Ilona menatap pantulan dirinya di cermin lalu menyimpan hair dryer yang beberapa saat lalu ia gunakan. Kepalanya sedikit miring, berpikir, mempertanyakan beberapa hal yang di utarakan Max.
...
“Kalau memang kamu tertarik pada Daddy, aku tidak keberatan. Aku ... justru akan dengan senang hati membantumu untuk ... mendapatkan hati Daddy.”
“Bagaimana?”
Ilona mengerjapkan mataya. “Apa motovasi kamu melakukan itu?”
“Aku hanya merasa kamu menarik dan lagi ... cuma kamu satu-satunya perempuan asing yang berhasil tinggal di rumah ini.”
“Aku rasa ... kamu spesiap atau mungkin ini semacam takdir?”
“Siapa tahukan kamu benar-benar menjadi mommy-ku?”
Ilona menghembuskan napas. “Ternyata kamu cukup banyak berbicara juga Max. Jauh berbeda dari Daddy-mu.”
“Siapa bilang aku berbeda? Kamu tidak lihat? Aku tampan, gagah ... persis seperti Daddy. Kamu saja yang belum mengenal Daddy. Aslinya ... aku adalah 100% fotocopy Daddy-ku.”
“Eh kenapa jadi membahas ketampananku? Jangan alihkan pembicaraan. Jadi bagaimana? Mau tidak?”
“Aku pasti akan dituduh memanfaatkan kalian.”
“Ya ... memang apa salahnya memanfaatkan kami?”
Ilona mendelik menatap Max lalu mendesis pelan. “Kamu belum mengerti posisiku Max. Sudahlah ... jangan membuatku semakin jauh dari Edward. Rencanamu bisa saja membuat Edward semakin membenciku.”
“Kamu belum mencobanya.”
Langkah Ilona terhenti saat mendengar ucapan setengah berbisik itu dan blazer yang ia gunakan serasa tertarik. Ia menoleh menatap Mia.
“Aku tahu Daddy mungkin beberapa saat akan membencimu ... tidak bukan membenci, lebih tepatnya belum menerima keberadaanmu. Tapi kamu harus tahu Ilona Daddy ... tidak akan menerimamu begitu saja sekalipun kamu bersikap baik. Pertama yang harus kamu lakukan adalah membuat Daddy menyadari kehadiranmu dan ... jika bisa lebih jauh, buat Daddy nyaman.”
“Memang apa yang bisa kamu lakukan jika tanpa bantuan kami? Daddy hanya akan terus meneriakimu seperti waktu itu dan jika hanya diam tanpa melakukan apapun Daddy juga tidak akan pernah tersentuh, Daddy tidak akan membuka hatinya untukmu.”
“So ... please ... .”
“Tapi Mia ... .”
“Bukankah kamu sudah menyukai Daddy-ku sejak lama? Seharusnya kamu tidak perlu banyak berpikir lama apalagi menolak.”
“Mi ... .”
“Aku juga ingin melihat Daddy bahagia. Kami memang tidak merasa kekurangan kasih sayang karena Daddy selalu memberikan kamu kasih sayang sepenuhnya, tapi Daddy? Aku yakin ... Daddy pasti membutuhkan pendamping yang menemaninya, Daddy pasti bahagia jika memiliki seseorang di sampingnya.”
“Bagaimana jika—.”
“—mau atau tidak?” sergah Max memotong ucapan Ilona. “Ini tawaran terakhir. Tanpa banyak berpikir dan banyak alasan lagi.”
“Max.”
“Ilona ... please be my mom ... .”
Ilona memejamkan mata sesaat lalu mendengus seraya menatap sepasang anak kembar itu. “Baik. Baiklah. Aku setuju.”
...
Dan ... sampai detik ini, Ilona tidak tahu apa yang sedang sepasang kembar itu rencanakan.
***
Mia sebenarnya tidak tahu yang ia lakukan ini langkah yang benar ataukah tidak. Akan tetapi tujuan hidupnya memang tulus. Ia hanya ingin ayahnya pun merasa disayangi dan bahagia. Terlebih selama ini ia tidak pernah melihat ayahnya memiliki pasangan, tidak pernah mengenalkan seseorang pada mereka, bahkan dari gelagatnya saja tidak pernah menunjukan memiliki kekasih.
Tapi Mia tahu ... ia sangat tahu bahwa sang ayah kesepian. Sering sekali ia melihat ayahnya minum sendirian di balkon, ruang tamu atau meja makan dengan tatapan mata kosong, seolah menerawang jauh ke belakang. Sesekali juga ia melihat ayahnya melamun saat tidak bekerja, bahkan pernah satu kali ayahnya sampai tidak menyahut saat ia panggil, karena terlalu tenggelam dalam pikirannya.
Mia hanya khawatir ... ia takut ayahnya depresi karena memikirkan sesuatu yang tidak pernah ia tahu. Dari sanalah ia sadar. Mungkin ... Ayahnya butuh pendamping yang akan menghiburnya, dan ... menurut Mia ... Ilona adalah pilihan yang tepat.
Sebilan tahun lalu adalah pertemuan pertama mereka, setelah itu mereka tidak pernah bertemu sama sekali, ia hanya pernah beberapa kali melihat potret Ilona di kediaman Mr. Hazard. Mia ingat betul bagaimana peringai Ilona yang sangat tulus dan hangat, dari melihat potret Ilona saja ia sadar betul bahwa Ilona adalah orang yang ceria dan memiliki aura positif. Sehingga ia yakin bahwa ... sang ayah pasti akan terhibur dengan keberadaan Ilona di sisinya.
“Kenapa pagi-pagi sudah melamun Mia?”
Mia menghembuskan napas. “Memikirkan Daddy, Max.”
“—apa menurutmu langkah kita sudah benar?”
Max meletakkan kembali gelas di tangannya kemudian mengelus lengan dan kepala sang adik. “I don’t know, but I’m sure of our choice.”
Max menatap Mia yang kembali termenung, untuk kedua kalinya ia mengelus kepala Mia, berusaha menepis setiap pikiran yang ada dalam otak saudaranya itu.
“Jangan overthinking Mia. Kamu dan Daddy sama saja.” Max semakin menatap Mia lamat, saudaranya itu masih saja termenung, mengabaikan ucapannya.
“Apa yang kamu pikirkan? Tell me.”
“Rasanya aku ingin sekali Mama yang tinggal di sini lagi, bersama kita bertiga Max. Tapi aku menghormati keputusannya, aku tidak bisa melakukan apapun.” Ujar Mia dengan suara setengah berbisik.
Max menghembuskan napas perlahan kemudian memeluk Mia dengan kedua tangannya. “Mia ... kalau Daddy mendengarnya, Daddy pasti akan semakin sedih.”
“I’m sorry.”
Max mengurai pelukannya kemudian menatap Mia dengan kedua tangan berada di bahu. “Kita sudah sepakat untuk tidak membahas hubungan Daddy dan Mama, Mia. Please ... jangan sampai Daddy mendengar okey?”
“Lebih baik kita mulai rencananya, bagaimana?” Max tersenyum lebar. Tapi senyuman itu kembali luntur ketika Mia tidak tampak bersemangat seperti kemarin. “Atau ... kamu ingin mundur dari rencananya?”
“Hah?”
“Kamu tidak mau Ilona menjadi Mommy? Kalau tidak mau kita—.”
“Mau! Aku mau.” Mia menarik kedua ujung bibirnya. “Maafkan aku ... aku terlalu banyak berpikir.”
Max mendesis kecil. “Yeah, as always.”
***
Ilona tersenyum tipis melihat Max dan Mia. Tidak salah gosip di kantor mengatakan Edward berhasil mendidik kedua anaknya dengan baik. Sekarang ia menyaksikan sendiri bagaimana saudara kembar itu saling menyayangi.
“Kalian sedang apa?”
Max dan Mia terjengit, lalu dengan kompak menatap ke arahnya.
“Kenapa kalian sangat terkejut? Aku bukan hantu.”
Bibir Mia mengerucut, lucu. “Aku terkejut Ilona, kami sedang berbicara serius.”
Ilona terkekeh kecil. “Apa memang? Sepertinya sangat serius.”
“Jangan bilang kalian punya pacar rahasia ya? Ayo ngaku!”
“Hah? Enggak! Enggak kok.”
Ilona mengerlingkan matanya. “Punya pun tidak masalah Mia, kalian sudah remaja. Saatnya cinta-cintaan.”
Mia tampak gugup sementara Max hanya terkekeh kecil.
“Oh Dad!”
“Good morning!”
Edward muncul di belakang Ilona dengan masih menggunakan piama berwarna abu-abu, persis seperti mereka bertiga. Hari ini memang weekend, sehingga Ilona berpikir untuk sedikit bersantai di rumah.
“Daddy tidak tahu kalian pulang cepat.” Edward melewatinya, lalu mengambil gelas dan menuangkan air ke dalamnya.
“Tidak cepat Dad, ini ... enam hari.”
“Seharusnya kalian liburan lebih lama.” ujar Edward.
“Kenapa Dad?” tanya Max. “Supaya Daddy hanya berdua saja dengan Ilona?” Lanjut Max seraya menyeringai.
“Supaya Daddy tidak perlu menemani kalian berlibur musim dingin.”
“Ey! Jahat sekali. Dad sudah berjanji kita bertiga akan liburan ke Finlandia. Ah! Tidak. Karena sekarang ada Ilona, jadi bukan bertiga. Tapi berempat. Bagaimana Dad? Pasti seru!”
“Seperti anak kecil saja kamu Max.”
“Tapi Dad. Max serius. Berempat ya?”
Ilona meneguk ludah kasar saat Edward yang tidak memberikan reaksi apapun mendadak menatapnya tajam. Setelah itu ia mengerjapkan mata, lalu memalingkan wajah. Menghindari tatapan pria itu.
“Jangan menatap Ilona seperti itu Dad. Ini kemauanku. Masa iya kita berlibur Ilona ditinggal sendirikan?”
Ilona menggigit bibir, gugup menunggu jawaban Edward yang tidak kunjung terdengar.
“Dad ... come on.”
“Tidak apa-apa Max, kalian liburan saja bertiga nanti. Aku tidak masalah jika harus tinggal sendiri di rumah.”
“Dengar?” tanya Edward.
Max berdecak kecil. “Tidak asik!”
“Sebaiknya kita sarapan saja.” potong Mia. Setelah itu ia mendorong sebuah nampan berisi roti ke hadapan Ilona yang berada di balik kitchen counter. “Tidak keberatan kan buatkan kami sandwich?”
Ilona mengangguk lalu berjalan ke arah kulkas untuk mengambil beberapa bahan. Sementara Mia mengupas roti gandum dalam plastik itu.
“Ingin isian apa Mia?”
“Aku telur, Max dan Dad biasanya ham.”
“Oke.”
Ilona kembali ke kitchen counter setelah mengambil beberapa bahan, lalu mulai kegiatannya dengan mencuci selada.
“Liat Dad. Mia dan Ilona cocok bukan? Sudah seperti ... .”
“Adik kakak.” Sergah Edward dengan cepat.
Ilona mematung, ia tidak tahu itu merupakan pujian atau penolakan secara lembut. Sebab yang ia rasakan bukannya berbunga di samakan dengan anak berusia tujuh belas tahun, tapi ia justru merasa terluka. Sakit.
Ya ... memang ... secara postur tubuh ia bahkan kalah jauh dari Mia yang tinggi semampai, jangan bandingkan pada Max, pemuda itu bahkan sudah setinggi Edward. Tapi ... apakah pantas ia di sebut seperti itu? Ini penghinaan! Secara tidak langsung Edward menganggapnya seperti anak-anak!
Ilona terjengit saat merasakan sentuhan di lengannya, lalu menoleh ke kanan ke arah Mia yang memberinya sebuah senyuman tipis.
Sejak memutuskan untuk berusaha mendapatkan hati Edward, ia tahu itu memang akan sulit. Tapi ia tidak pernah membayangkan akan sesulit ini.
Dinding yang dibangun Edward terlalu tinggi, sudah ia gapai.
***
“Dad setelah sarapan ayo movie marathon. Sudah lama sekali kita tidak nonton bersama.” Ujar Max setelah menghabiskan air dalam gelasnya.
“Daddy ada pekerjaan Max.”
Decak kesal terdengar. “Daddy tidak pernah bekerja weekend begini. Daddy kenapa? Marah pada Max karena liburan mendadak? Atau Dad malas quality time bersama kami lagi?”
“Daddy-mu memang sedang sangat sibuk Max, dokumenku saja diminta harus ada dimeja kerjanya hari ini.” Ujar Ilona seraya membereskan piring di atas meja.
“Aku tidak meminta apapun.”
Ilona menatap Edward. “Miss Eva mengatakan aku harus menyelesaikannya hari ini dan memberikannya padamu.”
“Ah itu ... Eva lupa kalau kemarin Jumat dan hari ini libur. Dia juga mengatakan akan menghubungimu.”
Ilona mengatupkan bibirnya. Eva ... Eva ... Eva lagi!
“Okey kalau begitu ... jadikan kita movie marathon?”
Ilona terkesiap lalu menatap Max yang menatapnya dan Edward secara bergantian.
“Terserah kalian saja.” ujar Edward kemudian berlalu meninggalkan ruangan itu.
Max tersenyum lebar, sementara Mia hanya memicingkan mata.
“Yes! Aku harap akan berhasil.” Ujar Max. “Semangat Ilona.”
Ilona menghela napas panjang, lalu menarik ujung bibirnya sesaat. Sebenarnya ... firasatnya sedikit buruk. Tapi yasudah ... ia harus menghargai usaha pemuda itu.
***
Di sinilah mereka sekarang duduk di depan sebuah ruangan dengan televisi lebar di hadapan mereka. Awalnya Ia duduk di ujung tempat duduk sementara Edward duduk di tengah. Tapi begitu Max datang, pemuda itu menggesernya hingga ia duduk berhimpitan dengan Edward.
“Oh aku lupa membawa cemilan.” Ujar Max seraya meletakan remote-nya lagi. “Mia bantu aku membawa cemilannya. Ayo!”
“Biar aku saja.”
“Tidak kalian tunggu saja televisinya nyala. Aku pastikan aku akan membawa makanan yang paling enak.”
Ilona menghembuskan napas lalu melirik Edward yang belum mengeluarkan suara sama sekali. Pria itu hanya diam dengan iris mata menatap ke arah televisi.
“Ahhh ... f**k! Oh s**t ... .”
Ilona terkesiap, bulu romanya seketika berdiri dengan mata membulat saat adegan melihat dimana pemeran utama dalam film tersebut sedang melakukan hubungan intim yang begitu panas dalam sebuah kapal pesiar muncul di dalam layar.
Tubuh Ilona meremang saat melihat ekspresi kedua pemeran utama tersebut, tubuhnya mulai berkeringat dingin, ia pun mulai merasa gelisah. Apalagi kondisi sekarang dimana mereka hanya sedang berdua bersama Edward dan Edward seolah belum berniat mengganti film tersebut.
Oh! Sialan! Apa-apaan ini?
Ini pasti kerjaan Max! Awas saja anak itu!