Edward menatap dalam diam, melihat interaksi kedua anaknya dengan Ilona. Ia sedikit takjup saat melihat bagaimana kedua anaknya itu begitu akrab dengan Ilona, mereka tidak seperti orang baru berkenalan.
Oke, kita kecualikan Mia yang memang sudah mengenal Ilona terlebih dahulu. Tapi Max? Ini aneh. Padahal biasanya Max akan bersikap dingin pada orang-orang yang baru dia kenal, dia lebih waspada daripada Mia. Tapi sekarang ... lihatlah. Max sudah seperti bersama seseorang yang dia kenal akrab bertahun-tahun.
“Kapan terakhir kali kau berciuman?”
“Ih! Apaan banget masa pertanyaan ini lagi sih yang keluar?” protes Max saat membaca pertanyaan tersebut.
Dari pagi hingga siang, mereka masih bermain jenga yang tidak juga runtuh. Tapi entah mengapa ia tidak bosan dengan permainan itu, apalagi saat melihat kedua anaknya merajuk sana sini seperti anak kecil.
“Jawab aja kenapa sih Max? Protes terus. Lagian kayak pernah aja ciuman. Pacar aja gak punya.” Keluh Mia.
“Dare!”
“Seriously?” tanya Mia.
“Oke. Sekarang Daddy yang kasih tantangan.”
“Wah! Dad! Jangan balas dendam.”
“Tidak. memang kapan Daddy punya dendam?” Max menatapnya dengan tatapan memelas.
Edward tersenyum dalam hati, siap menjahili anak pertamanya itu. “Tantangan Daddy cuma satu. Cukup jujur ... siapa orang yang terakhir kali kamu cium?”
Max tidak langsung menjawab membuat Edward tersenyum penuh kemenangan, senang menjahili sulung di keluarganya ini.
“Oh Dad ayolah ... itu privasi.”
“Seorang laki-laki sejati akan selalu memegang ucapannya. Itu yang kamu katakan pada Daddy-mu tadi.” Ujar Ilona seraya menyeringai.
“Ilona! Kenapa jadi ikut menyerangku? Seharusnya kamu membelaku! Jangan begini.”
Edward menarik ujung bibirnya saat melihat Max yang terlihat manja. Hatinya menghangat, sudah cukup lama ia tidak melihat Max semanja ini lagi. Rasa bahagianya menyeruak saat melihat sang putra bisa seperti itu lagi.
Semakin besar Max cenderung lebih cepat dewasa, karena dia bilang dia merasa harus menjaga Mia. Padahal tidak sedikitpun ia menekan Max untuk melakukan itu. Tapi Max selalu keras kepala dengan mengatakan. Aku adalah kakak, tentu saja aku harus dewasa dan harus menjaga Mia.
Edward tidak bisa melakukan apapun lagi. Sebab di sisi lain pun ia bahagia kedua anaknya saling menjaga.
“Okay. Nate.”
Kening Edward mengerut. “Nate siapa?”
“Aku tidak harus menjawab pertanyaan dari Daddy.” Jawab Max seraya menyeringai penuh kemenangan.
“Ck! Anak ini.” Decak Edward.
“Giliran kamu Mia.”
Mia mengambil tanpa basa-basi.
“Apa harapan terbesarmu saat ini?”
Mia terdiam, bingung harus mengutarakan harapannya seperti apa. Harapan terbesarnya hanya dua, pertama ... ia ingin merasakan hangatnya rumah seperti ini ... seperti keluarga lengkap dan kedua—.”
“Aku ingin Daddy bahagia.”
Edward mengerutkan kening. “Kenapa begitu? Memang Daddy tidak terlihat bahagia dimatamu?”
Mia menggeleng kecil. “Bukan begitu Dad ... .”
“Lalu?”
“Aku tidak harus menjawab pertanyaan Daddy dalam permainan ini.” jawab Mia.
Edward menghembuskan napas lalu menggelengkan kepala perlahan. “Kamu ini ya siapa yang nyontohin jawab gitu?”
“Max.”
“Loh kok aku? Ilona!”
“Eyy ... kenapa jadi aku? Aku cuma mengikuti permainan kalian saja.”
“Yaudah berarti salah Daddy! Kan Daddy yang terakhir kali minta main.”
Edward menghembuskan napas lalu menggelengkan kepala kecil. “Daddy lagi ... iya iya ... Daddy memang selalu salah.”
Edward lalu fokus kembali pada permainan, sayangnya saat ia meraih satu balok, tumpukan balok-balok itu mulai bergeser kemudian jatuh berserakan di atas meja.
“Yeey!!! Daddy kalah!” Seru Mia. “Berarti Daddy yang dihukum ya ... .”
“Hukuman apa?”
“Ya di pikirin dulu Dad. Masa iya langsung di hukum, kalau gak tepat kan sayang udah ada kesempatan begini.”
Edward memicingkan mata pada Max setelah mendapatkan jawaban itu. keningnya mengerut, menatap penuh tanya pada sepasang kembar itu. Berusaha menelisik apapun yang sedang kedua anak itu pikirkan.
Pasti ada kaitannya dengan Ilona. Tebak Edward dalam hati.
Sebenarnya Edward cukup peka dengan semua yang anak-anaknya lakukan. Mereka terlihat gencar sekali ingin mendekatkannya dengan Ilona, buktinya mereka sampai memintanya mencium Ilona karena tantangan dari permainan itu.
“Sudah ... pikirkannya nanti, lebih baik kita makan siang dulu.”
“Bibi tidak datang kalau weekend. Siapa yang memasak? Daddy?”
“Apa itu termasuk hukumannya?” Edward menyeringai.
“Tidak tidak, tidak asik. Lebih baik beli online saja kalau begitu.”
Tak lama kemudian Ilona bangkit. “Biar aku yang masak. Kalian mau makan apa?”
“Lasagna ... boleh?” tanya Mia ragu.
“Boleh. Tunggu sebentar ya.” Ujar Ilona kemudian beranjak pergi.
Edward menatap punggung sempit perempuan mungil itu. menggiringnya hingga menghilang dibalik tangga.
“Apa yang sedang kalian rencanakan pada Daddy dan Ilona?” Tanya Edward langsung, membuat gerakan si kembar yang sedang merapihkan jenga terhenti.
“T—tidak ada Dad.”
Edward mengulurkan tangan mengusak kepala Max dengan tangan kiri dan kepala Mia dengan tangan kanan, lalu membawa kedua anak itu ke dalam rangkulannya.
“Kalian nyaman bersama Ilona?”
Edward dapat melihat sepasang kembar itu mengangguk kaku. “Itu karena kalian menganggapnya seperti kakak. Tidak masalah untuk Daddy kalian dekat. Tapi tolong jangan berlebihan. Apalagi seperti tadi. Ya?”
“Tidak Dad ... bukan Kakak, tapi hal lain. Kalau tidak begitu. Kapan akan ada progres Dad?” tanya Max tanpa ragu.
“Max ... sebenarnya sudah lama ingin ada sosok Mom di rumah ini. Daddy jangan salah paham, maksud Max bukan untuk menggantikan Mama, tapi memang untuk mengisi bagian yang kosong saja. Daddy memang memberikan kami banyak sekali kasih sayang. Tapi ... tetap sama Dad ... ada yang kosong, ada satu bagian dimana kami tetap merasa ingin ... sesuatu yang lebih.”
“Dan itu ada pada Ilona?” Tanya Edward yang mendapat anggukan ribut dari kedua anaknya.
Edward menghembuskan napasnya tertahan. Ia sadar menolak dan membantah keras keinginan mereka nyatanya tidak akan berhasil. Buktinya ia sudah menolak pada Mia, ia bahkan sudah menegaskan dengan pasti. Tapi lihatlah ... anak perempuannya itu juga ikut andil dalam rencana ini.
Ia juga akui, Ilona memang terlihat sangat penyayang, dari cara Ilona mengelus rambut, berbicara dan tersenyum pada Max dan Mia. Perempuan itu tampak tulus, tidak dibuat-buat seperti kebanyakan orang yang ingin mendekatinya. Tapi ... tetap saja.
Ia tidak bisa. Hatinya ... pikirannya ... bahkan jiwanya ... hanya dimiliki satu orang, semua yang ada pada dirinya hanya terkunci pada satu orang. Ia tidak bisa berbohong dengan memberikan harapan palsu pada Ilona, ia juga tidak bisa memberi kesempatan tanpa hasil yang jelas pada perempuan itu.
Tidak ... Tidak bisa ... sebab ia tahu ... jika ia memulai dengan satu kebohongan akan ada kebohongan lain dan jika pada akhirnya kebohongan itu terbongkar hanya akan menyisakan luka yang amat dalam. Dan ia ...
Tidak ingin melukai siapapun.
“Let’s try Dad ... please. Setidaknya ... kali ini coba. Tentang hasil ... Mia berjanji tidak akan memaksa jika Daddy pada akhirnya benar-benar tidak bisa.”
Edward memejamkan mata seraya menyandarkan kepala pada sandaran kursi, mencoba mencari jawaban dari perang batin yang sedang melandanya.
“Dad ... ingin tahu ... kenapa Mia ingin Daddy bahagia? Karena Mia tahu ... Daddy saat sendiri tidak pernah benar-benar bahagia ... Mia ... bisa merasakannya Dad.” Bisik Mia seraya memegang dadanya.
Edward tertegun, ia belum memberikan respons apapun. Sampai ... sebuah suara setengah berbisik terdengar.
“Dad tidak bisa memberikan harapan apapun pada Ilona, tapi Daddy tidak akan melarang lagi jika dia memang ingin mendekati Daddy.”
Mia tersenyum lebar dengan mata yang mendadak berkaca-kaca, lalu memeluknya dengan sangat erat. “Thank you Dad ... thank you so much ... .”
Sementara itu Max pun memeluknya dan Mia secara bersamaan lalu berbisik pelan. “Terimakasih Daddy ... itu saja sudah cukup.”
Desiran hangat merasuk masuk ke dalam dadanya, menyelimuti hatinya dengan selimut halus berbentuk kebahagiaan. Ini ... adalah pertama kalinya lagi sejak mereka remaja merengek sampai menangis seperti ini dan sekarang ... ia merasa tidak menyesal setelah mendengar ucapan penuh kebahagiaan dari anak-anaknya.
“Syaratnya ... jangan katakan apapun tentang pembicaraan kita ini pada Ilona.”
Edward menghembuskan napas yang mendadak terasa sesak itu. Salahkan kelemahannya yang tidak pernah bisa menolak permohonan yang sangat memohon dari kedua anaknya itu. Ia memang lemah, paling lemah jika sudah melihat mereka dengan kompak memohon seperti itu.
***
Sementara itu Ilona sedang sibuk memasak, tanpa mengetahui apapun yang terjadi. Hanya saja ketika ia sedang menunggu lasagna yang sedang di panggang tiba-tiba sebuah pelukan hangat ia terima dari punggungnya.
Ilona terkekeh kecil saat merasakan usakan rambut di bahu. “Kenapa Mia?”
“Ilona ... .”
“Hm?”
“Quality time dan physical touch.”
“Hm? Apa itu?”
“My Dad’s love language.” Mia menjeda ucapannya. “Aku rasa, itu akan efektif untuk meluluhkan hati Daddy. Kamu tahu sendirikan ... orang-orang akan sangat mudah tersentuh saat pasangan yang mendekati mereka melalui love language yang orang itu inginkan.”
Ilona menghembuskan napas lalu berbalik untuk menatap anak perempuan itu. “Akan sangat mudah jika memang aku disambut baik Mia, tapi tidak ... jika aku mendapatkan penolakan.”
“Lalu ... kamu akan menyerah jika Daddy terus menolak? Perjuanganmu hanya sampai di sana? Tidak ingin berjuang lebih banyak?”
“Kenapa harus aku?”
“Sebab jika kamu menunggu Daddy, dia tidak akan pernah mau memulai.” Jawab Mia cepat. “Daddy ... terkunci di masa lalu. Harus ada seseorang yang bisa membuka kunci itu dan membawa Daddy keluar dari bayang-bayang masa lalunya.”
“Masa lalu?”
Mia mengangguk.
“Masa lalu ... seperti apa?”
Ting!
Ilona terjengit saat suara pemanggangan berbunyi nyaring.
“Yey! Lasagnanya matang.” Seru Mia. “Biar aku panggilkan Daddy dan Max.” lanjut Mia sebelum meninggalkannya sendiri di dapur.
Ilona tetap diam di tempatnya, mengabaikan pemanggangan yang sudah berbunyi itu.
Edward ... terkunci di masa lalu?
Masa lalu seperti apa yang membuat lelaki itu sulit membuka diri?