?   Ugh! Sangat menyebalkan.   “Ilona, bagaimana laporan yang aku minta? Sudah selesai?” tanya Eva. “Kalau belum serahkan saja besok, yang penting besok pagi laporan itu sudah ada di meja Mr. Dalbert.”   Ilona tersenyum tipis lalu mengangguk kecil. Terpaksa.   “Ok. Thanks ya, aku harus pergi.”   “Emma, jangan lupa untuk kebagian perencanaan, tanyakan masalah terkait event Autumn.”   “Baik Miss Eva.”   Setelah itu Eva pergi meninggalkan ruangan secara terburu-buru. Ilona yang melihatnya hanya menghembuskan napas lalu mengalihkan pandangan ke arah layar, menatap kosong benda itu. Malas.   Dua hari itu Ilona lebih banyak diam, baik di kantor maupun di rumah. Ia malas berbicara, bahkan untuk sekedar berbasa-basi. Jujur ... awalnya ia berharap bahwa Edward akan menyadari perubahannya dan merasa khawatir, tapi ... jangankan khawatir. Edward justru terlihat seperti tidak peduli, atau mungkin dia merasa untung ia mulai menjauhinya?   Entahlah.   Pikirannya masih belum bisa berpikir jernih. Semuanya terasa keruh karena letupan rasa cemburu dalam dadanya. Apalagi ketika membayangkan malam ini mereka akan ke pesta bersama. Sebagai pasangan. Pasti ... akan sangat serasi.   Namun ... sampai detik ini masih ada yang mengganggu pikirannya. Pertanyaan-pertanyaan yang belum ia dapatkan jawabannya. Edward memiliki tiga sekretaris perempuan, seharusnya dia memilih salah satu dari sekeretarisnya itu dibanding Eva. Tapi kenapa Eva? Kenapa Edward memilih bersama Eva?   Apakah Eva memang sangat berharga untuk Edward? Apakah Eva memang sangat penting untuk Edward?   Kenapa harus Eva? Kenapa bukan dirinya?   Ilona memejamkan mata lalu menghembuskan napasnya kasar. Gejolak dalam dadanya mulai tidak terkendali, dadanya bergemuruh, letupan-letupan lava panas dalam hatinya mulai semakin menggila. Semakin membuatnya merasa panas hingga membuat napasnya tersengal.   “Aku pikir kamu sudah pulang Na.”   Ilona terkesiap lalu menoleh ke kanan, dan mendapati Felix di sana. Matanya mengerjap, menatap sekeliling ruangannya itu. Selama apa ia melamun? Kenapa ia sampai tidak menyadari orang-orang sudah pulang?   Felix tersenyum tipis. “Ada apa Na? Kenapa akhir-akhir ini kamu terlihat lebih terganggu daripada sebelumnya?”   “Aku nunggu kamu siap ngomong loh dari kemaren. Tapi kayaknya kamu sibuk banget.”   Ilona hanya diam, bahkan untuk sekedar mengeluarkan senyuman palsu pun ia tidak sanggup.   “Tell me, if you want.” Bisik Felix dengan tangan terulur mengelus kepala lengannya.   “Aku pikir dia memang memiliki seseorang yang dia cintai ... atau mungkin mereka sudah menjadi pasangan dalam diam? Aku sudah memikirkannya berulang kali Felix, tapi semuanya terasa sulit. Apalagi ... aku merasa tidak ada celah.”   Felix menghela napas panjang. “Aku pikir ... masalah waktu itu selesai.”   Ilona menggelengkan kepala.   “Fel ... apakah Miss Eva selalu menemani Mr. Dalbert? Menjadi pasangan Mr. Dalbert saat ada pesta bisnis?”   “Ya ... selalu. Cuma Miss Eva yang selalu menemani Mr. Dalbert.”   Dadanya semakin mencelos kosong.   “Menurutmu ... kenapa Miss Eva? Kenapa bukan salah satu dari sekretarisnya saja?”   “Karena Mr. Dalbert cenderung risih dengan perempuan-perempuan yang terlalu mencari perhatian terhadapnya. Tapi Miss Eva berbeda ... .”   “Ah ... ya ... tentu saja.” Miss Eva tidak tampak seperti perempuan penggoda ataupun mencari perhatian pada Edward. Pantas ... .   “Jadi pria yang kamu sukai itu Mr. Dalbert?”   “Eh?” Ilona mengerjapkan matanya lalu dengan cepat menatap Felix. “Bukan, bukan. Kenapa kamu berpikir begitu Felix?”   Felix terkekeh kecil lalu mencubit hidungnya. “Kamu ingin mencoba bohong padaku Na? Orang yang sudah bertahun-tahun mengenalmu? Serius?”   “Tidak masalah Na, kamu berhak menyukai siapapun termasuk Mr. Dalbert. Tapi sejak kapan?”   Ilona mengulum bibirnya sesaat. “Sembilan tahun.”   “What?”   Ilona mengangguk. “Aku bertemu dengannya di peternakan milik Ayahku.”   “Ah I see ... aku sampai lupa kalau perusahaan kita juga bergerak di industri makanan.”   “Jadi ayahmu berhubungan baik dengan Mr. Dalbert?” Ilona mengangguk.   “Jadi kamu datang kemari karena—.”   “Tidak. Aku tidak tahu akan bekerja untuknya, aku datang karena ingin benar-benar bekerja. Aku ... bahkan sangat terkejut ketika tahu dia ...  .”   “—adalah atasanku.”   “Tapi sungguh ... aku tidak menduga jika kenyataannya akan seperti ini. Ah tidak tidak ... seharusnya sejak awal aku tidak berpikir pria seperti Mr. Dalbert masih single. Dia pasti memiliki pasangan, entah pasangan rahasia atau tidak.”   Ilona merengut. “Aku sangat bodoh.”   Felix tersenyum tipis. “Tidak, kamu tidak bodoh Na. Menurut kabar Mr. Dalbert memang masih single dan Miss Eva ... dia sudah memiliki kekasih.”   “Apa?!”   Felix mengangguk beberapa kali. “Salah satu alasan mengapa Mr. Dalbert lebih memilih bersama Miss Eva, selain dari sejak awal Miss Eva tidak menunjukan ketertarikan pada Mr. Dalbert adalah karena sebenarnya Miss Eva memiliki kekasih.”   “Kamu tidak sedang berbohong kan? Bukan hanya untuk menghiburku?”   Felix mengedikkan bahu. “Untuk apa? Aku hanya membicarakan kenyataan.”   “—Jadi jangan murung lagi. Jangan terlalu overthinking. Seperti yang aku katakan sebelumnya ... katakan apapun padaku jika ada yang mengganggu Na. Apa kamu masih belum paham dengan kata apapun?”   “Aku hanya ... ragu. Aku tidak tahu harus menceritakan ini atau tidak, aku tidak mau posisiku di sini menjadi aneh, atau dianggap tidak tahu diri.”   Felix tergelak. “Justru akan sangat aneh kalau kamu tidak menyukainya Na. Sudah ... jangan dipikirkan lagi tentang Miss Eva. Sekarang ... pikirkan rencanamu mendekati Mr. Dalbert.”   “—apa kamu memiliki banyak kesempatan untuk bertemu dan berkomunikasi?”   “Ah ya ... tentu saja kamu bisa Na. kamu bisa memanfaatkan ayahmu!” ujar Felix lalu terkekeh kecil.   Ilona mendesis kecil kemudian tersenyum tipis, hatinya mulai kembali berbunga, cahaya matahari mulai muncul dari pekatnya awan yang membuat hatinya kelabu.   “Mana bisa seperti itu?”   “Tentu saja bisa. Orangtuamu sangat berpengaruh untuk perusahaan.”   “Na ... bangun komunikasi yang baik. Buat dia nyaman. Aku yakin dia mungkin akan mempertimbangkanmu. Karena seperti yang aku bilang ... orang yang selalu ada pada akhirnya akan mengalahkan orang yang spesial.”   “Kamu benar Fel, seharusnya aku tidak mengkhawatirkan banyak hal. Aku bisa lebih dekat dengannya, lebih dari perempuan manapun. Kenapa aku harus terlalu overthinking?”   Felix mencubit hidungnya lagi. “Itu memang kelemahanmu sejak dulu.”   “By the way ... kenapa kamu begitu yakin dengan cara itu Fel?”   ...   Karena aku pun sedang melakukannya Na. Tidak masalah sekarang kamu menganggap pria lain lebih spesial untukmu. Tapi aku akan selalu di sini, mendukungmu dan membuatmu nyaman. Sampai ... tiba saatnya nanti kamu sadar bahwa ... keberadaanku sangat berarti untukmu.   “Fel! Malah melamun.”   Felix tersenyum tipis. “Memang karena apa lagi Na? Tentu saja karena melihat fenomena yang ada. Di kantor ini sering sekali ada yang seperti itu.”   “Wah! Benarkah?”   Felix mengangguk. “Karena itulah aku tidak ragu lagi dengan hal itu.”   Ilona menghembuskan napas lalu tersenyum lebar. “Kamu benar ... aku juga harus seperti itu.”   Felix mengulurkan tangannya, menggenggam tangan Ilona, menatap iris mata cantik perempuan itu kemudian berbicara dengan lembut. “Ingatlah semangat ini Na ... kamu harus selalu ingat semangat ini. Jangan sampai semangatmu seperti minuman bersoda yang baru selesai kamu kocok. Meledak tapi kemudian menghilang lagi.”   “—tidak akan ada gunanya.”   Ilona kembali mengangguk kecil. “Aku tidak akan seperti itu lagi Fel, aku berjanji.”   “Good. Berjanjilah pada dirimu sendiri.”   ***   Hari ini Ilona menginjakkan kaki di rumah dengan perasaan yang lebih baik. Tidak muram, tidak semurung dua sebelumnya.   Ya ... meskipun rasa cemburu dalam hatinya masih tidak bisa ia hapus sepenuhnya. Tapi setidaknya ... perasaan itu sudah berkurang lebih banyak.   Hatinya pun terasa lebih lega.   Sekarang ... saatnya ia memikirkan berbagai siasat. Ia harus segera menemukan cara ampuh untuk mendekati Edward. Bagaimana pun caranya!   “Siapa kamu?”   Ilona terjengit, ia kemudian mendongak menatap seorang lelaki bertubuh tinggi tegap berdiri tepat dihadapannya.   “Kamu—.”   “Aku tanya kamu siapa? Kenapa ada di rumahku? Kamu ingin mencuri ya? Atau kamu salah satu penguntit Daddy-ku?”   Ilona membuka mulutnya, tapi kemudian menutup lagi saat lelaki itu kembali berbicara.   “Tidak perlu dijelaskan. Aku tidak akan mempan dengan omong kosong yang akan keluar dari mulutmu. Security!”   “YA! Setidaknya dengarkan dulu aku berbicara! Aku Ilona, aku bukan penguntit karena aku memang tinggal di sini.”   “Hm?”   “Max! Apa yang terjadi?”   Seorang perempuan cantik, bertubuh semampai dengan wajah layaknya barbie muncul. Lalu mengerjapkan mata saat tatapan mereka bertemu.   “Oh! Sister! Long time no see!” Seru Mia kemudian tanpa ragu mendekat ke arahnya lalu memeluknya sesaat.   “Mia ... long time no see baby girl.”   Sementara itu Max yang berada di belakang mereka hanya mengerutkan kening dengan kepala miring. “Mia jadi ini ... yang kamu maksud kemarin?”   “Aw! Kenapa kamu menginjak kakiku?” seru Max seraya membungkuk memegangi kakinya.   Mia tersenyum lebar. “Ini ... Max, saudara kembarku. Maafkan tingkah kurang ajarnya dan Max kenalkan ini Ilona ... anak Mr. Hazard dari Swiss.”   “Ah! Anak Mr. Hazard.” Lelaki itu, pemuda berusia tujuh belas tahun, tersenyum menggoda lalu menyeringai dengan kedua alis yang naik turun.   “Senang bertemu denganmu ...    calon Mommy.”   “Hah?!”   “Max! sudah kukatakan jangan berbicara begitu! Kalau Daddy dengar Daddy pasti akan marah lagi.”   Ilona mengerjapkan matanya cepat, sementara itu Max justru tergelak.   “Maaf maaf ... maaf membuatmu terkejut ... Ilona? Aku hanya sedikit bercanda.”   Ilona tersenyum kaku dengan jantung yang masih berdebar kencang karena rasa terkejutnya. “Ah ... ya ... tidak masalah.”   “Tapi ekspresimu ... sungguh lucu. Kamu benar-benar tertarik ya pada Daddy?”   “Tidak perlu di jawab, tingkahmu sudah mewakilinya ... Ilona. Kalau memang kamu tertarik pada Daddy, aku tidak keberatan. Aku ... justru akan dengan senang hati membantumu untuk ... mendapatkan hati Daddy.”   “Bagaimana?”    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD