Ilona bergerak gelisah, kedua tangannya sudah meremat bantal dengan iris mata yang sesekali melirik Edward yang tampak tidak bereaksi sedikit pun. Sebalnya, dia bahkan seolah tidak ada niat mematikan film yang sedang tayang di layar.
Adegan itu ... adegan di sana masih bertahan dengan agenda percintaan kedua pemeran utama di kapal pesiar, gilanya mereka bercinta di bagian depan kapal, lalu di meja, kemudian kembali ke kasur. Buruknya desahan semakin menggema, percintaan itu semakin liar. Membuat Ilona semakin gelisah dan ... jujur ... keinginannya pun mulai meninggi. Birahinya mendadak meningkat.
“Hhh ... .” Ilona mengeratkan genggamannya pada bantal.
Ilona mendengus. “Apa tidak risih nonton film begini?”
“Kenapa?” tanya Edward tanpa menoleh sedikitpun. “Ah lupa, kau anak kemarin sore.”
“HEI! Aku sudah dewasa! Aku sudah dua puluh empat tahun.” Seru Ilona yang hanya ditanggapi oleh kedikan bahu.
“Lalu kenapa heboh begitu? Lagipula tidak ada yang spesial pada film-nya.” Gumam Edward setelah adegan itu usai.
Ilona mendelik. “Tidak ada yang spesial katamu? Lalu kenapa tidak dimatikan saja kalau tidak ada yang spesial?!” Ia mendesis. “Memang dasarnya kamu ini m***m dan niat nonton yang begini saja, bukan tidak ada yang spesial.”
“Katakan itu pada dirimu sendiri. Kau yang sejak tadi memegang remote dan kau yang selalu terang-terangan menggodaku. Jangan sok polos.”
Kedua bola mata Ilona membesar. “Apa katamu? Sok polos? Daddy dengar! Aku ini sudah dewasa! Aku tidak m***m dan aku tidak pernah menggodamu. Ya ... kalau Daddy tergoda bukan salahku. Itu nalurimu saja yang mau. Aku hanya berusaha mengutarakan isi hati dan pikiranku. Memang apa salahnya mengutarakan isi hati?”
Edward menyeringai. “Tapi aku tidak menyangka, penggoda sepertimu bernapsu cuma karena adegan begitu.”
“H—hei!” Ilona merutuk, kesal. Kenapa sih di saat seperti ini ia harus gugup dan salah tingkah? Padahal memang benar ... biasanya ia terang-terangan menggoda, ia pun bisa saja menggunakan moment ini untuk menggoda Edward lagi. Tapi ... sungguh debaran jantungnya tidak terkendali, tubuhnya juga memanas, apalagi dengan birahinya yang kini benar-benar meningkat tajam.
Jangankan menggoda, mengendalikan debaran jantungnya saja sangat sulit.
“Gimana film-nya Dad?”
Ilona mendelik pada Max yang baru saja muncul dengan membawa nampan makanan dan Mia yang juga membawa nampan minuman. Pemuda itu tersenyum penuh godaan. Sial! Dia benar-benar sengaja memutar film itu.
“Tidak ada yang menarik.”
Mata Ilona mengerjap. Apa katanya? Tidak ada yang menarik? Seriously?
Ah ... ia lupa yang ia hadapi adalah seorang pria matang dengan status ayah dua anak. Tentu saja potongan dari film tadi tidak akan ada efeknya sama sekali. Toh dia pasti sudah pernah melakukannya bukan?
Ugh! Lagi-lagi ... kenapa dadanya mendadak berdenyut sakit hanya karena pikirannya sendiri?
Menyebalkan!
“Huh! Tidak asik. Padahal seru.”
“Heh.” Tegur Ilona pada Max.
“Sekarang giliran Daddy yang mau nanya sama kamu Max.”
“Film ini pasti belum selesai kamu tonton kan makanya langsung keputer di adegan ini?” Edward memicingkan mata menatap Max.
“Eh ketahuan? Ayolah Dad aku menuju dewasa. Sebentar lagi aku dua puluh tahun.”
“Sebentar? Tiga tahun lagi Max. Jangan mengada-ada.” Cerca Edward. “Diam. Masih banyak yang harus Daddy tahu darimu Max.”
Seketika Max bungkam.
“Kenapa kamu mendadak ingin ke Switzerland? Dan di sana kenapa kamu meningalkan Mia? Lalu teman yang mana yang kamu temui sampai kamu rela jauh-jauh datang ke sana?”
“Ya Tuhan, Dad. Satu-satu. Bagaimana aku menjawabnya?”
“Tinggal jawab saja. apa susahnya?”
Ilona hanya diam menatap percakapan ayah dan anak itu. Tidak ada nada yang tajam dari ucapa Edward, ia justru takjup dengan pertanyaan-pertanyaan yang justru terdengar begitu sabar dari Edward. Pria di hadapannya ini tampak lain, apalagi dengan kalimat-kalimat manis yang lebih panjang saat berbicara.
“Ilona tolong aku ... .”
Mata Ilona mengerjap, lalu menoleh pada Max yang sedang bersembunyi dibelakangnya.
“Jawab Max jangan sembunyi-sembunyi begitu.”
“—Daddy tidak akan marah. Kamu cukup jawab dengan jujur saja.”
Suara bariton dengan nada mendayu manis itu terasa begitu hangat, sampai menjalar ke dalam isi hatinya. Padahal Edward sedang tidak berbicara padanya, tapi tetap saja perasaan hangat itu mengalir deras memenuhi relung hatinya.
Max mengangguk kecil lalu dengan ragu mulai mengeluarkan suara lagi.
“Teman bermain game Dad, teman baru. Dia meminta bertemu di tempat private karena ternyata dia seorang artis, dia penyanyi dan model. Jadi kami bertemu di tempat yang jauh dan sepi agar dia nyaman dan bisa menikmati liburannya.”
Max tiba-tiba tersenyum lebar. “Oh ya Dad. Dia hebat Dad, dia seusia denganku dan Mia ... tapi dia sudah bekerja keras, dia bekerja ini dan itu sambil sekolah tanpa lelah. Nanti aku kenalkan pada Dad, siapa tahu nanti Daddy membutuhkan model baru kan?”
Edward mengangguk kecil.
Max tersenyum lebar. “Kalau begitu gimana kalau sekarang kita main game? Jenga!”
Edward menggeleng. “Satu pertanyaan lagi belum kamu jawab.”
Raut wajah Max kembali berubah, tampak bingung. Ilona sendiri tidak bisa melakukan apapun selain mengusap bahu dan lengan pemuda itu. Berusaha menghilangkan kegugupanya.
“Jujur Max, Daddy bilang gak akan marah kok. Iya gak Dad?” tanya Ilona perlahan.
Edward tidak langsung menyahut, pria itu berdehem sesaat sebelum mengangguk kecil.
“Mia bilang lelah tidak ingin ikut jadi milih tidur duluan, Mia juga yang bilang mau liatin bintang saja dari kamar. Aku juga sudah paksa Mia Dad, tapi Mia tetap tidak mau. Di sisi lain aku sudah janji akan menemaninya night drive gitu, aku rasa tidak enak Dad kalau tiba-tiba membatalkan janji.”
“Tidak enak membatalkan janji atau karena di sini takut tidak bisa berduaan?”
“Hah? Bukan begitu Dad.”
“Kamu suka sama dia Max?”
“—Setahu Daddy kamu tidak akan pernah meninggalkan adikmu bagaimana kondisinya tapi sekarang ... .”
“Dad ... dia laki-laki.”
“I know.”
Mata Ilona membulat, terkejut dengan percakapan ayah dan anak itu. Bagaimana bisa Edward berkata dengan sebegitu entengnya?
“Atau dia sedang berusaha mendekati Mia?”
“Itu ... itu ... .”
“Tidak masalah Max, bilang saja.”
“—ada aku.” bisik Ilona.
Max menghembuskan napas. “Aku tidak tahu Dad, kami berteman dan kami hanya nyaman satu sama lain. Dia juga baik pada Mia. Kami bertiga sangat berteman baik.”
Edward hanya mengangguk kecil sebagai balasan.
Ilona cukup terkejut, ia pikir Edward akan memberi Max wejangan atau sesuatu seperti ... nasihat? Tapi ternyata tidak. Edward bahkan tidak mengeluarkan suara lagi seolah tidak ada yang salah pada putranya.
“Kenapa malah diam? Bukannya tadi kamu bilang ingin main Max? Dimana Jenga-nya?”
“Biar Mia yang ambil Dad.”
***
Ilona sangat bersyukur ia banyak sekali menemukan hal baru dari kepribadian Edward yang baru pertama kali ia lihat. Jika selama ini pria itu hanya terlihat datar, dingin dan kejam, kini Edward benar-benar terasa hangat, terasa sangat mengayomi keluarga dan jangan lupakan ... ekspresi wajahnya pun begitu lembut.
Ia sampai lupa Edward dihadapannya ini adalah Edward yang sama dengan Edward yang begitu dingin dan kejam padanya beberapa hari ini.
“Siapa orang yang ingin kau ajak berlibur?” tanya Max saat membaca pertanyaan dari balik balok kayu permainan Jenga.
“Of course family. Aku pengen banget family trip.”
Mia merengut kesal. “Tidak seru sekali, masa pertanyaannya datar-datar gini sih? Kalau begini tidak ada yang mau dare dong!”
“Ya biar seru kamu saja yang pilih dare apa susahnya?”
Mia mencebik. “Mana bisa begitu?!”
Ilona terkekeh kecil, begitu juga dengan Max dan Edward.
Permainan jenga yang sedang mereka gunakan memang sedikit lain. Sepasang kembar itu menerapkan aturan truth or dare juga ke dalam permaianannya. Setelah membaca pertanyaan itu yang mendapatkan pertanyaan boleh memilih jawab secara jujur atau melakukan tantangan jika tidak ingin menjawab.
Sayangnya sejak tadi pertanyaan yang mereka dapatkan hanyalah pertanyaan basic yang tidak menantang sama sekali.
Kali ini Mia yang mengambil giliran.
“Siapa cinta pertamamu?”
“Tentu saja, Daddy.”
“Bohong! Ayo akui yang jujur.” Potong Max.
“Memang Daddy kok! Lagipula sampai sekarang tidak ada yang menarik, cuma Daddy yang terbaik!”
“Eyy ... .”
Edward merangkul Mia. “Kamu memang anak Daddy, kamu juga cinta pertamanya Daddy sayang ... .”
Max mendadak merengut, tidak terima. “Kok cuma Mia? Aku tidak?”
Edward mendesis. “Katanya sudah mau dewasa, mana ada orang dewasa merajuk begitu?”
“Daddy!!!”
Ilona terkekeh kecil lalu mengusak kepala Max yang merajuk sambil memeluknya. “Yasudah aku sama Ilona saja. Daddy sudah tidak sayang lagi.”
Edward mendesis kecil dengan tangan terulur mengusak kepala Max. “Dasar manja.”
“Biarin!”
“Ilona giliranmu.” Ucap Max lalu menegakkan posisi duduk.
Ilona mengambil balok kecil itu dengan hati-hati lalu mulai menariknya perlahan, setelah itu mulai membaca pertanyaan yang berada di bawahnya.
“Kapan terakhir kali kamu berciuman?”
Max sudah mengerlingkan mata, menatapnya dan Edward seara bergantian, bersiap menggoda.
Ilona menarik ujung bibirnya. “Aku tidak pernah berciuman.”
“Are you lying?”
“No, I don’t. Mau berciuman dengan siapa? Aku tidak pernah berkencan sama sekali.”
“Wah, kamu pasti sangat fokus pada pendidikan Ilona ... Atau ... kamu sudah memiliki orang yang kamu cintai sampai kamu tidak bisa berpaling? Cinta pertamamu?” Goda Max dengan seringaian kecil terpatri di bibir.
Ilona tersenyum simpul. “Aku tidak perlu menjawab pertanyaan darimu ‘kan? aku hanya perlu menjawab pertanyaan dari jenga-nya saja.”
“Yahh!”
Sepasang kembar itu berseru kecewa, sementara Ilona hanya terkekeh kecil lalu menoleh pada Edward yang ternyata ...
Sedang menatapnya dengan tatapan yang begitu dalam.
Tatapannya terkunci dalam tatapan dalam Edward yang menatapnya dengan begitu dalam, seolah ingin melubangi kepalanya. Ada apa? Pikir Ilona. Apakah aku melakukan kesalahan?
“Dad giliranmu.” Tegur Mia yang membuat tatapan mereka terputus.
Edward kemudian meraih satu balok. Lalu terdiam sebelum membaca pertanyaannya.
“Sebutkan nama mantan kekasih terindahmu.”
Max mendesah kecewa dengan pertanyaan seperti itu. Rencananya pasti gagal lagi. karena ayahnya pasti—
“Dare.”
Max membulatkan mata, “Dad? Serius? Dare hanya karena pertanyaan itu?”
“Max!” Mia menepuk kaki saudaranya itu.
“Ah! Oke. Dare.” Senyuman Max mendadak merekah sempurna, yang memuat bulu kuduk Ilona mendadak berdiri. Rencana macam apa lagi yang sedang anak laki-laki itu pikirkan? Jangan sampai dia mempermalukannya lagi.
“Cium Ilona.”
“Max.” geram Edward.
Ilona mengerjapkan matanya cepat. Gila! Max benar-benar sudah gila.
“Come on Dad, Daddy yang memilih untuk tantangan ini kan?”
“Seorang laki-laki sejati akan selalu memegang ucapannya. Itu yang selalu Daddy ajarkan padaku.” Sergah Max sebelum Edward membuka mulut.
Ilona meneguk ludah kasar, hawa dingin yang begitu mencekam terasa mulai menguar. Dadanya sesak karena debaran jantung yang begitu kencang, napasnya pun tercekat, gugup. Apa Edward akan benar-benar melakukannya?
Cuuup ...
Tubuh Ilona mendadak kaku, matanya bahkan membola tanpa berkedip selama beberapa detik, debaran jantungnya pun terasa semakin menggila disertai dengan keringat dingin mulai bercucuran saat merasakan sebuah tangan besar meraih tengkuknya di susul sesuatu yang hangat hinggap di kening, beberapa detik, hingga terasa begitu dalam.
Seketika waktu terasa berhenti saat hangat dari bibir yang berada di keningnya itu mengalir, masuk, memenuhi jantungnya, lalu ikut serta mengalir dengan sel darahnya hingga membuat tubuhnya meremang dan ribuan kupu-kupu serasa terbang di atas permukaan perutnya.
Terasa semakin penuh dan ... terasa semakin tidak nyata.
Of course, this is to good to be true.
Tidak berselang lama ciuman itu terlepas, iris mata mereka kemudian bertemu, saling menatap dalam diam. Tidak ada tatapan dingin, tatapan Edward justru terasa begitu hangat, dan begitu nyaman. Tatapan yang sangat lain dari tatapan yang selama ini selalu ia dapatkan. Tatapan penuh kasih sayang ... yang terasa begitu dalam.
Tolong! Katakan ini bukan mimpi! Katakan ini semua bukan khayalannya!